M Tata Taufik
    M Tata Taufik Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat

    Gambar di Kepala Kita

    M Tata Taufik - 12 April 2021 11:55 WIB
    Gambar di Kepala Kita
    Ilustrasi/Medcom.id



    ADA sebuah pulau di lautan yang pada 1914 pernah ditempati beberapa orang Inggris, Prancis, dan Jerman. Tidak ada kabel yang mencapai pulau itu. Kapal Inggris yang biasa membawa surat sekali dalam enam puluh hari, belum tiba pada September kala itu. Sementara, penduduk pulau masih membicarakan isi koran terbaru yang bercerita tentang pendekatan persidangan Madame Caillaux dalam kasus penembakan Gaston Calmette.
     
    Oleh karena itu, pada suatu hari di pertengahan September, dengan semangat yang lebih dari biasanya, seluruh koloni berkumpul di dermaga. Mereka ingin mendengar  putusan apa yang telah diberikan atas kasus tersebut dari sang kapten. Mereka yang berkebangsaan Inggris dan Prancis sadar bahwa dalam kurun enam minggu terakhir tengah berperang demi kesucian perjanjian melawan mereka yang Jerman. Selama enam minggu yang aneh, mereka bertindak seolah-olah teman, padahal sebenarnya mereka adalah musuh (Lippman, 1922).
     
    Ilustrasi di atas ditulis Walter Lippman dalam tulisannya bertajuk Public Opinion. Tapi, lebih dari itu, penulis pernah mendengarkan ungkapan tersebut disampaikan oleh KH Imam Zarkasyi dalam satu ceramahnya di Aula Gontor. Terbayang rasanya beliau menyampaikan sambil tersenyum entah dalam konteks apa waktu itu. Yang diingat, hanya ceritanya—boleh jadi beliau menjelaskan tentang propaganda.
     
    Baru pada sekitar 2004 penulis menemukan buku karya Lippman tersebut dalam rangka menulis disertasi. Pada saat bertemu judul The World Outside And The Pictures In Our Heads, ketika baca paragraf pertama, langsung teringat cerita Pak Kiai saat di pondok. Sambil bergumam, ‘wah! berarti Pak Kiai dulu baca buku ini'. Yang tentu saja semakin kagum dengan keilmuan beliau dan bersyukur penulis bisa ketemu buku ini.
     
    Memang dalam beberapa ceramahnya beliau sangat care terhadap media, terutama jika menjelang liburan dalam tajuk mengisi kekosongan. Belia seakan memberi petunjuk tentang apa yang harus ditonton dari acara televisi yang tersedia. Beliau waktu itu lebih mengarahkan pada program Dunia Dalam Berita milik TVRI. “Kalau saya menonton Dunia Dalam Berita, kalau sinetron itu buat mbok dapur saja,” ungkapnya. Pernyataan tersebut bisa dikategorikan sebagai literasi media atau melek media dalam istilah sekarang.
     
    Beralih ke kondisi kekinian, saat media sosial demikian marak dan menyajikan banyak informasi baik dari yang ahli maupun yang bukan ahli; memungkinkan semua orang memberitakan sesuatu tanpa ada halangan “gate keeper”. Seperti yang berlaku di dunia jurnalistik, saat kebebasan pers menjadi perisai perlindungan media mainstream, saat semua orang bisa menjadi pengusaha media melalui halaman web atau blognya atau akun yang dimiliki di berbagai penyedia layanan portal. Saat inilah pesan dan judul-judul berita media tidak lagi bisa dijadikan rujukan kebenaran. Pesan-pesan seperti ajakan mengunjungi link/tautan tidak lagi berakar pada pentingnya informasi, tapi lebih pada memperkaya kunjungan link yang dibagikan.
     
    Dampaknya, ketika isu tentang wabah misalkan, yang perlu mendapat perhatian ekstrahati-hati, bahwa ada yang perlu diberitakan dan ada yang tidak, menjadi boomerang ketika interpretasi dari pesan yang diterima dipahami dengan sangat mandiri serta dibangun atas dasar potret yang tergambar dalam kepala setiap individu. Berbagai pesan resmi dari pemilik otoritas tidak sanggup lagi mencegah berbagai eksekusi yang dilakukan khalayak secara sistematis lokal. Sengaja penulis tidak beri contoh supaya tidak ikut terjebak dalam penyebarannya.
     
    Gambar yang memenuhi kepala kita sangat banyak dilukiskan. Dan mau tidak mau banyak di antara kita yang bergerak melakukan sesuatu karena “gambar” tadi. Bukan karena hal yang ada di hadapan kita, pikiran kita juga menerobos wilayah yang tidak semestinya dipikirkan. Sesuatu yang tidak dialami tapi memicu stres berlebihan sehingga berada dalam kekhawatiran. Para ahli (kesehatan) mengetahui bahwa ketenangan adalah kondisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan sebagaimana kekhawatiran memicu penyakit.
     
    Maka kini kita membutuhkan gambar yang bisa menenangkan dan menyejukkan dalam kondisi dunia yang sedang sakit. Saatnya memotret dengan memilih angle yang indah dan pas sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan; sejuk dan nyaman.
     
    Kalau dahulu ada istilah mulutmu harimaumu, kini medsosmu harimaumu. Buatlah auman yang tidak garang, tak apa terkesan harimau ompong. Dengan medsos juga kita secara tidak disadari telah menjadi produser film dan juru potret yang selalu siap memproduksi gambar yang enak di pandang dengan standar estetika yang memadai. Pencahayaan yang cukup dan struktur pesan yang lebih terarah. Karena kita adalah manusia yang memiliki nurani sebagai potensi gerak kita.
     
    *M Tata Taufik, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id