comscore

Media Group News Summit: Candradimuka Melawan Pandemi Covid-19

Wandi Yusuf - 24 Januari 2021 08:35 WIB
Media Group News Summit: Candradimuka Melawan Pandemi Covid-19
Tangkapan Layar Program Newsmaker edisi CEO Media Group Mohammad Mirdal Akib
Jakarta: Event besar dengan mempertemukan banyak pemangku kepentingan yang bersifat 360 derajat amat langka dihelat. Selain karena membutuhkan usaha yang ekstra untuk mendatangkan orang-orang yang berkepentingan, penyelenggaraannya juga semakin sulit karena dilakukan di tengah pandemi covid-19.
 
Penyelenggaraan Media Group News Summit: Indonesia 2021 mencoba menjawab dua tantangan itu. Pertemuan grande ini menjadi suatu keharusan karena kondisi dunia saat ini tengah kesusahan. Pandemi benar-benar membuat repot semua orang, semua negara. Butuh ada wadah atau candradimuka untuk saling bertukar pikiran, saling mendebat, hingga ditemukan solusi yang tepat.
 
Berikut adalah wawancara lengkap dengan CEO Media Group Mohammad Mirdal Akib sebagai penggagas acara Media Group News Summit: Indonesia 2021. Spirit apa yang dibawa ketika memutuskan untuk menggelar acara ini. Wawancara dipandu oleh Head of News Production Medcom.id Indra Maulana. Bagi yang lebih suka melihat langsung secara audio visual, bisa juga mampir ke Youtube Medcom.id.
 
 
Apa semangat awal digelarnya Media Group News Summit: Indonesia 2021?
 
Sederhana, kita masuk sebuah era tak pernah berulang. Berulang tapi rentangnya cukup jauh. Era yang bisa kita ceritakan ke anak cucu. Semua ketidakpastian terjadi hari ini, dengan dinamika yang luar biasa. Kepanikan, ketidaksiapan, dan seterusnya.
 
Benar-benar hari ini seakan-akan kita tak memiliki apa-apa kecuali hubungan kita yang harus diperbaiki. Hubungan sosial.
 
Kedua, kita selalu membuat outlook di akhir tahun untuk memprediksi apa yang akan terjadi di tahun depan. Paling tidak kita bisa melihat apa yang harus menjadi pegangan sektor industri, kemudian sektor manufaktur, sektor riil, dan sebagainya untuk kekmudian bisa dijadikan acuan membuat perencanaan di tahun depan, untuk kemudian menjadi guidance.
 
Tapi, tahun ini ada perubahan signifikan (pandemi covid-19). Harus ada semacam parameter. Kalau kita lihat outlook selalu sepertinya cuma dari hasil riset, dari hasil pengamatan, kemudian dijadikan pegangan untuk tahun depan. Hampir tidak ada dialog, pertemuan antara pengambil keputusan dengan sektor riilnya.
 
Yang dibutuhkan hari ini bukan cuma sampai di situ menurut kita. Media Group News (MGN) melihat lebih dari itu. Harus ada suatu wadah untuk mempertemukan antara pelaku sektor riil, pengambil keputusan, dan pengelola infrastruktur.
 
Nah, diharapkan dengan ini semua bisa terjadi satu optimisme ke depan. Bahwa sebenarnya di balik pandemi ini, ujian bisa diubah menjadi anugerah. Yang kedua, sebenarnya kekuatan kita masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang sudah kita hadapi kemarin.
 
Ketiga, untuk meyakinkan pelaku sektor industri dan lain-lain, bahwa mereka itu sebenarnya tidak sendiri. Masih banyak teman lain yang bisa kemudian berkolaborasi yang mungkin tidak kelihatan. Termasuk 360 derajatnya pengambil keputusan di atas, pembuat kebijakan, sampai bahkan sektor-sektor yang teknis di bawahnya.
 
Untuk itu kita memandang perlu membuat sebuah pertemuan. Kenapa kita kemudian tak membuat outlook. Satu karena kita mau lihat di Januari dan sudah melihat beberapa proses penerapan dari kebijakan kemarin.
 
Kita lebih mau menghadirkan sebuah dialog, mempertemukan semua sektor tadi, yang kemudian bisa menghasilkan sebuah kesepakatan. Paling tidak sebuah optimisme bahwa kita bisa melangkah bersama melewati gejolak turbulensi yang ada saat ini. Makanya kemudian kita wujudkan dalam membuat sebuah event bernama Media Group News Summit.


 
 
 
 
Output apa yang diharapkan dengan mempertemukan banyak pihak dalam Media Group News Summit?
 
Pertama, rekomendasi itu akan di ujung, tapi bukan sekadar itu. Hari ini mulai dari pemerintah betul-betul punya berbagai program, strategi yang tujuannya baik untuk semua, masyarakat, pelaku industri, dan lain-lain. Kemudian, pelaku industri juga punya niat baik juga, tapi dalam beberapa titik tak ketemu.
 
Akhirnya terjadilah semacam, belum tentu menjadi sinergi memecahkan masalah. Nah, summit ini lebih pada mempertemukan bagaimana komunikasi itu.
 
Umpamanya di sektor ekonomi. Luar biasa insentif yang diberikan oleh pemerintah. Hampir di seluruh sektor, seperti bantuan sosial dan bantuan lainnya. Tapi, apakah masyarakat merasa bahwa metode ini yang paling pas? Apa yang dirasakan mereka? Apa yang diperlukan? Ajang ini sebenarnya mempertemukan itu, supaya terjadi perbaikan ke depan secara bersama-sama.
 
 
Apa yang mendasari Media Group News Summit mengangkat empat isu, yakni pemulihan ekonomi (economy recovery), kesehatan masyarakat (public health), energi hijau (energy go green), dan pariwisata (tourism)?
 
Kita melakukan survei kecil-kecilan bersama lembaga yang sudah kita tunjuk. Kemudian, muncul empat isu besar ini yang menjadi konsen masyarakat. Selanjutnya, konsentrasi pada kebutuhan Indonesia ke depan.
    
Empat isu ini diharapkan bisa menjadi pull factor untuk solusi bersama. Keempat sektor ini, apabila kita dapat jalan keluarnya, dan kita sinkronisasi apa-apa yang kita butuhkan ke depan, sudah bisa menjadi pull factor untuk hampir keseluruhan permasalahan yang ada.
 
 
Bicara soal public health, apa yang mau disasar?
 
Vaksinasi, misalnya. Pemerintah punya strategi yang luar biasa. Tapi, apakah proses ini sudah dengan kondisi riil masyarakat di bawah? Apakah yang sudah direncanakan dengan tujuan baik ini, sama dengan apa yang dianggap masyarakat baik? Ini yang perlu dikomunikasikan.
 
Apakah cukup dengan satu jenis vaksin? Apakah ini digratiskan full seperti disampaikan Presiden? Di satu sisi ini baik untuk menciptakan herd immunity (kekebalan komunitas), tapi di sisi lain untuk yang bisa mandiri dapat giliran kapan?
 
Belum lagi apakah vaksin ini bisa double. Umpamanya ada vaksin yang lebih ampuh, apakah bisa disuntik lagi? Dan seterusnya.
 
Dan saya yakin pemerintah punya jawabannya. Dan ini yang perlu dikomunikasikan. Ada beberapa hal yang perlu masukan dari praktisi kesehatan. Ini yang akan dipertemukan.
 
Makanya, tema Media Group News Summit: Indonesia 2021 ini adalah membangun optimisme bersama. Jadi, bukan sekadar mengetahui masalahnya, tapi solusi apa yang kita bisa bangun bersama. Ini yang nanti bisa menjadi acuan ke depan.

 
 
 
Untuk isu pemulihan ekonomi (economi recovery), bisa dijelaskan apa titik berat di tema ini?
 
Kekuatan kita dalam membangun ekonomi ke depan ada di usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bagaimana strategi UMKM ini? Itu salah satu yang mau kita denger. Bagaimana itu menjadi supporting system bagi industri yang lebih besar?
 
Jadi, dia tidak berjalan sendiri. Ada grand strategy ekonomi. Bagaimana ekonomi bisa dibangun bersama-sama ke depan, tanpa meninggalkan UMKM, tapi juga menumbuhkan terus sektor industri besar melalui investasi yang kita butuhkan.
 
Nah, kalau kita tarik lebih ujung, kenapa harus ditumbuhkan? Karena kita membutuhkan demand yang cukup besar. Hari ini bukan cuma supply, tapi daya beli yang paling penting. Bagaimana orang kemudian supaya belanja. Orang Kalau mau belanja, harus ada barangnya. Barangnya ada, harganya juga harus memadai.
 
Ini yang harus didorong. Bagaimana menemukan titik ekuilibrium antara pandemi dengan ekonmi. Bagaimana orang supaya bisa belanja? Stimulus pemerintah diturunkan. Kita melihat bansos bentuknya menjadi cash. Itu bisa mendorong masyarakat untuk bisa belanja. Termasuk insentif-insentif lainnya. Beberapa negara memberikan insentif untuk kemudian bisa berwisata dan berbelanja. Bagaimana orang mau belanja dulu, Bagaimana ekonomi berputar. UMKM di situ berperan.
 
 
Apa saja yang ingin dicapai di Media Group News Summit ini?
 
Paling penting sebenarnya pemahaman bersama. Baik dari sisi akademisi, praktisi, dan lain-lain. Banyak sektor industri juga belum paham sebenarnya insentif untuk sektor ini sudah tersedia. Itu paling penting.
 
Yang kedua, bagaimana merealisasikan insentif itu. Bahwa ada kendala di lapangan itu perlu dibahas, tapi pemahaman bersama dulu bahwa kita sudah berbuat dengan baik.
 
Dialog ini yang kita harapkan terjadi. Insyaallah hadir Menteri Keuangan, pakar di sektor keuangan, akademisi, rektor, praktisi, hingga pelaku usaha. Melalui kehadiran mereka diharapakn dapat satu solusi bersama. Bukan mulai dari nol, tapi mematangkan yang sudah berjalan.


 
 
 
Untuk tema tourism, apa yang ingin dibahas dan menjadi sorotan?
 
Sektor pariwisata di kondisi pandemi adalah sektor paling terpukul. Sudah menjadi berita sehari-hari hotel tutup, karyawan kena dampak, dan seterusnya.
 
Diperlukan kebijakan yang konkret dan jangka panjang. Ini tak bisa dibangun dalam satu malam karena ini seperti repetition, berulang.
 
Pertama, umpamanya kalau di Bali ada Bom Bali, (bisa) recover pelan-pelan. Ada gunung meletus, recover pelan-pelan. Masyarakat Bali sudah punya endurance yang luar biasa dalam menghadapi setiap guncangan. Tapi, tak cuma itu. Dibutuhkan affirmative grand strategy bagaimana mengembangkan pariwisata Indonesia. Dengan 10 destinasi prioritas itu, bisa menjadi pull factor menarik wisatawan.
 
Lex spesialis dari tempat-tempat pariwisata itu, mereka pasti punya spesialis tertentu. Kalau kita sebut Bali, pasti menyebut satu provinsi itu penuh dengan wisata. Kalau kita sebut Danau Toba, itu cuma danau. Ini kan menjadi seperti bukan komparasi. Kita sebut Labuan Bajo, itu bukan Nusa Tenggara Timur. Grand strategy untuk memacu wisatawan itu yang dibutuhkan.
 
Kedua, afirmasi terhadap industri pariwisata saat ini. Kemarin ada libur Natal dan Tahun Baru 2021. Ada Lebaran juga. (Pariwisata) sempat naik, lalu drop lagi. Nah, mempertemukan antara kebutuhan wisata dan ekonomi, di sini peran yang harus masuk.
 
Bahwa satu tahun semesti sudah keluar kebijakan yang matang. Bagaimana sih berwisata secara save. SOP (prosedur operasi standar) itu turun dari kebijakan pariwisata sampai ke pelaku usaha, sampai traveler sendiri. Bahwa diwajibkan memakai ini dan ini.
 
Semua harus ready di semua sektor dalam implementasi SOP-nya. Kalau ini semua bisa terlaksana, kita sudah dapat strategi untuk saat ini.
 
Sekarang strategi besarnya pemerintah sudah punya, tapi yang penting lagi adalah menyosialisasikannya ke depan. Karena itu, tak bisa dibangun satu dua malam, perlu dibangun strategi panjang ke depan.
 
Sama dengan Indonesian food. Kalau ke luar negeri kan Indonesia food itu banyak sekali. Yang kita tahu kan nasi padang dan lain-lain. Sementara, Cina cuma satu, chinese food. Kalau Indonesia saking kayanya belum punya spesifikasi. Perlu dibangun desain besar pariwisata kita lima hingga sepuluh tahun ke depan tuh seperti apa.
 
Belum soal pintu masuk. Kalau ngomong destinasi asing, pintu masuknya di mana? Indonesia itu sedemikian luasnya. Jadi, indonesia itu seperti warung padang. Makanannya semua ada di atas meja, bingung mau mana yang dipilih. Bagaimana cara campaign-nya. Karena salah masuk biayanya besar. Bagaimana masuk ke Toba, mereka masuk lewat Jawa Timur, terlalu jauh. Hal-hal sederhana macam itu tak bisa dibangun dalam satu malam.
 
Ini yang perlu bagimana kesiapan di daerah 10 destinasi pariwisata. Bagaimana warga di sana sadar wisata. Paling penting saat ini adalah balik ke wisatawan domestik.
 
 
Maksudnya bagaimana?
 
Sebenarnya siapa pun wisatawannya, selama memberikan kontribusi, mestinya dijadikan tools untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Karena dengan 14 juta wisatawan (data 2019), dengan Singapura beda sedikit. Apalagi dengan Malaysia dan Thailand. Kita butuh desain besar yang melibatkan pasar domestik. Apalagi hobi mereka itu sekarang traveler. Itu yang mungkin perlu digarap serius kebijakannya.


 
 
 
 
Kenapa topik energi dimasukkan di MGN Summit ini? Ada persoalan apa kira-kira hingga energi menjadi sorotan?
 
Sekarang ini kita ada dalam satu kondisi yang betul-betul terkondisikan. Punya masalah yang sama. Seluruh dunia punya masalah yang sama. Kita berada di titik yang sama. Mau perusahaan apa pun, mau media apa pun, ada di titik yang sama. Semua ada di rumah semua menaati protokol.
 
Seperti kalau kita ibaratkan nonton grand prix. Tak pernah ada proses salip-menyalip di jalan lurus, tapi di tikungan. Di tikungan itu pilihanya cuma dua, apakah kemudian kita bisa leading atau terlempar, jatuh.
 
Kondisi sekarang ini kita sebenarnya lagi di tikungan. Tak banyak yang bisa dilakukan, kecuali memikirkan betul strategi apa untuk keluar dari pandemi.
 
Salah satu strategi utama yang dibutuhkan republik ini adalah perubahan mindset terutama di sektor energi. Ini salah satu kunci juga bagaimana 100 tahun ke depan Indonesia jadi pemain utama dalam sektor ekonomi, khususnya sektor energi.
 
Energi yang mayoritas kita pakai adalah energi fosil. Cadangannya semakin menipis. Kita butuh desain strategi besar bagaimana keluar dari masalah ini.
 
Kedua, kita punya seluruh persyaratan untuk memainkan energi ini sebagai pemain utama dunia. Ingat, kita punya cadangan gas yang cukup besar.
 
Kalau pelan-pelan dibuatkan sistem transisinya. Mulai dari energi fosil, kemudian pelan-pelan masuk ke gas dulu, lalu ke renewable energy, (hingga) energi terbarukan. Mustinya, kita akan menghilangkan kebergantungan dan ekonomi kita menjadi akan lebih efisien. Kemudian, kita bisa menghasilkan udara bersih, teknologi yang lebih hemat.
 
Kemudian, jangan lupa kita ikut menandatangani Protokol Kyoto dan Paris Agreement. Pada 2023 sampai 2030 kita ada target mengurangi emisi karbon. Indonesia punya peran utama di situ sebagai paru-paru dunia. Kita memiliki kekuatan karbon trade.
 
Apabila cadangan gas ini kita maksimalkan untuk menjadi sumber energi baru, kita sudah tidak bergantung lagi dengan harga minyak dunia. Sekarang kita sangat bergantung, bukan cuma kondisi ekonomi, tapi kondisi politik para produsen minyak.
 
Kalau para anggota OPEC-nya (Organisasi Negara Pengekspor Minyak Bumi) pada ‘batuk-batuk’, harga (minyak) juga ikut ‘batuk-batuk’. Jadi, produksi bisa meningkat dan seterusnya.
 
Kalau kita pelan-pelan mengurangi kebergantungan ini, memang kelihatannya sepertinya agak (susah) ini, tapi butuh arah kebijakan menuju ke sana.
 
Cadangan gas kita luar biasa besar, kenapa kemudian tak beralih ke situ? Ada desain grand strategy sampai kemudian menumbuhkan energi yang baru, solar cell, dan sebagainya. Kita negara yang paling tinggi sumber mataharinya dan kualitasnya salah satu yang terbaik.
 
Daerah Sumba dan Maluku adalah panas terbaik di dunia yang bisa dijadikan energi. Sebenarnya, potensi untuk itu besar sekali. Mindset itu harus dibangun. Bahkan, kita sekarang harus mengurangi istilah migas (minyak dan gas). Kita mengganti menjadi gasmi (gas dan minyak). Karena cadangannya lebih besar gas, kan? Kalau kita pelan-pelan mau menukar nih, istilahnya, dari yang sederhana itu, menjadi gasmi gitu. Kan sama saja.


 
 
 
 
Yang mau diubah di Media Group News Summit ini mindset masyarakatnya atau pengambil kebijakannya? Atau justru sektor riil, pelaku usahanya, atau bagaimana?
 
Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah saat ini, khususnya untuk mengakomodasi Protokol Kyoto dan Paris Agreement, sebenarnya itu sudah kelihatan. Termasuk juga di UU Minerba terakhir (UU No 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara), bisa kita lihat di situ implementasinya.
 
Tapi, ini tidak bisa berhenti di situ. Butuh kemudian pemahaman dari seluruh sektor. Pemahaman dan keikhlasan karena energi lama, energi fosil, itu sudah menjadi ekosistem sedemikian besar. Sudah menjadi mata rantai industi yang cukup matang.
 
Bagaimana kemudian membuat sebuah mata rantai ekosistem bisnis baru lagi. Dalam energi terbarukan dan migas atau alternatif energi lain. Ini kan tak mudah. Tak mudah memutus mata rantai dan kemudian meyakinkan bahwa sektor ini jauh lebih baik dan menguntungkan dan tidak merugikan. Belum juga pemain-pemain industri yang sudah mature di industri minyak
 
Ini yang dibutuhkn gerak bersama. Pemerintah sudah berjalan, tapi kemudian bagaimana mengimplementasikan dengan sektor industri, sektor riil, bahkan dengan pelaku-pelaku usaha dari luar.
 
 
Makanya penting mengedepankan keihklasannya...
 
Penting tujuannya dulu. Kalau kita sudah menyepakati tujuan bersama, sudah ditentukan bahwa (tahun) dua ribu sekian kita harus (beranjak) sekian persen harus menggunakan gas, minyaknya kita turunin sekian persen. Kemudian tahun berapa.
 
Jangan lupa nanti tahun 2023 kita ada G20 kan di Labuan Bajo. Bisa dibayangkan kalau laut yang sebening itu, kemudian yang datang masih menggunakan energi lama, bagaimana lautnya bisa tetap sebersih itu. Belum lagi kapal-kapal yang merapat dan seterusnya.
 
Pelan-pelan jadikan sebagai pilot project. Di sana kita endorse untuk menggunakan energi terbarukan, kemudian kelestarian dari Labuan Bajo mestinya tetap terus terjaga.


 
 
 
 
Konsepnya akan seperti apa MGN Summit ini? Apakah digelar fisik atau virtual?
 
Nomor satu kita harus tetap menggunakan protokol kesehatan. Itu menjadi keharusan. Makanya kemudian kita menggunakan metode hybrid. Sebagaian sesuai dengan jumlah persyaratan bisa hadir, tapi yang lainnya kemudian mengikuti secara virtual.
 
Modelnya akan ada tiga atau empat narasumber dari pihak regulator, pengambil kebijakan, ada enam panelis mulai dari akademisi, pelaku usaha, milenial, bahkan dari pemangku-pemangku usaha lainnya. Kemudian berdialog dan menghasilkan suatu solusi.
 
Juga diikuti oleh seluruh peserta bukan cuma dari Indonesia. Bahkan, dari negara-negara tetangga secara zoom dan asosiasi industri yang terkait sama tema-tema yang dibahas.
 
Jadi, kita harapkan nanti betul-betul hidup. Harus punya dampak, harus punya influence. Bukan cuma menghasilkan solusi bersama, tapi bagaimana kemudian ini bisa disadari, dipahami, dan kemudian bisa dijalankan gitu.
 
Karena hampir dari seluruh kampus mustinya hadir. Baik rektor, dekan, kemudian akademisi. Kemudian dari asosiasi, pelaku usaha, bahkan unit-unit kerja dari PBB seperti WHO, UNICEF, dan segala macam. Juga kemudian pelaku-pelaku usaha itu sendiri.
 
 
Nilai apa yang ingin diraih Media Group News sebagai penyelenggara acara ini?
 
Media Group News ini sebuah ekosistem media yang didirikan chairman kita Surya Paloh. Kemudian, di bawahnya media-media ekosistem mulai dari online, broadcast, kemudian printing, audio, dan lain-lain.
 
Menjadi sebuah ekosistem yang memiliki value yang satu, yaitu bukan sekadar menghadirkan informasi dan berita. Tapi, bagaimana informasi dan berita itu bisa memberikan dampak dan pengaruh.
 
Jadi, kalau cuma memberikan info atau berita, itu rasa-rasanya tidak menjadi jurnalisme kita saat ini. Jadi, harus bisa juga memberikan solusi.
 
Media Group News harus bisa hadir di mana akses pendidikan belum merata. Media Group News harus hadir ketika UMKM butuh affirmative action untuk tumbuh menjadi industri besar. Bahkan, terhadap hewan dan tumbuhan yang belum sepeka di tempat-tempat lain bisa kita tumbuhkan. Bahkan, empati dan edukasi itu harus hadir dalam setiap nilai, setiap konten yang dihasilkan oleh MGN.
 
Dalam konteks besarnya, makanya kita memandang perlu untuk menghadirkan sebuah tempat empati dan edukasi itu bisa bertemu. Tempat itu, ya Media Group News Summit.
 
Industri pada jatuh, terpuruk, ekonomi semua butuh keseimbangan baru. Rasa-rasanya kalau kita cuma berdiam diri, kita gagal menjadi sebuah media yang punya ekosistem yang cukup besar. Makanya kita memandang perlu untuk membuat event seperti ini.
 
Empati itu adalah bagaimana Media Group News melihat mitra-mitra kerja, industri dan segala macam, bukan cuma sebagai rekan bisnis, tapi juga mitra seiring bersama. Waktu ekonomi lagi tumbuh kita semuanya bisa salaman, bisa bisnis bersama-sama. Ketika ekonomi sedang sama-sama lagi di posisi bawah, apa yang bisa kita lakukan supaya kita juga bisa tumbuh bersama? Media Group News Summit ini adalah satu jawaban yang bisa kita harapkan.
 
Kemudian edukasi. Banyak hal yang perlu diedukasikan ke masyarakat. Agar setelah pandemi kita kemudian menjadi lebih siap untuk menghadapi problematika yang baru.
 
Media Group News Summit ini bisa diikuti melalui streaming, online di Medcom.id, kemudian melalui Media Indonesia, printing juga. Dan lebih penting semua hasilnya bisa diakses melalui sebuah web khusus.



(UWA)



Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING

HOT ISSUE

  • Array
MORE
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id