Iwan Jaconiah
    Iwan Jaconiah Penyair, esais, kandidat PhD Culturology di Universitas Negeri Sosial Rusia.

    Osip Mandelstam dan Kita

    Iwan Jaconiah - 20 Januari 2021 10:30 WIB
    Osip Mandelstam dan Kita
    FOTO ISTIMEWA: Sebuah komunitas sastra Moskwa merayakan 130 tahun Mandelstam dengan membaca puisi karyanya di sebuah kafe.



    LIMA belas Januari 1891, seorang penyair Rusia dan Uni Soviet Osip Mandelstam terlahir ke dunia. Jika ditarik ke belakang, maka sekarang Mandelstam genap memasuki 130 tahun. Perayaan ini kali sangatlah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Helatan baca puisi diadakan secara sederhana dalam situasi pandemi. 

    Saya mendapat kabar dari rekan di sebuah komunitas sastra Moskwa agar saya bisa ikut membaca puisi Mandelstam pada hari bahagia itu di sebuah kafe. Sayang, saya sedang di Jakarta untuk sebuah penelitian. Dan, meski digelar juga via online waktunya bertabrakan dengan jadwal bimbingan daring saya dengan seorang mentor, Profesor Alexander Kamenetz. 

    Membicarakan tentang Mandelstam, memang sangatlah menarik. Penyair kelahiran Warsawa, Polandia, yang dulunya masuk dalam pengawasan kekaisaran Rusia, itu memiliki ciri khas tersendiri. Puisi-puisinya kuat akan simbol, makna, dan pesan. Perlu pendekatan teori sastra kontemporer dan filosofi agar tidak membias, apalagi melebar. 

    Segera setelah kelahiran Mandelstam, keluarganya pindah ke Kota Pavlovsk, tidak jauh dari St. Petersburg. Barulah pada 1897, mereka pindah ke St. Petersburg. Pada 1900, Mandelstam masuk Sekolah Komersial Tenishev. Seorang guru sastra Rusia, Vladimir Gippius, waktu itu memiliki pengaruh besar pada pembentukan karakter siswa-siswi selama belajar. Di sekolah, Mandelstam mulai menulis puisi dan meminati ide-ide revolusioner sosial. 

    Setelah lulus di Tenishev pada 1907, Mandelstam pergi ke Paris, Perancis, menghadiri ceramah di Sorbonne. Di sana, Mandelstam mendalami sastra epik Prancis Lama, lewat karya puisi François Villon, Charles Baudelaire, dan Paul Verlaine. Namun, pada 1909-1910, Mandelstam pindah ke Berlin, Jerman. Ia diterima masuk di jurusan Ilmu Filsafat dan Filologi, Universitas Heidelberg. 

    Setelah selesai belajar pada Oktober 1910, ia pun kembali ke St. Petersburg. Nama Mandelstam kian melambung dalam ranah perpuisian Rusia. Dua bulan sebelum kepulangannya, lima puisinya lolos kurasi dan tayang di majalah ternama sejamannya, Apollo

    Selama bertahun-tahun, Mandelstam tertarik dalam ide-ide dan karya puisi simbolisme yang dipelajarinya di Paris dan Berlin. Adalah Vyacheslav Ivanov, tokoh berjasa yang mengumpulkan karya-karya penulis berbakat, termasuk puisi Mandelstam. Ivanov tak meragukan kualitas Mandelstam yang fasih berbicara dalam beberapa bahasa asing, itu. 

    Pada 1911, Mandelstam melanjutkan pendidikan di Fakultas Sejarah dan Filologi, St. Petersburg University. Namanya terkenal luas di kalangan penyair, pengamat, dan kritikus sastra. Seorang pengamat sastra ternama saat itu, Nikolai Gumilev, menyusun sebuah proyek bernama Penyair Hebat. Nama Mandelstam ikut bertengger bersama sederet nama lainnya yang sedang berkibar, yaitu Anna Akhmatova, Sergey Gorodetsky, dan Mikhail Kuzmin. 

    Buku puisi perdana 
    Pada 1913, penerbit Okme menerbitkan buku kumpulan puisi pertama Mandelstam berjudul Batu. Puisi-puisi itu bertarik masehi 1908-1913. Gaya puisi dalam buku tersebut sangat jauh dari pengaruh simbolisme yang ia pelajari sebelumnya di Paris dan Berlin. 

    Puisi-puisi Mandelstam acap kali lolos kurasi di majalah Apollo, tempat para penyair muda memperoleh ketenaran. Pada Desember 1915, edisi kedua Batu diterbitkan kembali. Namun, menggunakan penerbit  berbeda, Hiperborean. Kali ini, buku antologi tersebut sengaja digabungkan dengan puisi-puisi Mandelstam lainnya yang ditulis pada 1914-1915. Penyebaran buku pun berskala nasional sehingga sosok Mandelstam kian melangit. 

    Di sini, saya mencermati bahwa masa kepenyairan profesional Mandelstam terjadi saat buku kumpulan puisi Batu dirilis kembali. Itu mendapatkan apresiasi tinggi masyarakat setempat. Ada kisah menarik pada awal 1916, yaitu pada sebuah malam sastra di Petrograd. Mandelstam dan Marina Tsvetaeva muda saling bertemu. 

    Sebelumnya, mereka hanya saling mengetahui nama satu sama lainnya lewat karya puisi. Itu saat karya mereka berhasil lolos dan tayang di pelbagai majalah sastra. Dari tempat itulah, persahabatan erat mereka dimulai. 

    Tahun 1920-an menjadi waktu yang intens dan bervariasi dalam kiprah perjalanan kepenyairan Mandelstam. Beberapa buku kumpulan puisi teranyar berhasil diterbitkan: yaitu Tristia (1922), Buku Kedua (1923), dan Batu (edisi ketiga, 1923). Buku-buku itu diluncurkan di tiga kota berbeda: Petrograd, Moskwa, dan Berlin. 

    Mandelstam juga menulis sejumlah artikel tentang masalah-masalah penting dalam sejarah, budaya, dan humanisme. Pada 1925, dia menerbitkan buku otobiografi berjudul Bunyian Waktu. Beberapa buku anak-anak juga diterbitkannya: yaitu Dua Trem, Pertarungan Utama, dan Bola

    Pada 1928, Mandelstam kembali meluncurkan buku kumpulan puisi berjudul Puisi Mandelstam. Itu ternyata menjadi buku terakhirnya sebab ia banting setir. Banyak menghabiskan waktu sebagai penerjemah. Mandelstam sangat mahir berbahasa Perancis, Jerman dan Inggris, sehingga, mendatangkan penghasilan bagus dan mampu menopang hidup bersama istrinya, Nadezhda. 

    Mandelstam sangat memberi perhatian khusus untuk menjaga kualitas puisi-puisi terjemahannya. Namun, kondisi memburuk saat memasuki awal 1930-an. Konflik sosial meletus di beberapa kota dan suhu politik ikut memanas. Itu berdampak nahas bagi dunia sastra. Para penyair kesulitan mencetak dan mempublikasikan buku-buku mereka. 

    Sekadar mencari angin segar, pada 1930 Mandelstam memutuskan untuk berpelesir ke Armenia. Dari pelawatan itu, ia berhasil menelurkan kumpulan prosa Perjalanan ke Armenia dan kumpulan puisi Armenia. Sebagian karya lain tentang pengalamannya itu baru diterbitkan tiga tahun kemudian. 

    Tuduhan subversi 
    Aktivitas sastra Mandelstam kian menanjak tinggi dan beberapa tulisan kritik sosialnya sampai jua ke Kremlin. Pada musim gugur 1933, Mandelstam menulis epigram melawan penguasa komunis Joseph Stalin (1878-1953). Isinya berbunyi Kita hidup tanpa merasakan kehadiran negara.... 

    Sontak, epigram itu menggemparkan jagad sastra dan politik. Alhasil, jelang beberapa bulan, aparat militer menangkap Mandelstam di rumahnya pada Mei 1934. Sang penyair diciduk bak seorang tahanan subversi. Dan, dikirim ke Cherdyn, sebuah daerah di Ural Utara. Ia tinggal selama dua minggu di sana. Namun, kondisi tubuhnya kurang begitu fit sehingga roboh dan rawat inap di rumah sakit. 

    Mandelstam kemudian dikirim ke Voronezh sebagai “tahanan”. Di sana, ia bekerja serabutan di koran, majalah, dan radio. Itu ia lakukan agar asap di dapur rumahnya tetap mengepul. Setelah akhir masa pengasingan, Mandelstam kembali ke Moskwa, tapi dia dilarang tinggal di ibu kota. Ia pun harus kembali menelan pil pahit dan mondok di Kalin (sekarang Kota Tver). 

    Pada Mei 1938, Mandelstam ditangkap lagi. Rezim Stalin menjatuhkan lima tahun penjara untuk kegiatan kontra-revolusioner. Ia disekap dan dikirim ke Timur Jauh Rusia. Puisi-puisinya dinilai sangat lekat dengan kritik sosial anti pemerintah sehingga membuat penguasa ambil jalan pintas. 

    Tubuhnya kian ringkih dan sering sakit-sakitan dalam pengasingan di negeri sendiri. Mandelstam, akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 27 Desember 1938 di rumah sakit barak dalam kamp transfer dekat Sungai Kedua, Kota Vladivostok. 

    Kematian tak selama mengakhiri semuanya. Lagi-lagi, nama Mandelstam tetap dilarang di Uni Soviet selama hampir 20 tahun. Untunglah, geliat perjuangan istrinya, Nadezhda dan teman-teman penyair, tetap berapi-api. Mereka menyimpan rapat puisi-puisi Mandelstam yang ditulis dalam pengasingan. Pada 1960-an, barulah puisi-puisi tersebut bisa diterbitkan secara bebas. 

    Salah satu puisi Mandelstam yang sempat dilarang penguasa Uni Soviet kala itu berjudul Leningrad. Saya sering membaca dan mendiskusikan puisi ini dengan teman-teman di komunitas sastra, baik di Moskwa, Yekaterinburg, maupun Petersburg. Di kota terakhir inilah, Mandelstam menulis puisi tersebut dengan perasaan paling terdalam. 

    Saya mengalihbahasakan dari bahasa aslinya Rusia. Versi ini tanpa menghilangkan estetika, bunyi, dan makna. Pesannya sangat kuat dan bernyawa. Bahkan, aktor ternama Rusia Konstantin Raikin (70) sering membawakannya di berbagai penampilan panggung internasional. Berikut petikan puisi Leningrad. 

    Kembali ke kampung, 
    aku bersua titik titik air mata. 
    Kelenjar membatu dan pembuluh siung 
    balita membengkak, melata. 

    Kau pulang jua ke sini, menakar 
    minyak ikan Leningrad yang beriak. 
    Desember tiba segera, mengakar 
    kuning telur dan adonan tar di rak. 

    Petersburg, aku tak mau tamat 
    nomor telepon, ada kau sakui. 
    Petersburg, aku masih tahu alamat. 
    ada kesaksian orang-orang mati. 

    Menempati tangga dekil di kuil berkarat, 
    suara bel sesekali merobek senyap. 
    Menunggu tamu istimewa merapat, 
    aku terlilit rantai, sekarat dan lenyap. 


    1930 

    Perayaan 130 tahun Mandelstam masih digelar. Ia adalah salah satu penyair tersohor jaman perak sastra Rusia. Puisi-puisinya selalu dibicarakan dan dibacakan. Tidak hanya di Rusia, melainkan juga Eropa Barat, tempat ia sempat belajar dan berkelana. 

    Menanggapi sosok Mandelstam, penyair nasional Acep Zamzam Noor sangat mengapresiasi puisi terjemahan di atas. Acep seakan mengamini bahwa meskipun Mandelstam pernah hidup dalam sebuah “pengasingan” di negerinya sendiri, itu tak membuat Mandelstam setop memuisi. “Mantap puisinya,” nilai Acep, singkat dan padat. 

    Tema kemanusiaan dan realitas sosial dalam puisi Mandelstam begitu kuat. Kian dikenang oleh masyarakat dunia, termasuk di republik ini. Sebab karya-karya sastra yang terlahir dari sebuah pengasingan seringkali lebih lama mengendap di ingatan kita. 

    Sebut saja, satu nama sastrawan Indonesia di Rusia, Utuy Tatang Sontani. Ia hidup  dalam pengasingan dan tak pernah pulang akibat keberingasan Orde Baru. Meski begitu, Mandelstam dan Sontani berbeda cerita atau sejarah. Namun, sedikit persis jalan hidup mereka diburu penguasa.[]
    (SBR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id