comscore
Ade Alawi
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group

'Aqlun Shahih wa Qalbun Salim

Ade Alawi - 31 Mei 2022 07:39 WIB
Aqlun Shahih wa Qalbun Salim
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group
PERBINCANGAN seputar kepribadian yang memiliki integritas mengemuka seiring dengan wafatnya tokoh besar yang melampaui zaman, Buya Syafii Maarif. Integritas menjadi barang langka di Republik ini karena berbagai masalah yang membelit negeri ini utamanya berasal dari integritas yang rapuh.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan atau kejujuran. Singkat kata, integritas adalah berpadunya kata dan perbuatan.
Kata-kata bukan pemanis bibir, melainkan pancaran dari tekad dan komitmen untuk menjadi prilaku dalam keseharian. Ada yang aneh di Republik ini. Bila kita temukan tulisan 'pakta integritas', 'zona antikorupsi', atau 'zona bebas pungli' di kementerian/lembaga, tol, atau tempat-tempat pelayanan publik, hampir bisa kita pastikan bahwa di kawasan tersebut terjadi realitas sebaliknya: tidak berintegritas, koruptif, banyak calo, atau pungli.

Setidaknya hal tersebut bisa kita lihat dari operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), temuan Saber Pungli, dan penegak hukum lainnya di kawasan-kawasan tersebut. Indonesia tidak pernah kekurangan sumber nilai dalam penguatan integritas.

Salah satunya, ialah Pancasila yang akan kita rayakan hari lahirnya pada 1 Juni, besok. Integritas akan terbentuk apabila seseorang memiliki karakter yang kuat.

Karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, dan nyata berkehidupan baik) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan (Desain Induk: Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025, RI 2010)

Pembangunan karakter bangsa yang berkepribadian Pancasila membutuhkan upaya sistematis dalam membangun aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Karakter bangsa yang kuat bisa diwujudkan dalam ketaatan terhadap hukum, karenanya prinsip kesetaraan di muka hukum (equality before the law) merupakan hal yang mendasar.

Bisa pula dikembangkan secara kultural melalui perilaku tokoh-tokoh masyarakat yang patut dicontoh. Kepribadian yang tampak dalam sosok Buya Syafii Ma'rif, misalnya, tak lepas dari pepatah Minangkabau, yakni duduak samo randah, tagak samo tinggi (duduk sama rendah, tegak sama tinggi).

Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1998-2005 itu memperlihatkannya dalam perilaku keseharian. Tak hanya berperilaku dalam keseharian, tokoh kelahiran Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau, pada 31 Mei 1935 itu memiliki pemikiran yang egaliter dalam berbagai hal.

Dalam pandangan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Buya Syafii ialah sosok perpaduan antara Mohammad Hatta dan HAMKA, tokoh bangsa dan sekaligus tokoh islam humanis dan egaliter yang berwawasan luas. Buya ialah sosok yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Tidak tergoda dengan harta dan takhta. Bahkan, terkesan tidak peduli dengan diri sendiri dengan berpantang pada hal-hal yang bersifat duniawi (asketisme). Penulis disertasi Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia itu juga berani 'pasang badan' dalam menjaga nilai-nilai pluralisme.

Misalnya, pada November 2016, ia membela Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan mengatakan Ahok tidak melakukan penistaan agama. Pandangannya itu melawan pendapat mayoritas tokoh islam lainnya, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah memfatwakan bahwa Ahok melakukan penistaan agama islam.

Di tengah kecaman sebagian kalangan islam, Buya Syafii tidak gentar dengan sikapnya. Meski kediamannya dijaga kepolisian setempat saat itu, Buya masih melakoni kebiasaannya sehari-hari, seperti bersepeda dan memberikan ceramah.

Buya ialah sosok yang teguh pada kebenaran yang diyakininya. Menurutnya, kebenaran tidak sekonyong-konyong datang. Kebenaran juga tak bisa dipaksakan.

"Untuk mencari kebenaran, ada dua syarat, 'aqlun shahih wa qalbun salim (akal yang sehat dan hati yang bening). Ketika itu ada, baru kebenaran bersahabat dengan kita. Tanpa itu, tidak bisa," kata Buya dalam wawancara khusus dengan Media Indonesia pada 14 November 2016. Tabik!

(JMS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING

HOT ISSUE

  • Array
MORE
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id