Marvin Sulistio
    Marvin Sulistio Traveller dan pengusaha travel

    Manuver Senyap di Kala Bisnis Travel Mati Suri

    Marvin Sulistio - 11 Juni 2020 07:35 WIB
    Manuver Senyap di Kala Bisnis Travel Mati Suri
    ANTARA/Irsan Mulyadi: sektor pariwisata diprediksi baru akan sepenuhnya pulih pada 2023 atau lebih lama.
    MENDISRUPSIKAN sebuah perusahaan jasa travel bukanlah perkara seperti membalikkan telapak tangan. Ketakutan akan adaptasi kenormalan baru membayangi perusahaan, terlebih ketika berbagai paket tur harus dibatalkan, belum termasuk menghitung kerugian. 

    Beragam skenario darurat pun terkesan vonis mati bagi eksistensi perusahaan. Apalagi beragam survei pemerintah mengatakan, bisnis pariwisata atau jasa travel adalah lini perusahaan yang akan sulit pulih 100% dalam 1-2 tahun ke depan. 

    Sebagai jurnalis dan pengusaha travel, perkembangan isu dan keadaan lapangan adalah sarapan saya setiap hari. Saat ini misalnya, fakta menunjukkan, sebagian pengusaha travel kini banting setir berjualan makanan untuk hidup.

    Bahkan, resort mewah pun berlomba menjual paket inap dengan diskon 80%. Belum lagi maskapai yang perlahan pailit. Kompetisi bisnis berlibur ini seakan ditinggal pamit para pemainnya satu-persatu.


    Beruntung bagi perusahaan yang biasa bermain di platform digital sebagai salah satu platform utamanya. Sebab apapun upayanya, pengusaha travel diminta untuk berdigital. Bukan tanpa alasan, sebab bertatap muka, interaksi langsung, adalah hal yang justru tidak boleh kami lakukan. 

    Ironis, sebab bisnis pariwisata dan jasa travel sangat memerlukan tatap muka dan interaksi langsung. Untuk itulah, langkah vital melalui digital menjadi cara yang bisa dilakukan perusahaan travel untuk mampu ‘terbang rendah’ atau gulung tikar.

    Saya melihat berbagai visi dan misi kembali diupayakan, berbagai penawaran menarik produk perusahaan dimaksimalkan. Semua langkah dilakukan untuk membuat berbagai program menarik begitu warga dinyatakan mulai aman berpergian. 

    Kepercayaan terhadap keamanan

    Namun apakah kepercayaan orang terhadap keamanan tujuan wisata tersebut akan sama dengan sebelum pandemi? Haruskah perusahaan melangkah dari awal lagi?

    Ironis ketika rekomendasi kenormalan baru diumumkan, pengusahan jasa sudah terlebih dahulu harus menelan pil ini akibat pemberlakuan pembatasan dan karantina di periode sebelumnya. Kurang dari satu pekan, survival mode perusahaan dilakukan—atau dipaksa ada. Fakta berbentuk pil pahit ini menjadi sebuah adaptasi yang harus dilakukan untuk bertahan, entah sampai kapan.

    Tentu ada hal positif yang bisa diambil dari segala situasi. Ada khasiat dari pahitnya obat yang kita konsumsi. Situasi ini memaksa kami untuk melakukan jeda beraktivitas, bertahan hidup, menyaring informasi, dan berefleksi diri tentang pelajaran yang bisa dipetik. 

    Maka tidak jarang bahwa sudut pandang manusia akan kembali pada hal yang paling dekat dengan keseharian kita masing-masing, hingga kebutuhan pokok kita. Dengan demikian, itulah sudut pandang yang harus dipakai dalam upaya berstrategi bagi perusahaan untuk menggairahkan kembali pariwisata, sembari menunggu kebijakan relaksasi di bisnis ini.

    Saat ini kita memasuki beragam situasi ketidakpastian. Kita melihat banyak masyarakat yang dipaksa berubah dari pola kesehariannya, termasuk bagaimana mereka mengonsumsi informasi hariannya. Berbagai info difiltrasi demi mendapat kata kunci “pandemi ini berakhir.” 

    Beragam semangat dan motivasi pun diberikan melalui jejaring media sosial. Namun semua itu pun harus dibenturkan dengan realita yang disebut adaptasi.

    Dipaksa untuk lumpuh

    Memang beragam celah coba saya dan tim jabarkan untuk melihat peluang dan sisi lain yang bisa ‘dijual’ agar perusahaan tidak sepenuhnya lumpuh. Nyatanya memang tidak bisa. Kondisi memang memaksa kami untuk lumpuh. 

    Bayangkan, ketika dibenturkan dengan pemutusan rantai penyebaran Covid-19, maka kami diimbau untuk bekerja di rumah, tidak mudik, sangat meminimalisir penggunaan kendaraan umum. Bahkan okupansi pesawat pun dibatasi maksimal hanya 50% disertai dengan syarat yang  ketat.


    Padahal, sebagai traveler dan pengusaha travel, seluruh upaya bisnis ini hanya bergantung pada destinasi dan maskapai. Lalu, bagaimana jika seluruh aspek utamanya dibatasi dan dilarang?


    Memang dalam situasi ini kami diminta untuk berfokus pada bertahan hidup secara pribadi dan perusahaan. Namun bagaimana dengan orang yang hidupnya bergantung pada perusahaan? Sebuah polemik saling bergantung yang tidak ada habisnya. 

    Apalagi sektor pariwisata diprediksi baru akan sepenuhnya pulih pada 2023 atau lebih lama. Ngeri, pikir saya ketika melihat data jumlah PHK sampai bulan Juni 2020 bisa mencapai 5 juta orang lebih.

    Namun saya yakin, dalam setiap pikiran jernih pasti terdapat solusi. Paling tidak itu yang saya lakukan bersama tim untuk bisa beradaptasi.

    Tidak hanya beradaptasi untuk tetap ada, namun beradaptasi agar fondasi lebih kokoh. Sah saja ketika kami ingin berinovasi dengan mengikuti tren yang ada demi bertahan, namun jangan lupa untuk tetap taktis dalam mengeksekusinya. 

    Seperti banyak sharing saya sampaikan ketika diminta berkomentar mengenai keadaan dan proyeksi perusahaan travel saat ini, saya selalu menekankan bahwa ini bukanlah survival of the fittest. Sebab ukuran ‘survival’ setiap orang atau perusahaan itu berbeda. 

    Ada yang banting setir usaha untuk survive di kehidupan pribadi, ada pula yang mengorbankan atau mengefisienkan satu usahanya untuk mempertahankan hidup usaha lainnya. Itulah yang bisa dikategorikan survive

    Namun bagi saya pribadi, survive adalah ketika kita mampu mempertahankan awareness warga terhadap eksistensi produk kita, dan eksistensi tubuh perusahaan dengan beragam langkah taktis, efektif, dan efisien yang harus dilakukan. Termasuk peduli dan awas akan apa yang terjadi di masyarakat kita.[] 

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.


    (SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id