Noorca M Massardi
    Noorca M Massardi Penyair, jurnalis, anggota Lembaga Sensor Film

    SDD: "Penyair Sejuta Umat"

    Noorca M Massardi - 23 Juli 2020 09:00 WIB
    SDD:
    Koleksi Noorca M. Massardi: Pemilihan kata, metafora, dan gayanya dalam menulis puisi, mungkin terasa “terlalu bersahaja” bagi seorang “maestro” sekaliber SDD.
    “Mas Noorca lagi di Bali?”
    “Masih di Bintaro, Mbak. Kenapa?”
    “Oh, saya kira di Bali. Soalnya GPU baru menerbitkan ulang semua kumpulan puisi, cerpen dan novel-novel pak Sapardi Djoko Damono, dalam rangka ulang tahun beliau yang ke-77. Rencananya mau launching di Bali 06 Mei 2017.”
    “Oh, kebetulan, saya dan Rayni memang sudah pesan tiket mau ke Bali tanggal 04 Mei. Nah, apa yang bisa saya bantu?”
    “Mas Noorca berkenan jadi moderator? Tempatnya di toko buku Gramedia di Mal Level 21, Denpasar. Acaranya Jumpa "Pengarang dan Book Signing dengan Pak Sapardi". Mulainya sekitar pukul 15.00 Wita. Karena paginya beliau akan ke Universitas Udayana dulu.”
    “Oh, bisa, Mbak. Tapi saya ada permintaan, boleh?”
    “Apa Mas?”
    “Mumpung itu acaranya "Jumpa Pengarang dan Book Signing", boleh enggak novel saya Setelah 17 Tahun dan kumpulan puisi saya Hai Aku Sent To You yang semuanya diterbitkan GPU, juga dipajang di sana? Saya enggak akan membahas buku saya, tapi cuma mengumumkan kalau mau beli, buku saya juga ada di situ he3… !”
    “Bisa Mas. Enggak apa-apa. Nanti kami kirim langsung dari Jakarta. Tanggal 06 Mei sudah ada di tempat. Akan dipajang di dekat tempat acara.” 
    “Baiklah. Terus dari GPU Jakarta siapa yang hadir?”
    “Maaf, kami tidak ada yang bisa ke Bali. Makanya kami minta tolong Mas Noorca untuk mendampingi Pak Sapardi… !”
    “Oh oke, Mbak. Nanti saya kabari kalau sudah sampai di Bali.” 
     

    Sebelum musim Covid19 tiba, kami ke Bali memang hampir dua bulan sekali. Sekadar untuk melihat laut secara gratis, berjalan kaki sepanjang hari, baik di Kuta, Legian, Seminyak, maupun di Sanur, sebelum biasanya lanjut melancong ke Ubud.

     
    Setiap ke Bali, sejak 20 tahun terakhir ini, selain untuk berjalan kaki menikmati pantai, kami juga selalu menjumpai dan mengajak “ngupi-ngupi cantik” teman-teman kami di Bali. Para “korban kangen” kami antara lain penyair Warih Wisatsana dan Wayan Jengki Sunarta, serta bila beruntung bisa ketemu Umbu "the legend" Landu Parangi. 


    Di Sanur kami wajib sowan sahabat lama Tari Batujimbar di Cafe Batujimbar. Di Ubud jumpa kang Ruslan Wiryadi dan bli Dewa Putu Suardana serta keluarga mereka. Juga bli Jun Sakata (seniman Jepang yang puluhan tahun bolak-balik Jepang-Ubud) serta bli AgungRai dari ARMA Gallery, Kadek Jube dan Tunik Sumerta bos Bebek Tepi Sawah, bila ada kesempatan.

     
    Di Denpasar biasanya kami ketemuan dengan bli Bagus Saka dan istrinya Helga Rif, yang novelis atau bli Dewa Putra Dyasa, teman lama kami di Paris, juga bli Narto di Ubud. Di kawasan Sanur, kami jumpa dengan Mbak Virgorita Gumay, dan Mbak Melanie Kanda Resto. 


    Kalau lagi bernasib baik, bisa pula jumpa Jean Couteau, dan teman-teman Bentara Budaya Bali seperti Vanessa Martida dan Ni Wayan Idayati. Juga Mas Abu Bakar dan Mbak Rasmini dan Christyan AS (bila ada di Bali) serta Ucha Kanha. Tak lupa ketemu sahabat setia kami pasangan seniman Hwie Janto dan Odilia Talenta (bila tidak sedang mudik ke Solo). Dan last but not least adalah Mbak Annie Rai Samoen, primadona juragan Denpasar, yang bolak-balik Jakarta-Bali, serta keluarganya: Dion dan RaniRai dan Bobby. Tak lupa pula bos Es Teller 77 Mbak Icha Suryana dan putrinya Bunga.
     
                                                                                        
    Pada Hari H, kami sudah tiba di TB Gramedia di lantai atas Mal Level 21. Tempat acara sudah siap. Sejumlah teman Bali sudah kami undang via WA. Sebagian besar bisa hadir. 
     

    Kesederhanaan tidak hanya muncul pada seluruh karya-karya mutakhirnya, juga pada sosok dan kehidupannya sehari-hari. Walau saya jarang sekali berjumpa, tapi Mas SDD tampaknya tidak terpengaruh oleh pelbagai gelar dan jabatan akademisnya. 




    Mas SDD didampingi Mbak Sonya Sondakh, kemudian muncul berdua. Setelah berhandai-handai sejenak, acara dibuka oleh MC dari toko buku. Seluruh kursi yang tersedia tampak penuh. Bahkan, sebagian terpaksa berdiri.

    Legenda dunia sastra
     
    Nama Sapardi Djoko Damono (SDD) memang sudah jadi legenda di dunia sastra dan kebudayaan Indonesia. Sebagai moderator, saya tak perlu memperkenalkannya lagi kepada hadirin. 


    Acara itu, sesuai judulnya adalah “Jumpa Pengarang dan Book Signing: 77 Tahun Sapardi Djoko Damono”. Seperti biasanya, saya memanggilnya “Mas Sapardi”. Sosok SDD tidak berubah sejak saya mengenalnya pada 1973, ketika dia hijrah ke Jakarta dan bekerja di Yayasan Indonesia, yang menerbitkan Majalah Sastra Horison. Kurus langsing hingga hari-hari terakhir hidupnya.

     
    Acara tanya jawab berlangsung lancar. Mas SDD ditanya pelbagai ihwal tentang proses kreatif dan pengalamannya serta musikalisasi puisi-puisinya. Semua dijawab dengan santai, datar, dan kadang lucu. 


    Kesederhanaan tidak hanya muncul pada seluruh karya-karya mutakhirnya, juga pada sosok dan kehidupannya sehari-hari. Walau saya jarang sekali berjumpa, tapi Mas SDD tampaknya tidak terpengaruh oleh pelbagai gelar dan jabatan akademisnya. 


    Tidak tampak sama sekali arogansi atau egoisme kesenimanan pada ucapan dan tindakannya. Dan pertemuan kebetulan di Bali itu merupakan perjumpaan pertama kami setelah puluhan tahun tak pernah ketemu, dan momentum itu ternyata merupakan pertemuan fisik saya terakhir dengan Mas SDD.
     
                                                                                            
    Saya tidak akan membahas karya-karya SDD, selain karena saya merasa tidak mampu, juga karena dari sejumlah penyair “legend”, saya ternyata tidak terlalu mengakrabi karya-karya SDD. Mungkin dari angkatan usianya, saya masih lebih banyak membaca puisi-puisi Rendra dan Sutarji Calzoum Bachri. Tentu saja saya pernah membaca beberapa kumpulan puisi SDD seperti Dukamu Abadi (1969), dan Mata Pisau (1974) atau terjemahan novel Lelaki Tua dan Laut (Ernest Hemingway –1973), yang sangat bagus.


    Pemilihan kata, metafora, dan gayanya dalam menulis puisi, mungkin terasa “terlalu bersahaja” bagi seorang “maestro” sekaliber SDD. Namun, itulah pilihan SDD, yang sudah amat memahami, menulis buku, dan mengajarkan pelbagai teori tentang sastra. 

     
    Selintas, sebagaimana banyak disampaikan para pengamat sastra, setelah periode Jakarta, karya-karya SDD menjadi kian mudah dipahami, dan sangat komunikatif. Mungkin, sebagai dosen dan dekan di Fakultas Sastra/Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan pergaulannya dengan generasi muda (mahasiswa/mahasiswi), telah membukakan pilihan baginya: berkarya bagi sebanyak mungkin pembaca, dan sekomunikatif mungkin dengan pelbagai kalangan dan usia. Maka, berbeda dengan para penyair sebelum, semasa, atau bahkan sesudahnya, SDD tampak semakin canggih dan luwes dalam mengakrabi kekayaan, kelenturan, dan kesederhanaan Bahasa Indonesia.
     

    Pemilihan kata, metafora, dan gayanya dalam menulis puisi, mungkin terasa “terlalu bersahaja” bagi seorang “maestro” sekaliber SDD. Namun, itulah pilihan SDD, yang sudah amat memahami, menulis buku, dan mengajarkan pelbagai teori tentang sastra. 


    Kesahajaan gaya dan ungkapan estetik SDD, telah memungkinkan bagi semua pembaca, dari usia sekolah dasar sampai kelompok uzur, tanpa kesulitan atau terkendala bahasa, untuk segera “mengerti” apa yang ingin disampaikan SDD dalam karya-karyanya. Bagi yang lebih serius dalam memahami sastra, setelah tahap “mengerti” terlewati, tentu akan lebih mudah untuk “memahami” SDD. 


    Bagi para peneliti, usai “mengerti” dan “memahami” dapat segera tiba pada tingkat “memaknai”. Dan, menurut saya, dalam sejumlah puisi mutakhirnya, di balik kesahajaannya dalam berbahasa, SDD telah mampu memotret dan menyajikan “panorama surealistik” yang sangat indah dalam karya-karyanya.

     
    Pelbagai benda dalam karyanya, tidak hanya berhenti sebagai metafora, melainkan telah berhasil diubah, atau diwujudkan kembali sebagai objek/subjek yang hidup, yang mandiri, yang bisa berkata, mempertanyakan, bahkan menangisi segala ihwal. Apakah itu tanah, debu, abu, kayu, ranting, pohon, daun, api, angin, air, hujan, dan sebagainya. Larik-lariknya, bait-baitnya, telah mewujud menjadi susunan kata dan benda yang saling berkomunikasi dan berkelindan satu sama lain, dalam pelbagai situasi surealistik, yang melahirkan pelbagai kemungkinan 
    pemaknaan.

     
    Bahasa yang bersahaja


    Pilihan kata dan ungkapan makna dengan bahasa Indonesia yang bersahaja, yang kadang nyaris tidak ada bedanya dengan bahasa jurnalistik, memungkinkan karya-karya SDD bisa “terbaca” olehpelbagai umur dan kalangan. Apalagi ketika para mahasiswa/mahasiswinya mempopuelrkan karya-karyanya dalam apa yang disebut “musikalisasi puisi”. 
     

    SDD adalah sebuah “monumen kesahajaan” yang luput dari kesombongan, ketakaburan, dan gairah keduniawian. Dengan karya-karyanya, SDD telah menjadi seorang “sufi” yang sangat “relijius” tanpa perlu mengutip ayat-ayat yang suci.



     
    Rasanya, tak ada penyair lain dari generasinya, bahkan dari generasi yang lahir belakangan, yang karya-karyanya paling banyak dibaca, dinyanyikan, didengarkan, dan dikutip oleh khalayak ramai. Bahkan di pelbagai surat cinta, surat lamaran, kartu undangan, kartu pernikahan, bahkan untuk ucapan bela sungkawa. Maka, tak berebihan kiranya, bila di sini saya menyebutkan bahwa “Sapardi Djoko Damono adalah Penyair Sejuta Umat”. 
     
     
    Akhirnya, setelah bertemu di TB Gramedia, Denpasar, Bali, pada Sabtu, 06 Mei 2017, itulah saya baru tahu bahwa ternyata SDD juga sudah melahirkan sejumlah novel, dan kumpulan cerita pendek, yang sayangnya belum sempat saya baca sampai hari ini. Sesuatu yang amat menakjubkan.
     

    SDD adalah salah seorang sastrawan budayawan Indonesia yang sangat langka. Seorang seniman yang “sangat berpendidikan” dengan gelar profesor dan doktor, yang tak berhenti mengajar dan menulis, yang melahirkan puluhan karya terjemahan, puisi, cerpen, esei, novel, teori dan sejarah sastra, serta karya kolaborasi dalam musik dan film.

     
    SDD adalah sebuah “monumen kesahajaan” yang luput dari kesombongan, ketakaburan, dan gairah keduniawian. Dengan karya-karyanya, SDD telah menjadi seorang “sufi” yang sangat “relijius” tanpa perlu mengutip ayat-ayat yang suci.


    SDD adalah seorang pria biasa, yang lahir di Surakarta pada Rabu Kliwon, 20 Maret 1940. SDD adalah seorang lelaki, yang sesuai wetonnya, pendiam, pengemong dan penyabar.


    SDD adalah seorang ayah dan suami yang diwafatkan pada Minggu Legi, 19 Juli 2020, di sebuah rumah sakit di Tangerang Selatan. Tepat empat bulan setelah ia melewati usia 80 tahun. Usia yang layak dirayakan meriah secara daring, akibat pandemi Covid19, dalam apa yang disebut “Festival Hujan Bulan Juni”. Sebuah acara yang diselenggarakan Alumni FIB-UI, dengan menggunakan judul salah satu puisi dan kumpulan puisinya yang paling terkenal dan milenial: Hujan Bulan Juni.

     
    Hujan Bulan Juni

    Tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan Juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan Juni
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan Juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu


    (1989)
      
    Selamat Jalan, Maestro! Berjuta Umat Akan Selalu Mengenangmu! []

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
     
     

    (SBR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id