Ryo Disastro
    Ryo Disastro Penulis dan karyawan swasta

    Inkubasi di Kala Resesi

    Ryo Disastro - 07 Oktober 2020 09:00 WIB
    Inkubasi di Kala Resesi
    ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
    SORE menjelang maghrib saat pulang kantor, saya mampir di sebuah kedai minuman jahe pinggir jalan di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Beberapa titik macet yang saya lewati, mulai dari Tebet, Pancoran, hingga Pasar Minggu membuat rasa pegal di bokong. Segelas susu jahe hangat melintas di benak, maka jadilah saya mampir.

    Sebut saja Pak Joko namanya. Usianya saya tebak sekitar 50 tahun. Saat saya menghampiri, dia sedang duduk santai di bawah tenda yang berdiri di belakang gerobak dorongnya. Setelah melihat daftar menu, saya pun memesan segelas susu jahe merah campur madu. Saat Pak Joko mulai meracik minuman, perhatian saya teralih kepada lalu lintas jalan raya Lenteng Agung saat itu.

    "Katanya PSBB, tapi kok masih ramai ya pak," ujar saya memulai percakapan.
    "Iya mas. PSBB mah PSBB, nyari duit mah ya tetep,” timpalnya.
    "Maksudnya gimana pak?" balas saya singkat.
    "Iya, PSBB kan berlaku, tapi orang-orang tetep gak bisa dibatasi geraknya mas. Apalagi kalo urusan nyari duit,” jawab Pak Joko sambil mengantar minuman pesanan saya.
    "Kalo orang kantoran mah enak, dapet gaji. Lah kalo orang kayak saya gimana? Kita kalo gak jualan gak makan. Sekarang kalo PSBB, nanti jalanan sepi, kita jualan otomatis sepi dong. Terus gimana kita makan? Makanya saya mah tetep jualan," lanjut Pak Joko.

    Saya terdiam sejenak sambil menyeruput hangatnya susu jahe merah yang dicampur madu racikannya. Saya yang masih gajian ini memang tergolong orang kantoran yang enak versi Pak Joko. Hanya saja dia tidak tahu jika orang kantoran yang dia maksud itu nasibnya hanya sedikit lebih baik dari dirinya. 

    Potong gaji
    Masih bekerja dengan dengan gaji yang dipotong hingga 50% bukanlah hal yang bisa dibilang enak. Namun, biarlah itu jadi rahasia saya. Hahaha... Rahasia kok diumbar?

    "Jadi menurut bapak gimana kondisi kita ke depan? Katanya kita mau resesi nih pak. Ekonomi bakal lesu," saya melanjutkan percakapan.
    "Dulu juga gitu mas. Malahan krisis. Tahun 98, trus 2008, nah sekarang lagi. Tapi kita mah tetep usaha. Tetep jalan aja. Ya emang orang kayak saya ganti-ganti kerjaan kan, apa aja kita kerjain asal halal dan bisa bertahan," agak panjang penjelasan Pak Joko kali ini.

    Obrolan kami tidak berlanjut karena istri Pak Joko datang menyusul dan meminta suaminya mengerjakan satu hal. Pak Joko pun pamit dan mengatakan kepada saya soal pembayaran minuman jahe nanti ke istrinya saja. Saya pun mengangguk mengiyakan. Tak lama saya pun pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang.

    Percakapan saya dengan Pak Joko membekas dan meninggalkan kesan. Di tengah ancaman tertular penyakit yang belum ada obatnya dan dibayangi oleh kesulitan ekonomi menjelang resesi, Pak Joko tidak patah semangat. Justru dia memperlihatkan sikap gigih dan mental pejuang. Rasa takut pada resesi tidak tampak pada dirinya.

    Jadi persoalan ke depan adalah bukan pada resesinya - karena hampir pasti terjadi - tetapi bagaimana respon kita terhadap resesi tersebut, termasuk respon terhadap dampak yang ditimbulkannya.

    Resesi adalah istilah ekonomi yang banyak diperbincangkan akhir-akhir ini. Meskipun istilah ini belum terdefinisi dengan baku, namun secara umum resesi merujuk kepada menurunnya kondisi ekonomi suatu negara yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang minus selama dua kuartal berturut-turut.

    Saat ini banyak negara sudah mengalaminya, termasuk negara-negara di kawasan seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Australia, dan Selandia Baru. Hingga awal bulan September 2020, terdapat 18 negara yang memasuki masa resesi. Indonesia dikabarkan akan segera menyusul, jika pertumbuhan ekonomi masih minus hingga akhir September ini.

    Meski bukan pertama kali yang terjadi, namun tetap saja resesi menjadi momok yang menakutkan. Bayang-bayang PHK massal akibat turunnya angka produksi dan anjloknya nilai ekspor seolah nyata di hadapan kita. Nilai Rupiah yang jatuh dan gonjang-ganjing pasar saham juga ikut membayangi. Daya beli masyarakat yang turun hingga dampak politik pun ikut serta dalam daftar resiko.

    Saya bukan seorang sarjana ekonomi jadi saya tidak akan membahas lebih detil soal resesi. Buat saya yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi resesi tersebut. Epictetus, seorang filsuf dari Yunani, pernah bilang: "It's not what happens to you, but how you react to it that matters." Jadi persoalan ke depan adalah bukan pada resesinya - karena hampir pasti terjadi - tetapi bagaimana respon kita terhadap resesi tersebut, termasuk respon terhadap dampak yang ditimbulkannya.

    Selain membawa persoalan, resesi juga membawa peluang. Sejarah mencatat bahwa resesi menjadi masa inkubasi beragam entitas bisnis. Sebut saja Walt Disney & General Motors. Mereka adalah entitas bisnis terkemuka yang berkembang pesat saat The Great Depression terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1930an.

    Pada tahun 1937, Walt Disney memproduksi film animasi Snow White and the Seven Dwarfs yang sukses masuk box office dengan mencatat pemasukan hingga 8 juta dollar. Angka yang fantastis pada jamannya. General Motors tidak kalah hebat. Perusahaan otomotif terbesar di negeri Paman Sam tersebut berhasil menjual 1,7 juta unit mobil dan truk di masa depresi ekonomi.

    Individu luar biasa
    Resesi juga menjadi masa munculnya individu-individu luar biasa yang tidak saja mampu bertahan dari terpaan badai ekonomi tetapi juga memberi dampak yang positif dan luas. Dari dalam negeri kita bisa sebut nama Ciputra (alm), Chairul Tanjung, Sandiaga Uno, Muhammad Yusuf Madeamin, dan taipan senior Mochtar Riady. Mereka survive dari krisis moneter 97-98 dan sukses hingga saat ini.

    Menurut Bambang Soesatyo, seperti dikutip medcom.id (19/7), data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan UMKM mampu menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja di mana 107,4 juta dari usaha mikro, 5,8 juta dari usaha kecil, dan 3,7 juta dari usaha menengah.

    Albert Einstein pernah berkata: "In the midst of every crisis, lies great opportunity". Sebuah kata-kata yang bernilai mutiara ini sungguh patut direnungkan untuk kemudian kita jadikan titik anjak dalam menyikapi resesi. Dari sini kita bisa mengubah cara pandang kita dan mencari-cari sisi lain dari resesi untuk kita jadikan peluang. Sikap kritis dan optimis sungguh dibutuhkan di masa-masa penuh tantangan ke depan.

    Di sinilah peran orang-orang seperti Pak Joko menjadi penting. Orang-orang yang memiliki etos kerja yang gigih, pantang menyerah, dan keras kepala dalam menghadapi krisis. Mereka yang bergerak di bidang UMKM terbukti bisa bertahan dalam badai krisis, seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998 dan 2008. Merekalah ujung tombak sekaligus benteng pertahanan perekonomian negara. Mereka yang akan membawa Indonesia melalui resesi ini. Insya Allah...

    Ketua MPR Bambang Soesatyo menanti gairah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendorong sektor perekonomian domestik di tengah gejolak ekonomi imbas pandemi covid-19. Maklum kiprah UMKM pernah terbukti mampu menyelamatkan perekonomian Indonesia dalam situasi krisis moneter yang terjadi pada 1998.

    Menurut Bambang Soesatyo, seperti dikutip medcom.id (19/7), data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan UMKM mampu menyerap sekitar 117 juta tenaga kerja di mana 107,4 juta dari usaha mikro, 5,8 juta dari usaha kecil, dan 3,7 juta dari usaha menengah.

    Saya meyakini Indonesia pascaresesi adalah Indonesia yang penuh dengan dinamika dunia usaha. Indonesia yang sarat dengan inovasi dan diversifikasi produk-produk UMKM. Saya membayangkan suatu hari nanti saya akan mampir di kedai susu jahe Pak Joko yang telah menjelma menjadi industri 4.0.

    Mungkin sudah menjadi franchise nasional dengan ribuan mitra dan karyawan. Mungkin juga masih di pinggir jalan, namun tampil dengan beragam kecanggihan teknologi. Atau mungkin hadir dengan menu yang inovatif, seperti susu jahe madu plus boba dengan topping es krim dan Oreo Supreme. Emmm... mau coba?[]
     
    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.


    (SBR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id