Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

    Media Indonesia - 09 Juni 2021 09:59 WIB
    Pembelajaran Tatap Muka Terbatas
    Ilustrasi. MI/Seno



    PENDIDIKAN memang penting. Akan tetapi, keselamatan nyawa jauh lebih penting. Karena itu, pembelajaran tatap muka yang dimulai Juli harus menempatkan keselamatan jiwa siswa dan guru di atas segalagalanya.

    Keselamatan siswa dan guru hanya bisa dijamin jika pembelajaran tatap muka mematuhi dengan sungguh-sungguh perintah Presiden Joko Widodo. Pembelajaran tatap muka harus dijalankan dengan ekstra hati-hati. Tatap muka dilakukan secara terbatas.

     



    Ada lima perintah Presiden yang harus dipatuhi tanpa tawar-menawar. Pertama, pembelajaran tatap muka hanya boleh maksimum 25% dari total siswa. Kedua, pembelajaran tatap muka tidak boleh dilakukan lebih dari dua hari dalam sepekan. Ketiga, setiap hari maksimal hanya dua jam pembelajaran tatap muka.

    Keempat, opsi menghadirkan anak ke sekolah tetap ditentukan orang tua. Kelima, semua guru sudah harus selesai divaksinasi sebelum dimulai pembelajaran tatap muka.

    Lima perintah Presiden yang disampaikan pada saat rapat terbatas di Jakarta, Senin 7 Juni 2021, pada prinsipnya sudah dijalankan selama uji coba pembelajaran tatap muka selama ini.

    Ada celah yang bisa membawa petaka selama uji coba. Itulah yang terjadi di kasus klaster sebuah SMA di Pekalongan, Jawa Tengah, pada awal bulan ini. Berawal dari satu orang guru yang tetap memaksa masuk sekolah, meski mengalami gejala sakit, pada akhirnya menyebabkan 33 orang terkonfimasi positif covid-19.

    Klaster sekolah terjadi karena mengabaikan protokol kesehatan dan tidak menaati SOP PTM. Lebih celaka lagi kalau guru tetap memaksakan diri mengajar hanya karena takut tunjangan kinerjanya dipotong. Tugas kepala daerah untuk memastikan protokol kesehatan dan SOP PTM berjalan tegak lurus di sekolah.

    Amatlah naif jika kita berharap sekolah se-Nusantara akan 100% berdisiplin menjalankan prokes. Bukankah penelitian terkontrol pun menyisakan ruang untuk margin error?

    Sebab itu yang harus dilakukan sebelum melaksanakan pembelajaran tata muka ialah semaksimal mungkin menekan margin keteledoran. Bukan hanya lewat edukasi prokes maupun pengenalan gejala. Tidak cukup pula dengan pemberian sanksi.

    Kasus di Pekalongan itu mengajarkan pada kita bahwa ekstra kehati-hatian berarti menyiapkan payung yang lebih besar. Sebab, sekali celah terbuka, yang kita hadapi bukan sembarang hujan.

    Pelaksanaan pembelajaran tatap muka mau tidak mau menuntut SOP preventif risiko penularan, lebih dari yang telah dijalankan selama uji coba. Pelaksanaan tes, sedikitnya tes Genose, setiap sebelum dimulainya sekolah merupakan kebutuhan yang tidak terelakkan.

    Harus jujur diakui bahwa risiko penularan di ruang kelas sesungguhnya tidak lebih kecil daripada di dalam moda transportasi seperti kereta dan pesawat yang interaksi antarpenumpang minim terjadi.

    Kita mengapresiasi komitmen pemerintah terkait pembelajaraan tatap muka mulai Juli. Meski demikian, jangan sampai pembelajaran tatap muka ditunda akibat terjadi lonjakan kasus covid-19 di sejumlah daerah.

    Jangan ditunda pembelajaran tatap muka karena laporan dari berbagai lembaga penelitian menunjukkan kualitas belajar daring tidak sebaik pembelajaran tatap muka. Belum lagi jika bicara dampak hilangnya hubungan sosial terhadap siswa. Jangan sampai siswa menjadi ansos alias antisosial.[]

    *Editorial Media Indonesia, Rabu, 9 Juni 2021


    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id