comscore
Hamid Basyaib
Hamid Basyaib Mantan wartawan dan penulis sejumlah buku

Toleransi Total Haji Agus Salim

Hamid Basyaib - 01 Februari 2022 17:27 WIB
Toleransi Total Haji Agus Salim
Hamid Basyaib. Foto: Istimewa

Kehadiran para tamu yang tak henti berkunjung ke rumah kontrakannya hingga akhir hayat, sekaligus dijadikannya media pengajaran bagi anak-anaknya. Mereka selalu disuruhnya ikut mendengarkan percakapan dirinya dengan tamu, yang membahas aneka urusan orang dewasa. Dengan memberi nasihat kepada para tamu, ia juga memberi pelajaran tentang pelbagai masalah kepada anak-anaknya. 

“Saya tidak punya banyak waktu untuk mengajar mereka,” ujarnya, menyebut alasan melibatkan anak-anak dalam obrolan dengan tamu-tamunya. Lagi pula, katanya, tidaklah adil jika orang lain diajarnya (melalui percakapan-percakapan serius itu), sementara pertumbuhan mental dan intelektual anak-anaknya sendiri tidak ia pedulikan.
*

Menjalani profesi sebagai wartawan, dan pernah memimpin Harian Neratja dan Hindia Baroe, selain aktif di partai politik (PSII) dan menjadi Menteri Luar Negeri, Agus Salim juga peminat serius kesastraan. Ia menerjemahkan The Taming of the Shrew (Menjinakkan Perempuan Garang) karya William Shakespeare, monumen dan parameter sastra Barat, selain mengalihbahasakan karya besar Rudyard Kipling, The Jungle Book

Ia memimpin roadshow delegasi ke Timur Tengah untuk meminta pengakuan atas kemerdekaan RI. Rombongannya dengan cepat mendapatkan pengakuan resmi, pertama kali dari Mesir, negara Arab terbesar dan terkuat, kemudian dari Yordania dan lain-lain. Proses pengakuan yang cepat ini konon berkat keterampilannya bicara dalam beragam dialek Arab.

Ia juga witty, tangkas menangkis pendapat orang lain dengan cerdas dan kocak. Adik kandungnya, Chalid Salim, adalah Muslim yang lama menganut komunisme dan kemudian menjadi pendeta Protestan. Ketika orang mempertanyakan hal ini —mengapa tokoh Islam sebesar dirinya sampai memiliki adik yang menjadi pendeta— ia dengan tangkas menanggapi: “Bukankah itu lebih baik (bagi adik saya), sebab dulu dia tidak mengenal Tuhan, sekarang jadi bertuhan…”

Keentengan tanggapannya itu tentu karena ia menyesuaikan diri dengan corak pikir dan beragama lawan bicaranya. Bagi Agus Salim sendiri, orang yang tak bertuhan tidak niscaya lebih buruk daripada mereka yang bertuhan. Setidak-tidaknya soal pilihan ini sepenuhnya hak seseorang, dan siapa pun, termasuk negara, tak punya mandat moral untuk menilai, apalagi menindak.

Penyimpulan ini kita dapatkan dari esai Sukidi tersebut, yang menyajikan fakta segar yang sebelumnya terbenam, dan analisis yang tajam tentang posisi kokoh Agus Salim dalam isu kemerdekaan religius.

Kita harap Dr Sukidi mau mengelaborasi gagasan ini lebih jauh dalam sebuah buku, untuk membandingkan ide-ide toleransi dari John Locke dan pemikir-pemikir lainnya dengan ide Agus Salim, yang tafsirnya terhadap Konstitusi bervaliditas tinggi mengingat posisinya sebagai salah satu bapak pendiri bangsa. 

(OGI)



Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING

HOT ISSUE

  • Array
MORE
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id