Rheza Ardiansyah
    Rheza Ardiansyah Jurnalis TV Berita

    Yang Paling Layak Diperhatikan dari Animasi Indonesia

    Rheza Ardiansyah - 24 Juni 2021 10:23 WIB
    Yang Paling Layak Diperhatikan dari Animasi Indonesia
    Tangkapan layar dari Film Nussa The Movie/Youtube Nussa Official



    ADA satu lagi tonggak pencapaian terbaru industri animasi Indonesia. Film Nussa The Movie akan tampil dalam acara Buncheon International Fantastic Film Festival (BIFAN 2021) di Korea Selatan. Pada saat yang bersamaan, perhatian beberapa orang tertuju pada kekhawatiran adanya simbol ideologi teror dalam film itu.

    Tulisan ini menyajikan alternatif hal lain dalam industri animasi kita, yang barangkali bisa jadi pilihan perhatian, selain ketakutan soal “baju taliban” yang sedang ramai dibicarakan itu. Mari, kita mulai dari dapur tempat film animasi diracik: studio.

    Bermula dari kisah sehari-hari

    Siang itu tim 15 Minutes Metro TV berkunjung ke ruang kerja MD Animation. Sebuah ruang kerja dengan konsep ruang terbuka, jadi tempat beberapa judul animasi diproduksi. Mulai dari Doyok Otoy Alioncom (D.O.A) hingga film yang kini sudah bisa ditonton melalui Disney+ Hotstar: Adit Sopo Jarwo The Movie.

     



    Di atas meja di sebuah pojok ruangan itu, ada sebuah skrip film. Eki NF, COO MD Animation, berkisah bahwa dari naskah itulah semua bermula. Perlakuannya memang serupa membuat film.

    Para kru animasi berembuk untuk menyusun cerita, berangkat dari sebuah ide utama. Dalam konteks film Adit Sopo Jarwo, inspirasi datang dari perkampungan kota yang tampak dari atas gedung itu. Beni Susanto, selaku Pre-production Manager MD Animation, memaparkan bahwa rahasia dari kisah yang ia rancang bersama timnya ada di potret keseharian di kampung-kota itu—yang diberi nama Kampung Karet Berkah.

    Rumus serupa dipakai dalam produksi film Nussa The Movie. Judul ini bermula dari serial animasi di akun YouTube Nussa Official buatan studio animasi The Little Giantz. CEO Visinema, Angga Dwimas Sasongko—yang memproduksi film Nussa The Movie—berkisah tentang tema besar yang ingin dia sampaikan melalui rilisan film animasi perdana rumah produksinya.

    “Kita perlu pragmatis. Kita perlu mulai dari hal yang paling dekat: keluarga dan agama,” ujar Angga dalam wawancara di channel YouTube EndGame yang dipandu Gita Wirjawan.

    “Jadi ceritanya tentang seorang anak, yang hidup dengan ibunya karena bapaknya kerja di luar negeri,” papar Angga seraya melanjutkan penokohan sosok Nussa. “Anak ini cuma punya kaki satu—satu kakinya kaki palsu—tapi dia suka sekali sama sains. Anak ini selalu juara di lingkungannya.

    Terus tiba-tiba ada tetangga baru masuk, teman sekelasnya, yang membawa teknologi lebih canggih. Lalu kemudian cerita berkembang menjadi bagaimana anak ini akhirnya harus bisa menerima ketika dia nggak lebih baik dibandingkan yang lain.”

    Dalam wawancara yang sama, Angga juga menyesalkan penghakiman atas film Nusa. “Saya rasa jahat dan sangat prematur, ketika film ini belum dirilis—ceritanya orang banyak belum nonton—tapi sudah di-judge bahwa film ini punya pendekatan-pendekatan (seperti) yang dituduhkan.”

    Tidak berhenti di penayangan

    Pencapaian Nussa The Movie, seturut dengan misi kepemirsaan para animator Indonesia. Sekjen Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) Yohanes Eka Chandra mengisahkan tentang potensi industri animasi nasional untuk juga dinikmati tidak hanya oleh pemirsa Indonesia.

    “Beberapa teman sudah mulai dilirik ke arah sana. Cuma problemnya, kalau kita mau investasi animasi, itu investornya ada tiga, lima, sampai sepuluh investor, which is itu tidak gampang. Dari pemerintah belum ready”.

    Solusinya, menurut CEO perusahaan pembuat animasi Ayoo Kreasi ini, adalah dengan mengedukasi teman-teman seprofesinya dan pemerintah untuk saling mendukung. Pasalnya, industri animasi bukan hanya soal menyampaikan kisah melalui visualisasi yang enak ditonton, melainkan juga soal monetisasi.

    “Disney, dan (perusahaan animasi) lain pun, itu bisnisnya di licensing dan merchandising. Dari penayangan, Disney itu hanya meraih sekitar 10 persen dari pendapatan mereka.”

    Animator: pekerjaan idaman

    Optimisme animasi Indonesia untuk bisa mendunia, cukup beralasan. Memang, belum ada intellectual property (IP) atau tokoh animasi asal Indonesia yang betul-betul dikenal secara global. Namun, jika kita menilik potensi tenaga kerja di bidang animasi, kondisinya cukup menjanjikan. Beberapa animator Indonesia pernah terlibat dalam sejumlah proyek film animasi di Hollywood. Salah satu di antara mereka, Andre Surya.

    Ia pernah mengerjakan beberapa adegan dalam film Iron Man 1 dan 2, Star Trek, dan Transformers. Kini, Andre mendirikan studio animasi Enspire dan membuat sekolah Enspire School of Digital Art (ESDA).

    Dalam durasi sekitar enam bulan hingga satu tahun, seorang siswa ESDA bisa lulus sebagai animator. Rentang waktu itu termasuk kategori cepat karena seorang calon animator di sekolah yang berdiri sejak 2013 ini harus belajar delapan jam per hari, dari Senin hingga Sabtu.

    Andre mengklaim bahwa sudah lima ribu lulusan yang telah menempuh studi nonformal di ESDA. Para pelajar sekolah animasi ini pun berusia antara tujuh hingga belasan tahun. Keterlibatan calon animator sejak usia dini bagi Andre jadi pertanda masa depan yang cerah.

    Ketika mengerjakan Iron Man, pria kelahiran 1984 ini berusia 21 tahun. Maka, dia memproyeksikan agar animator Indonesia yang berusia setidaknya 18 tahun, sudah mulai menggarap proyek semacam yang ia pernah tangani.

    “Siapa tahu dia, megang (piala) Oscar pertama kali untuk Indonesia,” harapnya.
    Dan sekali lagi, yang diperlukan untuk itu adalah dukungan berbagai pihak ke arah yang dicita-citakan Andre bersama pelaku industri animasi Indonesia lain. Dalam kapasitas kita sebagai pecinta animasi, barangkali cara yang paling gampang sesederhana “nonton dulu, baru berkomentar”.[]

    *Rheza Ardiansyah, penikmat film

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id