M Tata Taufik
    M Tata Taufik Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat

    Idulfitri yang Optimistis

    M Tata Taufik - 12 Mei 2021 08:00 WIB
    Idulfitri yang Optimistis
    Ilustrasi/Medcom.id



    IDULFITRI adalah hari saat berkumpulnya umat Islam setelah bulan Ramadan, demikian menurut pengertian kamus bahasa Arab. Kalau diteliti secara bahasa, kata Idulfitri terdiri atas dua suku kata, yakni id artinya ‘perayaan atau peringatan’ dan fitr yang berarti ‘berbuka puasa’. Maka, bisa diartikan perayaan setelah berpuasa selama satu bulan yaitu bulan Ramadan. Makna ini sesuai dengan adanya Iduladha, yang berarti perayaan setelah menyembelih udhiyah atau binatang korban.
     
    Berangkat dari pengertian ini, ada beberapa hal yang bisa diungkapkan. Pertama, bahwa Idulfitri berhubungan erat dengan Ramadan. Kedua, Idulfitri merupakan perayaan yang dilakukan untuk merayakan usainya bulan Ramadan. Dan ketiga, bahwa yang dirayakan adalah tuntasnya berpuasa Ramadan. Dari tiga hal ini maka pertanyaan yang bisa diajukan adalah bagaimana merayakan Idulfitri?
     
    Sebuah perayaan biasanya didasarkan pada suatu yang sangat besar dan dianggap penting serta memiliki pengaruh bagi kehidupan orang banyak. Maka, dalam hal Idulfitri, dasar utamanya adalah karena umat Islam secara serentak melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan.

    Menjalankan puasa selama satu bulan lamanya adalah perbuatan yang luar biasa dan tidak semua orang bisa menjalankannya. Kemudian, selama berpuasa itu banyak barokah (bertambahnya nilai-nilai kebaikan) dan kesempatan untuk mengembangkan amal perbuatan baik secara berlipat ganda. Dan bulan Ramadan sendiri memiliki keutamaan sebagai bulan yang berisikan rahmat, maghfirah, dan berpotensi untuk melepaskan seseorang dari api neraka.
     
    Atas asar ini maka umat Islam berhak merayakannya. Merayakan kemampuannya untuk bisa berpuasa satu bulan penuh. Merayakan kemampuannya untuk bisa ber-taqarub (mendekatkan diri kepada Allah) atas didapatnya rahmat dan maghfirah Allah SWT.
     
    Bagaimana merayakannya? Untuk perayaan, Islam mengajarkan tata caranya. Pertama, menyebut dan mengagungkan nama Allah. Kedua, dengan bersedekah kepada fakir miskin dalam bentuk zakat fardu ain yaitu zakat fitrah. Ketiga, dengan mendirikan salat dua rakaat yang disertai dua khotbah. Dan keempat, Idulfitri merupakan tradisi yang disarikan dari nilai-nilai ajaran Islam, yaitu ber-musafahah saling memaafkan dan bersilaturhami.
     
    Cara yang pertama sebagaimana diungkapkan dalam QS. 2:185. “Hendaknya bertakbir (mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”
     
    Seperti yang sudah dimaklumi bersama bahwa lafadz takbir berbunyi: Allah Akbar, Laa ilaaha Illa Allah, Allah Akbar, wa Lillahi al-Hamd. Inilah ungkapan keasadaran seorang hamba bila sukses melakukan sesuatu; seakan mengucapkan aku berpuasa karena kebesaran-Mu ya Allah, bukan karena suatu yang lain. Tidak ada tuhan selain Engkau, karenanaya aku mematuhi segala perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu,  Engkau Maha Besar, dan bagi-Mu segala pujian, tak ada yang layak untuk dibanggakan di hadapan Keagungan-Mu kerena semua pujian hanya milik-Mu. Maka dengan bertakbir tahlil dan tahmid itulah muhasabah (mawas diri) yang sebenarnya; mengetahui posisi sebagai hamba Allah dan menyadarinya kemudian diikuti oleh kepatuhan kepada-Nya.
     
    Dengan bertakbir setelah melakukan puasa berarti menghilangkan kesombongan yang mungkin muncul karena telah melaksanakan puasa. Di sisi lain, mengetahui bahwa ada orang lain yang belum bisa melaksanakannya. Bisa juga terlalu bangga karena merasa sudah melakukan ketaatan. Maka, dengan bertakbir akan merasakan posisi yang sebenarnya. Bahwa Allah-lah yang Mahabesar. Manusia dan makhluk lainnya kecil tak berarti apa-apa dibanding keagungan Allah SWT.
     
    Bertakbir juga akan memberikan keasadaran bahwa dosa-dosa yang pernah dilakukan adalah kecil dibanding dengan keagungan Allah SWT. Keagungan yang bisa memberi pengampunan pada siapa pun yang meminta ampun. Maka, ingat-ingatlah dosa apa yang pernah dilakukan dan mohonlah ampunan-Nya. Dilukiskan seorang ulama dalam ungkapan “Ya Rab! Andaikan dosa-dosaku besar dan banyak, tapi aku tahu bahwa maaf-Mu lebih luas dan besar.”
     
    Keempat cara perayaan itu merupakan bentuk kesyukuran atas suksesnya menjalankan ibadah puasa. Itulah artinya Idulfitri. Suatu hari raya yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang beriman untuk bisa menghadapi hari esok dengan takbir, artinya hanya Allah yang Mahabesar. Lapar masalah kecil, kesulitan apa pun yang dihadapi manusia kecil, dengan semangat Allah Akbar, seorang muslim menjadi optimistis dalam hidupnya. Dan dengan rasa syukur akan terhindar dari sikap  putus asa. Wallahualam.[]
     
    *M Tata Taufik, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat
    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id