Wawancara Khusus Sekjen PBNU A. Helmy Faishal Zaini

    Bulan Madu Nahdlatul Ulama dengan Syekh Ali Jaber

    Misbahol Munir - 17 Januari 2021 09:02 WIB
    Bulan Madu Nahdlatul Ulama dengan Syekh Ali Jaber
    Syekh Ali Jaber. Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
    Kamis, 14 Januari 2021 semua dikejutkan dan dibuat sedih atas berpulangnya seorang pendakwah Saleh Muhammad Ali Jaber alias Syekh Ali Jaber. Berbagai tokoh agama, pejabat negara, musisi hingga selebritis turut berbelasungkawa atas kepergian dari ulama asal Madinah yang beralih menjadi warga negara Indonesia ini.
     
    Pendakwah pencetak generasi penghafal Alquran ini diketahui tengah “berbulan madu” dengan organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Hubungan mesra itu diakui baru berjalan usai almarhum Syekh Ali Jaber menjadi korban penusukan saat berdakwah di sebuah daerah di Lampung. Bermula dari situ, sejumlah kegiatan dakwahnya di daerah-daerah pun mendapat pengawalan dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU.
     
    Sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kaum disabilitas ini sungguh luar biasa. Lantas apa yang bisa dipelajari dari sosok almarhum setelah meninggalkan kita semua? Simak wawancara khusus Wapemred Medcom.id Indra Maulana bersama Sekjen PBNU A. Helmy Faishal Zaini dalam program Newsmaker Mengenang Sosok Almarrhum Syekth Ali Jaber pada Kamis, 14 Januari 2021. Berikut wawancara lengkapnya:
     
    Selamat sore, assalamualaikum Pak Helmy, apa kabar?

    Waalaikumussalam, alhamdulillah kabar baik.
     
    Mungkin bisa cerita langsung bagaimana Anda mengenal sosok almarhum Syekh Ali Jaber?

    Pertama, kami khususnya keluarga besar NU turut berduka yang mendalam atas kepulangan almarhum Almaghfurlah Syekh Ali Jaber. Kita kenal beliau adalah ulama yang selama ini gigih memperjuangkan Islam moderat di tengah hiruk pikuk begitu banyak kelompok yang sekarang ini tengah mengusung agama dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah dalam beragama.
     
    Agama yang ditawarkan dengan cara memaksa, dan menebar kebencian. Sehingga merindukan sosok para ulama yang memberikan keteduhan, kesejukan, dan kedamaian. Dan di tengah kekeringan ini sosok Syekh Ali Jaber tampil mengusung Islam wasathiyah (moderat), Islam rahmatan lil alamin dengan mengedepankan apa yang disebut sebagai akhlakul karimah.
     
    Yang saya sangat terkesan dari almarhum Almaghfurlah Syekh Ali Jaber adalah pandangan keagamaannya. Beliau pernah mengatakan, janganlah sekali-kali kita ini berprasangka buruk terhadap orang. Kita tidak pernah tahu kedudukan ataupun maqam dari seseorang itu di sisi Allah SWT. Jangan-jangan orang yang kita kira tidak salat, jahat, jauh dari agama justru di sisi Allah adalah orang yang paling mulia.
     
    Syekh Ali Jaber sempat mengatakan, kalau melihat seorang perempuan yang auratnya terbuka, atau perempuan berprofesi PSK (pekerja seks komersial) kadang-kadang kita sudah men-judge (menghakimi) mereka sebagai penghuni neraka dan kita di surga. Tapi di sisi Allah kita tidak pernah tahu. Menurut Syekh Ali Jaber, kita tidak pernah tahu dua rakaat dalam salat malamnya seorang perempuan atau PSK itu mungkin lebih utama dari 24 jam ibadah kita. Ini sebuah pandangan keagamaan yang bijak dan arif. Pandangan semacam itu akan membuat kita selalu melihat kebaikan pada setiap manusia.

    Kita tidak pernah tahu dua rakaat dalam salat malamnya seorang perempuan atau PSK itu mungkin lebih utama dari 24 jam ibadah kita.


    Kalau kita punya prinsip di dalam melihat seseorang dari kebaikannya, timbullah yang disebut sebagai prasangka baik atau husnuzon. Dan husnuzon ini merupakan modal besar di dalam membangun satu ukhuwah.
     
    Kenapa kadang-kadang kita melihat seseorang yang sama-sama mengerti agama saat berdebat malah menimbulkan satu pertengkaran, bahkan perpecahan? Itu terjadi karena dilandasi prasangka-prasangka buruk. Mungkin mereka merasa lebih baik dan lebih benar dibandingkan yang lainnya. Ini satu sikap yang menurut saya perlu dan wajib kita teladani. Ini salah satu uswah atau teladan dari almarhum, bagaimana kita senantiasa berprasangka baik kepada setiap manusia.
     
    Ini teladan yang langka menurut Anda?

    Kita ini gampang menghakimi seseorang. Sederhana saja, misalnya ketika umat Kristiani memperingati Natal, mereka punya tradisi biasanya meramaikannya dengan berbagai macam acara, ada terompet dan seterusnya. Kita mengatakan beli terompet hukumnya haram, lalu menghakimi orang-orang yang melakukan itu sebagai suatu tindakan yang keluar dari agama. Padahal kita tidak pernah tahu yang menjual terompet itu juga muslim. Dengan penghasilan jual terompet itu anaknya bisa sekolah, istri dan anaknya bisa makan dan seterusnya. Jadi janganlah kita menghakimi ataupun menggaris seseorang dari hal-hal yang tidak prinsip.
     
    Teladan dari almarhum Almaghfurlah Syekh Ali Jaber patut ditiru di tengah situasi sekarang yang dipenuhi hiruk-pikuk sosial media. Informasi belum disaring sudah di-sharing, sehingga menimbulkan satu fitnah dan hoaks yang berantai.
     
    Komunikasi terakhir Anda dengan almarhum kapan?

    Saya mengenal beliau sebetulnya lebih banyak pada acara-acara formal seperti kegiatan-kegiatan keagamaan. Saya takzim, saat ketemu saya mencium tangan beliau. Tradisi di kalangan NU selalu hormat kepada yang lebih sepuh, lebih tua dan lebih berilmu, apalagi beliau seorang hafiz, hafal Alquran. Kita semua tahu banyak para santri yang dididik beliau kemudian menjadi hafiz dan hafizah yang luar biasa. Saya ingin menyampaikan pada kesempatan kali ini bahwa secara syariat beliau itu sakit karena terdampak covid-19.
     
    Penting jadi perhatian bagi kita semua bahwa covid-19 ini masih nyata dan masih ada di sekitar kita. Kami juga mencatat, ada sekitar 200 lebih para ulama para kiai sepuh yang sudah meninggal dunia sekarang ini akibat covid-19. Di samping itu kita juga semua tahu ada 500 lebih tenaga kesehatan wafat ketika mereka tengah berjuang membantu warga masyarakat lainnya.
     
    Pemerintah telah memberikan satu program yang menurut saya sangat baik sekali yaitu vaksinasi. Ada vaksin Sinovac, Pfizer, dan juga vaksin-vaksin merek lain dan seterusnya. Para ahli sudah berpendapat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa mengenai vaksin ini. Vaksin ini statusnya halal dan suci. Kita harus mengakhiri soal kehalalan vaksin ini. Soal apakah efektif dan seterusnya para ahli juga semua tahu karena telah melalui uji klinis.
     
    Bahkan di beberapa negara melakukan uji sampel banyak sekali, efektivitas dan efikasinya sangat besar sekali hingga 70 persen. Harus kita akhiri perdebatan soal halal atau tidak. Kita semua membangun satu kesadaran kolektif karena ingin kembali hidup normal, beribadah dengan normal, belajar dengan normal, bekerja dengan normal, dan bepergian dengan normal. Maka harus memutus mata rantai dari penyebaran Covid-19 ini. Kita prihatin sekali, banyak para ulama, kiai yang menjadi panutan terpapar covid dan meninggal dunia.
     
    Sosok Syekh Ali Jaber juga rajin mengedukasi umat terkait pencegahan covid-19. Bahkan sempat hadir ke Satgas Covid-19 BNPB memberikan nasihat dan mengajak umat Islam mematuhi protokol kesehatan. Sepengetahuan Anda sosoknya memang peduli dengan segala isu?

    Yang saya kagumi kepada sosok Syekh Ali Jaber, beliau dulu warga negara Arab Saudi (Kerajaan Saudi Arabia) dan lebih memilih menjadi warga negara Indonesia. Beliau menyampaikan soal pentingnya taat kepada negara. Ini satu pandangan politik yang luar biasa.
     
    Sesungguhnya ketika kita melaksanakan kewajiban kita sebagai warga negara, pada hakikatnya kita juga sedang menjalankan suatu perintah agama. Karena apa? Ketika kita melanggar satu peraturan atau perundang-undangan suatu negara, pada hakikatnya sedang melakukan satu kemungkaran, yaitu melakukan suatu pekerjaan yang bertentangan dengan syariat agama.
     
    Contoh paling sederhana, saya sering menyebut, mematuhi peraturan Undang-Undang Lalu Lintas. Ketika kita sedang berada di lampu merah, warna merah berhenti, ketika mematuhi, berarti melaksanakan kewajiban sebagai warga negara. Otomatis pula sedang menjalankan perintah agama. Perintah tersirat agama sebagaimana termaktub dalam Surat An-Nisa ayat 114.

    La khaira fi kasirim min najwahum illa man amara bi?adaqatin au ma'r?fin au i?la?im bainan-nas, wa may yaf'al zalikabtiga`a mar?atillahi fa saufa nu`tihi ajran 'a?ima. “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”
     
    Definisi au ma'r?fin  atau berperilaku baik ini luas sekali. Kalau melanggar aturan lalu lintas berarti kita tidak melakukan kebaikan. Itu melanggar perintah agama. Syekh Ali Jaber menunjukkan suatu dimensi yang luar biasa, sebagai tokoh agama dia juga taat sebagai warga negara.
     
    Menurut saya ini sesuatu yang perlu dicontoh oleh beberapa tokoh yang masih membandel dan menganggap bahwa perintah atau kewajiban negara itu tidak penting dan lebih banyak kewajiban agama. Ini sering menghadap-hadapkan antara negara dan agama. Penyelenggara negara bisa salah, tetapi kita punya undang-undang yang tidak boleh ditabrak. Termasuk protokol kesehatan. Kita semua harus menaati berbagai macam peraturan dan perundang-undangan.
     
    Melihat sosok Syekh Ali Jaber, ucapan, pikiran, dan perkataannya sesuai dengan tindakannya. Ini pelajaran buat saya pribadi dan juga buat semuanya. Kita kadang-kadang mengajarkan akhlak yang baik tapi akhlak kita sendiri jelek. Mengajak yang lain untuk bersabar, tapi kita sendiri tidak sabar. Syekh Ali Jaber ini sosok yang sesuai. Apa yang disampaikan dengan tindakannya sesuai. Ini termasuk sesuatu yang langka kita dapatkan dari tokoh-tokoh yang ada.
     
    Banyak sekali orang yang ingin bertakziah karena ikut berduka namun rentan melanggar protokol kesehatan. Apa anjuran Anda untuk masyarakat agar tetap menghormati sosok almarhum?

    Saya kira kembali kepada prinsip-prinsip dalam agama. Ketika menghadapi berbagai situasi yang dilematis para ulama menggariskan suatu kaidah-kaidah fiqih. Hal ini bisa menjadi alasan atau payung agar dapat menghadapi situasi yang sulit.
     
    Contoh bagaimana cara kita menghormati Syekh Ali Jaber namun khawatir menimbulkan kluster baru bila datang ke lokasi. Dalam kaidah fiqih disebutkan, dar'ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih. “Menghindar dari kebinasaan harus diutamakan dibanding mengambil manfaat”. Betul, bertakziah langsung lebih utama dan seterusnya. Tapi kalau sekiranya akan menimbulkan kerumunan kemudian justru jadi klaster baru lebih baik tidak datang.
     
    Kita tidak tahu, misalnya anak-anak muda yang datang kemudian pulang dan di rumahnya ada orang tua punya penyakit komorbit dan seterusnya. Ini akan melahirkan sesuatu kemudharatan. Melahirkan masalah yang luar biasa.
     
    Sejak sore diminta Ustaz Yusuf Mansur datang tapi saya menyampaikan akan bertakziah, mengirimkan doa dan tahlil dari jauh. Kami juga sudah mengajak warga NU menggelar salat gaib serta mendoakan almarhum Almaghfurlah Syekh Ali Jaber. Saya kira sikap itu tidak mengurangi rasa hormat kita kepada almarhum.
     
    Bicara soal NU sendiri apakah ada hubungan khusus dengan Syekh Ali Jaber?

    Justru sebetulnya kehangatan dan bulan madu itu baru saja dimulai ketika Syekh Ali Jaber mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan di Lampung. Ketika ada orang yang katanya gila menyerang almarhum. Justru keluarga besar NU mulai membangun hubungan dengan beliau. Ketika Syekh Ali Jaber mengunjungi pengajian di Jawa Timur, teman-teman Banser (Barisan Ansor Serbaguna NU) mengawalnya. Saya punya dokumentasi teman-teman Banser NU mengawal Syekh Ali Jaber. Itu terjadi setelah peristiwa penusukan.

    Sebetulnya kehangatan dan bulan madu (NU) itu baru saja dimulai ketika Syekh Ali Jaber mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan di Lampung.


    Saya berkomunikasi dengan Gus Miftah Yogyakarta kemudian Gus Miftah juga mengajak beliau ke Deddy Corbuzier alias Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo untuk mempeluas dakwah. Sebelum saya sakit rencananya akan dipertemukan dengan beliau untuk acara podcast. Ternyata waktu tidak memberikan kesempatan. Sebelum beliau sakit hubungan dengan NU sedang baik-baiknya. Tahun-tahun sebelumnya di banyak pesantren NU, beliau menjalin banyak kerja sama dan sering diundang banyak kiai dan pesantren-pesantren.
     
    Dakwah Syekh Ali Jaber banyak yang menyebut menyejukkan, meneduhkan, dan menyebut sosoknya adalah ulama pemersatu. Bagaimana penilaian Anda terkait peran almarhum dalam berdakwah di Tanah Air ini?

    Ada satu pandangan, kalau kita ingin melihat seorang itu baik atau tidak ketika hidupnya, lihatlah pada kematiannya. Apakah ketika kematiannya banyak orang yang menangisinya? Kita semua tahu dan melihat simpati, ucapan belasungkawa bukan hanya dari kalangan tokoh agama tapi lintas profesi. Ini menunjukkan, beliau dekat dengan semua kalangan dan dakwah yang diusung dan diajarkan selama ini diterima oleh begitu banyak kalangan.
     
    Misalnya kita bisa melihat gaya Gus Dur (Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid) ketika meninggal itu luar biasa. Simpati begitu banyak, bahkan sampai hari ini orang berziarah tidak putus-putus. Orang-orang baik itu meninggalkan kebaikan yang luar biasa.
     
    Kalau kita melihat cara dakwah yang dikembangkan Syekh Ali Jaber sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Nabi Besar Muhammad SAW. Kalau kita baca dalam AlAlquran Surat An-Nahl ayat 125:

    Ud'u ila rabbika bil-hikmati wal-mau'izatil hasanati wa jadilhum billati hiya ahsan, inna rabbaka huwa a'lamu biman dalla 'an sabilihi wa huwa a'lamu bil-muhtadin. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

    Dakwah itu bagaimana menyerukan dengan kebijaksanaan dan nasihat-nasihat atau ucapan-ucapan yang baik. Intinya adalah mengajak manusia ke jalan Tuhan dengan hikmah dan penuh kebijaksanaan serta ucapan-ucapan yang baik. Dan selesaikan perselisihan dengan cara yang baik.
     
    Kita semua tahu, dalam ceramah-ceramahnya tidak pernah beliau mengajarkan Islam dengan cara memaksa, tidak pernah kemudian di dalam pidato-pidatonya menebarkan kebencian kepada yang lain. Tidak ada tausiah beliau memprovokasi umat untuk melawan seseorang ataupun kelompok.
     

    Tidak ada tausiah beliau memprovokasi umat untuk melawan seseorang ataupun kelompok.


    Ajaran-ajaran yang disampaikan almarhum Almaghfurlah Syekh Ali Jaber meneduhkan. Selama hidup beliau kita bisa melihat sesuatu budi pekerti yang bisa kita jadikan sebagai teladan. Inilah hikmah, bahwa pada akhirnya inti beragama adalah bagaimana kita mencerminkan akhlakul karimah (akhlak yang baik).
     
    Sesuai dengan ajaran Nabi, “Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.” Sesungguhnya aku diturunkan ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak.
     
    Ujung dari tegaknya akhlakul karimah itu adalah terciptanya apa yang disebut sebagai khusnul mu'asaroh atau kebersamaan dalam kebaikan. Jadi tidak mungkin kita bisa melahirkan suatu masyarakat yang membangun kebersamaan yang baik kalau tidak dilandasi dengan akhlakul karimah.
     
    Sosok almarhum selain identik dengan mencetak penghafal Alquran, juga peduli terhadap tunanetra. Kepeduliaannya terhadap kaum disabilitas sangt tinggi. Ini jarang sekali ulama atau pendakwah fokus terhadap kelompok disabilitas?

    Apa yang dilakukan oleh Syekh Ali Jaber adalah sesuatu yang tidak banyak dikerjakan oleh yang lainnya. Di tengah kesibukannya, Syekh Ali terus mencoba hadir di tengah-tengah masyarakat. Beliau menuliskan kebaikan perilakunya pada setiap hati orang-orang yang melihatnya. Itu yang menimbulkan satu kesan diterima oleh semua kelompok.
     
    Kelompok-kelompok yang selama ini berbeda melihat sosok Syekh Ali Jaber, semuanya bertemu. Ini yang di luar disebut kebaikan-kebaikan yang kemudian menjadi penerang. Dalam Alquran disebutkan Innal hasanati yuthibnas saiat. “Kebaikan-kebaikan itu bisa menghapus keburukan-keburukan.” Dan sepatutnya kebaikan-kebaikan yang diteladani oleh Syekh Ali Jaber menjadi penghapus dari perpecahan yang ada.
     
    Kita senang sekali harapan dari sekian banyak ulama termasuk di NU sendiri, misalnya di NU Jabar (Jawa Barat) mempunyai program satu desa satu penghafal Alquran. Sebetulnya di tempat lain seperti di Jawa Timur, juga sejumlah daerah di Indonesia menggalang gerakan ini. Sejumlah kepala daerah sudah menyambut gerakan ini.
     
    Pemerintah juga ikut memberikan kontribusi untuk mengafirmasi para penghafal Alquran ini. Sehingga harapan hadirnya seorang hafiz Alquran di setiap desa ini akan menjadi simbol dari hadirnya cahaya yang akan memberikan kedamaian kepada masyarakat. Karena yang kita harapkan Alquran ini tidak sekadar dibaca, tapi juga direfleksikan.
     
    Hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya dijalankan sebagai nafas hidup sehari-hari. Sehingga Alquran ini bisa betul-betul berjalan dan menjadi payung dalam kehidupan keseharian. Fadilah membaca Alquran itu luar biasa dan hikmahnya banyak sekali. Contohnya bisa menjadi obat, petunjuk, dan wasilah dari ijabahnya doa-doa kita semua. Saya sendiri yakin betul terhadap itu.
     
    Kenapa almarhum akhirnya memilih menjadi warga negara Indonesia juga mengaku senang berdakwah di Tanah Air?

    Dalam sebuah acara saya mengatakan bahwa dia sudah lebih Indonesia daripada orang Indonesia karena mengerti betul dialek-dialek khas Indonesia. Tentu ini tidak banyak orang Indonesia yang betul-betul bisa membaur, melebur, dan bahkan menjadi panutan. Sosok almarhum saya kira luar biasa. Kita yang orang Indonesia saja dan sudah sekian tahun belum tentu bisa mendapat simpati dari begitu banyak kalangan seperti Syekh Ali Jaber.

    (MBM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id