Aminuddin
    Aminuddin Penulis dan motivator

    Kepeloporan Pemuda untuk Keutuhan Bangsa

    Aminuddin - 04 November 2020 07:00 WIB
    Kepeloporan Pemuda untuk Keutuhan Bangsa
    (Ilustrasi) Sumpah Pemuda yang dibacakan pada Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 beberapa kali berubah dalam sejarah Indonesia. Medcom.id
    PADA tanggal 28 Oktober, Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sejak saat itu, pemuda selalu menjadi katalisator perubahan bangsa. Peran pemuda meliputi banyak hal, mulai dari ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, integrasi bangsa, kesehatan, dan tentu saja keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dari sinilah kemudian pemuda dianggap sebagai agen perubahan (agent of change). Sebuah istilah yang selalu mewarnai aktivitas pemuda masa kini.

    Pemuda telah menjadi bagian integral kebangsaan Indonesia. Eksistensi pemuda yang independen, idealis, serta tidak larut dalam kepentingan praktis, sumbangsihnya langsung menyentuh persoalan bangsa. Pemuda menjadi jembatan penghubung antara rakyat dan penguasa.

    Ketika banyak gerakan lain yang tidak maksimal, pemuda hadir sebagai alternatif untuk mengawal bangsa. Pemuda juga menjadi pengoreksi atas kebijakan pemerintah yang dianggap tidak sejalan dengan ideologi kebangsaan.

    Istilah sumpah pemuda menarik dikenang dan diinternalisasikan bukan karena sekedar dirumuskan oleh para pemuda. Melainkan semangat juang dan maknanya yang penuh dengan persatuan dan kesatuan. Pendefinisian sumpah pemuda tidak lagi dikotomi usia, melainkan mental kejiwaan yang berapi-api layaknya anak muda.

    Jika pemuda gagal menjadi katalisator peradaban dan pendidikan kebangsaan, mereka akan menjadi makhluk yang gagal pula.

    Narasi persatuan dan kesatuan seperti bahasa, budaya, agama, tentu menjadi modal sosial bagi generasi muda berikutnya untuk terus mengimplementasikan makna sumpah pemuda. Karenanya, semangat sumpah pemuda harus menjadi “oktan” untuk terus menghidupi mesin semangat kebangsaan. Pemudah harus menjadi garda terdepan mengawal tata kelola bangsa yang bertentangan dengan akal sehat dan cita-cita pendiri bangsa.

    Di tengah problem keberagaman dan kebangsaan yang terjadi saat ini, peran pemuda sangat dinantikan sebagai pelopor, terutama dalam menghadapi wabah virus korona.  Wabah virus korona atau covid-19 yang belum ada ujung pangkalnya sejatinya menjadi momentum bagi pemuda bangsa untuk turut serta dalam memeranginya. Terlebih lagi, bulan ini juga diperingati sebagai Haru Sumpah Pemuda. Kepeloporan pemuda menjadi penting untuk direalisasikan.

    Ujung tombak perubahan bangsa
    Pemuda merupakan ujung tombak perubahan bangsa. Benedict Anderson (1972) mengungkapkan bahwa pemuda Indonesia merupakan penggerak revolusi. Dengan begitu, kepeloporan pemuda dalam bingkai NKRI merupakan keniscayaan.

    Namun sayangnya, di era pandemi seperti sekarang ini, pemuda acap kali terperangkap pada suatu imajinasi yang minim spirit kebangsaan. Alih-alih adir sebagai pahlawan bangsa, pemuda hanya menjadi pelopor kabar bohong (hoaks). Di era revolusi industri, pemuda terperangkap pada ilusi imajinatif tanpa substansi. Artinya, pemuda saat ini hanya sibuk menerjemahkan dirinya sebagai pemuda yang modern.

    Mereka akan menganggap dirinya modern ketika mengikuti arus perubahan yang dipelopori oleh media sosial, mengikuti tren modernitas, dan budaya yang jauh dari cita-cita bangsa. Sedangkan pemuda yang lebih rasional dan dekat dengan problem solver dianggap tidak modern. Perangkap inilah yang membuat pemuda tidak mampu berpikir kritis, tunaliterasi, latah peradaban, tidak menghargai orang lain, dan bahkan abai terhadap problem bangsa yang dihadapi saat ini.

     Kaum muda harus menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, terutama sebagai penopang bonus demografi. 

    Konsekuensi tersebut akan berdampak pada beberapa hal. Pertama, ancaman negara gagal. Ancaman ini bukan pepesan kosong. Sebab, di tangan pemuda cita-cita bangsa dipertaruhkan. Jika pemuda gagal menjadi katalisator peradaban dan pendidikan kebangsaan, mereka akan menjadi makhluk yang gagal pula. Di sisi lain, lambat laun pekerjaan manusia mulai digantikan oleh mesin. Itu artinya, ancaman pengangguran akan menjadi keniscayaan.

    Konsekuensi dari ancaman pengangguran di atas adalah suburnya berbagai doktrin kiri yang ingin menghancurkan kohesi kebangsaan seperti separatisme, radikalisme dan kekerasan atas nama agama. Penelitian Wahid Institute (2016) terkait indikator kerukunan sosial dan keagamaan di komunitas muda menyebutkan bahwa 37% anak muda mendukung praktik radikalisme. Yang lainnya, 15% setuju pelarangan ibadah minoritas yang dianggap sesat, 12,5% setuju ideologi pancasila ditukar, dan 7,9% setuju dengan tindakan kekerasan atas nama agama.

    Ancaman disintegrasi bangsa
    Tentu saja ini menjadi kabar buruk bagi kita. Ternyata anak muda berada dalam ancaman disintegrasi bangsa. 

    Kedua, hilangnya kesempatan mendulang bonus demografi (demografic deviden). Seperti diprediksi, bonus demografi akan dirasakan Indonesia pada 2020-2030. Dalam rentang tahun tersebut, jumlah penduduk usia kerja (15-64 tahun) akan mencapai 70 persen. Sisanya penduduk tidak produktif.

    Ledakan tersebut tentu menjadi peluang sekaligus ancaman bagi Indonesia. Jika Indonesia, terutama kaum muda mampu mengelolanya dengan baik, ini menjadi jendela peluang (window of opportunity) untuk kemajuan bangsa. Sebaliknya, akan menjadi malapetaka jika tidak dikelola dengan baik.

    Bagi Indonesia, untuk menjadi negara maju nantinya sulit untuk diulang. Oleh karena itu, generasi muda  harus memiliki grand design yang mampu menjadi daya saing bangsa. Gelombang teknologi harus menjadi landasan faktual bagi kaum muda untuk kreatif dan inovatif.

    Oleh karena itu, makna sumpah pemuda harus menjadi pendorong bagi pemuda untuk lebih imajinatif-produktif, inovatif dan kreatif. Kaum muda harus menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, terutama sebagai penopang bonus demografi.

    Selain itu, pemuda harus membangun budaya literasi. Ada dua budaya literasi yang perlu dilakukan oleh pemuda. Pertama adalah literasi digital. Literasi digital diperlukan untuk mengimbangi perang digital seperti pemberitaan yang cenderung tendensius, dan tentu saja kabar bohong.

    Kedua adalah literasi kebangsaan. Literasi ini berwujud tradisi membaca, menulis, serta meneliti seperti yang sudah dicontohkan oleh para pendiri bangsa. Para pendiri bangsa tidak pernah lepas dari tiga tradisi itu untuk menemukan ide-ide dan gagasan besar tentang keindonesiaan. Karenanya, pemuda harus menghidupkan kembali tradisi literasi kebangsaan.[]

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.


    (SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id