comscore
Jaka Budi Santosa
Jaka Budi Santosa Jaka Budi Santosa

Adiksi Pornografi

Jaka Budi Santosa - 12 April 2022 04:45 WIB
Adiksi Pornografi
Dewan Redaksi Media Group Jaka Budi Santosa. MI/Ebet
ANAK bangsa ini rupanya masih suka yang porno-porno. Yang jorok-jorok. Meski politik sedang menghangat, kendati rakyat mumet memikirkan beban hidup kian berat, sebagian kalangan tetap saja memanjakan syahwat.

Belum lama ruang publik dihebohkan dengan ditangkapnya Dea. Dia adalah kreator konten porno di OnlyFans, sama seperti Siskaee yang lebih dulu berurusan dengan hukum. Dalam wawancara di sebuah podcast, Dea OnlyFans mengaku bisa meraup puluhan juta rupiah per bulan dari jualan gambar dan video porno dirinya. “Tapi tidak sampai Rp90 juta,” kata dia.
Puluhan juta kendati tak sampai Rp90 juta. Artinya, konten porno adalah komoditas terlarang dengan profit menjanjikan. Jualan fantasi kiranya tak kalah menggiurkan daripada dagang minyak goreng dengan sistem mafia saat ini. Peminatnya banyak, barang susah didapat, harganya mahal.

Salah satu peminat fantasi yang ditawarkan Dea OnlyFans ialah komika Marshel Widianto. Tak tanggung-tanggung, kata polisi, dia memborong 1 Google Drive berisi 76 video dan foto porno Dea. Marshel sudah diperiksa sebagai saksi. Dia mengaku salah. Dia meminta maaf.

Penikmat lain dari sensasi pornografi ialah seseorang yang diduga kuat anggota DPR. Sosoknya beredar lewat rekaman yang tersebar luas di media sosial belakangan ini. Rekaman pada saat pria berjas itu sedang menonton konten porno di layar smartphone miliknya di tengah rapat.

Dalam video berdurasi 15 detik itu terdengar suara seorang perempuan menanyakan soal vaksinasi. "Karena kalau kita lihat dengan laju suntikan yang seperti apa gitu. Karena ini laju vaksinasinya itu kurang dari 500 ribu. Apa betul, Pak?” ucapnya.

Rapat itu diyakini membahas vaksinasi covid-19. Tuan rumahnya sangat mungkin Komisi IX DPR. Pria yang menonton video porno adalah peserta rapat. Belum diketahui siapa dia. Kasusnya sedang diselidiki pimpinan DPR maupun Mahkamah Kehormatan Dewan.

Jika benar penonton video porno di saat rapat tersebut anggota DPR, sungguh keterlaluan dia. Dia makin meneguhkan adanya dekadensi moral di Senayan.

Meski katanya terhormat, anggota dewan tak steril dari perilaku cela. Mereka justru kerap melakukan tindakan tak terhormat. Termasuk menonton video esek-esek di tengah rapat.

Rumah rakyat di Senayan pun pernah dinodai perbuatan serupa. Pada 2011, pewarta foto harian ini, M Irfan, memergoki anggota Fraksi PKS Arifinto sedang memilih video porno dalam komputer tabletnya di forum terhormat, di sidang paripurna. Media Indonesia memiliki 60 frame visual dan menampilkannya sebagian di halaman depan. Senayan geger. Publik heboh. Kelakuan jorok itu menjadi aib dewan hingga kini.

Penulis buku The Drugs of The Millenium, dr Mark Kastelmen, melabeli pornografi sebagai visual kokain atau narkoba lewat mata. Keduanya sama-sama barang laknat, sama-sama jahat.

Kita semua tahu, narkoba adalah biang kerusakan. Namun, kita belum sepenuhnya tahu, kerusakan pada otak akibat pornografi lebih dahsyat ketimbang kerusakan otak akibat narkotika.

Seperti narkoba, pornografi juga tak memandang identitas. Siapa pun dia, dari mana pun asalnya, adalah bidikan. Kelas paling atas sampai kelas paling bawah bisa menjadi korban. Anak kecil juga bisa. Survei terkini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak malah menyebutkan 66,6 persen anak laki-laki dan 62,3 persen anak perempuan di Indonesia menyaksikan pornografi melalui media daring. Mengerikan, bukan?

Apalagi di zaman sekarang, zaman ketika teknologi dapat dinikmati siapa saja dengan gampang. Di mana pun, kapan pun, orang bisa membuka konten porno. Tentu saja asal ada pulsa atau kuota dan jaringan internetnya. Meski kini tak semudah dulu ketika pemerintah belum memblokir 1 juta lebih situs jorok.

Seperti narkoba, pornografi bisa membuat orang lupa segalanya. Saat libido meninggi, mereka tak kenal tempat, tak kenal waktu untuk menikmati. Di gedung dewan yang semestinya menjadi etalase kehormatan pun jadi. Tak peduli meski kelakuannya mengonfirmasi kemunduran moral yang luar biasa.

Itulah salah satu ciri adiksi pornografi. Kiranya seseorang yang diduga anggota dewan itu sudah kecanduan pula. Sudah sakau dia sehingga rapat penting pun tak dipedulikannya. Yang penting nafsunya terpenuhi, terlampiaskan.

Menonton konten porno tidaklah baik. Setiap agama mengharamkan. Norma dan moral melarangnya. Terlebih buat seorang pejabat yang semestinya menjadi contoh bagi rakyat bagaimana meninggikan norma dan moral.

Pejabat yang kecanduan pornografi juga berbahaya. Sebab, dia akan mengabaikan tanggung jawab yang lain, termasuk tanggung jawab kepublikan. Seseorang yang diduga anggota DPR itu contohnya. Dia bodo amat dengan rapat membahas nasib rakyat demi menikmati video bokep.

Ahli bedah otak dari Amerika Serikat, Donald Hilton Jr, bilang pornografi sesungguhnya merupakan penyakit karena mengubah struktur dan fungsi otak. Bagian yang paling dirusak ialah prefrontal cortex yang menyebabkan seseorang tidak bisa membuat perencanaan serta mengendalikan hawa nafsu dan emosi. Juga tak bisa mengambil keputusan dan berbagi peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls. Bagian inilah yang membedakan antara manusia dan binatang.

Amit-amit jabang bayi rakyat punya wakil yang otaknya rusak karena doyan nonton video porno. Orang seperti itu tak layak mewakili rakyat. Dia harus ditendang keluar dari rumah rakyat.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING

HOT ISSUE

  • Array
MORE
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id