Wawancara Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (1)

    Covid-19, Momentum Indonesia Kuasai Pasar Ikan Dunia

    Misbahol Munir - 04 Juli 2020 15:13 WIB
    Covid-19, Momentum Indonesia Kuasai Pasar Ikan Dunia
    Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Foto: Medcom/Misbahol Munir
    Jakarta: Kontras. Demikian sebagian penilaian publik terhadap kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) periode kedua Kabinet Jokowi-Ma’ruf saat ini. Bila dibandingkan dengan pemangku kursi sebelumnya bisa dibilang berubah 180 derajat.
     
    Era Susi Pudjiastuti, kementerian ini bisa disebut sebagai sumber berita bagi sejumlah media. Dengan gayanya yang meledak, Susi pun menjadi trendsetter. Berbanding terbalik dengan Edhy Prabowo yang nampak kalem dan tak banyak bicara di media.
     
    Diperbandingkan seperti itu, Edhy pun menjawab keraguan publik terkait kinerjanya. “Saya suka kerja, bukan cari popularitas,” ujar Edhy kepada Direktur Pemberitaan Medcom.id, Abdul Kohar, dalam wawancara khusus program Newsmaker baru-baru ini.
     
    Kader Partai Gerindra itu pun menjabarkan berbagai kebijakan yang menuai polemik. Mulai kebijakan ekspor lobster hingga penggunaan kembali cantrang oleh nelayan. Termasuk, apakah benar di era Edhy tidak adanya penenggelaman kapal nelayan asing?
     
    Berikut wawancara lengkap Medcom.id Bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Ini merupakan bagian pertama dari empat tulisan.
     
    Apa kabar Pak Edhy Prabowo?
     
    Alhamdulillah sehat. Salam sehat, semangat lawan virus korona (Covid-19) dengan makan ikan. Itu bukan sekadar pameo atau jargon. Karena memang makan ikan itu Omega-3 lebih banyak. Daging sekitar 30 hingga 40-an, sepersepuluhnya ada pada ikan. Ini hasil penelitian. Bukan saya yang meneliti. Ada tim yang meneliti, saya lihat dan ini adalah fakta. Ini yang saya gencarkan ke seluruh masyarakat agar gemar makan ikan.
     
    Dalam suasana Covid-19 ini relevansinya apa?
     
    Daya tahan tubuh. Dengan makan ikan daya tahan tubuh semakin bagus.
     
    Daya tahan fisik semakin baik, tapi daya tahan secara ekonomi bagi nelayan bagaimana?
     
    Pada awal covid-19 muncul di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019, saya juga termasuk yang sangat berhati-hati dan khawatir terhadap sektor kami. Makanya, langkah-langkah positif dalam membangun sektor ini harus ada terobosan-terobosan. Saya melihat banyak terobosan yang kita lakukan.
     
    Misal, di sektor budidaya itu baru 10 persen saja potensinya yang digarap. Itu pun belum optimal. Sektor tangkap itu baru 8 juta (ton). Padahal, potensinya ada sekitar 12,5 juta ton. Kalau mengacu pada asas sustainability (keberlanjutan) kita itu bisa menangkap 80 persen atau sekitar 10,5 juta ton. Berarti masih ada 2 juta ton lebih (yang belum dimanfaatkan).
     
    Potensi ini kalau dioptimalkan, misal ditangkap 1 juta (ton) saja dengan kapal 100 GT (gross tonnage/tonase kotor), maka butuh 10 ribu kapal. Kalau 1 kapal isinya 30 atau 40 orang, berarti 300 ribu hingga 400 ribu orang bisa kerja di situ. Berapa potensi ikannya? Tinggal dikalikan saja.
     
    Kalau kita hitung dengan USD5 per kilo—walaupun ada yang lebih—dikali 1 juta berarti kita bisa tingkatkan potensi dalam negeri sebesar USD5 miliar. Dari situ potensi penyerapan lapangan pekerjaan langsung ada sekitar 300 ribu orang. Dan dari potensi sustainability, tentu dengan melakukan izin dan pengawasan, kita yakin semua ini bisa dikontrol dan dicegah.
     
    Budidaya dan komunikasi dengan nelayan merupakan dua tugas yang diperintahkan Pak Presiden kepada saya saat pertama kali diwawancara. Budidaya faktanya baru ada 10 persen dan belum optimal.
     
    Kalau kita mengacu pada komuditas tambak udang vaname yang lagi marak di dunia, Indonesia belum memproduksi hingga 1 juta (ton). Didata yang kita miliki baru sekitar 680 ribu ton. Padahal, luas tambak kita ada 300 ribu hektare dari 600 ribu hektare lahan budidaya kita.

    Covid-19, Momentum Indonesia Kuasai Pasar Ikan Dunia
    Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (kiri) bersama Direktur Pemberitaan Medcom.id Abdul Kohar (kanan). Foto: Medcom/Misbahol Munir
     
    Saya enggak bicara muluk-muluk, kalau 300 ribu hektare itu dengan asumsi 1 hektare menghasilkan 10 ton. Atau, enggak usah banyak-banyak, 5 ton saja. Sudah berapa? Dengan sekarang yang ada 800 ribu (ton), dengan satu gerakan yang tidak begitu terlalu hebat kita sudah menaikkan produksi. Ini yang saya mau dorong, apalagi kalau kita melakukan intensifikasi.
     
    Bertambak udang dulu dengan sekarang berbeda. Kalau sekarang dengan intensifikasi dan tekonologi sudah ada. Sistem budidaya dulu kan di daerah muara-muara sungai, dapat air yang agak payau sedikit.
     
    Kemudian dulu dan sekarang banyak berbeda, muara sungai mungkin banyak tercemar sehingga banyak penyakit. Jadinya khawatir karena trauma masa lalu, urusannya penyakit dan produktivitas. Belum lagi kita bicara sistem pinjaman dari bank. Enggak banyak bank yang mau kasih pinjaman modal selain pakai agunan pribadi. Ini yang menurut saya harus kita bangkitkan dan harus ada terobosan.
     
    Ini yang Bapak Presiden minta, harus ada pemikiran extraordinary dari hal yang biasanya. Kami lakukan itu dengan APBN yang terbatas. Kami enggak kalah langkah. Hitungannya sederhana, kalau 1 hektare yang sekarang terbukti ada orang panen udang satu kali. Maka 1 hektare itu bisa menghasilkan 40 ton.
     
    Saya berasumsi kita bangun 100 ribu hektare tambak, kita rapikan. Mau bangun atau revitalisasi tidak masalah, yang penting tambak ini produktif. Kalau masalah lapangan pekerjaan tinggal kita isi. Mau berapa kita mau isi? Bisa saja 1 hektare kita isi 5 KK (kepala keluarga). Kalau 5 KK x 100 ribu kan sudah 500 ribu KK bekerja di situ.
     
    Potensi ekonomi yang dimunculkan misal 100.000 hektare. Dengan asumsi 1 hektare menghasilkan 40 ton dikali 100.000 hektare, berarti 4 juta ton. Lalu 4 miliar kilo misalnya kali USD5. Rata-rata—ini yang paling murah—USD20 miliar hari ini.
     
    Faktanya hari ini lebih kecil dari nilai itu. Apa yang saya sebutkan itu, 40 ton setahun. Padahal pelaksanaannya udang dengan intensifikasi bisa sampai 80 hingga 100 ton dalam dua setengah kali panen dalam setahun. Dan yang paling hebat, tidak perlu ruangan yang lebih besar. Saya menghitung ada 100 ribu hektare yang sudah terbangun. Dan yang belum tergarap dengan rapi ada 300 ribu hektare. Itu yang sudah. Padahal sekarang banyak kepala daerah yang siap untuk melakukan pembudidayaan dan siap dijadikan tambak.
     
    Faktor utamanya apa?
     
    Faktornya adalah modal dan akses teknologi. Benih ini semua sudah kita akses, tinggal modal. Saya enggak mau mimpi dan nggak mau jual kecap. Fakta sekarang saya akan jalankan dari kekuatan yang KKP miliki, seperti sumber daya manusia dan teknologi. Serta keahlian tentang bagaimana bertambak yang baik kita juga ada.
     
    Ahli-ahli yang baik kita ada dan para pelaku usaha dari Shrimp Club Indonesia Emas boleh lihat sendiri. Dari selatan dan utara Pulau Jawa ada yang sudah intensifikasi. Daerah Sulawesi Selatan dan Sumatra juga banyak. Di Bengkulu juga ada. Banyak contoh yang perlu diperbesar, diagregasi, dan diperkuat.
     
    Kelemahan utama mereka ini sekarang menjalankan tambak baru dengan kekuatan modal pribadi mereka. Jadi, bank tidak mau tambak dijadikan jaminan. Saya enggak mengerti dan kami sudah melaporkan ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Berbicara soal visibilitasnya pelaku tambak untung terus. Di Cidaun, Cianjur Selatan, dan Pameungpeuk, Garut, sudah terbukti untung terus.
     
    Kenapa harus takut? Memang enggak ngerti, pinjam untuk kebun bisa, yang jadi agunan untuk kebun sawit dan kebun karet, tapi untuk tambak udang kenapa enggak bisa? Kenapa harus aset pribadi? Mau ngomong apa, faktanya ada. Padahal udang kalau udah enggak laku disimpan di cool storage (gudang pendingin) enggak hilang, sama dengan menyimpan emas di brankas.
     
    Ini saya tidak bermaksud menyalahkan karena saya mempunyai wewenang yang diberikan Presiden. Ini yang saya akan tunjukkan. Saya tidak mau cengeng, saya akan buktikan dan saya sudah roodshow ke mana-mana dan banyak antusiasme dari kepala daerah. Seluruhnya sangat ingin. Para pelaku usaha sekarang sudah mulai melirik ini. Potensi pasar dunia, kalau tadi di Indonesia 1 juta saja belum tergarap, dengan 100 ribu hektare kita akan punya 4 juta ton. Potensi pasar dunia 13 juta sampai 15 juta ton.
     
    Indonesia sebagai pengekspor udang dan ikan ke Cina baru peringkat nomor ke-7. Target saya harus kejar ini. Ini saya bicara begini bukan tidak bersyukur meski suasana covid-19. Maksudnya, dalam kondisi covid-19 ini, ada jalan pemicu buat kita.
     
    Di saat negara-negara lain lockdown, seperti India, produksinya tertunda. Buktinya permintaan ikan dari Indonesia sekarang terus meningkat. Anda bisa cek datanya ke BPS naik terus. Yang tadinya saya takutkan harga akan turun. Pak Presiden, Bapak Menko Maritim, dan lainnya meminta saya menunjukkan bagaimana kita harus survive. Dan akhirnya jalan, saya kirim surat ke provinsi, kabupaten-kabupaten, saya menghadap Menteri Sosial dan meminta tolong agar sembako bansos yang dibagikan ke masyarakat agar melibatkan ikan-ikan yang diproduksi masyarakat, dari tangkap, budidaya, maupun olahan.
     
    Alhamdulillah dia (Mensos) mau berkirim surat. Menko PMK (Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan) juga memberi ruang. Semua koordinasi kami atas arahan Pak Presiden. Setiap hari terus kita jalankan.
     
    Alhamdulillah, penyerapan-penyerapan ikan agak mulai tertangani dengan baik. Terbukti udang hari ini harganya jauh di atas rata-rata harga sebelum covid-19. Saya enggak mau takabur dan jemawa, tapi fakta ini menunjukkan, kerja sama yang baik dari pusat sampai kabupaten/kota membuahkan hasil baik. Kepala-kepala dinas kita komunikasikan dengan baik dan ini disambut oleh kepala daerah. Sehingga, bantuan sembako juga melibatkan produk-produk perikanan.
     
    Kita juga punya program makan ikan, nasi ikan yang setiap hari 5.000 waktu itu bahkan sampai 500 ribuan. Saya yakin program itu sampai Lebaran. Itu juga banyak men-trigger (memantik), semua kita gemar ikan dan sebagainya ini juga men-trigger tapi ini saja belum cukup. Dengan melibatkan Kemensos yang mau memulai, ini luar biasa. Lebih hebat lagi Menteri Perindustrian turun tangan.
     
    Bagaimana pakan-pakan tambak yang mahal itu sempat mau dinaikkan, kita minta turunkan kembali. Alhamdulillah para pelaku usaha juga paham, Menteri Perindustrian juga mem-back up. Inilah komunikasi yang terjadi. Jadi, saya sangat optimis. Ini baru dua sektor saya berbicara dan baru satu komoditas udang, belum lagi saya bicara tentang lobster. (Bersambung)
     
    (MBM)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id