Noorca M Massardi
    Noorca M Massardi Penyair, jurnalis, anggota Lembaga Sensor Film

    Ajip Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (Bagian 2 dari 2 tulisan)

    Noorca M Massardi - 02 Agustus 2020 13:40 WIB
    Ajip Jenius Pada Zamannya, Pada Zamanku, dan Pada Zaman (Bagian 2 dari 2 tulisan)
    Foto Noorrca M. Massardi: Kang Ajip adalah seorang yang murah hati dan sangat konsisten. Baik dalam karya, semangat, dan ideologinya. Termasuk dalam gaya rambut dan raut wajahnya.
    SUATU ketika, kami kehilangan kontak dengan Bada. Ternyata, Bada sudah meninggalkan Ubud, dan bekerja di sebuah perusahaan Jepang di bilangan Cikarang, Bekasi, untuk beberapa tahun. 

    Pada suatu saat berikutya, ketika kami liburan ke Jogja, entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba Nundang menghubungi saya, dan mengajak saya ke Pabelan, untuk menemui ayahandanya, Kang Ajip Rosidi, yang saat itu kebetulan sedang di rumahnya di Pabelan, Mungkid, Magelang. 

    Nundang pun menjemput saya ke Jogja. Setelah bertemu dan mengobrol beberapa waktu dengan Kang Ajip, Nundang memperkenalkan saya pada perupa Sony Santosa, asal Curup, Bengkulu. 

    Rupanya, Sony pernah tinggal di Ubud sejak 1989, sebelum kemudian pindah ke Rumah Seni Elo-Progo Art Gallery, miliknya, pada 2006. Di lahan luas yang terletak di pertemuan Sungai Elo dan Sungai Progo, tak jauh dari rumah Kang Ajip, pada setiap bulan purnama, Sony memang selalu menyelenggarakan pelbagai pentas seni, musik dan teater. 

    Acara itu selalu diakhiri dengan pertunjukan “melukis langsung” yang dilakukan Sony, diiringi musik, sebagai performance art di dalam “teater sumur.” Ya, tempat semua peristiwa seni itu memang berlangsung di dalam lubang besar seperti sumur yang dalam, dengan penonton duduk di lingkaran atasnya, sambil melihat ke bawah, seperti menonton pertunjukan Tong Setan.

    Beberapa tahun kemudian saya mendapat kabar bahwa Bada sudah tidak di Cikarang lagi. Bada sudah kembali ke Pabelan, mengurus rumah makan milik keluarga, dan sekaligus membuka warung Kopi Mpat, di lahan milik keluarganya yang sangat luas, dengan pemandangan sawah dan kolam ikan, serta panorama bayangan cungkup Candi Borobudur di kejauhan. 

    Kami pun beberapa kali mampir ke tempat yang menyajikan pemandangan indah itu, tertutama ketika matahari terbit dan saat matahari tenggelam. Ketika itulah, bila sedang beruntung, kami bisa bertemu dan mengobrol satu dua jam dengan Kang Ajip, di rumahnya yang berpekarangan luas, dengan perpustakaan berisi ribuan buku dan puluhan lukisan, di sebuah bangunan yang terpisah dengan rumah tinggalnya.

    Lama tak berkomunikasi, pada suatu hari, Nundang menelepon saya, meminta tolong agar saya bersedia menjadi pembicara tamu sekaligus ”menemani” dua penyair pemenang lomba haiku nasional Jepang. Mereka akan membuat seminar tentang haiku di Universitas Darma Persada (Unsada) Bekasi, yang merupakan universitas kerjasama dengan Jepang, dan dibangun atas inisiatif Ir. Ginanjar Kartasasmita, menteri semasa Orde Baru. 

    Semula, karena saya tidak paham haiku, saya sempat menolak. Namun, Nundang setengah memaksa, sehingga saya pun bersedia dan hadir. Maka, pada Jumat, 16 Desember 2016 itu, alhamdulillah, untuk pertama kalinya, saya mengenal haiku dari dekat dan kemudian menekuni puisi klasik Jepang tiga baris dengan format 5-7-5 suku kata atau 17 sukukata itu. 

    Karena kang Ajip akan ke Jakarta, untuk acara pemberian "Hadiah Rancage" di TIM pada 26 September 2018, kami pun hadir dan bertemu di TIM, dengan pasangan pengantin baru baru Kang Ajip dan Nani Wijaya. 


    Berkat pengenalan itu pula, saya kemudian menulis dua kumpulan puisi dalam format haiku bebas – yang saya sebut sendiri sebagai “hai aku” – karena saya tidak (ingin) selalu menggunakan kigo (penanda waktu) dan kireji (kata kunci akhir/kesimpulan/kejutan), yang merupakan prasyarat dalam haiku klasik. Kumpulan puisi pertama saya Hai Aku Sent To You yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU), diluncurkan pada Februari 2017. Kumpulan puisi kedua saya, Hai Aku, yang diterbitkan Prenada Media, diluncurkan pada Agustus 2017. Dua kumpulan puisi “resmi” saya yang pertama dan kedua itu, bisa diterbitkan pada tahun yang sama, dan sempat diacarakan di Jakarta, Jogja, Bali dan Lombok.

    Pameran Jun Sakata

    Pada awal 2017, perupa Jun Sakata, yang pernah bekerjasama dengan Bada di restoran “Biah-Biah,” Ubud, dan tinggal di Ubud setiap enam bulan sekali dalam setahun, meminta tolong agar kiranya bisa berpameran di TIM Jakarta. Untuk itu saya segera menghubungi dan meminta bantuan Merwan Jusuf, dosen dan kurator senirupa, lulusan sekolah senirupa tersohor di Paris, Ecole de Beaux-Arts, yang sudah kami kenal waktu di Paris selama kurun 1976-1981. 

    Akhirnya, pameran dibuka pada Rabu, 5 Juli 2017, dengan Bada bertindak sebagai penerjemah Jun Sakata, ketika berhadapan dengan media dan pengunjung. Sementara Ruslan Wiryadi bertugas membawa seluruh karya rupa Jun Sakata dengan mobil pribadinya dari Ubud ke Jakarta.

    Pada Maret 2018, saya liburan ke Jogja. Lalu, atas undangan Bada, untuk pertama kalinya saya dan Rayni, berkunjung ke Kopi Mpat, yang belum resmi dibuka. Namun kami tidak bertemu dengan Kang Ajip karena kebetulan sedang di Jakarta. 

    Pada 9 September 2018, sambil berlibur ke Jogja, bersama Christyan AS, co-writer novel Rainbow Cake, yang ditulis berdua dengan Rayni N. Massardi, kami juga sowan ke Kang Ajip di Pabelan. Kami bertemu, mengobrol, dan berfotoria dengan Kang Ajip, sebelum berakhir dengan acara menikmati makan siang di bagian restoran Kopi Mpat. 

    Salah satu menu di restoran itu adalah "Ayam Haiku,” pemberian nama dari saya, untuk menu ayam yang dimasak a la woku Manado. Kunjungan itu berakhir dengan menikmati kopi dan sunset di Kopi Mpat, beberapa puluh langkah dari bangunan utama restoran, sambal menyusuri tepi sawah dan kolam ikan. 

    Karena kang Ajip akan ke Jakarta, untuk acara pemberian "Hadiah Rancage" di TIM pada 26 September 2018, kami pun hadir dan bertemu di TIM, dengan pasangan pengantin baru baru Kang Ajip dan Nani Wijaya.

    Di situ pula kami bertemu dengan Nundang dan Titi Nastiti. Pada acara itu, sahabat kami sastrawan budayawan Seno Gumira Ajidarma, memberikan kata sambutan sebagai Rektor IKJ. 

    Pada 22 Februari 2019, saya dan Yudhistira diundang Tembi Rumah Budaya di Jogjakarta, untuk mengisi acara rutin “Sastra Bulan Purnama” di tempat itu. Ketika itu Yudhis meluncurkan novelnya Penari dari Serdang. Saya meluncurkan draft novel SIMVLACRUM, yang hingga hari ini masih menunggu koreksi akhir dari putri saya Cassandra Massardi, sebagai co-writer
     

    Dengan perasaan galau, setelah Nundang memberitahu apa yang akan dibahas, saya pergi naik taksi. Saya bertemu dengan Kang Ajip di ruang kerja merangkat kamar tidur, di sudut belakang gedung perpustakaan itu. 


    Dan, istri saya Rayni N. Massardi meluncurkan novel psycho-thriller Rainbow Cake, yang ditulis berdua dengan Christyan AS, sebagai surprise, sebelum peluncuran resmi novel yang akan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU), pada akhir Mei 2019 – tiga bulan kemudian. Ketika itu Bada dan Nundang ikut hadir meramaikan. 

    Karena itulah, keesokan harinya, saya, Rayni, Christyan, Yudhistira dan Siska istrinya, wajib datang ke Pabelan, sowan dengan Kang Ajip, mengobrol sekitar satu jam, sebelum kemudian menikmati sunset di Kopi Mpat, beberapa ratus meter dari rumah yang diberi nama “Jati Niskala” itu.

    Novel Rainbow Cake

    Sehubungan dengan terbitnya novel Rainbow Cake karya Rayni N. Massardi dan Christyan AS, yang diterbitkan GPU pada Mei 2019, kami membuat soft-launching di Toko Buku Gramedia Emerald Bintaro, dan kemudian di Lounge XXI, Plasa Indonesia pada Kamis 30 Mei 2019. Karena kami belum pernah launching di Bandung, saya pun meminta kemungkinan untuk membikin acara di Perpustakaan Ajip Rosidi, di Jalan Garut, Bandung. Nundang pun sepakat dan kemudian menjadwalkan acara untuk Sabtu, 27 Juli 2019 pagi. Setelah pelbagai persiapan dilakukan, kami berangkat naik travel, dan sahabat kami Annie Rai Samoen serta Rio Aribowo, ikut mendukung dengan naik kereta api dari Jakarta.

    Pagi Jumat, 26 Juli 2019, kami sudah tiba di Bandung dan kemudian melihat lokasi acara. Siang hari itu Kang Ajip dan Nundang ternyata baru tiba dari Jogja dengan mobil. Setelah ngobrol beberapa waktu sambil melihat lokasi acara dan persiapan, kami kembali ke hotel dan kemudian ngopi-ngopi cantik dengan Annie Rai Samoen di Paris Van Java. 

    Saat asyik menikmati kopi, sore hari itu, Nundang mendadak menelepon saya. Dia mengabarkan bahwa Kang Ajip ingin bertemu segera.

    Dengan perasaan galau, setelah Nundang memberitahu apa yang akan dibahas, saya pergi naik taksi. Saya bertemu dengan Kang Ajip di ruang kerja merangkat kamar tidur, di sudut belakang gedung perpustakaan itu. 

    Setelah berargumentasi dengan agak kaku, dan penuh perasaan aneh, kami pun mengakhiri pembicaraan singkat itu. Yang penting: acara besok pagi harus tetap berjalan, karena tak mungkin membatalkan dan memindahkan lokasi secara mendadak. Apalagi kami pun tidak punya cukup dana dan tidak ada sponsor sama sekali.

    Dari Jalan Garut, malam itu saya janjian dengan Rayni dan Annie untuk pindah lokasi, dan ketemuan di Warunk Upnormal, di Jalan Braga. Saya tidak mau memberi tahu apa isi pembicaraan saya dengan Kang Ajip tadi. Setiba di Braga, saya ceritakan dialog yang terjadi antara saya dengan Kang Ajip. Usai mendengarkan, Rayni dan Annie hanya bisa tercengang dan menghela napas dalam-dalam.


    Ketokohan Kang Ajip pun tak hanya tercatat di bidang sastra dan bahasa. Tak hanya dalam Bahasa Indonesia dan basa Sunda. Tapi juga dalam dunia penerbitan dan perbukuan. Dalam dunia kepustakaan dan senirupa. Juga dalam dunia sejarah, pendidikan dan pengajaran serta dalam sejarah pusat kesenian dan kebudayaan.


    Pagi hari, Sabtu 27 Juli 2019, alhamdulillah acara “Bincang bully” Novel Rainbow Cake berjalan lancar, tanpa banner, tanpa poster, dan tanpa ada penjualan buku di lokasi. Semua kawan baik kami yang di Bandung berkenan hadir. Antara lain Abay D. Subarna dan istrinya, Yusran Pare, Abdullah Mustapa dan istrinya pengarang Aam Amalia, Rinny Srihartini, Ipit Saefidier Dimyati, dan banyak lagi, serta kawan dari Subang, Kin Sanubary. 

    Kang Ajip duduk paling depan, ikut mendengarkan sampai acara berakhir, kendati pendengarannya kurang baik, sehingga tidak terlalu paham apa detail yang dibincangkan di acara itu. Nundang ikut memberi kesaksian, juga Abay Subarna.

    Ajip luar biasa

    Kang Ajip Rosidi memang luar biasa. Secara prestasi, tak ada seniman budayawan Indonesia yang menyamainya. Bahkan mungkin fenomenanya cukup langka di dunia. Seorang remaja otodidak yang terlalu lahap pada bacaan apa saja. Selain ihwal sastra dan kebudayaan dalam Bahasa Indonesia dan mungkin asing, juga mendalami ilmu pengetahuan, dan agama dunia, serta sastra dan kebudayaan Sunda. 

    Kemampuannya mencerna segala yang dibacanya, dan kefasihannya menuliskan semua inspirasi kreatif yang dilahirkan dari bacaannya, itu telah menjadikannya dewasa sebelum waktunya. Tak aneh bila dalam usia remaja belasan tahun, namanya sudah sejajar dengan para sastrawan dan budayawan Indonesia terkemuka pada masanya, ketika paham dan praxis modernisme tengah melanda belahan bumi, termasuk Indonesia, pada dekade 1950-an.

    Tak pelak, Kang Ajip adalah sorang jenius pada zamannya, yang tak terbandingkan. Ia juga jenius pada zaman saya dan kawan-kawan yang berkirprah pada era 1970-an. Dan, dia tetap jenius pada zaman berikutnya. Karena tak ada, atau belum ada lagi, tokoh yang mampu menandinginya hingga pada generasi milenial ini. Belum ada lagi seorang otodidak, yang tak menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, yang mampu menjadi guru besar luar biasa, dan guru besar tamu di bidang sastra dan budaya, serta menerima begitu banyak jabatan dan penghargaan, baik di dalam maupun di luar negeri. Sungguh langka orang yang mampu menulis begitu banyak buku, dalam pelbagai bidang secara sekaligus, tanpa pernah putus, sejak usia 12 tahun hingga 82 tahun.

    Ketokohan Kang Ajip pun tak hanya tercatat di bidang sastra dan bahasa. Tak hanya dalam Bahasa Indonesia dan basa Sunda. Tapi juga dalam dunia penerbitan dan perbukuan. Dalam dunia kepustakaan dan senirupa. Juga dalam dunia sejarah, pendidikan dan pengajaran serta dalam sejarah pusat kesenian dan kebudayaan.

    Perhatian dan keprihatinannya pada sastra daerah, tidak hanya sastra Sunda, diwujudkannya dalam bentuk pemberian penghargaan dan apresiasi rutin tahunan: "Hadiah Rancage." Perhatiannya kepada para sastrawan generasi muda, telah memungkinkan para penyair/penulis muda di bawah generasinya, untuk berkiprah dan mendapatkan “pengakuan” melalui program Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang menghelat acara “Penyair Muda di Depan Forum.” Sebuah forum yang membahas dan menerbitkan karya-karya para penyair generasi 1970-1980an. Termasuk saya, Yudhis, Adri Darmaji Woko, Handrawan Nadesul, Dami N. Toda, dan lain-lain. 

    Menerbitkan dan memimpin aneka majalah sastra dan kebudayaan sejak remaja hingga hari ini, Kang Ajip tidak hanya bisa berkomunikasi dengan segala kalangan, tapi juga memberikan perhatian langsung dan bukan hanya dengan kata-kata atau metafora. Karena sesungguhnyalah, Kang Ajip seorang yang sederhana, dan senang bercanda, sebagaimana umumnya orang Sunda. 

    Ia juga tidak arogan sebagai tokoh terkemuka, dan tidak sok pamer dengan seluruh kepemilikan lahan dan rumahnya di pelbagai lokasi. “Saya tidak pernah mengejar jabatan dan kekayaan. Semua terserah kehendak Tuhan,” kata Kang Ajip selalu. Sesuatu yang terbuktikan sepanjang karir dan perjalanan usianya. 

    Meskipun demikian, Kang Ajip juga mempunyai kelebihan atau keunikan, atau mungkin juga kelemahan, yakni terlalu kaku dan keukeuh dalam sikap dan pendiriannya. Dalam banyak hal. Sesuatu yang selalu menjadi ciri utama orang-orang jenius yang otodidak tapi sukses. Termasuk merasa paling benar dan paling tahu. 

    Ketokohan Kang Ajip pun tak hanya tercatat di bidang sastra dan bahasa. Tak hanya dalam Bahasa Indonesia dan basa Sunda. Tapi juga dalam dunia penerbitan dan perbukuan. Dalam dunia kepustakaan dan senirupa. Juga dalam dunia sejarah, pendidikan dan pengajaran serta dalam sejarah pusat kesenian dan kebudayaan.

    Ketokohan Kang Ajip pun tak hanya tercatat di bidang sastra dan bahasa. Tak hanya dalam Bahasa Indonesia dan basa Sunda. Tapi juga dalam dunia penerbitan dan perbukuan. Dalam dunia kepustakaan dan senirupa. Juga dalam dunia sejarah, pendidikan dan pengajaran serta dalam sejarah pusat kesenian dan kebudayaan.

    Namun, keteguhannya dalam memegang prinsip, itu tak menghalanginya untuk bergaul dengan segala kalangan. Untuk berbagi ilmu dan rezeki dengan yang membutuhkan. Kecuali dengan mereka yang tidak disukainya. Dan, yang ideologinya tidak sejalan dengannya. 

    Toh, kekurangan itu tak menghentikannya untuk selalu mendapatkan pelbagai gelar dan penghargaan. Baik dari dalam maupun dari luar negeri. Baik dari kalangan masyarakat biasa maupun dari kalangan akademisi. 

    Seorang generalis

    Tak aneh bila Kang Ajip selalu terlibat dalam pelbagai kegiatan sastra budaya Indonesia, Sunda, dan daerah. Kendati mungkin secara kualitatif, banyak orang lebih menggolongkan ketokohannya dan karya-karyanya sebagai seorang “generalis” ketimbang “spesialis.” Sehingga karya puisi dan kepenyairannya, tampak tidak terlalu menonjol dibanding para “penyair spesialis” lainnya, dan karenanya tidak banyak yang menjadi epigon-nya. Begitu pula untuk karya-karya cerita pendek dan novelnya. Termasuk karya telaah dan sejarah sastra dan kebudayaan yang ditulisnya.

    Meskipun demikian, sebagai seorang generalis, Kang Ajip telah memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi ekosistem sastra dan kebudayaan Indonesia dan daerah. Juga keperintisannya dalam pelbagai bidang, seperti dalam penerbitan, pengarsipan, kepustakaan, dan pemberian aneka penghargaan. 

    Ringkasnya, Kang Ajip adalah seorang yang murah hati dan sangat konsisten. Baik dalam karya, semangat, dan ideologinya. Termasuk dalam gaya rambut dan raut wajahnya.

    “Noorca, saudara kan lebih muda dari saya, kenapa rambutnya sudah putih, sementara rambut saya masih hitam dan asli?” kata Kang Ajip, setiap kali saya bertemu dengannya. 

    Ya, rambutnya memang selalu lurus, hitam dan asli, dengan tampilan wajahnya yang selalu muda, dan tak pernah berubah kendati termakan usia. Bahkan, ketika pada Rabu, 29 Juli 2020, pukul 22.20 wib, Allah Swt memangilnya pulang, pada usia 82 tahun. 
    “Saya betul-betul tidak menyangka bahwa umur saya bisa sampai 80 tahun,” kata Kang Ajip kepada saya di rumahnya. 

    Almarhum Ajip Rosidi dimakamkan hari Kamis 30 Juli, pukul 11.00 wib di halaman depan rumahnya, di Perpustakaan Jati Niskala, Desa Pabelan 1, Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

    Akhir kata, harus saya akui, kekaguman saya kepada Kang Ajip, mungkin karena sejak awal saya merasa, riwayat pendidikan, karir, dan minatnya pada segala bacaan, sebagai seorang otodidak, tidaklah jauh berbeda dengan saya: otodidak. Yang membedakannya hanyalah: garis tangan. Selamat jalan, Kang Ajip. Hatur nuhun atas segala perhatiannya. Semoga amal ibadah Kang Ajip diterima Allah swt. Amin, amin, amin. 

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.



    (SBR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id