comscore
Safriady
Safriady  

Satbravo 90-Kopasgat TNI AU dan Era Hybrid Warfare

Safriady - 12 Februari 2022 13:41 WIB
Satbravo 90-Kopasgat TNI AU dan Era <i>Hybrid Warfare</i>
Pemerhati Kebijakan Komunikasi Militer dan Intelijen, Safriady.

Pola penyebaran hoaks yang bersifat sosial dalam ruang maya ini telah mampu, mempengaruhi orang atau kelompok dalam hal cara berfikir, kepercayaan serta bagaimana merespon dan berinteraksi dalam ruang digital. Penggunaan media sosial seperti Instagram, Twitter, dan Facebook dalam skala masif dapat digerakkan sebagai wadah penggalang massa guna melakukan perlawanan politik.

Sejarah mencatat bagaimana pada 2010 rakyat Tunisia turun ke jalan saat aksi bakar diri seorang pemuda pedagang sayur, di mana barang dagangannya di jarah oleh polisi. Aksi tersebut melahirkan Revolusi Tuniasia, yang memaksa presiden Zine El Abidine Ben Ali jatuh dari kekuasaanya. Tak hanya Tunisia, pemanfaat aplikasi ini juga terjadi hingga mesir, suriah hingga demo Hongkong.

Era Hybrid Warfare

Digitalisasi telah berperan penting merubah lingkungan militer konvesional ke arah pola cyber, di mana sejumlah negara adikuasa telah memilih untuk mengubah tujuan militernya tanpa memicu konflik terbuka antarnegara yang dapat menimbulkan dampak abadi yang memengaruhi keamanan, ekonomi, dan politik internasional secara langsung. Pengadopsian konsep perang hibrida oleh sejumlah negara dianggap dapat mencapai tujuan militer tanpa memicu konflik terbuka antarnegara.
Mengapa perang Hibrida? Karena Hybrid Warfare hari ini menjadi agenda utama sebagian besar pemerintah di dunia. Kebangkitan Imperialisme Rusia yang menjadi 'hantu' yang menghantui Eropa (Galeotti & Bowen 2014). Dengan gaya perang yang menggabungkan politik, ekonomi, sosial dan kinetik dalam konflik yang tidak mengenal batas antara sipil dan kombatan, terselubung dan terbuka, perang dan damai dimana mencapai kemenangan bagaimanapun itu dapat didefinisikan mengizinkan dan menuntut apa pun berarti akan berhasil: etika perang total diterapkan bahkan pada pertempuran kecil sekalipun. (Galeotti 2016,7).

Konsep perang hibrida ini pertama kali diusulkan oleh Frank Hoffman, lebih dari satu dekade yang silam. Mantan perwira marinir AS itu memaparkan perubahan tentang pengggunaan kekuatan militer Amerika Serikat pasca Perang Dingin (Renz 2016,385).

Menurut pandangan Hoffman, perang hibrida merupakan kontuksi analitis untuk menjelaskan bagaimana keberhasilan lawan yang relatif lemah bisa mengungguli militer yang unggul secara teknologi dan jumlah, seperti yang terjadi pada perang Irak–Iran, Afganistan hingga Libanon, di mana anggota Taliban dan Hizbullah mampu melawan pasukan militer yang sangat kuat.

Sebagai anggota dewan penasehat di Institut Penelitian Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat, Hoffman, menilai konsep perang hibrida dapat digunakan untuk menggambarkan dinamika ruang pertempuran yang fleksibel dan kompleks yang membutuhkan respons yang sangat mudah beradaptasi dan tangguh.

Sebagai contoh krisis Rusia dengan Ukraina tahun 2014silam. Rusia menggunakan langkah–langkah yang tidak menimbulkan konfrontasi militer terbuka dengan yang dapat memicu konflik antarnegara. Dengan piawai Rusia menggunakan taktik yang tidak lazim dan beragam.

Menurut analisis Akademi Militer Latvia, Pasukan Rusia berhasil menggunakan perang psikologis, penyesatan informasi, penyuapan, Intimidasi, propaganda internet/media, pembusukan politik, subersif, dan pemanfaatan komunikasi jaringan melemahkan lawan. Terkait krisis Rusia dan Ukraina, lewat majalah Newsweek April 2015, mantan Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen mengungkapkan bahwa Rusia telah mengadopsi konsep perang Hibrida, dan perang itu adalah campuran dari perang konvensional, pemanfaatan distorsi informasi dan propaganda baru yang lebih canggih.
 

Halaman Selanjutnya
Dalam The U.S. Army Operating…






Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING

HOT ISSUE

  • Array
MORE
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id