Sunanto
    Sunanto Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah

    HANI dan Kerja Negarawan Berantas Narkoba

    Sunanto - 27 Juni 2020 15:40 WIB
    HANI dan Kerja Negarawan Berantas Narkoba
    Ilustrasi MI: Narkoba
    SEHARI sebelum peringatan Hari Anti Narkotika Internaisonal (HANI), Mabes Polri memberi kabar gembira. Pada Kamis (25/6/2020) Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri berhasil menggagalkan peredaran 159 kg sabu, 3.000 butir ekstasi, dan 5.300 butir H-5.

    Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo yang memimpin konperensi pers menyatakan bahwa dari operasi yang dilakukan dari 3 titik itu setidaknya 640 ribu warga negara Indonesia  terselamatkan dari bahaya narkoba.

    Sebelumnya pada awal Juni Kapolri Jenderal Idham Azis juga merilis sebuah informasi hasil operasi dari Januari hingga Juni tahun 2020. Dari operasi itu, Polri telah berhasil menggagalkan peredaran 6,9 ton narkoba.


    Setidaknya sudah 27 juta masyarakat terhindar dari bahaya narkoba. Apa yang telah dilakukan oleh Korps Bhayangkara ini telah menjadi angin segar dan patut diapresiasi karena telah menyelamatkan puluhan juta warga negara kita.


    Pada Desember lalu, bersama Polri dan Dirjen Bea Cukai, sepanjang tahun 2019 BNN telah mengungkap 33.371 kasus narkoba. Dari operasi sekitar setahun itu tak kurang ganja seberat 112 ton berhasil disita aparat, selain itu seberat 5,01 ton sabu, ekstasi sebanyak 1,3 juta butir dan narkoba jenis PCC (Paracetamol, Caffeine, dan Carisoprodol) 1,65 juta butir juga berhasil disita aparat lintas institusi. Total upaya perang terhadap narkoba sepanjang tahun 2019 berhasil menangkap 42.549 orang. 

    Sebelum kita mengulas lebih jauh tentang narkoba dan dampak kerusakannya bagi calon negarawan, seyogianya kita perlu merefleksikan sejarah peringatan HANI.

    Merujuk pada United Nations, HANI atau World Drug Day dirayakan setiap tanggal 26 Juni, bertepatan dengan peristiwa pembongkaran perdagangan opium Lin Zexu di Humen, Guangdong. Lin Zexu sebagai seorang pejabat yang jujur saat itu sangat gigih dalam berjuang menentang perdagangan opium di Tiongkok, China oleh bangsa asing.

    Negara hancur

    Lin Zexu sadar negaranya hancur dan terus memburuk karena harta negaranya terus masuk ke Inggris hanya untuk membeli obat terlarang. Setelah ditelusuri oleh Lin Zexu faktor ketergantungan terhadap opium menjadi musababnya.

    Atas tekad bulatnya memerangi bahaya opium itulah kemudian Lin dianggap sebagai pahlawan. Belakangan HANI ditetapkan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC).

    Ditetapkannya HANI merupakan komitmen warga dunia dalam aksi dan kerja bersama melawan peredaran narkotika. Seluruh warga bangsa mahfum bahwa narkoba berdampak buruk bagi keselamatan umat manusia, baik kesehatan, perkembangan sosial ekonomi, keamanan negara bahkan perdamaian dunia.

    Bahaya narkoba sudah dikaji oleh para ahli, mulai memanipulasi perasaan, memacu kerja otak berlebihan, halusinogen (khayalan), dan rusaknya berbagai sistem syaraf yang diakibatkan dari konsumsi narkoba. Belum lagi daya rusaknya yang memberikan multiplier effect bagi sektor kehidupan lain seperti pertahanan negara, keamanan sosial dan bahkan hubungan antar negara.

    Ketua Umum PP Muhammadiyah menyebut tindakan penyalahgunaan narkoba sebagai kejahatan yang tergolong fasad fild ardh (kerusakan bumi). Sebabnya narkoba akan menurunkan kualitas sumberdaya manusia dan merusak eksistensi kehidupan umat manusia. Perbuatan manusia yang suka menghancurkan dan menzalimi dirinya sendiri (dzalimun linafsihi). Seluruh elemen sipil lainnya juga mempunyai pemahaman sama bahwa narkoba yang telah mematikan rata-rata 40 orang Indonesia per hari ini benar-benar telah menjadi alat ledak perusak masa depan umat manusia.

    Sudah umum dibicarakan apabila aparat, baik dari BNN, Polri, Bea Cukai maupun pihak-pihak lainnya memiliki kendala pekerjaan pemberantasan yang sangat sistemik dan seperti tak pernah habis. Mulai minimnya aparat, teknologi, dan yang tak kalah pelik adalah keterlibatan oknum dalam memuluskan peredaran barang haram tersebut. Tak sedikti kasus baik peredaran melalui jalur darat, laut, dan udara yang kerap melibatkan oknum-oknum penegak hukum.

    Modus peredaran bervariasi

    Kendala lainnya yakni semakin bervariasinya modus peredaran yang dilakukan oleh para mafia narkoba, baik jaringan dalam negeri maupun jaringan internasional. Salah satu kesulitan pengungkapan lainnya adalah karena zat atau bahan pembuatan narkoba dan psikotropika dihasilkan oleh home industry, sebagian besar asalnya dari China.


    Indonesia sebagai negara yang memiliki garis pantai yang sangat panjang, semakin membuka ruang bagi sindikat narkoba internasional untuk melakukan bisnis haram narkoba melalui laut. Tentu dengan keterbatasan petugas para mafia narkoba dengan berbagai cara memasukkan barang ke Indonesia.


    Kita tentu tidak berharap kasus dan narkoba yang telah diungkap merupakan fenomena gunung es. Jika benar yang terungkap adalah bagian kecil saja dari alur transaksi para mafia narkoba internasional, betapa terancamnya masa depan generasi bangsa Indonesia. Fakta-fakta demikian tentu tidak bisa hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para aparat negara.

    Dalam memerangi musuh dunia yang tanpa sekat negara yang bernama narkoba, Indonesia harus bersatu padu dalam melakukan kerja pemberantasan. Hemat saya untuk memerangi canggihnya kerja para penjahat perusak bangsa itu perlu kolaborasi yang kompak dari seluruh unsur negara. Dibutuhkan sikap dan sifat kenegarawanan dalam kerja-kerja memerangi narkoba.

    Aparat negara seperti BNN, Kepolisian, Bea Cukai dan bahkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus solid memerangi narkoba. Ego sektoral dan sentimen kelembagaan harus benar-benar dihindari.  

    Demikian juga potensi tumpang tindih fungsi kelembagaan tidak boleh jadi senjata makan tuan yang justru menghambat kerja pemberantasan narkoba. Saya kerap mendengar masih ada ego di masing-masing lembaga. Kita harapkan melalui momentum HANI 2020 ini, seluruh elemen bangsa kompak memerangi narkoba yang telah mematikan jutaan orang Indonesia.  

    Yang tidak kalah penting, paradigma perang terhadap narkoba haruslah digeser. Upaya perang terhadap narkoba tidak boleh menjadi pekerjaan dan tugas para aparat negara. Dampak buruk narkoba yang menjalar ke berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah selayaknya menjadi panggilan anak bangsa untuk bersama-sama menjadi pejuang memberantas narkoba.

    Setiap dari kita harus menjadi mata, telinga sekaligus kaki kerja pemberantasan. Adanya kendala soal jumlah aparat dan minimnya teknologi dalam mengungkap kejatahan peredaran narkoba akan bisa diatasi dengan dukungan seluruh elemen bangsa. 

    Peran Muhammadiyah

    Muhammadiyah sebagai persyarikatan beserta Banomnya (badan otonom) telah menjadi bagian penting dalam memerangi bahaya narkoba. Selain itu, masih banyak elemen sipil lainnya yang memiliki kesadaran pentingnya menumpas kejahatan narkoba.

    Ke depan perlu dimassifkan lagi kerja-kerja sipil memerangi narkoba, baik pencegahan peredaraannya, pemulihan para korban yang telah mengonsumsi narkoba dan juga bertugas menjadi pengawas aparat negara dalam menjalankan amanah konstitusinya.

    Indonesia dengan UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika sudah memiliki payung hukum untuk memerangi Narkoba. Belum lagi upaya penegakan hukum belakangan dengan menjerat para bandar dengan pasal tindak pidana pencucian uang menjadi salah satu perangkat aturan yang efektif memberi efek jera bagi pengedar, bandar dan jaringan internasional.


    HANI tahun 2020 harus benar-benar memberikan hikmah bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahaya narkoba sudah seyogianya menjadi jalan kelahiran para negarawan-negawaran baru yang peduli akan masa depan bangsanya. 


    Bagaimanapun kerja seluruh masyarakat republik Indonesia masih teramat banyak. Kemiskinan, masalah pemerataan ekonomi, perilaku korupsi, masalah radikalisme, tantangan bonus demografi dan berbagai masalah kompleks lainnya ada di depan mata kita. 

    Suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus bersepekat dan berkomitmen menjadi agen yang senantiasa konsisten memerangi barang haram yang bernama narkoba. Jangan sampai bahaya narkoba menjadi penghambat menuju bangsa yang sehat dan produktif. Seperti tema peringatan HANI di Indonesia tahun ini, yakni “Hidup 100% di era new normal sadar, segar, produktif dan bahagia tanpa narkoba. []

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.


    (SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id