Syah Sabur
    Syah Sabur Jurnalis Senior Medcom.id

    Nadiem: Korona, Harapan, dan Kematian

    Syah Sabur - 07 Juli 2020 08:10 WIB
    Nadiem: Korona, Harapan, dan Kematian
    Ilustrasi/Medcom.id
    DALAM pidato 18 Juni 2020, Presiden Jokowi secara eksplisit menyebut tiga kementerian yang membuatnya gundah dan marah. Mereka dinilainya mengecewakan dalam menangani dampak covid-19. Ketiganya adalah Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan kementerian di bidang ekonomi.
     
    Tapi saya tak ingin masuk pada perdebatan soal dugaan kemarahan Jokowi hanya bagian dari drama. Saya hanya ingin membahas kinerja sebagian menteri yang memang bisa kita lihat sehari-hari. Ketiga kementerian yang disebut Jokowi hanya sebagian dari permasalahan di Kabinet Indonesia Maju.
     
    Yang jelas, kegagalan ketiga kementerian bisa berujung pada satu titik: kematian. Anggaran kesehatan yang terlambat dikucurkan bisa membuat penanganan covid-19 macet, tim medis tak berdaya, rumah sakit kehabisan kamar serta obat dan APD tak terbeli yang ujungnya pasien korona tak bisa ditangani.
     
    Demikian pula jika bantuan sosial terlambat digelontorkan ketika banyak orang kehilangan pekerjaan, bahkan sebagian nyaris kelaparan. Akibatnya sama saja, bisa berujung kematian, baik akibat terserang covid-19 maupun akibat didera kelaparan. Hal yang sama persis bisa terjadi jika berbagai kebijakan ekonomi, baik berupa bantuan, insentif, maupun stimulus terlambat dikucurkan kepada pengusaha.
     
    Tapi betulkah hanya tiga sektor tersebut yang bisa membuat situasi menjadi (semakin) gawat? Tentu saja tidak.
     
    Ada satu kementerian yang layak disorot, yaitu Kementerian Pendidikan. Memang, ketika jutaan siswa, mahasiswa maupun para pendidik tidak melaksanakan proses belajar-mengajar, mereka tidak akan mati.
     
    Bahkan mungkin, ketika para siswa dan mahasiswa belajar di rumah sepanjang tahun atau bahkan tidak belajar sama sekali, tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika itu terkait kelaparan dan kematian. Dalam sejarah tidak ada cerita seseorang atau sekelompok orang mati gara-gara tidak belajar.
     
    Tapi, pendidikan yang karut-marut sungguh tak terbayangkan dampaknya dalam jangka panjang. Pendidikan memang tidak seperti makan cabai; dimakan langsung terasa pedas, tenggorokan tersedak atau mata berair. Dampaknya baru terasa beberapa tahun ke depan.
     

    Tanpa pendidikan, tak ada harapan

    Meskipun demikian, tanpa pendidikan, sebuah bangsa akan kehilangan harapan. Harapan untuk meraih cita-cita, melakukan inovasi, merebut persaingan juga mengubah nasib, meningkatkan kualitas demokrasi, serta keluar dari kemiskinan dan kebodohan. Sulit membayangkan kehidupan tanpa harapan.
     
    Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 secara jelas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

    Sehebat apapun ide Mendikbud untuk membenahi dunia pendidikan, hal itu hanya omong kosong tanpa perbaikan guru

    Intinya jelas, tugas pendidikan amat besar karena menentukan nasib bangsa ini ke depan. Apakah akan menjadi bangsa unggul atau bangsa yang tumpul.
     
    Padahal, ada banyak persoalan di bidang pendidikan, baik setelah muncul pandemi covid-19 maupun sebelumnya. Salah satu hal paling mendasar adalah perbaikan kualitas guru.
     
    Sebab, sehebat apapun ide Mendikbud untuk membenahi dunia pendidikan, hal itu hanya omong kosong tanpa perbaikan guru. Gurulah yang bisa menerjemahkan ide-ide besar menteri. Guru pula yang akan menerjemahkan kurikulum yang dibuat para ahli. Gurulah yang paling paham karakter siswa. Guru pula yang paham bagaimana memotivasi mereka. Peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, walaupun terasa usang tapi masih kontekstual dengan kondisi saat ini.
     
    Lalu, apa saja yang sudah dilakukan Mas Menteri untuk memberdayakan dan memerdekakan guru? Apa ya, bingung saya. Sebab, janji menteri di awal jabatannya untuk meringankan beban administrasi guru saja, hingga sekarang belum terwujud.
     

    Mendikbud diam

    Lantas, ketika datang pandemi covid-19 yang memaksa siswa dan guru pergi jauh meninggalkan ruang kelas, dan terpaksa memilih belajar di rumah (atau pura-pura belajar di rumah?), mas Menteri diam seribu bahasa. Selama sekitar tiga bulan, nyaris tidak ada pedoman bagi guru tentang belajar dari rumah, belajar jarak jauh.
     
    Petunjuknya hanya berupa guru bisa memakai jaringan internet untuk memberikan tugas kepada siswa. Belakangan ada sedikit “inovasi”, proses belajar bisa dengan  memanfaatkan program yang ditayangkan TVRI. Itu saja.
     
    Tidak ada semacam kurikulum darurat selama pandemi. Tidak ada juga pelatihan singkat tentang belajar daring.
     
    Padahal bagi sebagian guru, jangankan belajar daring, bersentuhan dengan komputer saja mereka belum pernah. Guru seolah dicemplungin untuk melaksanakan belajar daring. Pusing!
     
    Pusinglah pula para siswa karena dipaksa meladeni para guru yang seolah berlomba memberi tugas.  Siswa dipaksa belajar mandiri. Padahal, selama ini mereka nyaris hanya dicekoki materi pelajaran oleh guru yang juga korban karena dicekoki kurikulum yang kaku dan sentralistik.
     
    Karena siswa pusing, pusing pula orangtua karena harus membantu anaknya mengerjakan seabrek tugas. Tak jelas lagi, siapa yang harus belajar: siswa atau orangtua.
     
    Tak hanya itu, sebagian orangtua pusing karena harus membelikan smartphone untuk anak mereka. Padahal, smartphone tidak menjamin mereka pintar jika tidak ada sinyal, tidak ada jaringan internet, atau tanpa listrik, terutama mereka yang tinggal di pelosok. Bahkan, sebagian orangtua juga pusing karena harus menyisihkan sebagian uang belanja untuk membeli kuota internet.
     
    Memang jumlahnya besar? Tentu saja biaya kuota internet teramat kecil bagi keluarga yang (ekonominya) normal. Tapi sangat berarti bagi golongan abnormal, yang tiap hari pusing memikirkan soal ketersediaan beras di rumah. Pusing membayangkan, apakah keluarga bisa makan atau tidak.
     
    Tapi dengan percaya diri, beberapa hari lalu Nadiem menyatakan, metode pembelajaran jarak jauh nantinya bisa diterapkan permanen seusai pandemi Covid-19. Menurut analisis Kemendikbud, pemanfaatan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar akan menjadi hal yang mendasar.
     

    Prasyarat belajar daring

    Sepertinya mas Menteri lupa berbagai persoalan yang dihadapi siswa, orangtua, dan guru menghadapi sistem belajar jarak jauh ini. Ada prasyarat yang harus dipenuhi untuk melaksanakannya, baik dari sisi guru, siswa dan orangtua maupun berbagai prasarana seperti smartphone, komputer, listrik, dan jaringan internet. Itu semua belum cukup jika guru tidak disiapkan untuk mengajar secara daring.
     
    Terkait covid-19, Kemendikbud juga tidak menyediakan dana stimulus pendidikan dari menengah sampai pendidikan tinggi, kecuali dana bos yang memang sudah ada sejak menteri sebelumnya. Untuk tingkat pendidikan tinggi juga tidak ada dana afirmasi.

    Padahal, banyak mahasiswa yang terdampak korona, terutama orangtua mereka yang kehilangan atau berkurang penghasillannya. Ketika mahasiswa menuntut uang kuliah tunggal (UKT) diturunkan, pemerintah menolak dan menyerahkannya kepada kebijakan rektor.
     
    Di lain pihak, kondisi ini juga memukul kemampuan ekonoomi perguruan tinggi. Akibatnya bisa dipastikan, cita-cita untuk masuk ke jajaran perguruan tinggi besar dunia akan makin jauh.

    Kebijakan Mendikbud tentang penerimaan peserta didik baru (PPDB) juga menyisakah masalah, khususnya di DKI Jakarta yang menambahkan faktor usia. Polemik yang terjadi berhari-hari tidak menggerakkan mas Menteri dari tempat duduknya. Setelah didesak anggota DPR, barulah menteri berjanji untuk berkoordinasi dengan Mendagri yang merupakan atasan gubernur.

    Bidang pendidikan bukan hanya memerlukan orang yang cerdas melainkan juga matang dan bijak melihat persoalan

    Belakangan Mendikbud juga meluncurkan apa yang disebutnya “Enam Profil Pelajar Pancasila”, yakni beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis dan mandiri. Tapi, apa yang baru? Bukankah selama ini tujuan pendidikan memang seperti itu?
     
    Sebagian pihak juga membandingkan Nadiem dengan atasannya, Jokowi yang mengunjungi berbagai daerah, baik untuk memberikan bantuan maupun sekadar menyampaikan simpati kepada korban pandemik atau tenaga medis. Lalu, apa yang dilakukan Nadiem selama pandemi untuk kalangan pendidikan?
     
    Dengan gambaran seperti itu, sudah selayaknya Nadiem terpilih. Bukan untuk mempertahankan posnya melainkan untuk meninggalkan posnya.
     
    Terlalu besar taruhannya jika harus mempertahankan sosok seperti itu untuk menduduki pos yang teramat penting. Bidang pendidikan bukan hanya memerlukan orang yang cerdas melainkan juga matang dan bijak melihat persoalan.
     
    Lagi pula, tanpa pos menteri, Nadiem pasti tak akan mati. Dia bisa kembali ke dunia bisnis yang membesarkannya, yang sempat membuat sebagian orang --termasuk presiden Jokowi— membayangkannya bisa menangani dunia pendidikan yang penuh masalah dengan “simsalabim”.
     
    Tentu saja para guru dan siswa pun tidak akan mati jika Jokowi mempertahankan Nadiem. Tapi percayalah, tanpa pendidikan yang baik, bangsa ini akan kehilangan harapan. Dan orang yang tidak punya harapan, pada dasarnya tidak punya kehidupan.[]
     
     *Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id. 

    (UWA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id