Wawancara Khusus Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah

    Menghitung Nasib Buruh di Tengah Wabah

    Misbahol Munir - 10 April 2020 08:52 WIB
    Menghitung Nasib Buruh di Tengah Wabah
    Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah. Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
    Jakarta: Wabah virus korona (covid-19) telah melumpuhkan sektor perekonomian bangsa. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diprediksi hanya mencapai 2,3%. Bahkan dalam situasi terburuk, pertumbuhan ekonomi justru bisa minus hingga -0,4%.

    Ini ujian terberat. “Tak ada satu negara pun yang menginginkan wabah ini terjadi,” ujar Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah kepada Medcom.id, yang secara khusus mewawancarinya melalui aplikasi virtual daring, awal April 2020.

    Ida mengakui pandemi covid-19 menyebabkan banyak orang kehilangan mata pencaharian. Bukan hanya pekerja pabrik atau buruh, pelaku usaha kecil dan mikro juga terkena imbasnya. Pemerintah pun, kata Ida, memutar otak agar mereka yang terkena dampak wabah ini bisa tetap melanjutkan keberlangsungan hidupnya.

    Ida menjelaskan berbagai stimulus diambil pemerintah demi membantu buruh yang dirumahkan akibat wabah. Skema Kartu Prakerja yang semula dikhususkan untuk para penggangguran pun diubah. Lalu bagaimana penjelasan lebih lanjut soal nasib buruh di tengah wabah korona ini? Berikut wawancara utuh Medcom.id dengan Ida Fauziyah.

    Iklim usaha apa yang pertama kali terdampak covid-19?

    Saya kira tidak ada semua dari kita menginginkan kondisi seperti ini. Tidak ada satu negara pun yang menginginkan ini terjadi. Tidak terduga sudah 202 negara terpapar pandemi virus korona (covid-19). Ini adalah musibah global, tidak hanya dialami bangsa kita Indonesia.

    Lalu bagaimana dampak covid-19 terhadap iklim usaha kita? Dari hasil pantauan kami dan sejumlah laporan dari teman-teman pengusaha dan buruh, beberapa sektor mengalami penurunan produktivitas. Bahkan ada yang mulai menutup usahanya. Sektor pariwisata adalah sektor yang merasakan dampaknya terlebih dahulu sejak covid-19 mewabah pada Januari hingga Februari awal.

    Bahkan, pertama yang di-treatment adalah sektor pariwisata. Namun begitu, pertengahan hingga akhir Februari masuk ke Maret, pandemi covid-19 meluas. Dulu hanya Jakarta, sekarang hampir semua wilayah di Indonesia. Kita bisa lihat betapa luas dampaknya bagi iklim usaha maupun ketenagakerjaan. Banyak perusahaan yang menurunkan produktivitasnya.

    Kemudian mulai banyak perusahaan-perusahaan yang merumahkan karyawannya. Dengan dibayar penuh atau membayar separuh, bahkan ada yang tidak dibayar sama sekali. Saya cukup sedih juga banyak perusahaan yang mem-PHK karyawannya.

    Bagaimana Ibu mencermati keluhan para pengusaha?

    Pemerintah tidak diam dan melihat secara baik iklim usaha kita. Bagaimana perlindungan terhadap tenaga kerja? Pemerintah kemarin mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Negara kita. Perppu tersebut dimaksudkan sebagai cara pemerintah menjaga eksistensi atau kelangsungan usaha kita. Banyak sekali kebijakan dan stimulus yang diberikan pemerintah untuk menjaga keberlangsungan usaha kita.

    Apa langkah taktis pemerintah melindungi pekerja dan buruh di tengah wabah covid-19 ini?

    Kami menyadari teman-teman industri/pengusaha mengalami masalah berkaitan dengan menurunnya produktivitas. Maka, pemerintah melihatnya dari dua sisi. Pertama, memberi stimulus menjamin keberlangsungan usaha. Pemerintah juga melihat dari sisi ketenagakerjaannya.

    Yang kami lakukan adalah segera merealisasikan Kartu Prakerja. Program ini dulu kita arahkan lebih banyak untuk meningkatkan atau memberikan pelatihan vokasi kepada pencari kerja. Dengan kondisi seperti ini maka program itu kita arahkan untuk memberi pelatihan vokasi kepada mereka yang ter-PHK atau dirumahkan, baik pekerja formal maupun informal, serta pelaku usaha kecil yang terkena dampak wabah covid-19. Tentu saja dengan skema yang berubah. Dulu skema pembiayaannya lebih besar untuk biaya pelatihan, sekarang lebih banyak diberikan untuk insentif.

    Bisa dijelaskan lebih detail perubahan skema penerima manfaat Kartu Prakerja?

    Kami melakukan identifikasi melalui dinas-dinas ketenagakerjaan, perusahaan-perusahaan, serikat-serikat pekerja dan serikat buruh. Pendataannya mulai berlangsung. Mulai berkoordinasi dengan teman-teman dinas ketenagakerjaan untuk melakukan identifikasi. Di samping itu, kami terus meminta masukan dari teman-teman serikat pekerja dan buruh dan perusahaan-perusahaan.

    Berupa jumlah pendaftar Kartu Prakerja, baik para pencari kerja maupun pekerja yang ter-PHK?

    Program Kartu Prakerja rencananya dialokasikan untuk 2 juta peserta. Sekarang, kita perbesar menjadi 5,6 juta penerima. Untuk pencari kerja, kita arahkan mengikuti pelatihan-pelatihan kompetensi yang ada di Balai Latihan Kerja (BLK). Jadi, program Kartu Prakerja lebih banyak diarahkan untuk mereka yang ter-PHK, pekerja yang dirumahkan baik formal maupun informal, pelaku UMKM yang terdampak covid-19, pekerja harian, hingga buruh lepas.

    Alokasi 5,6 juta peserta bukan angka yang kecil, tapi kami ingin memberi manfaat kepada mereka. Untuk teman-teman pengangguran atau pencari kerja, kita anjurkan mengikuti pelatihan-pelatihan reguler yang ada di Kemenaker dan kementerian-kementerian atau lembaga-lembaga lain.

    Nah, pelatihan itu biasanya kan dilakukan secara offline. Karena kita harus melakukan social distancing, maka pelatihannya akan dilakukan secara online.

    Pekerja yang terdampak covid-19 ini juga dialami pekerja migran di luar negeri dan anak buah kapal (ABK), apakah sudah antisipasi terkait hal itu?

    Pemulangan pekerja-pekerja migran sudah dalam koordinasi pemerintah. Kita tahu di antara mereka adalah kelompok yang selama ini masuk kategori pekerja low close skill dan mereka masuk kategori pekerja undocumented (tidak memiliki dokumen resmi) atau pekerja ilegal.

    Para pekerja ilegal menjadi tanggung jawab P3MI (PJTKI), baik mulai dari proses pemulangan hingga tiba ke kampung halaman. Sekarang, yang menjadi konsentrasi pemerintah adalah para WNI yang di antaranya adalah pekerja migran undocumented. Eskalasinya sudah menurun. Terjadi eskalasi besar per 29 Maret lalu.

    Ada penumpukan yang jumlahnya tak sedikit, tapi alhamdulillah gugus tugas yang dikoordinasikan Pak Menko Perekonomian sudah mampu menangani mereka. Karena mereka berasal dari negara terpapar pandemi covid-19, maka status mereka adalah ODP (Orang Dalam Pengawasan). Mereka harus melakukan isolasi mandiri di tempat masing-masing.

    Teman-teman WNI yang pulang ke tanah air tetap dilakukan proses screening. Artinya, diberlakukan protokol kesehatan yang ketat juga. Bagi mereka yang didapati positif covid-19, maka akan dikarantina terlebih dahulu. Dan pemerintah sudah menyiapkan beberapa tempat karantina bagi mereka yang terindikasi positif covid-19.

    Di mana saja konsentrasi karantina untuk pekerja migran yang terindikasi positif covid-19?

    Ada Rumah Sakit Singgalang. Ada juga rumah-rumah Trauma Center Kemensos yang disiapkan pemerintah.

    Kesiapannya seperti apa?

    Kesiapannya sudah. Karena sebagian sudah dipakai, bahkan masih ada teman-teman WNI yang bakal pulang ke Tanah Air. Saya ingin mengimbau teman-teman WNI di luar negeri. Teman-teman dan anak-anak saya yang ada di rantau biasanya kalau bulan Ramadan dan Idulfitri mereka mengambil cuti.

    Saya mengimbau agar tidak usah mengambil cuti. Tunda dulu, bisa diambil tahun depan cutinya. Ini demi menjaga anak-anak maupun keluarga di kampung halaman agar terhindar dari wabah covid-19. Lebih baik kalau ingin pulang ditunda dulu. Sekarang komunikasi bisa dilakukan via virtual, apalagi teknologi sudah canggih-canggih. Bisa menggunakan Skype, Zoom, dan lain-lain.

    Persiapan Kartu Prakerja sudah sejauh mana?

    Alhamdulillah, sudah dalam proses pendataan calon penerima program. Kami bekerja mengidentifikasi pekerja-pekerja formal yang dirumahkan atau di-PHK. Sementara Kementerian Koperasi dan UKM mengidentifikasi pelaku-pelaku usaha mikro dan kecil. Kementerian Pariwisata mengidentifikasi pelaku-pelaku sektor wisata yang terkena dampak covid-19. Semua bekerja. Mudah-mudah 8 April pelatihan sudah bisa dimulai.

    Apa antisipasi terburuk dari dampak wabah covid-19 ini?

    Saya kira perlu mengimbau dan mengajak teman-teman pengusaha. Saya berharap PHK itu adalah pilihan terakhir karena ada banyak langkah-langkah yang masih bisa dilakukan. Mungkin bisa mengurangi upah dan fasilitas tingkat atas, misalnya. Kemudian mengurangi sift kerja dan membatasi kerja lembur. Jam kerja dikurangin atau meliburkan pekerjanya, atau merumahkan pekerja secara bergiliran sementara waktu.

    Saya kira masih ada pilihan lain yang bisa dilakukan teman-teman pengusaha. Kita semua tidak mau menghendaki kondisi ini. Mari sama-sama menciptakan suasana dan pemerintah tidak tinggal diam. Banyak sekali kebijakan dan stimulus yang diberikan pemerintah untuk teman-teman pengusaha.

    Pemerintah juga tidak tinggal diam bila teman-teman pekerja terpaksa dirumahkan. Kita memberikan pelatihan yang lebih besar biaya safetynet untuk teman-teman pekerja. Kalau semua saling menjaga, insyaallah kita bisa melalui musibah ini dengan baik. Saya berharap mudah-mudahan akhir April wabah covid-19 sudah selesai. Ya, paling lama Juni.

    Apakah sudah ada kesepakatan antara serikat pekerja, para pengusaha, dan pemerintah terkait antisipasi dampak terburuk wabah covid-19?

    Saya mengajak dialog teman-teman Apindo, serikat pekerja, dan buruh untuk saling berbagi rasa. Para pengusaha butuh didengarkan masalah keberlangsungan usahanya. Dan teman-teman buruh butuh didengar kepentingannya oleh teman-teman pengusaha.

    Apakah sudah ada kesepakatan tertulis antara ketiga belah pihak tersebut?

    Kalau kesepakatan itu tripartit, antara pengusaha dan serikat pekerja. Kalau kebijakan umum yang diambil pemerintah tentu saja diimplementasikan oleh Apindo, serikat pekerja, atau konfederasi serikat pekerja dan buruh. Tapi, menyangkut hal-hal tentang keberlangsungan usaha di perusahaan, tentu internal perusahaan itu. Yakni, antara pengusaha dan buruh di perusahaan tersebut.

    Saat ini Ibu Ida lebih banyak kerja dari rumah karena kebijakan work from home (WFH). Apa hobi baru di sela-sela WFH?

    Enggak sempat memikirkan hobi. Ya, mau gimana lagi. Paling berjemur antara pukul 10.00 WIB. Tapi, pas baru direncanakan tahu-tahu ratas (rapat terbatas) digelar pukul 09.30 WIB. Ya, bagaimana lagi. Sekarang banyak agenda serba mendadak, tapi kita nikmati saja.

    Ibu Ida sudah beberapa periode menjadi anggota legislatif, lalu sekarang duduk sebagai pejabat eksekutif. Apa jabatan menjadi menteri adalah salah satu cita-cita sewaktu kecil?

    Sewaktu kecil kalau ditanya soal cita-cita, pasti jawabnya ingin jadi presiden. Tidak ada yang jawab ingin jadi menteri. Anak-anak kalau ditanya cita-citanya mau jadi apa? Jarang yang jawab ingin jadi menteri. Mayoritas jawabannya ingin jadi presiden.

    Ada kemungkinan untuk maju jadi capres?

    Yang penting UUD (Undang-Undang Dasar)-nya tidak menghalangi saja. Ha...ha...ha...

    Siapa tokoh yang paling menginspirasi Anda?

    Kalau saya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Gus Dur itu sosok yang bisa membaca keadaan melampaui zamannya. Dia mampu membaca situasi dan melampuai zamannya. Mengidolakan Gus Dur itu saya tidak terlalu berani untuk menggambarkan. Saya melihat Gus Dur sebagai sosok yang mampu memadukan nilai-nilai agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itu menurut saya yang luar biasa.

    Banyak tokoh yang memiliki pemahaman keagamaan kuat dan kokoh, tapi tidak mampu memisahkan kepentingan agama, berbangsa, dan bernegara. Gus Dur itu kalau melihat persoalaan jadi sederhana, tapi berpikirnya panjang ke depan. Saya harus belajar banyak dari beliau. Persoalan rumit jadi sederhana di mata beliau dalam penyelesaiannya.

    Apa pengalaman yang paling berkesan ketika bersama Gus Dur?

    Saya tidak terlalu banyak berinteraksi bersama beliau. Saya hanya banyak membaca pikiran-pikiran dan langkah-langkah beliau. Berinteraksi dengan Gus Dur sangat jarang, hanya membaca cara pandang dan berpikir beliau yang menginspirasi banyak orang.

    Di sela-sela WFH, bagaimana interaksi Anda dengan keluarga?

    Wabah ini tentu ada hikmahnya juga. Anak saya yang kuliah sekarang jadi lebih banyak di rumah. Anak saya kan sekolah boarding (pondok pesantren). Yang awalnya di pondok, jadinya tinggal di Jakarta. Meskipun tidak selalu bersama-sama, tapi rasanya berbeda ada anak ketika pulang ke rumah. Itu salah satu hikmah dari wabah ini. Dan libur sekolah atau belajar dari rumah (learn from home) anak saya itu enggak tanggung-tanggung baru masuk lagi Juli nanti. Dua bulan lebih. Di balik musibah ini, justru saya bisa lebih dekat dengan anak-anak.



    (MBM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id