Wawancara Khusus Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

    Pertanian, Juru Selamat Ekonomi di Tengah Pandemi

    Indra Maulana - 09 Agustus 2020 13:34 WIB
    Pertanian, Juru Selamat Ekonomi di Tengah Pandemi
    Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Foto: Sekretariat Presiden
    Jakarta: Awal Agustus ini, ada pengumuman Badan Pusat Statistik Pusat (BPS) yang sangat ditunggu-tunggu publik. Yaitu, pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2020. Data BPS ini sangat dinanti karena publik ingin tahu, sedalam apa kontraksi ekonomi Indonesia. Akhirnya BPS mengumumkan perekonomian Indonesia pada kuartal II 2020 adalah minus 5,32 persen.

    Namun di tengah kekhawatiran resesi, muncul data BPS yang memberi harapan, yaitu tumbuhnya sektor pertanian, sektor teknologi informasi, dan sektor pengadaan air. Ketiga sektor itu seperti menjadi ‘Juru Selamat’ di tengah tumbang massal sektor lain.

    Pertanian tumbuh menjulang di kuartal 2 2020, yakni 16,24 persen. Beberapa strategi pertanian seperti gerak cepat menggeser musim tanam, menggenjot pendampingan petani, dan menghidupkan lumbung pangan hingga kecamatan, sukses dijalankan Kementerian Pertanian. 

    Untuk mendalami kinerja setor pertanian ini, Medcom.id mewawancarai Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melalui program Crosscheck yang dipandu Indra Maulana. Berikut ini petikan wawancara tersebut:


    Kementerian Pertanian mencetak prestasi luar biasa, tumbuh 16 persen kebih di kuartal kedua tahun ini. Faktor penunjangnya apa saja?

    Sebenarnya dalam kondisi apa pun, mau covid-19 atau krisis, sebenarnya masalah pertanian adalah memaksimalkan kebutuhan dasar sebuah negara. Memang pertanian sangat strategis, sangat kompleks, dan harus terus dijaga semua negara. Dalam kondisi covid-19 ini, sejak Desember 2019, gejala-gejala penurunan perekonomian itu sudah kelihatan. 

    Kami mempersiapkannya. Jadi, baik ada atau tidak ada covid-19, tetap harus dipersiapkan.

    Beras, daging, minyak goreng, dan sebagainya harus menjadi bagian yang kita jaga ketat. Sebanyak 11 komoditi dasar itu terus kita akselerasi, kita persiapkan. Ini mebutuhkan langkah kongkret. Dalam situasi apa pun, perut 260 juta rakyat harus dijaga, harus tersedia dengan baik. 

    Sekarang, makin harus kita tingkatkan lagi karena mewabahnya covid-19. Harus kita jamin tersedia. Tentu dalam kondisi itu, kami punya lahan eksisting 7 juta hektare lebih, berproduksi dalam dua musim tanam. Nah, bagaimana lahan ini terjaga dan berproduksi. 

    Bagaimana di musim tanam hujan dan musim kering. Musim tanam (MT) pertama, MT 1, itu 7 juta hektare menghasilkan cukup kuat. Over stock hingga Juni 2020. Kita memiliki stok hingga Desember 2019. Ada impor dan lain-lain sebanyak 5 juta ton. 

    Januari ke Juni 2020 kita berproduksi 16 juta ton, ditambah produksi 2019 kita punya 22 juta ton. Kebutuhan Januari hingga Juni sebesar 15 juta ton, kita makan itu. Stok akhir Juni 2020 mencapai 5,6 juta ton. Angka inilah yang masuk data BPS si triwulan II. 

    Sekarang masuk musim tanam II, musim tanam kering. Kami melakukan percepatan tanam, percepatan panen, menjaga agar kekeringan yang akan terjadi tidak parah. Di Indonesia, kami persiapkan ini secara lebih cepat.

    Desember 2020 nanti hasilnya bisa didapatkan sekitar 13 juta sampai 15 juta ton. Carry over lagi ke 2021 terjadi kelebihan di atas 5 juta ton atau 3 juta ton. Mudah-mudahan ketersediaan pangan, khususnya beras, sampai Desember 2020 tercapai.

    Covid-19 ini selain masalah kesehatan, bagi saya yang penting ketersediaan pangan, perut rakyat 260 juta jiwa, itu kuncinya. Dampak covid-19 memang mendalam, sektor lain minus. Tapi, pertanian akan tetap tumbuh. Sebab, tidak ada di dunia yang tidak butuh pangan. Produksi pangan akan tetap terserap.
    Pertanian, Juru Selamat Ekonomi di Tengah Pandemi
    Foto: Sekretariat Presiden

    Apakah operasional di lapangan tidak terkendala, seperti protokol kesehatan misalnya? Sehingga masa tanam dan percepatan panen tidak bermasalah bahkan tetap tumbuh?

    Awalnya, covid-19 memang mengagetkan. Ada lockdown di banyak negara. Eskpor dan impor terganggu. Tidak hanya itu, di awal covid-19 daya beli masyarakat langsung rendah. Panen tak terserap. Tapi, tak ada orang yang tak butuh makan. Yang terganggu distribusinya. Ke Papua hanya ada 6 atau 7 kapal. Ini terhambat.

    Tapi kami tidak menunggu. Kami lakukan intervensi pada distribusi. Ini betul-betul kami tekankan. Bukan hanya produksi. Tapi distribusi yang kuat. Kantong-kantong wilayah yang defisit kami datangi. 

    Kami pastikan ketersediaan beras, jagung, bawang putih, cabe rawit, daging sapi, kerbau. Memang ada yang impor. Tapi hanya tiga, yaitu daging sapi, bawang putih, dan gula. 

    Mudah-mudahan di kuartal III ketergantungan impor bawang putih ini bisa diatasi. Daging sapi yang harus impor 208 ribu ton bisa kita produksi sendiri, sehingga kita mandiri.

    Untuk beras, saya benar-benar berharap panen musim tanam dua itu bisa baik. Kita fasilitasi kredit sebesar Rp22 triliun KUR, agar rakyat tetap bersemangat melaksanakan pertanian. 

    Saya ingin sampaikan ke Medcom.id, dampak covid-19 ini, petani miskin naik. Petani penggarap dan buruh tani terutama. Ini yang terus-terusan Presiden ingatkan, minta diperhatikan. Bantuan-bantuan sosial dan kita gulirkan.


    Sejauh ini ada keluhan soal bansos ke petani? Apakah ada yang tidak sampai ke petani? Bagaimana di lapangan?

    Yang digulirkan Kementerian Sosial tentunya itu wilayah Kementerian Sosial. Kami hanya menyodorkan data alamat petani-petani yang miskin. Ada 2,7 juta orang buruh penggarap, buruh tani yang layak mendapat bantuan sosial. 

    Pemilik tanahnya ada yang tidak akselerasi, sehingga sebagian buruh tani tidak kerja. Kita fasilitasi kredit, bantuan sosial melalui Kemendes (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi) dan Kemensos. Kita koordinasi.

    Memang keluhan utama adalah daya beli yang sulit. Ini awal-awalnya seperti itu. Kami cepat intervensi. Di Jawa Timur misalnya, tiba-tiba lempar-lempar sayur ke sungai. Itu kekesalan karena tak bisa menjual sayur ke Surabaya. Melempar ayam, dibuang. Ini mereka merasa harga pakan mahal. Dan itu semua kami sikapi. 

    Oversupply dari ternak ayam, semua complain itu, kami sikapi sesuai petunjuk Presiden. Antara lain kami koordinasi dengan Menteri BUMN. Pelaku sector pakan ternak itu kita mainkan. Ini kesigapan kita, dirjen dan direktur di Kementan, serta gubernur. Mereka menjadi kunci.


    Jadi kuncinya ada intervensi, kepekaan, serta bekerja cepat, begitu?

    Ya. Kami jabarkan perintah Presiden. Agar dalam situasi sulit pun, tetap ada solusi. Instruksi kita jabarkan ke daerah. Harus kerja cepat, bukan business as usual. Sebanyak Rp22 triliun itu besar banget. 

    Makanya, tiap hari Minggu, saya pasti turun, ada di daerah. Hanya untuk memastikan ekstensifikasi lahan berjalan bagus.
    Pertanian, Juru Selamat Ekonomi di Tengah Pandemi
    Foto: MI/Jhoni Kristian

    Data BPS menunjukkan hasil dari strategi percepatan masa tanam dan percepatan panen. Itu strategi jitu di trwiwulan II. Bagaimana menjaga agar di triwulan III tetap terjaga? 

    Jangan sampai triwulan III anjlok. Kami punya 11 eselon I dan enam dirjen. Penguatan triwulan III di tanaman pangan, saya berharap triwulan III tanaman pangan konsisten dan mempertahankan hasil. 

    Tapi, kalau hanya tanaman pangan, bisa saja naik turun. Untuk mempertahankan di triwulan III, nanti kami akan dorong holtikultira, sayur-sayuran, dan buah-buahan yang berorientasi ekspor. Supaya makin kuat. 

    Pada Kuartal III juga kita dorong peternakan dan holtikultura. Holtikultura itu ada sawit, kopi, kakao, dan lainnya. 


    Catatan saya, mengapa peternakan di kuartal II turun ya?

    Ya, peternakan minus. Kebutuhan sapi impor sangat besar. Harus ada usaha extraordinary lagi. Ini akan kita mainkan, bahkan sebenarnya sudah sejak awal agar tidak perlu impor. 

    Nanti di kuartal IV (Oktober-Desember) akan terlihat hasilnya. Perkebunan akan kita create lebih kuat. Ekstensifikasi rawa-rawa karena perkiraan akan kekeringan di Kalimantan. Juga di Sumatra, akan kita antisiapsi, kita akan masuk.

    Di Bangka Belitung ada 30 ribu hektare lahan tanam baru, bisa diolah. Kita akan mainkan. Hal lainnya juga perluasan lahan baru, khususnya untuk padi, jagung, dan cabe yang di beberapa daerah masih defisit. Begitu juga susbtitusi impor, terutama sayur impor. 

    Para pendamping itu akan kita arahkan bikin lumbung pangan di propinsi sampai kabupaten. Bahkan sampai kecamatan harus ada. Termasuk penggilingan padi. Kami buat food estate di beberapa tempat, melalui green house, mulsa. Anak-anak muda kita dorong masuk.


    Saat ini sudah muncul berbagai prediksi triwulan III. Jangakan plus, nol saja berat. Kalau sektor pertanian di kuartal III akan seperti apa?

    Saya khawatir dengan daya beli masyarakat. Kalau dari segi produksi, bisa maksimal saya. Koordinasi dengan daerah, semua desa mendorong optimalisasi lahan yang ada, sesuai dengan strategi pangan dasar. Tapi, daya beli jadi masalah. 

    Hari ini kita bicara seusai rapat terbatas dengan Presiden. Presiden selalu katakan, saatnya tidak bekerja rutin. Harus extraordinary.

    Kalau hitungan kita, pertanian tak ada yang turun. Turun itu kalau perputaran ekonomi tidak ada. Kami pikir semua butuh pangan. Saya sih berusaha. Susah sih, jangan over estimasi juga. Kondisi sangat unpredictable. 

    Saya tidak pernah pesimistis di sektor pertanian. Tapi kalau produktifitas dalam tupoksi saya, saya jamin tidak turun. Yang bersoal adalah supply and demand di kementerian lain. Ini harus extraordinary, bekerja keras.

    (Dikutip oleh Produser Crosscheck, Win Muhammad Adab) 

    (UWA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id