Satriwan Salim
    Satriwan Salim Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia

    Catatan Kritis Uji Kompetensi Guru Jakarta (Bagian 2-habis)

    Satriwan Salim - 13 Februari 2020 09:00 WIB
    Catatan Kritis Uji Kompetensi Guru Jakarta (Bagian 2-habis)
    Ilustrasi: Murid sekolah dasar antre mengucapkan selamat Hari Guru/Antara Foto/Yusuf Nugroho
    TURUNNYA kualitas guru di DKI Jakarta bukan melulu kesalahan mereka karena adanya problem yang bersifat sistemik. Akan tetapi, hasil UKG yang sangat rendah juga harus menjadi bahan otokritik kita sebagai guru, untuk introspeksi diri secara personal dan kolektif.

    Mungkin ada yang keliru tentang cara mengajar di sekolah, mungkin metode mengajar kita masih “begitu-begitu saja”.
     
    Bisa jadi, hal itu karena guru sudah malas membaca buku dan lebih asyik membaca status teman di wall FB atau lebih senang membaca dan mengirim ulang broadcast di WAG. Bisa jadi kita sulit adaptif dengan kebutuhan dan pendekatan terhadap peserta didik, yang nota bene adalah generasi Z bahkan Alpha.
     
    Padahal, sebagian besar adalah guru merupakan generasi baby boomer, generasi X dan (sedikit) generasi Y/Milenial. Kita lebih suka mengajar model monolog di depan kelas, ketimbang menghidupkan dialog dan diskusi kritis.

    Baca: Catatan Kritis Uji Kompetensi Guru Jakarta (Bagian 1)

     
    Guru juga perlu mengevaluasi diri tentang perlakuan kepada siswa yang dianggap tidak humanis, tak menarik, tak pandai memanfaatkan sumber belajar apalagi yang basisnya digital. Kita tak mampu menyelami dunia mereka, berjarak, merasa asing bahkan menuduh mereka dengan kalimat sakti: “Anak zaman sekarang banyak yang tidak tahu sopan-santun, tak paham tata krama!”.
     
    Sibuk kegiatan lain
     
    Sebab, bisa jadi persoalannya ada pada guru, yang mengalami penurunan motivasi untuk melakukan proses pendidikan. Banyak juga guru yang sibuk dengan kegiatan lain yang tidak menggiring pada kualitas diri.
     
    Jangan-jangan kita dengan mudahnya bersikap, seolah rendah hati, mengatakan: “Sudahlah guru-guru muda saja yang ikut diskusi, bedah buku, lanjut S-2, ikut pelatihan IT, kami-kami yang senior ini mendorong saja dari belakang”.

     

    Jika ini benar terjadi dalam kehidupan persekolahan, sungguh kita telah berkhianat pada profesi mulia ini. Kita berada di zona nyaman (comfort zone) yang benar-benar mematikan pikiran dan rasa.


     
    Kedua, catatan berikutnya yang penting diurai adalah pelaksanaan UKG DKI Jakarta terasa sangat serba dadakan. Penulis menilai dari aspek teknis, persiapan, dan manajemen informasi yang sangat buruk dari pengelola (Dinas Pendidikan). Akibatnya, banyak guru yang namanya tidak tercantum di dalam daftar peserta tes.
     
    Belum lagi kesalahan teknis seperti soal yang tak sesuai dengan mata pelajaran yang diampu guru. Ada juga yang menyebut kualitas soal yang  buruk karena tak relevan dengan teori atau fakta.
     
    Kemudian dari aspek akuntabilitas dan transparansi, Dinas Pendidikan DKI Jakarta tidak memublikasikan hasil UKG. Buktinya publik tidak bisa mengakses hasil  UKG 2019 tersebut di laman website resmi pemerintah provinsi DKI Jakarta.

     
    Khawatir kritik
     
    Hasil UKG (berupa nilai rata-rata keseluruhan) dibagikan hanya melalui whatsapp group pada 25 Januari 2020. Penulis menduga, sikap Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang tertutup tentang hasil UKG karena khawatir terhadap kritik publik/media

    Padahal UU KIP No 14 Tahun 2008 telah memberikan payung hukum bagi masyarakat untuk terbuka mengakses informasi yang nota bene adalah milik publik seperti hasil UKG. Tentu bukan hasil nilai UKG by name, melainkan yang dipublikasikan adalah nilai rata-rata tiap mata pelajaran atau rata-rata tiap wilayah.

    Yang juga bisa diumumkan adalah yang berkaitan dengan nilai rata-rata sekolah negeri dan swasta; rata-rata nilai pedagogik dan profesional; dan rata-rata tiap jenjang pendidikan (dasar dan menengah). Bahkan bisa diperluas berdasarkan usia dan lama mengajar.

    Sesungguhnya prinsip akuntabilitas dan transparansi perlu dilakukan agar ada masukan-masukan konstruktif dari publik, para ahli, pihak kampus dan stakeholder lainnya. Termasuk dari organisasi pofesi guru yang mempunyai kepentingan yang sama, meningkatkan kompetensi guru.
     
    Ketiga, sebagai tindak lanjut, pembinaan dan pelatihan perlu dilakukan, berdasarkan karakteristik telaah hasil UKG. Ini yang sampai sekarang ditunggu-tunggu guru DKI.

     
    Kurang Pelatihan
     
    Menjadi tanda tanya besar hingga sekarang, apa yang dilakukan pemerintah DKI Jakarta pasca-UKG? Perlakuan seperti apa yang diberikan pada masing-masing guru permata pelajaran dan perwilayah.
     
    Pertanyaan mendasar ini juga disoal para guru pasca-UKG nasional 2015. Sama saja, hasilnya guru tak merasa diberikan pelatihan dan pembimbingan yang betul-betul bermanfaat bagi peningkatan kualitasnya. Dalam pelatihan pun, guru maupun sekolah yang diundang, itu-itu saja.
     
    Harus diakui model pelatihan guru, baik yang dikelola Kemdikbud maupun daerah (DKI Jakarta) umumnya sama, begitu-begitu saja. Guru diundang ke tempat pelatihan yang dimiliki Pemda, dilatih beberapa hari, dengan pelatih dosen atau guru (rekan sejawat).

    Materi pelatihan pun sering bersifat klasik, misalnya berupa praktik pembuatan RPP (sebelum kebijakan Merdeka Belajar). Bahkan tak jarang, peserta lebih punya kompetensi dibandingkan dengan pembicara atau pemberi materi.
     
    Selain itu, pelatihannya pun sering terkesan redundant, bersifat massal, dengan target tak terukur. Yang juga harus dikritisi, pelatihan sering digelar di akhir tahun, seolah hanya untuk menghabiskan anggaran. Karena itu, ke depan model pelatihan guru perlu diperbaiki.
     
    Terakhir, ada pertanyaan khususnya dari para guru swasta DKI. Jika hasil UKG 2019 dijadikan bahan pertimbangan pemberian besaran TKD bagi guru ASN, bagaimana dengan hasil UKG guru swasta bahkan guru madrasah yang juga ikut serta? Secara praktis memang tak memengaruhi pendapatan mereka, kecuali sebagai bahan refleksi diri. Sudah sejauh mana perbaikan kualitas diri kita mendidik anak-anak generasi penerus bangsa?
     
    Marilah para guru segera kita berbenah. Semoga ini menjadi refleksi bersama, para guru negeri dan swasta di DKI Jakarta.[]

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
     



    (SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id