Indra Charismiadji
    Indra Charismiadji Direktur Eksekutif Center for Education Regulations & Development Analysis (Cerdas)

    Merdeka Belajar

    Indra Charismiadji - 20 Februari 2020 09:00 WIB
    Merdeka Belajar
    Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
    MERDEKA Belajar sebagai paket kebijakan Mendikbud milenial, Nadiem Makarim sudah masuk ke episode ketiga. Kebijakan ini masih menghadirkan beragam pertanyaan di kalangan masyarakat, termasuk para insan pendidikan.

    Bukankah Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 2045? Mengapa sekarang baru disuruh merdeka? Apakah maksud dan tujuan dari kebijakan ini?

    Seorang novelis Amerika Serikat bernama Walter Mosley mengatakan, “Freedom is a state of mind, our bodies cannot know absolute freedom but our minds can (kemerdekaan adalah suatu kondisi pikiran, badan kita tidak akan pernah merasakan kemerdekaan yang mutlak tetapi pikiran kita bisa).”  

    Jika kemerdekaan berhubungan dengan pikiran maka kemerdekaan akan berhubungan dengan tingkat penalaran. Dalam dunia pendidikan klasifikasi tingkat penalaran ini sering disebut taksonomi.

    Di abad 21 ini, taksonomi yang sering dijadikan acuan dalam dunia pendidikan adalah karya Lorin Anderson dan David Krathwohl tahun 2001, yang lebih dikenal dengan istilah penalaran tingkat lebih tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). HOTS merupakan revisi dari taksonomi yang disusun oleh Benjamin Bloom tahun 1956.

    Enam tingkat kemampuan bernalar

    Dalam konsep HOTS terdapat enam tingkatan kemampuan bernalar manusia, dimulai dari yang paling rendah, yakni mengingat/menghafal (remembering), kemudian memahami (understanding), mengaplikasi/menerapkan (applying), menganalisa (analyzing), mengevaluasi/menilai (evaluating), dan tingkatan yang paling tinggi adalah mencipta (creating).

    Kemampuan berpikir menghafal, memahami dan menerapkan disebut dengan penalaran dengan tingkat yang lebih rendah (Lower Order Thinking Skills), sedangkan untuk kemampuan menganalisa, mengevaluasi, dan menciptakan termasuk ke dalam kategori kemampuan berpikir tingkat yang lebih tinggi (Higher Order Thinking Skills).
     

    Banyak pendidik yang sangat yakin bahwa mengingat/menghafal adalah konsep yang paling penting dalam pendidikan. Saya seringkali terlibat dalam perdebatan ini.



    Menurut saya, otak manusia bukan diciptakan untuk menyimpan informasi. Terbukti dengan segala sesuatu yang kita hafalkan sebagian besar akan kita lupakan. Terbukti apabila seseorang belajar dengan pola SKS (sistem kebut semalam) saat menghadapi ujian pada keesokan hari --walaupun pola ini cukup bermanfaat untuk menghadapi ujian-- namun setelah ujian biasanya materi-materi tersebut akan terlupakan.

    Artinya, apa yang sudah dipelajari tidak bermanfaat untuk hidup karena mudah dilupakan. Hal ini ditegaskan oleh kajian seorang psikolog Jerman yang bernama Hermann Ebbinghaus dengan Kurva Lupa Manusia (Human Forgetting Curve). Ini yang membuat menghafal ditempatkan di tingkat nalar yang paling rendah.

    Tingkatan selanjutnya adalah memahami. Contoh, apabila anak-anak sekolah diberikan pertanyaan sebagai berikut:
        Di manakah tempat yang paling tepat untuk membuang sampah?
        a. Laut                        b. Sungai
        c. Trotoar                    d. Tong sampah


    Hanya paham teori

    Kita akan sangat yakin bahwa semuanya akan menjawab d. Tong sampah. Walaupun secara teori mereka sudah tahu jawaban yang benar tetapi hal ini bukan berarti dalam kehidupan sehari-hari anak-anak tersebut mampu dan mau membuang sampah di tong sampah. Jadi, dalam tingkat nalar ini, mereka hanya mampu memahami teori tanpa mampu mempraktikkan.

    Sedangkan bagi mereka yang sudah mampu membuang sampah di tong sampah, ada dua kemungkinan tingkat penalarannya. Yang termasuk dalam penalaran tingkat yang lebih rendah (LOTS) adalah mereka yang walaupun mampu mengaplikasikan/mempraktikkan dalam tindakan nyata namun mereka tidak tahu mengapa mereka melakukan hal tersebut.

    Biasanya mereka hanya merasa terpaksa, wajib, atau takut dengan hukuman. Jadi mereka ini ketika ditanya mengapa membuang sampah di tong sampah, jawabannya akan berkisar karena sudah aturan sekolah, nanti dimarahi/dihukum oleh guru atau orang tua, nanti tidak naik kelas, dan lain sebagainya. Di sini menunjukkan bahwa faktor ekstrinsik (luar diri) jauh lebih dominan daripada faktor intrinsik (dalam diri) saat mengambil keputusan.

    Sebaliknya bagi mereka yang mampu menjelaskan alasan membuang sampah di tong sampah seperti: untuk menjaga kesehatan dan keindahan lingkungan; untuk menghindari banjir; untuk menghindari penyakit; dan lain-lain. Tingkat nalar mereka sudah di level analisa, dalam arti mereka mampu menganalisa sendiri tindakan yang dilakukan, dari sebab sampai akibatnya.


    Tak hanya ikut perintah

    Mereka tidak sekedar ikut perintah dalam melakukan sesuatu tetapi dengan kesadaran penuh. Tingkat bernalar ini sudah masuk tingkat penalaran lebih tinggi (Higher Order Thinking Skills).
        
    Tingkat bernalar yang lebih tinggi lagi adalah evaluasi. Mereka  yang memiliki kemampuan berpikir di level ini ini, akan melihat sampah bukan sekedar sampah yang harus dibuang di tong sampah, tetapi mereka bisa mengevaluasi sampah itu punya beragam jenis. Ada sampah yang mudah didaur ulang dan ada juga yang sulit sekali didaur ulang seperti sampah plastik.

    Oleh karenanya, mereka memisahkan sampah-sampah tersebut berdasarkan jenisnya, mulai dari sampah kertas, plastik, bahan organik, dan lainnya. Mereka mampu mengevaluasi tindakannya sendiri.
        
    Tingkat keterampilan berpikir paling tinggi dalam HOTS adalah menciptakan. Di sinilah manusia mampu menciptakan hal yang baru atau membuat gerakan baru untuk suatu perubaan nyata. Misalnya dengan membuat pupuk kompos dari sampah, menciptakan karya dari bahan sampah (daur ulang), maupun membuat sebuah gerakan sekolah berupa kampung bebas sampah.

    Dengan demikian jelaslah mereka yang bernalar rendah dalam bertindak biasanya hanya sebatas ikut perintah orang lain, tidak memiliki pilihan karena kewajiban semata, dan biasanya akan merasa ditekan (tidak merdeka). Sedangkan mereka yang bernalar tinggi adalah orang-orang yang selalu punya pilihan (merdeka) karena mereka sadar penuh sebab dan akibat segala tindakan yang dilakukannya.

    Konsep nalar inilah yang mendasari program Merdeka Belajar.  Sebenarnya konsep ini pertama kali dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara dengan rumus
    Ngandel > Kandel  > Kendel > Bandel.

    Ngandel artinya percaya. Jika kita percaya terhadap pemikiran sendiri maka kita tidak akan mudah tergoyahkan oleh pendapat orang lain (kandel atau tebal). Jika kita tidak tergoyahkan maka kita akan berani (kendel) menghadapi siapapun dalam beragumentasi.

    Orang-orang yang berani ini biasanya disebut bandel. Program Merdeka Belajar ingin mendorong manusia Indonesia yang cerdas dan mampu bertindak tanpa diperintah. Belajar karena butuh belajar bukan karena hanya ada Ujian Nasional. Konsep bernalar tinggi inilah yang menjadi fondasi dari SDM Unggul Indonesia.[]

     
    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id




    (SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id