M Tata Taufik
    M Tata Taufik Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat

    Dot & Babysitter Digital

    M Tata Taufik - 09 Juni 2021 10:25 WIB
    Dot & <i>Babysitter</i> Digital
    Ilustrasi. Foto: MI/Susanto



    SEJAK diciptakannya Android sebagai sistem operasi bagi telepon seluler pada 2003 dan menjadi milik Google pada 2005, telepon cerdas (smartphone) mulai menciptakan masyarakat digital. Maka boleh disebut sebagai awal kelahiran era baru dunia, yaitu era layar (age of screen). Walaupun sebelumnya telah ada penggunaan layar secara menyeluruh dengan televisi, yang disusul oleh komputer dan video game, tapi kehadiran telepon cerdas menjadikan layar semakin dekat dan dalam genggaman dengan semua fungsi dan fitur yang dimiliki teknologi layar sebelumnya.
     
    Menurut laporan dari American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP), anak-anak dan remaja di Amerika Serikat menghabiskan banyak waktu untuk menonton layar, termasuk smartphone, tablet, konsol game, TV, dan komputer. Rata-rata anak-anak usia 8-12 menghabiskan 4-6 jam sehari untuk menonton atau menggunakan layar. Sedangkan para remaja menghabiskan hingga 9 jam. (Screen Time and Children, 2020)
     
    Meskipun layar dapat menghibur, mengajar, dan membuat anak-anak sibuk, penggunaan yang terlalu banyak dapat menyebabkan masalah. Orang tua mungkin tidak selalu tahu apa yang dilihat anak-anak mereka. Atau berapa banyak waktu yang mereka habiskan di depan layar.
     
    Menurut laporan AACAP, terlalu banyak waktu berinteraksi dengan layar dapat menyebabkan berbagai persoalan. Masalah tidur (susah tidur), nilai rendah di sekolah, membaca lebih sedikit buku, lebih sedikit waktu bersama keluarga dan teman, tidak cukup aktivitas di luar ruangan atau fisik, masalah berat badan, masalah suasana hati, masalah citra diri dan citra tubuh yang buruk, selalu takut ketinggalan, hingga lebih sedikit waktu untuk mempelajari cara lain untuk bersantai dan bersenang-senang.
     
    Memberikan peralatan screen seperti telepon pintar atau tablet dan video game menjadi tantangan sendiri bagi orang tua. Pertimbangan usia sangat harus diperhatikan. Seperti chat video untuk usia bayi di bawah 18 bulan harus dihindari. Maksimal penggunaan untuk usia 2-5 tahun 1 jam per hari dan kebijakan pembatasan lain bisa dipertimbangkan.
     
    Sementara ini, sering terlihat di beberapa tempat umum seperti bandara atau stasiun kereta api, bahkan di berbagai kunjungan silaturahmi. Banyak anak dininabobokan dengan tablet atau HP. Bahkan sering kali ibu-ibu milenial menjadikan HP sebagai alat untuk menghentikan tangisan anaknya. Pernah terlihat seorang ibu yang akan memakaikan baju kepada anaknya, supaya anak tersebut diam dan menurut dengan memberikan HP padanya.
     
    Perlakuan seperti ini menunjukkan bahwa pada era layar ini tidak sedikit orang tua yang menjadikan HP, tablet, dan semisalnya sebagai babysitter. Atau bahkan semacam pengganti dot yang bisa mengasuh anak-anaknya. Tanpa mempertimbangkan bahaya yang bisa ditimbulkan karenanya.
     
    Sebagai contoh dari bahaya “layar”, pernah penulis menemui seorang anak usia tamatan SD yang memiliki kelainan dalam pergaulan. Ia sangat pendiam, tidak mau berinteraksi dengan kawan atau gurunya. Dan jika sendirian, dia hanya duduk sambil menggerak-gerakkan jarinya seperti layaknya yang sedang main game. Jika ditegur ia hanya tertawa, dan cenderung pemarah.
     
    Setelah diselidiki ternyata ia hanya keluar rumah jika pergi ke sekolah. Dan selepas itu ia menghabiskan waktunya di rumah dengan bermain game (berinteraksi dengan layar). Kemampuan penggunaan teknologi dan kecerdasan teknologi anak-anak belumlah sejalan dengan kemampuan mereka untuk menggunakannya dengan bijak.

    Banyak hal untuk dipertimbangkan: seperti rasa tanggung jawab si anak, kecepatan respons saat dipanggil atau diperintah, tanggung jawab terhadap pekerjaan rumah (PR), pelupa dan sering kehilangan barang, menggunakan HP sambil berjalan di jalan raya, tidak tahu waktu—ini yang paling banyak dikeluhkan orang tua. Jika demikian maka harus dipikirkan jangan sampai anak-anak kita kalah oleh peralatan tersebut.
     
    Pada era layar seperti ini tampaknya pendidikan tentang melek media bagi keluarga harus mendapatkan perhatian. Isu seperti digital citizenship (kewarganegaraan digital) dengan topik-topik seperti perundungan digital, pendidikan media sosial, atau keamanan dan regulasi digital bisa dijadikan topik bahasannya. Wallahualam.[]
     
    *M Tata Taufik, Pimpinan Ponpes Al-Ikhlash Kuningan, Jawa Barat
    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id