M Tata Taufik
    M Tata Taufik Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat

    Generasi X = Y + Z (?)

    M Tata Taufik - 14 April 2021 08:00 WIB
    Generasi X =  Y + Z (?)
    Ilustrasi/Medcom.id



    SEDIKIT-sedikit terdengar di telinga ungkapan “generasi milenial”.  Ungkapan ini entah menunjuk ke siapa? Kurang jelas juga pembatasannya, mungkin bahkan yang mengungkapkan juga sama tidak jelasnya ke mana arah dan tujuannya. Menelusuri istilah memang jarang dilakukan orang, biasanya penyebutan itu begitu saja tersebar dengan indra pendengaran yang langsung dikopi untuk penggunaan berikutnya.
     
    Dalam beberapa kamus disebutkan bahwa generasi milenial disebut juga generasi Y. Mereka yang lahir pada rentang 1980 - 2000. Sedangkan generasi Z adalah mereka yang lahir antara 1990 dan awal 2000 (Dictionary.com, 2020). Kamus daring Urbandictionary.com (2020) lebih spesifik menyatakan generasi Z lahir di antara 1995 - 2009. Adapun generasi sebelumnya yang lahir pada rentang 1966 - 1980 disebut generasi X.
     
    Sebenarnya, ini awal penamaan generasi dengan menggunakan alfabet. Asal mulanya karena pada saat mereka berusia muda muncul sebuah novel yang ditulis Douglas Coupland berjudul Generation X pada 1991.  Sedangkan generasi yang lahir sekitar tahun 1944-1965 dinamakan generasi baby boomer karena pada saat itu banyak kelahiran bayi setelah usai Perang Dunia II (Dictionary.com, 2020).
     
    Mengenal generasi X, saat ini usianya rata-rata 50 tahun, adalah mereka yang mengalami beberapa hal. Seperti, arus pemikiran yang beredar pada tahun 80-an. Mengalami kelahiran telepon seluler generasi awal yang hanya bisa untuk menelepon lewat sambungan suara. Dikenalkan juga dengan pager, sebuah alat komunikasi yang hanya bisa menerima pesan satu arah. Dan mengenal teknologi pesan singkat (SMS) yang merupakan pemaduan teknologi pager dan telepon seluler dari sudut teknologi komunikasi.
     
    Untuk media massa, generasi ini akrab dengan media massa tradisional seperti radio, televisi, koran, majalah, dan buku. Generasi ini pun pada tahun 1997 sebagian kecil sudah terkoneksi ke internet—walaupun dengan koneksi lambat— dengan mengenal e-book dan e-mail. Sehingga, pada saat sekarang mereka sudah bisa mengikuti perkembangan sarana komunikasi yang update.
     
    Pengetahuan yang mereka miliki juga masih akrab dengan pengetahuan abad 19 dan abad 20. Untuk kasus Indonesia, saat maraknya buku-buku terjemahan dan bermunculan penerbit-penerbit baru dengan corak dan ragamnya. Pengetahuan komputer bagi generasi ini awal sekali. Pada usia mudanya mereka mengenal komputer dengan sistem DOS.

    Mulai marak pula bisnis kursus komputer serta rental komputer dengan media penyimpanan masih berupa compact disc atau floppy disk. Lalu harddisk dan mulai berkembang sistem Windows versi awal. Keuntungannya generasi ini merasakan juga apa yang dirasakan generasi berikutnya.
     
    Generasi Y (Milenial), sebagai generasi lanjutan dari X, lain lagi ceritanya. Mereka terlahir saat teknologi komunikasi sudah mulai berkembang. Bayar kuliah sudah pakai ATM. Komputer sudah menjadi kebutuhan bagi kalangan terpelajar saat itu. Dan ini dia, game sudah makin marak dengan berbagai varian.






    Tempat main bukan di lapangan terbuka—kecuali yang suka olahraga—tapi di warnet dan rental playstation. Referensi tidak saja berkutat pada buku dan jurnal, tapi sudah merambah kepada buku-buku elektronik. Telepon seluler sudah menjadi semacam kebutuhan individu, istilah SMS sudah mereka kenal sejak masa sekolah dasar,  walau penggunaan smartphone belum masif.
     
    Istilah milenial menjadi populer saat itu karena waktu masa pergantian digit dari satu nol ke dua nol yang sangat heboh dalam pemberitaannya. Berbagai informasi menawarkan 2 key ready adalah ciri utamanya. Generasi ini menyongsong kelahiran berbagai jejaring sosial yang lahir pada tahun 2004, dimulai dari Facebook, Blackberry Messenger, dan lainnya.  Jadi, ketika mereka usia belia sudah mengenal berbagai layanan jejaring sosial. Usia mereka sekarang sekitar 20 - 40 tahunan.
     
    Generasi Z adalah mereka yang lahir pada era teknologi dengan budaya yang bersifat global. Tidak ada jarak antara satu sama lain di seluruh dunia. Kalau dua generasi sebelumnya (X dan Y) menjalani proses globalisasi, maka generasi Z adalah produk dari budaya global. Sejak balita mereka sudah mahir menggunakan smartphone dan piawai dalam bermain game.

    Sekarang usia mereka rata-rata belasan tahun dan paling tinggi sekitar sekitar 25 tahun. Abad 20 hanya diketahui secara samar-samar, tidak paham kenaikan standar hidup yang menjadi tinggi, dihiasi dengan paparan komputer dan internet, serta hidup dalam kondisi menurunnya berbagai nilai moral dan nilai  tradisional.
     
    Generasi ini menghadapi tantangan nilai yang sangat besar. Sebab, mereka lahir dari atau hidup bersama generasi Y yang sudah mulai mengglobal, dengan budaya global juga tentunya. Celaka lagi jika generasi sebelumnya meninabobokan mereka tidak lagi dengan dongengan dan cerita, melainkan memberikan perangkat elektronik sebagai “pengasuh”.

    Beberapa kasus yang ditemui penulis menunjukkan bahwa usia belasan sudah bersikap antisosial. Murung jika berada di luar ruangan dan tidak bisa beradaptasi dengan temannya. Denang menyendiri. Dan ini yang membahayakan, tangannya selalu bergerak-gerak seakan dia sedang bermain game di perangkatnya.
     
    Generasi ini pun menjadi sasaran empuk bagi para penyedia layanan game termasuk game online. Tindakan tidak produktif di satu sisi menjadi ciri khas generasi ini. Di sisi lain tindakan produktifnya juga sangat memukau ketika perangkat elektronik menjadi profesi yang terarah. Kehidupan generasi ini sangat bersifat elektronik.

    Masa mereka hidup, uang, dompet, belanja, hingga tiket semuanya elektronik. Dengan berbagai fasilitas yang serba jarak jauh, belajar jarak jauh, jajan jarak jauh, seminar jarak jauh, pengajian jarak jauh, mengobrol dengan orang tua atau sesama bermedia juga. Ciri utamanya tangan selalu mata memandang gadget dan tangan menari-nari di atasnya. Sesekali terbahak-bahak, bahkan saat mengendarai sepeda motor pun sesekali mengeluarkan perangkatnya seraya menulis atau membaca. Padahal, ada beda kekuatan pesan bermedia dengan pesan langsung berhadapan.
     
    Penelitian di London School of Economic pada 1999  memperlihatkan bahwa televisi, CD-Roms, komputer, dan internet telah membuat gaya hidup baru; living together separately, dengan kata lain perilaku yang populer sekarang adalah we are a lone together.
     
    Kondisi setiap generasi membutuhkan aturan moral yang disepakati. Tampaknya untuk generasi Y dan Z harus tetap mendapat panduan dari generasi X, terutama berkenaan dengan penggunaan teknologi komunikasi. Mulai dari durasi waktu hingga penjadwalan waktu, sudah harus mulai ditata. Saat ini generasi X berada pada posisi pengambil kebijakan, perancang, dan pengeksekusi kegiatan. Dan di keluarga sudah berada pada posisi kakek dan nenek. Media literacy dan emotional literacy harus sudah disosialisasikan, termasuk etiket bermedia tentunya.[]
     
    *M Tata Taufik, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id