Sobih Adnan
    Sobih Adnan Santri yang kini bekerja sebagai redaktur di Medcom.id dan mengampu portal informasi gaya hidup Muslim Indonesia Oase.id

    Gus Sholah Sahabat Anak Muda

    Sobih Adnan - 04 Februari 2020 14:42 WIB
    Gus Sholah Sahabat Anak Muda
    KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah/ANTARA FOTO/Syaiful Arif
    JIKA prasyarat sebagai warga Nahdliyin dan kaum sarungan mesti karib dengan semangat Al-Muhafadzah ala al-Qodim al-Shaleh wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah, alias melestarikan tradisi lama yang dianggap masih relevan, serta berani mengadopsi terobosan baru yang dinilai lebih selaras, maka laku hidup KH Salahuddin "Gus Sholah" Wahid adalah salah satu cermin yang amat layak untuk diteladani.

    Malahan, tokoh kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) asal Jombang, Jawa Timur itu bukan sekadar rujukan. Pada babak tertentu, beliau bisa menjadi peneguh langkah seseorang untuk melakukan atau membincang sesuatu yang sebelumnya, -barangkali- tidak lazim.

    Senin, 12 Agustus 2019, menjadi kesempatan terakhir penulis untuk bisa sowan dan berbincang bersama Gus Sholah dengan durasi cukup lama. Sebelum dan sesudahnya, mungkin sekadar perjumpaan biasa. Jika umumnya cuma mendapatkan keluangan bertamu dalam rentang waktu 5 sampai 10 menit saja, sore itu pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur tersebut dawuh, "Bertahanlah lebih lama. Saya punya waktu cukup luang hari ini. Kita bisa diskusi banyak hal."

    Dengan semringah, tentu saya jawab, "Nggih, Yai."

    Di kediaman Gus Sholah yang berada di bilangan Tendean, Jakarta itu, kami berbincang mulai perihal acara keluarga -yang kala itu undangan kami tak sempat dipenuhi beliau karena berhalangan-, seputar liburan Iduladha, pesantren, NU, kecenderungan anak muda, hobi nonton film, dampak dan manfaat media sosial, hingga ke obrolan pergeseran algoritma di dalamnya.

    Sekali dua detik, saya tertegun. Betapa cakapnya Gus Sholah memberikan pencerahan ihwal fenomena-fenomena yang terjadi belakangan.

    Di separuh pembicaraan, saya meminta izin untuk mendokumentasikan obrolan dalam format video alias ngevlog, dan lagi-lagi, betapa bijaknya, Gus Sholah mengabulkan dan mempersilakannya dengan hangat.

    Sosok egaliter dan terbuka

    Saya terbiasa untuk mengambil tempat duduk lebih rendah ketimbang sofa atau kursi yang ditempati kiai. Hal ini, sudah barang tentu sebuah kelaziman dalam tradisi yang membentuk saya tetahunan sebagai santri.

    Ternyata, soal ini pun, Gus Sholah memberikan pencerahan lebih mendalam. Gus Sholah mengatakan, jika duduk lebih rendah dianggap perlambang akhlak, maka sebuah keniscayaan sebagai sebuah lambang, ia punya peluang untuk diubah dan terus mengalami perubahan sesuai tren visual yang disukai banyak orang.

    Gus Sholah, menyitir modifikasi logo beberapa kementerian dan BUMN yang belakangan seakan-akan sedang berlomba untuk tampil lebih muda.

    "Yang harus dipertahankan visi-misinya, kesejahteraan rakyat. Kalau soal duduk setara atau lebih rendah, visi-misinya menghormati guru atau orang tua," kata Gus Sholah.

    Meskipun begitu, dengan suara perlahan dan nada guyon, saya matur dengan mencatut kaidah fikih, "Muratul adab khairun minal ittiba, menjaga tata krama lebih utama ketimbang perintah."

    Mendengar kaidah fikih yang berkaca dari keengganan sahabat Abu Bakar Shidiq saat diperintah mengimami Rasulullah Muhammad Saw itu, Gus Sholah malah membalasnya dengan ketawa. Beliau bilang, "Ya sudah, terserah bagaimana enaknya."

    Dalam obrolan lebih lanjut, Gus Sholah memberikan banyak masukan dan nasihat untuk anak muda. Mulai dari harus berani beda, sampai amanat untuk tetap terus kritis, jujur, dan tidak gengsi belajar.



    Beliau mencontohkan pengalamannya dari sebagai seorang arsitek yang harus kembali memberikan pengabdian kepada Tebuireng pada 2006. Saat itu, kata Gus Sholah, dia membuka  peluang bagi banyak pihak untuk terlibat dalam pembangunan dan pemajuan pesantren. Tujuannya, demi bisa turut bisa ambil pelajaran.

    "Arsitek itu bekerja secara tim. Tidak bisa bekerja sendiri, ia butuh atas keilmuan dan keahlian banyak pihak lain," tutur Gus Sholah.

    Bukan Mbah Hasyim, bukan Gus Dur

    Satu lagi suluk penting yang diberikan Gus Sholah kepada anak muda. Yakni, ihwal perlunya membangun jati diri.

    Kesimpulan itu muncul ketika saya iseng-iseng bertanya, bagaimanakah rasanya menjadi cucu tokoh sekaliber hadratussyaikh Hasyim Asyari, putra kiai besar KH Wahid Hasyim, adik pembaharu KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid, serta menantu dari tokoh nasional KH Saifuddin Zuhri?

    Gus Sholah menjawab, jujur, sangat menderita. 

    Memecah keheranan saya atas jawaban Gus Sholah itu, beliau langsung meneruskan penjelasannya bahwa pada 1990an, tidak banyak orang mengenal secara familiar nama Gus Sholah sebagai Gus Sholah.

    Gus Sholah menceritakan, betapa terganggunya hati seorang anak muda ketika bertemu banyak orang langsung dihubung-hubungkan dengan nasab kakek Hasyim Asyari, dan seterusnya. Pernah memang ada harapan untuk menyudahi itu, yakni ketika hendak memutuskan menikah, dan sudah pasti orang lain akan menganggapnya dewasa dan berdiri dengan identitas sendiri.

    “Nyatanya, setelah menikah tetap saja banyak orang yang memandang saya sebagai menantu Kiai Saifuddin Zuhri. Orang belum mengenal saya sebagai saya sendiri,” terang Gus Sholah sembari terkekeh.

    Untungnya, kata Gus Sholah, beliau memiliki banyak pengalaman dan jaringan ketika muda. Sehingga, perangkat tersebut bisa dimanfaatkan untuk membangun jati diri yang original bagi sebuah personal.

    Untuk anak muda, Gus Sholah memandang penting akan perlunya kemampuan, bahkan kegemaran menghadapi tantangan, menguatkan jaringan, serta menggali secara terus menerus potensi yang dimiliki. Jika semua itu sudah dimaksimalkan dengan baik, alhasil seseorang akan bisa dengan gampang mewujud sebagai sosok yang mandiri.

    “Baru setelah saya mengasah kesadaran itu, seseorang bisa memandang saya sebagai saya, tidak melulu dihubung-hubungkan dengan nasab dan keluarga besar,” kata Gus Sholah.

    Boleh jadi, penjelasan Gus Sholah adalah kritik tajam bagi anak muda sekarang. Amanat Gus Sholah ini menjadi rambu-rambu penting generasi milenial dan seterusnya yang terlalu nyaman dengan nama besar keluarga atau garis keturunan.

    Dari perbincangan yang dimulai usai Asar, tanpa terasa Magrib pun menjelang. Ketika saya pamit undur diri dan Gus Sholah mempersilakan, di situ pula penyesalan datang menghujan. Akankah kesempatan agung ini kembali datang?

    Sebelum melangkah ke pintu keluar, Gus Sholah berpesan, “Nanti kita bikin serial vlog kedua, ya, tentang pendidikan.” Amanat yang hingga detik ini belum tertunaikan. Pesan yang makin dikenang, kian merasa kehilangan.

    Selamat jalan, Kiai Sholah. Guru, teladan, dan sahabat anak muda.[]

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id



    (SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id