Abdul Kohar
    Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group

    Pilar

    Smelter Kemandirian

    Abdul Kohar - 13 Oktober 2021 13:48 WIB
    Smelter Kemandirian
    Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar/Media Indonesia



    Jakarta: Hilirisasi itu keniscayaan. Ia elemen penting penanda kemandirian ekonomi bangsa. Bagi Indonesia, keberhasilan hilirisasi akan menjadi sejarah yang dipahat hari ini untuk perjalanan bangsa ke depan. Ia serupa pemutus mata rantai kelas bangsa ini yang berabad-abad jadi pemamah, konsumen, dan penonton.

    Sejarah itu telah dimulai, kemarin, di Gresik, Jawa Timur. Ditandai dengan groundbreaking pabrik pemurnian tambang (smelter) PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Port Estate (KEK JIIPE) Gresik, Jawa Timur, oleh Presiden Jokowi. Bukan sembarang tempat pemurnian tambang. Jika sudah tuntas, tempat tersebut bakal menjadi smelter terbesar di dunia. Smelter Gresik mampu mengolah 1,7 juta ton konsentrat dan akan memproduksi 600 ribu ton tembaga (copper) per tahun.

     



    Program hilirisasi produk tambang melalui smelter ini juga digadang-gadang melahirkan efek berganda bagi sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat. Ia diproyeksikan menyerap 40 ribu tenaga kerja baru. Keberadaan smelter juga bisa menumbuhkan usaha rantai pasok. Misalnya, tumbuhnya industri terkait di hilir, peningkatan keterampilan sumber daya manusia, dan alih teknologi dalam negeri.

    Baca: Pembangunan Smelter Freeport di JIIPE Gresik Bakal Perkuat Hilirisasi Industri

    Paling lambat tiga tahun ke depan, smelter di Gresik sudah bisa beroperasi. Dengan membenamkan uang US$3 miliar (sekitar Rp42 triliun) untuk membangun smelter ini, investor digaransi tidak akan merugi. Malah bisa untung berlipat dalam tempo singkat.

    Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang menggaransi itu. Kata dia, dari nilai produksi tembaga (copper) saja, investor bisa mendulang hingga US$5,4 miliar (Rp76,7 triliun) karena harga copper sedang tinggi, US$9 ribu lebih per ton. Itu artinya investasi Rp42 triliun digaransi minimal meraih Rp76,7 triliun. Bila ditambah dengan hasil dari produksi konsentrat, jelas fulus bakal mengalir deras.

    Yang paling untung tentu saja Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Itu karena lebih dari separuh (51%) saham PT Freeport Indonesia dimiliki BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia. Induk Freeport, yakni Freeport-McMoran, pernah menyampaikan keberatannya bila harus membangun smelter baru. CEO Freeport-McMoran Richard Adkerson membeberkan kalau pihaknya membangun fasilitas peleburan atau smelter baru di Indonesia, hitung-hitungannya akan berat secara keuangan perusahaan.
     



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id