Abdul Kohar
    Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group

    Cahaya Noor Titan

    Abdul Kohar - 02 Oktober 2021 05:11 WIB
    Cahaya Noor Titan
    Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. MI/Ebet



    DI tengah gemuruh media di Tanah Air mengaduk-aduk isu TNI disusupi komunis yang dilontarkan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, ada berita gembira dari Noor Titan Putri Hartono. Perempuan asal Cimahi, Jawa Barat, itu membetot perhatian media Amerika, Voice of America cabang Indonesia, tengah bulan ini, bukan karena isu penyusupan komunis, melainkan karena prestasinya di Amerika.

    Noor Titan, tulis media Voaindonesia.com dalam rubrik Indonesia di Amerika!, tengah berikhtiar keras mencari solusi menghadirkan sumber energi bersih yang bisa mengurangi dampak krisis. Tidak sekadar energi ramah lingkungan, tapi juga murah dan bisa dijangkau masyarakat.

     



    Peneliti di Laboratorium Riset Photovoltaic Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Boston, Amerika, asal Indonesia, itu bercita-cita membantu pemerataan akses listrik di Tanah Air. Sejak 2016, ia fokus mengembangkan material panel surya yang lebih murah dan efisien.

    Itu disebabkan, tutur dia, saat ini harga panel surya sangat mahal. "Sudah begitu, susah banget kalau kita pengen punya di Indonesia,” ungkapnya. Itulah yang mendorong Titan menekuni penelitiannya.

    Pemerataan akses listrik di Indonesia, menurutnya, bisa banyak terbantu dengan teknologi panel surya. Bukan saja karena ramah lingkungan, melainkan juga, “Karena enggak butuh transmisi dari Pulau Jawa, tapi kita bisa bangun di pulau tersebut. Terus, orang-orang bisa langsung menikmati listriknya di tempat tersebut.”

    Noor Titan memulai pencarian material panel surya murah ketika mengambil studi pascasarjana di MIT lima tahun lalu, persis setelah menyelesaikan pendidikan S-1 di kampus yang sama. Tanpa jeda, ia melanjutkan penelitian tersebut saat menempuh pendidikan doktoral di MIT, satu dari 10 besar kampus terbaik di dunia.

    Menemukan formula perovskite (bahan yang membuat panel surya mahal) yang stabil menjadi fokus utama Titan. Perovskite ialah mineral yang sudah ditemukan sejak abad ke-19. Akan tetapi, jenis perovskite yang dikembangkan khusus untuk panel surya baru diteliti satu dekade terakhir.

    Setelah membuat lebih dari 1.000 sampel, Titan akhirnya berhasil menciptakan komposisi perovskite yang memiliki tingkat stabilitas delapan kali lebih kuat daripada sebelumnya. Namun, perjalanan untuk sampai pada tahap produksi massal sebagai bahan utama panel surya memang masih amat panjang.

    Namun, Titan punya optimisme, satu dekade ke depan, hasil penelitiannya akan bisa diproduksi secara massal. Optimisme dan kecemerlangan otak perempuan Cimahi ini menuai banyak pujian. Mentornya, Shijing Sun, kagum dengan etos kerjanya di laboratorium. Menurut Sun, Titan peneliti yang sangat berbakat. Ia selalu menemukan solusi atas berbagai masalah sulit. "Ia telah mengajarkan kepada saya hasrat yang besar terhadap sains dan teknologi, demikian juga dengan gaya kerjanya yang sangat rapi dan pekerja keras,” ungkap Sun.

    Satu lagi mutiara Indonesia mampu mengguncang dunia. Sebelum ini, ada banyak peneliti muda kita yang punya temuan brilian. Ada Khoirul Anwar, putra Kediri yang kini bekerja di Jepang. Ia merancang teknologi broadband yang menjadi cikal bakal lahirnya generasi mobile, 4G LTE.

    Ada pula Widagdo Setiawan. Peraih berbagai gelar di bidang fisika dari kampus-kampus paling top di dunia, MIT dan Universitas Harvard. Berkat kecemerlangannya, ia malah digaet Global Electronic Trading Company (Getco), anak usaha dari perusahaan jasa keuangan KCG Holdings, yang berkantor di Chicago. Lalu, Yudistira Virgus, yang mendapatkan gelar doktor fisika dari College of William and Mary, kini bekerja sebagai perancang peranti lunak di San Francisco.

    Tentu daftar yang bisa kita susun masih sangat panjang karena ada ratusan anak cemerlang negeri ini tengah bekerja di negeri orang. Bukan salah mereka jika lebih memilih jalan seperti itu. Boleh jadi, salah kita jualah yang tidak sanggup memberi ruang seluas-luasnya kepada para mutiara bangsa.

    Mungkin karena kita teramat sibuk mengurusi penyusupan komunis, sampai-sampai tidak cukup energi lagi untuk mengapresiasi cahaya terang yang dinyalakan anak negeri seperti Noor Titan. Atau, boleh jadi karena mereka terlalu bekerja dalam kesenyapan hingga terlindap suara nyaring sejumlah elite yang ketakutan oleh 'hantu' musiman di ujung September.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id