Rheza Ardiansyah
    Rheza Ardiansyah Jurnalis TV Berita

    Gelombang Budaya Pop Korea Makin Mengglobal

    Rheza Ardiansyah - 20 Oktober 2020 17:30 WIB
    Gelombang Budaya Pop Korea Makin Mengglobal
    Foto Asabell Audida: Asabell memimpin para Army (nama kelompok penggemar BTS) menanam pohon bakau di Demak, Jawa Tengah. Aksi bernama “1000 Pohon untuk BTS JIMIN” ini dilakukan untuk merayakan ulang tahun ke-26 Park Jimin.
    TANGGAL 14 Oktober 2020 jadi hari yang penting bagi Wiwi Suyanti. Kala itu, Netflix merilis film dokumenter BLACKPINK: Light Up The Sky. Film ini menggambarkan sejarah dan perjuangan yang dialami para personel kelompok musik Korea Selatan BLACKPINK. Girlband beranggota empat orang itu dikenal sebagai salah satu ikon musik populer korea selatan, K-pop. Satu momen menandai itu: penampilan BLACKPINK di tahun 2019 dalam Festival Musik Coachella.

    BLACKPINK menjadi girlband pertama yang tampil dalam rangkaian konser musik di California, Amerika Serikat itu. Sebelumnya, kelompok musik hiphop Epik High yang juga dari Korea Selatan menginjak panggung Coachella tahun 2016. Tahun ini, rencananya boyband BIGBANG akan menggoyang Coachella. Namun jadwal itu batal akibat pandemi covid-19.

    Selain memperlihatkan kisah di balik layar performa BLACKPINK dalam festival terbesar di belahan utara benua Amerika itu, film Light Up The Sky turut menunjukkan berbagai hal tentang BLACKPINK yang dituturkan langsung oleh personelnya sendiri, termasuk berbagai pengorbanan yang harus mereka bayar.

    “Film ini membuktikan bahwa dengan segala prestasi yang mereka miliki sekarang, semua kerja keras BLACKPINK sudah terbayar lunas,” papar Wiwi yang mengaku tak sabar menonton film ini sejak Netflix mengumumkan rencana rilis film Light Up The Sky pada 9 September 2020.

    Kecintaan terhadap BLACKPINK bermula ketika penulis lima buku fiksi ini mendengar lagu Boombayah. Setelahnya, Wiwi mengaku seorang hardcore fans—tidak aktif di fans club namun membeli album dan lagu BLACKPINK serta menghadiri konser idolanya dua hari berturut-turut, ketika tampil di Jakarta pada 19-20 Januari 2019. 

    Aksi bernama “1000 Pohon untuk BTS JIMIN” ini dilakukan untuk merayakan ulang tahun ke-26 Park Jimin. 

    Selain karena musiknya, Wiwi menggemari BLACKPINK karena dua personel band tersebut terasa menginspirasi. Jennie meninggalkan rumah tinggalnya di New Zealand untuk memilih profesi sebagai musisi. Begitu pula Rosé yang terpisah dari kedua orang tuanya yang ada di Australia. Kedua kisah itu tergambar dalam film dokumenter tadi.

    Dalam film Light Up The Sky, K-pop juga digambarkan sebagai sebuah fenomena global. Setelah masing-masing personel menjalani masa pelatihan selama 4 hingga 6 tahun, mereka tampil perdana bulan Agustus 2016. Popularitas kuartet itu pun terus meroket. Di bawah panduan produser Teddy Park dan Joe “Vince” Rhee—yang juga musisi K-pop angkatan awal—BLACKPINK kemudian berkolaborasi dengan musisi internasional lain. Dari Lady Gaga hingga Selena Gomez. Selain BLACKPINK, punggawa K-pop lain yang juga punya basis massa raksasa: BTS.

    Perayaan Tak Biasa Ulang Tahun Idola 
    Meski belum bertemu langsung, bagi Asabell Audida atau Asa, personel boyband BTS Park Jimin, sangat berjasa. Sebagai penulis, Asa menjadikan Jimin sebagai referensi karakter bagi tokoh fiksi yang ia karang. Para pembaca karya Asa bahkan bisa mengenalinya. “Karena Jimin seperti sosok yang menyatukan aku dengan pembaca aku. Jadi, ya gitu, berasa deket sama Jimin.” Ujar Asa.

    Kecintaan penulis buku fiksi ini terhadap Jimin, bahkan diekspresikan dengan sebuah gerakan. Asa memimpin para Army (nama kelompok penggemar BTS) menanam pohon bakau di Demak, Jawa Tengah. Aksi bernama “1000 Pohon untuk BTS JIMIN” ini dilakukan untuk merayakan ulang tahun ke-26 Park Jimin. 

    “Setahu aku, Jimin sering berdonasi dalam hal pendidikan. Aku sendiri terinspirasi untuk bikin proyek ini, dari salah satu fan site BTS yang pernah melakukan proyek menggarap sawah yang hasil panennya dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan,” papar Asa.

    Penulis yang juga aktif merilis karya melalui platform Wattpad ini kemudian bekerja sama dengan kolektif Lindungi Hutan. Dalam laman lindungihutan.com/pohonjimin, terpampang laporan bahwa sebanyak 8.704 pohon terkumpul dari target 7.000 pohon. Jumlah itu bahkan lebih dari delapan kali lipat dari target semula.

    “Sampai batas akhir jumlah 8.735 pohon terkumpul. Sekitar Rp 43 juta, itu dalam 9 hari aja. Di-cut dua hari donasinya karena kesiapan tim Lindungi Hutan. Awalnya cuma target 1.000 (pohon) aja, tapi ternyata belum 24 jam udah lewat 1.000 dan mau stop di 7.000 (pohon). Eh di jam-jam terakhir tutup, malah donatur nge-gas,” Asa menjelaskan melalui akun Instagramnya, @asabelliaa.

    “Kita tahu sendiri bahwa Indonesia sangat luar biasa untuk memviralkan sesuatu,” Eva menjelaskan potensi seraya menunjukkan contohnya.

    Perayaan tak biasa demi sang idola, ternyata bukan hal asing bagi Asa. Ia menjelaskan bahwa Army Indonesia juga pernah menggelar beasiswa, bahkan pernah menggalang dana untuk penanganan covid-19 dan terkumpul hampir Rp 400 juta. “Cuma emang kita gak pernah terlalu ter-expose aja,” pungkasnya.

    Gambaran aktivitas yang dilakukan Asa dan kawan-kawannya, memperlihatkan bahwa pengaruh musisi K-pop BTS bisa melintasi batas musikal. Asa mengonfirmasi bahwa unsur musik dalam #PohonJimin hanya ditampilkan dalam dokumentasi kegiatan. Artinya, musik berfungsi sebagai bingkai kegiatan donasi. “Selebihnya ya kita emang ter-influence dari idol-nya.”

    Indonesia Menyikapi Hallyu
    Musik K-pop yang digemari Wiwi dan Asa merupakan bagian dari hallyu atau gelombang budaya populer asal Korea Selatan. Distribusi hallyu didukung oleh pemerintah Korea Selatan, salah satunya dengan mendirikan Korea Creative Content Agency (KOCCA) pada tahun 2009.

    Selain produk musik, KOCCA juga menjadi semacam makelar bagi penjualan K-drama, animasi hingga distribusi komik berbasis internet Webtoon. Untuk kawasan Asia Tenggara, KOCCA mendirikan kantor di Jakarta sejak tahun 2016.

    Pertimbangan besarnya potensi pasar di Indonesia diakui pihak KOCCA. Manager Marketing KOCCA, Julia Joo, membuka data bahwa lebih dari 20 persen penonton konser virtual Trip to Korea pada tahun 2020 berasal dari negara kita. Julia juga memperlihatkan detil persentase hasil riset KOCCA tentang minat pemirsa Indonesia terhadap hallyu. “Paling tinggi itu K-pop 74%, disusul oleh K-drama 69%.“ pungkas warga negara Korea Selatan itu dalam Bahasa Indonesia.

    Bagi pengajar mata kuliah Drama Korea di Universitas Indonesia, Eva Latifah, cara Korea Selatan memasarkan produk budayanya, justru bisa jadi pelajaran. Terlebih, seniman Indonesia juga ikut menunggangi gelombang hallyu. Selain Rossa yang dikontrak SM Entertainment untuk bekerja sama, penyanyi Dita Karang juga bergabung dengan girlband Secret Number. Aktor Joe Taslim, tampil pula dalam film garapan Korea Selatan The Swordsman.

    “Kita tahu sendiri bahwa Indonesia sangat luar biasa untuk memviralkan sesuatu,” Eva menjelaskan potensi seraya menunjukkan contohnya.

    “Dulu ada viral sendal jepit yang dipakai artis Korea. Terus, (sebuah) drama viral juga karena fans Indonesia berkomentar: The World of Marriage Couple. Kata ‘pelakor’ di sana jadi rame karena orang Indonesia mampu memviralkan itu.”

    Sementara, dari drama Deu Jang Geum yang berkisah tentang juru masak istana di masa kerajaan Korea Selatan, Eva mengajak pembuat produk kreatif Indonesia berkaca, bahkan mengikuti trik mereka. 

    “Dari serial Deu Jang Geum, orang jadi tahu ‘oh, itu ternyata ada drama asal Korea dan mereka punya pakaian seperti hanbok’. Jadi itu, kita belajar tapi juga sekaligus memasukkan sesuatu yang khas dari Indonesia,” tutup Eva.

    Melebihi Melodi
    Pada September 2018, salah seorang personel BTS, RM, berpidato di markas UNICEF PBB dalam rangkaian kampanye kerjasama global Generation Unlimited. Ia berkisah bahwa setelah BTS merilis album Love Yourself, para fans mengaku mendapat suntikan energi untuk menghadapi kesulitan dalam hidup. Dan yang paling penting: mencintai diri mereka sendiri. 

    Hal serupa disuarakan Wiwi dan Asa. Menurut Wiwi, semua fans menyukai BLACKPINK karena kerja keras para idolanya. Seperti yang terlihat dalam film Light Up The Sky, sebelum pertama kali tampil ke hadapan publik mereka berlatih 14 jam sehari selama bertahun-tahun. 

    “Mereka menginspirasi banyak generasi muda untuk berani mengejar mimpi dan berjuang meskipun kelihatannya sulit,” kata Asa.

    Pengaruh yang ditimbulkan budaya populer Korea Selatan—dalam hal ini K-pop—nyatanya juga melebihi sekat melodi. Asa berpendapat, proyek donasi bernilai miliaran rupiah sudah jadi hal biasa bagi penggemar K-pop.

    “Dalam kebiasaan K-pop ini hal yang gak surprising sebenarnya bagi kita,” Asa menambahkan.
    Pada akhirnya, tak salah pula jika disimpulkan bahwa para pendengar musik Korea Selatan mampu menyerap nilai positif yang disalurkan para idolanya lewat lagu. [] 

    Penulis: Rheza Ardiansyah
    Jurnalis TV Berita


    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.(SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id