Nadia Sekarsari Atmaji
    Nadia Sekarsari Atmaji Co-Founder Read & Greet Book Community

    Dicari, Startup yang Bisa Cetak Untung!

    Nadia Sekarsari Atmaji - 17 Februari 2020 22:36 WIB
    Dicari, Startup yang Bisa Cetak Untung!
    Seorang perempuan tengah mengepak barang di gudang milik Amazon di Staten Island, New York City. Foto: AFP/Johannes Eisele
    SAAT ini mungkin smartphone Anda penuh dengan beragam aplikasi buatan perusahaan rintisan. Sebut saja aplikasi ride-hailing, e-commerce, dompet digital, tiket perjalanan, dan lainnya. Frekuensi Anda dalam menggunakan masing-masing aplikasi tersebut biasanya bergantung pada kebutuhan ataupun pertimbangan besaran promo (baca: cashback) yang ditawarkan. 

    Promosi besar-besaran adalah strategi kunci para startup untuk merebut pasar teknologi. Pemasukan tidak dipikirkan atau setidaknya belum menjadi prioritas sebagian besar startup, terutama yang masih mengincar ekspansi dan pertumbuhan yang signifikan. Wajar, manajemen startup harus melaporkan pertumbuhan akuisisi pengguna sehingga mendapat valuasi yang baik dari investor sektor privat. 

    Di sisi lain, promosi gencar atau aksi yang dikenal dengan “bakar uang” ini bertujuan untuk menguasai market. Hasil penelitian Patrick Barwise, Emeritus Professor of Management dari London Business School, menyatakan “once a company dominates a technology market, it is almost impossible to displace”. 

    Artinya, dana besar dari investor ini digunakan startup untuk memenangkan market yang ada sejak awal. Kompetitor yang baru mau masuk ke pasar akan sangat sulit untuk bersaing dengan kompetitor besar dan akhirnya mundur teratur. Winner takes it all.

    Strategi seperti ini mendapat perhatian ekstra karena investor mulai berhitung kapan startup yang menjanjikan ini akan meraup untung. Mereka belajar dari momentum-momentum penting di tahun 2019, antara lain terjadi pada Uber dan WeWork, yang sama-sama punya pengalaman buruk terkait dengan pendanaan publik alias IPO (initial public offering). 

    Perubahan pascaturbulensi

    Lalu, apa perubahan yang kemungkinan besar terjadi pascaturbulensi ini? Apakah investor tetap optimis dalam menanamkan modal namun lebih berhati-hat? Yang pasti, perusahaan yang berpotensi untuk menampilkan performa bisnis berkelanjutanlah yang akan didanai.

    Menurut penyedia data pasar PitchBook Data, ada 23 startup Asia yang mencapai valuasi US$1 miliar untuk bergabung dengan gerbong kereta unicorn pada tahun 2019, hampir setengah dari 42 startup di tahun sebelumnya. Keseluruhan aktivitas penggalangan dana oleh unicorn Asia juga menyusut. 

    Jumlah kesepakatan menurun 36% menjadi 75% dan total dana yang terkumpul turun menjadi sekitar US$21 miliar. Itu sepertiga dari yang berhasil dikumpulkan pada tahun 2018. 

    Pada tahun 2020, performa startup dalam menjalankan fundamental bisnis mereka akan lebih diperhatikan. Dengan adanya India, Asia Tenggara, dan negara Asia lain yang mengejar China dalam mengembangkan perusahaan rintisan, akan lebih banyak perusahaan Asia yang bercita-cita untuk menjadi unicorn

    Perusahaan ini perlu membuktikan kualitas pertumbuhan mereka di tengah lingkungan pasar yang berubah untuk membuat investor—baik swasta maupun publik—lebih percaya diri. Artinya, era bakar-bakar uang akan dibarengi dengan tuntutan investor, tak hanya soal pertumbuhan tapi juga keuntungan.

    Meski ada kehati-hatian pada investor, prediksi bisnis di tahun-tahun mendatang masih menjanjikan. Hasil penelitian oleh Google-Temasek berjudul Internet Economy Report 2019 menunjukkan bahwa ekonomi digital Asia Tenggara diperkirakan akan tumbuh hingga US$300 miliar pada tahun 2025. Sementara itu secara khusus di Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina tumbuh antara 20% hingga30% setiap tahun, tanpa ada tanda-tanda perlambatan.

    Indonesia pasar terbesar

    Dua penentu kecepatan di wilayah ini adalah Indonesia dan Vietnam, yang memimpin dengan tingkat pertumbuhan lebih dari 40% per tahun. Selain itu, sebagai pasar terbesar dan paling cepat berkembang di kawasan ini, Indonesia kemungkinan besar akan menjadi ujung tombak pertumbuhan. 

    Nilai perdagangan kotor dari ekonomi digital negara ini mungkin naik melampaui US$100 miliar pada tahun 2025. Artinya, nilai tersebut menyumbang hampir setengah dari nilai pasar di kawasan. 


    Daily Social melaporkan bahwa perusahaan rintisan di Indonesia telah mendapatkan setidaknya 51 investasi pada tahun 2018, termasuk 20 transaksi pendanaan benih tercatat, 14 contoh pendanaan Seri A, dan 11 kasus pendanaan Seri B. Tidak termasuk unicorn, startup Indonesia menerima total investasi Rp4 triliun, atau US$274 juta. 

    Sementara itu pada 2019, startup Indonesia memperoleh 59 transaksi investasi yang tercatat. E-commerce, perangkat lunak sebagai layanan (SaaS atau software as a service) dan fintech menerima pendanaan terbesar. Sementara layanan berbasis Artificial Intelligence (AI) mendukung platform tersebut dan lainnya dengan membuat chatbots untuk mereka.

    Tetap bergairah

    Sebagian besar analis perusahaan venture capitalist ternama yang saya ajak diskusi menyatakan bahwa VC akan tetap bergairah dan cenderung bullish dalam menanamkan modal besar ke startup. Hanya saja seleksi ketat akan dilakukan dan pendanaan akan dikucurkan untuk bisnis yang mempunyai karakter kuat dan bekelanjutan. 

    Setidaknya ada 5 (lima) syarat yang harus dipenuhi oleh startup tersebut. Pertama, masalah dan isu yang diselesaikan oleh bisnis startup tersebut bermakna serta layak untuk mendapat solusi. Kedua, ada pasar yang cukup besar untuk bisnis tersebut. Ketiga, ada keuntungan bisnis per unit. Keempat, ada revenue per customer yang tinggi dan customer yang “sticky” alias akan kembali lagi. Terakhir, yang kelima, susunan pendiri yang solid dengan keterampilan yang saling melengkapi dan pengalaman sesuai dengan pasar yang mereka tuju.

    Berkaca pada performa bisnis para startup di tahun 2019, Venturra Discovery memprediksi di tahun 2020 ada 3 (tiga) model bisnis yang bisa berjalan baik. PertamaDirect-to-Customer” lalu kedua “Online-to-Offline”, dan ketiga “Efficiency Enhancement” di bidang pendidikan, kesehatan, dan supply chain

    Direct-to-consumer adalah model bisnis yang memotong mata rantai distribusi dari pabrik/produsen ke konsumen. Sementara online-to-offline adalah model bisnis yang memanfaatkan kombinasi online dan offline. Tujuannya adalah untuk menjemput konsumen guna meningkatkan poin penjualan ataupun memberikan pengalaman bagi konsumen. 

    Sementara efficiency enhancement adalah bisnis startup yang bisa meningkatkan efisiensi layanan publik yang biasanya cenderung lamban dan kualitasnya bervariasi.

    Pelajaran untuk startup 

    David Erickson seorang pengajar senior di Universitas Wharton untuk mata kuliah Strategic Equity Finance mengatakan, bagi perusahaan atau founder yang berminat untuk IPO, perlu memperhatikan sejumlah hal. Pertama, penilaian di pasar swasta memang menarik, tetapi mungkin bukan menjadi titik rujukan untuk go public

    Contohnya, sebuah perusahaan penjualan kasur online di Amerika mendapatkan penilaian harga IPO kurang dari setengah dari putaran pendanaan swasta terakhirnya. Jelas bahwa investor ekuitas publik akan lebih skeptis terhadap penilaian yang dicapai di pasar swasta untuk banyak unicorn ini.

    Kedua, perusahaan yang mencoba memposisikan diri sebagai "perusahaan teknologi" untuk mendapatkan beberapa valuasi yang lebih tinggi mungkin perlu menjadi "perusahaan teknologi" yang sesungguhnya dan tidak melebih-lebihkan jargon perusahaan. Pasalnya, ketika memasang jargon berlebihan, perusahaan cenderung mendapatkan valuasi yang tidak sesuai pula. 

    Ketiga, jalan menuju profitabilitas itu penting. Meskipun perusahaan masih dapat mengumumkan tidak untung pada publik, akan ada pengawasan yang lebih ketat lagi bagi perusahaan yang telah mengumpulkan sejumlah besar uang dan menggunakan dana itu untuk menumbuhkan top line.

    Jika tidak, perusahaan akan  kehilangan sejumlah besar untuk menghasilkan pendapatan. Bagi investor, poin ini lebih penting untuk perusahaan "direct-to-consumer" yang beroperasi di pasar yang sangat kompetitif.


    Tantangan Pasar Ekonomi Digital

    Walaupun Indonesia adalah tempat yang sangat prospektif untuk membangun bisnis digital, praktiknya tidak selalu sederhana. Ketika berbicara tentang peraturan, startup di bidang seperti e-commerce dan teknologi kerap menemui beberapa hambatan sebelum menjalankan bisnis. 

    Menurut Bede Moore—ekspatriat Australia salah satu pendiri Lazada Indonesia—ada empat tantangan dalam pendirian bisnis digital di Indonesia, yakni (1) kurangnya regulasi yang efektif, (2) modal, (3) tenaga kerja yang mumpuni, dan (4) infrastruktur. Hal ini ia ungkapkan dalam tulisannya di buku Digital Indonesia, Connectivity and Divergence

    Untuk mengatasi masalah ini perlu ada peraturan yang lebih efektif termasuk klarifikasi peran kepemilikan asing; penarikan modal untuk mendukung perusahaan tahap awal dan pertumbuhan; investasi dalam menyelesaikan kendala infrastruktur yang kritis; dan pembangunan kapasitas untuk mendapat bakat yang tepat guna mendorong inovasi teknologi.

    Mampukah Indonesia menjawab tantangan ini lalu muncul sebagai raksasa teknologi global? Jawabannya, belum jelas.

    Pendekatan Indonesia yang berubah-ubah terhadap investasi asing membuat sulit untuk membayangkan perbaikan iklim investasi yang secara substansial akan mengubah trayek pertumbuhan industri teknologi, meskipun ada niat pemerintah untuk melakukan reformasi. Namun, laporan berjudul Unleashing Indonesia's huge potential dari McKinsey (Oberman et al. 2012) menyatakan bahwa Indonesia telah berhasil memelihara beberapa perusahaan teknologi paling mengesankan di Asia Tenggara. 

    Kita optimis saja, Indonesia akan terus menciptakan perusahaan teknologi besar dan penting, dengan model bisnis yang sehat dan bahkan dapat menciptakan startup berkualitas kelas dunia.[]

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id



    (SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id