Gaudensius Suhardi
    Gaudensius Suhardi Anggota Dewan Redaksi Media Group

    Terawan Menawan

    Gaudensius Suhardi - 22 April 2021 05:27 WIB
    Terawan Menawan
    Gaudensius Suhardi. MI/Ebet



    VAKSIN Nusantara telah dipakai untuk menawan Terawan Agus Putranto. Akan tetapi, vaksin itu pula yang membuat mantan Menteri Kesehatan Terawan tetap menawan. 

    Menawan menurut kamus bisa berarti 'menangkap (menahan) musuh atau menarik hati, memikat'. Vaksin Nusantara menempatkan Terawan bak tawanan sekaligus pahlawan yang memikat orang banyak. 

     



    Terawan sebagai pahlawan tersirat dalam cuitan Twitter Aburizal Bakrie pada 15 Maret, “Hari ini saya disuntik vaksin Nusantara. Sampel darah saya sudah diambil duluan delapan hari lalu. Saya termasuk yang pertama menjadi relawan untuk vaksin covid-19 buatan anak bangsa ini. Selain saya, tadi istri saya juga ikut divaksin di RSPAD.” 

    Aburizal divaksin setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) memastikan penelitian vaksin Nusantara belum bisa dilanjutkan ke uji klinik fase kedua. 

    Pernyataan Badan POM tidak menyurutkan langkah Aburizal. “Saya percaya dengan vaksin ini karena memang saya percaya dengan kemampuan dokter Terawan. Bahkan saya ini pernah utang nyawa, karena beliau dengan metode ‘cuci otak’-nya pernah menyelamatkan saya dari serangan stroke yang fatal,” tulis Aburizal. 

    Metode ‘cuci otak’ itu lebih dulu menawan Terawan. Dia pernah dipecat dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia selama 12 bulan sejak 26 Februari 2018. Akan tetapi, pada saat bersamaan, metode ‘cuci otak’ dikagumi dunia dan paling dicari para pejabat dan orang-orang berduit di negeri ini. 

    Ibarat pertandingan sepak bola, Terawan selalu keluar sebagai pemenang, meski sering kali dicurangi lawan main. Ia adalah pemenang sesungguhnya dalam pertandingan vaksin Nusantara. 

    Terawan hadir bersama Menkes, Menristek/Kepala BRIN, dan Kepala Badan POM dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR pada 10 April. Kesimpulan rapat yang dimulai pukul 10.00 hingga 21.05 WIB itu berpihak kepada vaksin Nusantara. Ada 4 poin terkait vaksin Nusantara yang menjadi kesimpulan rapat yang diteken Ketua Komisi IX Felly Estelita Runtuwene. 

    Pertama, Kemenkes dan Badan POM berkoordinasi dengan Kemenristek/BRIN untuk terus mendukung penuh penelitian dan pengembangan kandidat Vaksin Nusantara di dalam seluruh tahapan penelitian dan pengembangan sesuai dengan standar dan persyaratan good laboratory practice (GLP), good manufacturing practice (GMP), dan good clinical practice (GCP) untuk memastikan khasiat, mutu, dan keamanannya. 

    Kedua, Badan POM RI untuk segera mengeluarkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinis (PPUK) fase 2 bagi kandidat vaksin Nusantara agar penelitian ini dapat segera dituntaskan selambat-lambatnya 17 Maret 2021. Jika sampai batas waktu yang ditentukan tidak selesai, Komisi IX DPR RI akan membentuk tim mediasi untuk menyamakan persepsi antara Tim Peneliti Vaksin Nusantara dan Badan POM RI. 

    Ketiga, Tim Peneliti Vaksin Nusantara untuk menyampaikan perkembangan hasil klinis fase 1 kandidat vaksin Nusantara. Keempat, Badan Litbangkes Kemenkes untuk terus memberikan dukungan anggaran kepada penelitian kandidat vaksin Nusantara. 

    Keputusan dan/atau kesimpulan rapat kerja komisi atau rapat kerja gabungan komisi bersifat mengikat antara DPR dan pemerintah serta wajib dilaksanakan oleh pemerintah. 

    Sanksi bagi pejabat negara dan pejabat pemerintah yang tidak melaksanakan kewajiban keputusan/kesimpulan rapat kerja tidak main-main. Komisi dapat mengusulkan penggunaan hak interpelasi, hak angket, hak menyatakan pendapat atau hak anggota mengajukan pertanyaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 

    Kesimpulan rapat itu diabaikan. Badan POM kukuh tidak memberikan izin vaksin Nusantara. Meski demikian, pada 14 April, ramai-ramai anggota DPR mendatangi RSPAD Gatot Soebroto. Mereka diambil sampel darah. Selang tiga hari kemudian, pada 17 April, 105 orang dari beragam kalangan menyatakan sikap mendukung Badan POM yang tak memberikan izin vaksin Nusantara. 

    Terawan tetaplah menawan, meski seakan-akan ditawan. Dia kembali keluar sebagai pemenang dalam nota kesepahaman antara Menkes Budi Gunadi Sadikin, KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa, dan Kepala Badan POM Penny K Lukito pada 19 April. 

    Berdasarkan MoU itu, vaksin Nusantara digocek menjadi penelitian sel dendritik. Dari pengawasan Badan POM sekarang dialihkan ke penelitian berbasis pelayanan yang pengawasannya berada di bawah Kemenkes. RSPAD Gatot Soebroto yang menjadi kantor Terawan justru ditetapkan sebagai penyelenggara penelitian. 

    Vaksin itu bisa menawan karena di dalamnya ada unsur medis, bisnis, dan politis. Penelitian yang dilakukan Terawan mengusik mereka yang sudah mapan dalam bisnis vaksin.

    *Gaudensius Suhardi, Dewan Redaksi Media Group


    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id