M Tata Taufik
    M Tata Taufik Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat

    Titik 40 Tahun

    M Tata Taufik - 28 April 2021 10:24 WIB
    Titik 40 Tahun
    Ilustrasi/Medcom.id



    FASE kehidupan manusia sering dibagi menjadi beberapa fase. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa awal, dewasa, dan terakhir lanjut usia. Usia 40-60 dikelompokkan pada fase dewasa. Ada yang menyebutnya fase dewasa pertengahan.
     
    Sedangkan, dari 60 tahun sampai tutup usia, itu disebut  fase usia lanjut. Fase ini disebut sebagai fase kematangan. Fase yang telah melewati lebih dari 30 tahun perkembangan, baik fisik maupun psikis. Masa pengenalan nilai dan pergumulan emosional; antara memilih dan menerima, menentukan dan melaksanakan, serta keteguhan sikap sudah bisa terlewati dengan baik.
     
    Rasulullah SAW di fase awal (masa mudanya) memulai kehidupan dengan prestasi gemilang berupa kejujuran. Puncaknya dicapai pada usia 35 tahun dengan mendapat gelar al-Amin (orang yang tepercaya).
     
    Para pemuka Quraisy memercayakan Rasulullah untuk menjadi penengah (mediator) dalam pertikaian para pemuka Quraisy saat meletakkan Hajar Aswad di Ka’bah, ketika mereka merehab Ka’bah. Mediasinya berhasil dan keputusannya diterima oleh semua pihak dengan lega.
     
    Lalu pada usia 40 tahun, Muhammad dewasa menerima wahyu pertama dan berstatus utusan Allah. Penyebutan nama beliau pun dianjurkan untuk disertai doa kepadanya, yakni Salallahu Alaihi Wasallam (SAW). Ketika mengomunikasikan bahwa dirinya diangkat jadi rasul kepada sanak keluarganya, beliau memulai dengan pertanyaan tentang prestasi kejujurannya.
     
    “Jika aku katakan kepada kalian bahwa di balik bukit itu ada kuda perang, apakah kalian percaya?”  Tanyanya. “Ya, kami percaya karena kami belum pernah mendengar engkau berbohong barang sedikit pun,” jawab mereka serempak. Kemudian beliau menyampaikan bahwa beliau adalah Rasulullah SAW.
     
    Kisah ini menggambarkan bahwa fase 0 - 40 tahun adalah fase mengukir prestasi dan kepercayaan dari masyarakat. Sehingga, berbagai keputusan dan informasi yang diberikan bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat yang ada di sekelilingnya.
     
    Fase kedewasaan ini tentu saja merupakan saat seseorang memiliki kekuatan untuk didengar dan diterima. Baik oleh lingkungan keluarga, lalu lebih luas lagi oleh tetangga dan masyarakat secara umum. Tapi, jangan lupa bahwa prestasi gemilang yang dicapai setelah 40 tahun juga merupakan buah dari “pewarisan” orang tua. Perjuangan mereka dalam membina, mendidik, dan membesarkan anaknya. Maka, tidak heran jika pada usia itu diingatkan untuk berbuat baik kepada orang tua.
     
    Dalam surat al-Ahqaf ayat 15 diungkapkan bagaimana proses orang tua membesarkan si bayi kecil. Dari proses hamil hingga menyusui dan seterusnya. Untuk kemudian ketika sudah sampai dewasa, si bayi yang baik itu berterima kasih dengan senantiasa berdoa untuk kedua orang tuanya seraya memohon kepada Tuhannya:
     
    “....hingga jika sampai masa dewasa, dan sampai pada usia 40 tahun, ia berkata: Ya Tuhanku, berilah kami ilham (kemampuan) untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kedua orang tuaku. Dan berilah kami ilham untuk selalu berbuat amal saleh yang Engkau ridai. Dan perbaikilah keturunanku. Aku bertobat kepada-Mu dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Mu).
     
    Tuntunan lain juga diungkap Alquran dalam surat al-Isra ayat 24. “....dan katakanlah; wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka mengasuhku waktu kecil.”
     
    Mungkin di bawah usia 40 tahun masih sulit menemukan kesadaran seperti itu. Lain halnya ketika sudah sampai usia tersebut, akan terbayang berbagai kebaikan orang tua dan perjuangannya. Si bayi itu kini sudah belajar menjadi orang tua dan memiliki tanggung jawab dan menghadapi problem yang kurang lebih sama dengan para orang tua mereka.  Sehingga, kini mampu berterima kasih selepas 40 tahun.
     
    Di akhir tulisan ini baik juga disampaikan hadis Rasulullah SAW dari Abu Hurairah: Umur umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Sedikit dari mereka yang melampaui usia tersebut.
     
    Seorang ulama asal Zimbabwe, Ismail ibn Musa Menk (Mufti Menk), menjelaskan hadis itu dalam ceramahnya: jika umur manusia itu enam puluh tahun, maka dibagi tiga. Dua puluh tahun pertama adalah masa belajar tentang kehidupan yang diajari oleh orang dewasa seperti para ulama, guru, dan orang tua. Dua puluh tahun kedua merupakan masa untuk merealisasikan kehidupan nyata dengan melaksanakan pelajaran hidup yang diterima sebelumnya. Kemudian, dua puluh tahun ketiga adalah masa untuk menyiapkan generasi berikut dengan mengajari mereka bagaimana seharusnya menjalani hidup ini.[]
     
    *M Tata Taufik, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id