Charles Meikiansyah
    Charles Meikiansyah Anggota DPR RI 2019-2024

    Meluruskan Prasangka, Menjelaskan Fakta

    Charles Meikiansyah - 08 November 2019 23:37 WIB
    Meluruskan Prasangka, Menjelaskan Fakta
    Ketua Umum Surya Paloh dalam Pembukaan Kongres II Partai NasDem secara resmi dibuka di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat, 8 November 2019/Antara Foto/Hafidz Mubarak A

    Truth is whatever people will believe – Roger Ailes


    DI SELA-SELA perhelatan Kongres Ke-2 Partai NasDem, banyak rumor berembus.

    Memang, politik akan selalu berkelindan dengan isu dan prasangka. Mungkin, kalau saya tidak salah memperhatikan, sejauh ini covered media terhadap kongres Partai NasDem merupakan yang terbesar dibanding perhelatan di partai lain. 

    Serangkaian peristiwa politik dan puncaknya safari Partai NasDem ke TB Simpatupang, kantor DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menimbulkan banyak syak wasangka. Setidaknya, yang paling banyak ditanyakan adalah apakah Partai NasDem keluar dari koalisi dan menjadi partai oposisi? 

    Di media sosial, banyak analisis yang "utak-atik-gathuk" memprediksi Partai NasDem sedang memainkan politik catur, atau pola zig-zag. Tujuanya, membuat gaduh agar mendulang akumulasi elektoral dari memainkan simpati publik. 

    Analisis itu seolah-olah mendapatkan pembenaran ketika rumor bahwa Presiden Joko Widodo tidak diundang dalam kongres Partai NasDem, atau Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan yang diberi panggung, begitu beredar kencang di lini masa.

    Baca: Melampaui Kalkulasi Politik, Meneguhkan Demokrasi yang Bermutu

    Beginilah kalau semesta politik kita masih dihiasi rumor, bukan lagi perdebatan gagasan yang konstruktif. Begitu banyak tulisan dan analisis yang retoris menjelaskan kalau Partai NasDem sedang memainkan opera untuk kepentingan Pemilu 2024. 

    Serentetan prasangka dan analisis itu celakannya mendapatkan atensi yang luas dari publik. Dengan demikian, saya akan menggunakan medium untuk meluruskan prasangka, agar kita jernis memandang politik. 

    Menjawab semuanya saya akan menyitir, sekaligus memodifikasi quote masyhur Pramoedya Ananta Toer, "Politik sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya."

    Seputar kongres
    Pembukaan Kongres Partai NasDem yang tidak dibuka Presiden, merupakan sikap untuk menjadi partai oposisi. Langkah politik untuk menjauhkan partai dari pusat kekuasaan, sekaligus strategi mengakumulasi empati publik seolah-olah Partai NasDem merupakan partai yang dizalimi Presiden. 

    Retorika di atas, sejatinya tidak tepat karena kehilangan konteks dalam membaca.

    Kongres kali ini berbeda dengan kongres Partai NasDem terdahulu. Kongres ke-2 bertepatan dengan ulang tahun Partai NasDem yang ke 8. 

    Kongres dilakukan pada 8-10 November 2019, sedangkan ulang tahun NasDem pada 11 November. Dengan waktu yang relatif bebarengan, tentu panitia harus mengatur jadwal agar tidak berbenturan dengan jadwal protokoler karena tidak mungkin dua momentum sekaligus dibuka Presiden. 

    Karena momentum ulang tahun adalah momen berharga, maka Partai NasDem memutuskan untuk mengundang Presiden di acara tersebut. Tidak hanya Presiden, Partai NasDem juga mengundang seluruh pimpinan partai politik, baik partai koalisi maupun partai oposisi. Baik Megawati Soekarnoputri, Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto, Muhaimin Iskandar, Suharso Manoafra, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Zulkifli Hasan, maupun Sohibul Iman. 

    Selain itu, Partai NasDem juga mengundang seluruh tokoh bangsa dan perwakilan negara sahabat. 

    Mengapa ulang tahun ke-8 kali ini begitu penting bagi Partai NasDem? Karena pada ulang tahun kali ini Partai NasDem mendapatkan kado spesial, yakni kenaikan signifikan baik perolehan suara secara nasional maupun kursi di parlemen. Sekaligus, Partai NasDem mampu memenangkan Presiden Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019. 

    Lalu bagaimana dengan kongres dan Anies Baswedan? Ya, karena kongres digelar di Jakarta, maka Gubernur DKI lah yang yang layak membuka acara. Begitu pun, jika saja  kongres dilakukan di Sulawesi Tenggara, niscaya yang akan membuka adalah Gubernur Ali Mazi yang merupakan kader Partai NasDem. As simple as that.

    Terkait apakah pada kongres kali ini Partai NasDem memutuskan untuk menjadi partai oposisi? Sebenarnya sudah saya tulisakan sebelumnya di Medcom.id dengan judul Melampaui Kalkulasi Politik, Meneguhkan Demokrasi yang Bermutu.

    Tapi, agar publik mengetahui, setidaknya secara sederhana, bahwa apa yang dilakukan Partai NasDem belakangan ini hanyalah merupakan bagian dari cara partai dalam merawat demokrasi. 

    Membangun koalisi yang kritis dan konstruktif, perlu. Tidak hanya sebagai check and balances, tetapi juga sebagai alternatif tawaran kebijakan agar demokrasi kita tumbuh bermutu. 

    Dalam demokrasi, kritis dan konstruktif itu hal yang biasa. Pada pemerintahan pertama Presiden Joko Widodo–Jusuf Kalla pun, Partai NasDem merupakan kekuatan pertama yang mendukung sekaligus yang tidak sepi memberikan masukan. Partai NasDem, tidak tinggal diam ketika ada sebuah rencana kebijakan yang berpotensi menyengsarakan rakyat.

    Jangan lupa bahwa Partai NasDem merupakan kekuatan yang “all out” dalam memenangkan Joko Widodo–Ma’ruf Amin. Jadi, kalau ada rumor Partai NasDem mengambil langkah zig-zag, tentu sangat berlebihan. Bukankah kita sedang “bulan madu” atas sebuah kemenangan?

    Dengan menempatkan kader-kader terbaik Partai NasDem di pemerintahan, begitulah cara kami memastikan pemerintahan memang benar-benar bekerja untuk rakyat.

    Fokus ke depan. 
    Bagi Partai NasDem, tahun 2024 masih sangat jauh. Partai NasDem sudah banyak belajar dari rentetan Pilkada dan Pilpres. Partai NasDem benar-benar "data and evidence based" dalam memutuskan keputusan-keputusan politik. Dan itu, yang membuat kami tampak lebih tumbuh ketimbang partai lain.

    Partai NasDem bukan kekuatan kemarin sore yang sesuai dengan nalar para penulis partikelir yang mencoba memisakannya dengan Presiden Joko Widodo. Politik tidak bisa hanya dilihat dari apa yang tampak, karena dalam politik ada unintended consequences, yang biasanya memiliki benefit lebih besar. 

    Yang jelas, Partai NasDem akan terus bermitra dengan pemerintah dan memastikan agar kerja pemerintahan memang untuk mewujudkan cita–cita kemerdakaan. Pilpres sudah usai, jauh lebih strategis bagi Partai NasDem pada kongres kali ini adalah bagaimana Partai NasDem memenangkan kontestasi Pilkada 2020. 

    Selebihnya, lagi-lagi saya harus megutip dan memodifikasi tulisan Pram, bahwa "Politik itu (memang) sederhana, tafsirnya saja yang luar biasa".[]

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id



    (SBH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id