Wawancara Khusus Marzuki Alie

    Marzuki Alie Tantang SBY Buktikan Tudingan Kudeta Demokrat

    Misbahol Munir - 06 Februari 2021 18:00 WIB
    Marzuki Alie Tantang SBY Buktikan Tudingan Kudeta Demokrat
    Sekjen Partai Demokrat periode 2005-2010 sekaligus Ketua DPR RI 2009-2014 Marzuki Alie. Foto: Antara/Yudhi Mahatma
    Jakarta: Kurang lebih hampir sejam Marzuki Alie berbicara panjang lebar menanggapi prahara Partai Demokrat. Sekjen Partai Demokrat periode 2005-2010 itu memang sudah lama tak muncul ke publik semenjak selesai menjabat Ketua DPR RI periode 2009-2014.
     
    Namun, belakangan ini namanya kembali berseliweran di berbagai media daring atau televisi. Marzuki dituding terlibat jadi bagian dari kelompok yang ingin menggulingkan putra sulung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhotono (AHY) dari kursi ketua umum Partai Demokrat.
     
    Marzuki pun tak gentar. Ia menantang AHY dan tokoh-tokoh petinggi Demokrat lain untuk membuktikan tuduhan persekongkolan politik dengan Kepala Staf Presiden Moeldoko terkait isu mengudeta Demokrat. Bahkan, Marzuki menantang SBY untuk turun tangan membuktikan tuduhan orang-orang ring-1 lingkaran AHY itu.
     
    “Karena tidak ada solusi saya minta Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai untuk memastikan tuduhan dari orang-orang lingkaran satu AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) untuk bisa membuktikan,” kata Marzuki kepada Medcom.id baru-baru ini.
     
    Ia menambahkan, “Kalau tidak bisa membuktikan saya minta berikan sanksi organisasi.”
     
    Marzuki juga meminta agar semua kader partai berlambang bintang mercy itu untuk membaca secara utuh kritiknya.
     
    “Baca (tonton) dari awal sampai ujung video rekaman ini biar enggak salah paham. Nanti muncul bahwa saya menjelekkan partai, itu enggak ada,” kata dia.
     
    Berikut wawancara lengkap Head of News Production Medcom.id Indra Maulana dengan Sekjen Partai Demokrat Periode 2005-2010 Marzuki Alie.
     
    Apa kabar Pak Marzuki Alie?

    Alhamdulillah sehat.
     
    Bapak sendiri sudah menghubungi Pak Syarif secara pribadi?

    Saya tidak ada kepentingan menghubungi dia.
     
    Tidak ingin meluruskan nama Pak Marzuki Alie yang disebut oleh Pak Syarif terkait isu Kudeta Demokrat?

    Enggak ada guna juga karena fitnahnya sudah di ruang publik. Saya sudah berkali-kali difitnah, dan itu saya tahu. Pada saat ada rapat-rapat kecil ada yang menyampaikan ke saya, Pak Syarif ngomong tapi saya enggak pernah hiraukan dan saya tidak pernah persoalkan. Kenapa? Karena saya sudah tahu dipolitik itu rentan sekali fitnah. Fitnah-fitnah dilakukan untuk mendapat jabatan dan kepercayaan. Okelah saya tak peduli yang penting kita bangun kinerja. Kita tunjukkan dan kinerja bagus. Akhirnya isu itu akan hilang dengan sendirinya dan akan terjawab sendiri.
     
    Tapi ini di ruang publik bagaimana saya mau menunjukkan kinerja saya. Bagaimana bisa menghapus fitnah itu. Tidak ada solusinya. Karena tidak ada solusi saya minta Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai untuk memastikan tuduhan dari orang-orang lingkaran satu AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) untuk bisa membuktikan. Kalau tidak bisa membuktikan saya minta berikan sanksi organisasi.
     
    Apakah sanksi itu hanya bisa dijatuhkan oleh Pak SBY?

    Mekanismenya melalui Mahkamah Partai. Kalau yang melanggar itu pimpinan itu Majelis Tinggi yang memberi sanksi.
     
    Kalau mereka tak bisa membuktikan dan Pak SBY tidak memberi sanksi, apa yang akan Anda lakukan?

    Pasti saya melakukan langkah-langkah untuk membersihkan nama saya.
     
    Apakah akan melakukan proses hukum?

    Bisa proses hukum dan berbagai upaya akan dilakukan.
     
    Seperti apa proses hukum yang Anda akan lakukan?

    Dulu saya pernah difitnah juga oleh Andi Narogong, waktu dia diperiksa KPK terkait kasus korupsi e-KTP. Dia mencatut nama saya. Waktu itu saya langsung lapor ke Bareskrim Polri. Saya laporkan dan saya jelaskan tidak pernah terlibat serta tidak pernah ketemu, telepon dan titip sana-sini. Tidak ada fakta hukum juga yang menyeret nama saya. Saya tidak ada urusan dengan kasus e-KTP.
     
    Anda akan ke Bareskrim Polri terkait ini?

    Belum. Nanti akan ada keputusan Mahkamah Partai siapa saja yang terlibat di dalam usaha untuk KLB (Kongres Luar Biasa) ini. Ini bukan kudeta, tapi upaya KLB. KLB ini diatur dalam konstitusi partai. Tidak ada kudeta. Kalau jumlahnya memenuhi persyaratan KLB, ini bisa terjadi. Dan itu sesuai aturan partai. Ada beda pandangan. Bila ada ketidakpercayaan di tingkat arus di bawah, koreksinya ada di KLB.
     
    Anda sempat menyebut agar AHY untuk mundur?

    Saya tidak menyebut AHY. Saya menyebut kader-kader yang mencatut nama saya secara vulgar adalah Syarif Hasan, itu menurut media. Kemudian Rachland Nashidik, lalu Herman Khaeron, waktu acara di TV One dan Kompas TV. Karena hal itu, pasti ketum akan terikut pula. Awalnya ketum menyebutkan indikasinya. Indikasi ini yang oleh lingkaran satunya itu disebutkan namanya. Ini hasil dari pemahaman mereka. Artinya di dalam (orang-orang lingkaran AHY) berkesimpulan ini ulah Marzuki Alie.
     
    Sementara ketum lebih santun dan cerdas menyampaikan tanpa menyebut nama. Tapi menyebut indikasi-indikasi itu sudah mengarah juga. Meskipun mereka bisa beragumentasi, namun ketika ring 1-nya menyebutkan nama, mereka enggak bisa menolak. Artinya sudah terlibat semua.
     
    Lalu bagaimana dengan treatment (perlakuan) Ketum AHY sendiri?

    Saya enggak mau menduga-duga, tapi dengan indikasi atau inisial dengan keyakinan penuh, artinya ini sudah dibahas di DPP (Dewan Pimpinan Pusat). Dia akan ikut tercatut. Sebagai pimpinan partai seharusnya melarang.
     
    Pak Marzuki Alie sudah kontak AHY?

    Saya enggak ada urusan ngontak-ngontak dia. Saya bukan pengurus kalau pengurus mungkin saya kontak.
     
    Maksudnya untuk mengklarifikasi saja, kenapa Pak Marzuki dituding terlibat?

    Karena dia jadi Ketum juga enggak pernah telepon. Dia kan hebat. Tidak perlu orang-orang yang lebih dulu berhasil memimpin partai. Saya yakin AHY punya kemampuan. Kan itu luar biasa sekali. Ini aneh. Kemarin clear saya sampaikan. Pak SBY anti-politik dinasti. Sebelumnya banyak yang mengusulkan anaknya jadi bupati tapi Pak SBY langsung menyoret. Tapi kenapa sekarang dilakukan? Itu pertanyaan saya.
     
    Terus kemarin Andi Mallarangeng bilang bahwa AHY yang terbaik berkat hasil survei. Waduh! Kok mikirnya hasil survei bisa jadi Ketum. Di mana nyambungnya? Mengurus partai itu terkait pengalaman bukan hasil survei. Tapi kapasitas dan ilmu yang diperoleh terkait manajerial. Enggak ada urusan dengan survei. Kok ini tahu-tahu survei dijadikan alasan orang untuk menjadi ketum. Berarti kalau mau jadi pemimpin partai survei saja semua kader. Untuk jadi capres oke bisa hasil survei. Dia punya kapasitas kita usung, tapi untuk jadi ketum partai enggak ada ukuran survei.
     
    Bagi Anda terpilihnya AHY jadi ketum aneh sekali?

    Itu disampaikan oleh Ketua Komisi Pengawas PD Ahmad Yahya. Waktu jumpa pers dia sendiri yang menyampaikan bahwa ada cacat hukum. Berarti ini dipilihnya AHY karena ada sesuatu. Saya waktu itu enggak di dalam karena bukan pengurus. Apakah itu sesuai dengan mikanisme dan aturan aturan partai? Tapi dari orang DPP bilang itu bukan kongres melainkan serah terima dari yang lama ke yang baru. Begitulah ceritanya.
     
    Pak Marzuki sendiri menilainya hal itu bukan kongres?

    Saya enggak mau berandai-andai. Tapi pelaksanaan dalam waktu singkat berarti tidak sesuai dengan tata tertib yang biasa diumumkan. Dan ini jelas kongres dilaksanakan pada saat pandemi. Di mana-mana orang lagi PSBB (pembatasan sosial berskala besar) justru melaksanakan kongres. Saya enggak mau berandai-andai nanti menimbulkan fitnah. Tapi saya menangkap, kemarin dari Pak Ahmad Yahya sebagai Komisi Pengawas pasti dia ada di kongres saat itu. Saya sampaikan mikanisme tidak ada, laporan dari kepengurusan sebelumnya tidak ada, tahu-tahu udah pemilihan ketum.
     
    Kedua Pak Marzuki menyinggung soal Kongres Demokrat seolah ini hanya serah terima. Apakah yang terjadi sepekan ini pada Demokrat adalah ketidakpuasan kader terhadap kepemimpinan di Demokrat?

    Ya partai itu rentan dengan perpecahan. Itu biasa. Karena saya pernah mengalami dan tahu persis bagaimana mengelola partai, itu tidak mudah. Dan kemampuan seorang pemimpin itu bagaimana mempersatukan pemikiran kader saat ini sehingga memiliki pemikiran dan pemahaman yang sama untuk mewujudkan cita-cita kemenangan partai. Itu harusnya dilakukan dengan mengonsolidasikan sampai tingkat akar rumput. Sehingga terbangun militansi dan juga dilakukan pelatihan-pelatihan terstruktur dan berbagai macama. Itu yang kita lakukan dulu.
     
    Kalau terjadi gejolak berarti ada something wrong. Di balik itu harus ada koreksi. Koreksinya ini kita lihat. Sebagai pimpinan partai harus ada pembenahan supaya partai jadi lebih baik. Itu kalau belum mayoritas, tapi kalau mayoritas dan terus bergulir ini bahaya. Tentu saja prihatin sebagai orang pertama masuk kemudian menjadikan partai ini besar. Bila terjadi hal-hal seperti ini sangat memprihatinkan sekali. Menurut saya ujian pengurus saat ini pada Pemilu 2024. Saya tidak pernah mau mengganggu. Jangan jadi alasan kalau tidak berhasil lalu kamilah yang mengganggu. Karena saya tidak pernah mengganggu.
     
    Saya tetap berjalan sebagai anggota partai meskipun hanya sebagai anggota. Saya tetap kerja-kerja partai dalam tanda kutip meski saya tidak menyatakan orang Demokrat. Tapi di kening saya semua orang tahu Pak Marzuki Alie ini anggota Demokrat Pak SBY. Setiap saya ke daerah orang nanya apa kabar Pak SBY. Salam ke Pak SBY, rata-rata begitu. Artinya kerja-kerja kemasyarakatan yang saya lakukan itu berpengaruh secara elektoral dengan Demokrat. Tapi dengan kejadian ini orang akan melihat, loh kok Pak Marzuki digitukan. Ini kan berbahaya! Jangan dikira ini tidak berdampak.
     
    Kegiatan kemasyarakatan saya melibatkan jutaan orang. Seharusnya orang-orang yang seperti ini harus dijaga komunikasinya. Partai tidak akan besar hanya dengan di DPP. Partai itu akan besar karena ada jaringan yang luas. Bagaimana jaringan itu semua bekerja. Itu kemenangan. Kalau hanya DPP, angkuh, arogan terus merasa sudah di atas langit. Nanti alam memutuskan. Walaupun katanya hasil survei membaik, saya yakin orang yang memilih itu bukan hanya karena satu pandangan saja tapi ada hal-hal yang lebih besar sehingga tahu mereka memilih karena si A atau si B.
     
    Apakah tidak pernah disampaikan nasihat-nasihat yang bagus terkait pengelolaan partai kepada Ketum AHY?

    Ya, kami tidak mau dianggap mengganggu. Itu yang jadi alasan utama. Kalau AHY merasa bahwa orang-orang yang pernah berjasa jangan dilihat karena usianya dan aktivitasnya sampai sekarang. Kalau aktivitas saya berhenti berbeda. Tak perlu ditanya enggak apa-apa. Saya jelaskan, aktivitas saya jauh lebih besar daripada mengurus partai. Seperti Sabtu kemarin saya ke Jawa Timur bertemu Gubernur Jatim Ibu Khofifah (Khofifah Indar Parawansa) dan saya diminta memberangkat kapal kemanusian ke Kalsel (Kalimantan Selatan), dari kerja-kerja sosial kita mengirimkan 1.000 ton lebih bahan makanan, 5.000 boks air mineral. Kita kirim ke Kalsel, saya berpidato ada banyak media.
     
    Sebelumnya saya mengirimkan bantuan untuk Jatim sendiri 300 ton. Saya serahkan ke Ibu Khofifah. Itu kerja-kerja sosial yang mencitrakan dan berdampak ke organisasi. Karena image saya sebagai Demokrat Pak SBY. Tiba-tiba saat pulang ke Jakarta beberapa hari ini dapat ledakan-ledakan seperti ini. Saya kaget. Terus terang kaget. Tidak ada sama sekali saya komunikasi dengan Pak Moeldoko sejak beliau tidak lagi sebagai Panglima TNI. Saya pernah ketemu di Medan karena sama-sama menghadiri undangan. Telepon-teleponan enggak pernah walau saya punya nomornya saya tidak pernah berkirim WA (WhatsApp), bisa dicek dan minta ke telekom. Ada enggak saya bertelepon dengan Pak Moeldoko?
     
    Pak Marzuki sendiri mendengar enggak ada gerakan-gerakan dari oknum-oknum tertentu yang ingin mengundang pihak luar untuk menjatuhkan kepemimpinan AHY?

    Saya sebetulnya agak prihatin juga. Kalau di zaman saya dulu ada kader mau maju jadi kepala daerah itu enggak ada setar-setor sama sekali. Maksudnya ada uang mahar. Saya dengar cerita dari kader-kader saya yang mau mencalonkan diri jadi kepada daerah. Duit enggak punya ya enggak jadi. Ini kan memprihatinkan padahal mereka sudah berjuang mendapatkan kursi di daerah masing-masing. Lalu ada kejadian seperti ini, saya agak prihatin. Alasannya kencrengan, sementara operasional mereka jalan sendiri.
     
    Maksudnya setor mahar itu ke DPP?

    Ya, ialah. Rekomendasi keluar setelah bayar.
     
    Ini satu atau dua kasus saja atau merata?

    Saya tidak mau men-judge (menghakimi), tapi informasi itu dari kader-kader saya yang mau maju pilkada. Saya tidak mau pukul rata nanti salah. Jadi kader yang jadi binaan saya dan sekarang jadi kepala daerah mereka diminta bayar separuh kalau menang mereka melunasi. Ini lucu. Padahal di zaman saya enggak ada. Pak SBY marah besar waktu itu. Pak SBY bilang ke saya, Pak Marzuki saya ini menjaga marwah partai luar biasa tapi saya seperti ditusuk-tusuk dari belakang karena mereka main uang. Ini cerita saat saya jadi Sekjen. Itulah kejadian saat saya. Maka partai itu jadi besar karena kita menegakkan aturan.
     
    Daerah itu kita support. Kalau ada kader maju pilkada, DPP bantu bendera. Itu yang kita lakukan. Kalau kondisi sekarang begini itu yang membuat keprihatinan saya.
     
    Bisa saja itu mainan lingkaran-lingkaran di sekitar Mas AHY?

    Bisa jadi. Tapi itu harusnya bisa ketahuan dan langsung diselesaikan. Zaman saya ada dan ketahuan.
     
    Kenapa kemudian ada rencana atau gerakan untuk menurunkan AHY dari kursi ketum melalui KLB?

    Ini harus memenuhi syarat. Kalau enggak memenuhi syarat enggak bisa. KLB itu suaranya harus signifikan. Kalau 200 orang tidak memenuhi syarat, makanya istilahnya ada kudeta.
     
    Kalau zalim itu dilakukan oknum lingkaran AHY, kenapa harus AHY yang jadi sasaran sebagai ketum?

    Jadi kalau sudah akumulasi, repot dan sudah merembet ke yang lain-lain juga, seperti persoalaan hubungan DPP dengan daerah. Kedatangan orang pusat ke daerah harus menyiapkan sesuatu. Itu clear saya tahu. Jadi mobilnya harus ukuran besar. Terus terang miris sekali. Ini boleh dibantah, tapi kalau nanti dibantah dan terbuka nanti malu. Karena orang-orangnya orang saya. Jadi jangan saya dibilang fitnah saya enggak pernah fitnah.
     
    Saya hanya beberkan fakta ini. Saya enggak mau ganggu kepengurusan ini dan tidak pernah otak-atik kepengurusan ini. Tapi uruslah dengan benar. Waktu dulu, kami urus dengan benar. Banyak yang ganggu kita juga. Suara Merdeka dan Rakyat Merdeka setiap hari dihajar tapi kita biasa-biasa saja. Kritik itu penting.
     
    Kondisi yang ada di kepemimpinan sekarang ini ada yang berbeda. Apakah itu dirasakan menyeluruh?

    Saya enggak bisa bilang menyeluruh, tapi kita lihat nanti faktanya. Keputusan Mahkamah Partai siapa saja yang dipecat nanti bagaimana reaksi kader-kader ini. Saya enggak mau men-judge bilang banyak atau merata. Itu tidak bisa karena saya enggak ada data yang lengkap. Tapi kalau ada informasi yang harus saya sampaikan ini untuk perbaikan. Kalau ada kader yang melakukan, tindaklah kader itu. Jangan ada pembiaran.
     
    Saran Pak Marsuki Alie sebagai senior di Demokrat, seharusnya perbaikan seperti apa yang harus dilakukan kepengurusan sekarang?

    Ini kritik untuk AHY. Dia muda ok muda, pinter ok pinter, dia cerdas oke cerdas, tapi perlu satu hal. Pertama hargai orang-orang yang lebih dahulu. Siapa pun itu. Baik mantan sekjen, pengurus dll. Ayo kita kumpul dan bicara di sini. Begitu cara memimpin organisasi, kita rangkul dulu. Atau telepon bilang meski tidak dalam kepengurusan tolong kami dibantu. Begitulah kesantunan anak muda.
     
    Anak muda itu kalau menurut saya mentang-mentang. Belum apa-apa sudah begitu. Apalagi memimpin republik ini, malah enggak menginjak bumi nanti. Jadi maksud saya, kita-kita yang sudah lama ini ditelepon atau diajak bicara dulu.
     
    Apakah ini hanya ke Pak Marzuki aja atau ke yang lain juga?

    Banyaklah yang seperti saya. Kalau Syarif Hasan orang yes man saja. Dia orang yang tidak mau mengkritik dan mengatakan tidak. Kalau saya beda. Kalau saya tahu benar, orang itu siapa, hanya cari muka, itu yang saya sampaikan. Dan sayangnya Pak SBY tidak memenuhi komitmennya. Dulu 2003 saya diajak masuk membangun partai modern ini. Visionernya SBY memikirkan partai ini. Ikutlah saya memenangkan pemilu legislatif, lalu mengusung calon presiden.
     
    Pertama meloloskan partai dulu, kemudian ikut pemilu, lolos juga mencalonkan presiden, lolos PT (Parliamentary Threshold) sekian persen. Kemudian mau nyapres. Saya diterima khusus oleh Pak SBY di Hotel Sheraton Bandara. Saya enggak tahu, saya pikir mau rapat. Saya santai saja mendampingi Pak Hadi Utomo (Ketum Demokrat). Saya menunggu kok enggak ada orang. Tahu-tahu datanglah Pak SBY.  Turun sendiri ketemu dengan saya. Pak SBY cerita saya lolos, nanti saya akan berpasangan dengan Pak Jusuf Kalla (JK), Ibu Mega kecolongan dua kali, cerita semualah waktu itu. Nanti begini-begini, lalu saya tanya. Saya bagaimana Pak? Kamu nanti masuk pegang Sekjen.
     
    Satu kalimat yang saya sampaikan, saya ini bukan orang politik, tidak punya pengalaman banyak di politik. Tapi saya tahu politik ini penuh dengan fitnah. Saya enggak siap dengan fitnah-fitnah itu, tolong kalau saya masuk ke sini kalau ada fitnah-fitnah tentang saya, tolong saya dipanggil dulu, diklarifikasi dulu ke saya. Jangan tiba-tiba bapak tidak percaya dengan saya.
     
    Sepanjang itu Pak SBY tidak pernah melakukan klarifikasi. Padahal saya sering difitnah. Itu enggak dilakukan (tidak komitmen) dan saya banyak catatan. Saya masuk ini bukan menyorong-nyorongkan badan saya. Saya direktur BUMN waktu itu. Saya punya kapasitas memberikan pelatihan ke seluruh kader se Indonesia. Pertemuan pertama di Kinasih saya jelaskan bagaimana kita bisa lolos pemilu dengan meningkatkan jumlah keanggotaan dengan sistem keanggotaan online. Saya siapkan. Orang masih belum bicara itu saya sudah persiapkan keanggotaan online.
     
    Kemudian saya pemaparan di DPP, lalu saya jadi penatar, jadi setelah memanggil seluruh tim presiden, tim kampanye legislatif pada Januari 2004 di Hotel Indonesia, setelah SBY memberikan arahan kemudian saya yang memberikan ceramah. Kemudian di Pilpres se-Sumatra, se-Jawa, lalu di Indonesia Timur.
     
    Di zaman Pak SBY peran Anda luar biasa, tapi di era AHY tidak dilibatkan. Apakah Anda merasa kecewa, orang bilang Pak Marzukie post power syndrome, bagaimana menurut Anda?

    Saya berjuang dengan Pak SBY itu mulai dia no body, bukan some body. Masih di Menko Polhukam. Jadi jangan dibilang saya masuk ketika Pak SBY sudah jadi. Ketika Pak SBY Presiden, saya Sekjen baru saya berjuang membesarkan partai. Lalu kalau dibilang post power syndrome saya tidak merasa kehilangan apa-apa. Kehidupan saya normal.
     
    Justru aktivitas saya lebih besar. Saya semakin sehat. Enggak ada saya post power syndrome enggak. Saya menghormati. Kalau itu pilihannya melakukan seperti itu tidak masalah. Tapi kalau kejadian ini kita mau sumbang saran malah nanti kita yang disalahkan. Kenapa kita tidak memberi sumbang saran karena memang tidak dibuka pintu. Kita mau karena kita merasa memiliki dengan partai ini. Dari nol kita bangun partai ini.
     
    Kira-kira kenapa pintu itu ditutup?

    Karena saya pernah men-challenge maju sebagai calon ketum. Waktu KLB, Pak SBY belum tahu kalau saya maju. Tahu-tahu Pak SBY mau jadi Ketum demi penyelamatan. Ok, kalau demi penyelamatan saya mundur. Tapi pidato SBY jelas, sudah sekali ini saja jangan sebentar-sebentar (sedikit-sedikit) SBY, jangan keluarga SBY, buktinya. Lalu Kongres 2010 saya ikut, lalu kongres 2015, saya ingin maju bukan maju karena ingin jadi presiden. Ingin melanjutkan perjuangan membesarkan partai sesuai peraturan-peraturan dan mikanisme yang sudah dibangun. Saya ingin melanjutkan ini. Ilmu saya dunia pendidikan juga. Saya mengerti memanaje orang dan membangun SDM (Sumber Daya Manusia) yang bagus.
     
    Artinya hanya sampai Ketum PD saja?

    Iya, itu yang ingin saya kerjakan.
     
    Tidak kepikiran ingin jadi presiden?

    Tidak mungkinlah orang Sumatra jadi calon presiden.
     
    Kenapa demikian?

    Kan sudah saya bilang, tidak mungkin orang Sumatra jadi calon presiden, ini harus paham realita politik. 50 persen lebih pemilih orang Jawa. Orang Jawa ikatan emosionalnya masih kuat sekali. Walaupun di Lampung di sana banyak orang banyak. Orang Jawa itu sangat kental sekali. Ini jawaban rasional. Ini bicara politik bukan bicara kesukuan. Ini bukan pelecehan tapi realita politik. Kita harus paham itu. Tapi kalau sekadar ingin jadi ketua DPR, pemimpin partai itu ok. Tapi untuk jadi capres impossible. Paling tidak namanya berakhiran ono, oto atau sejenisnya.
     
    Soal cerita men-challenge itu gimana Pak?

    Ketika saya mencalonkan akhirnya mundur dan tidak sampai berkontestasi dengan Pak SBY. Kenapa? karena saya menghormati beliau. Walaupun sebelumnya saya juga bikin surat ke Pak SBY. Pada 2014 itu saya bikin surat, saya sampaikan melalui Pak Ahmad Mubarok, Pak biarkan demokrasi tetap berjalan, kalaupun saya memimpin partai ini saya tidak akan mencalon diri sebagai capres. Nanti itu urusan bapak, saya hanya ingin besarkan partai.
     
    Tapi surat saya enggak direspons, ya sudah, mau apa lagi. Saya tidak terlalu pusing dengan itu. Sebelumnya juga saya sampaikan 2014 menjelang pemilu dan 2015 saya masih menjabat, Pak SBY, pelatihan kader ini kita lanjutkan. Karena ini bagus agar kita menang. Yg sudah ikut dulu kita bikin tingkat lanjutannya, Tapi juga enggak dilakukan, ya sudah. Kenapa Pak SBY tidak merespons, saya yakin pasti ada yang memberi masukan, Pak Marzuki itu mau menjatuhkan Pak SBY dan itu sampai ke saya.
     
    Itu di zaman Pak SBY. Kalau dengan Mas AHY dapat instruksi langsung?

    Saya enggak tahu kan 2015 saya sudah di luar tidak jadi pengurus lagi. Walaupun ketika AHY maju di DKI Pak SBY menelepon saya juga. Pak Marzuki, ayo kita berjuang lagi karena AHY maju di DKI. Tapi saya tugasi yang sudah pernah saya bina saja, dan orangnya rajin kampanye. Opat (Syofwatillah Mohzaib), kamu bantu AHY karena Pak SBY minta. Pak SBY ngomong ke saya enggak mungkin menolak, pasti membantu. Akhirnya saya bekerja dan Opat bekerja siang malam bantu AHY.
     
    Sayangnya setelah selesai karena kalah dan banyak sebabnya. Tapi Pak Opat dianggap tidak bekerja keras. Begitu kongres namanya hilang. Dia kan incumbent DPR RI, pas waktu pencalegan nama dia turun nomor 2, dia (Opat) sakit hati. Makanya dia ada waktu konferensi pers. Saya tanya ke Opat, kenapa kamu ikut-ikutan? Kata Opat, saya kan orang biasa, bukan pengurus, bukan anggota DPR, aku masih muda dan aku enggak dipakai meski sudah bekerja.
     
    Opat, anak yang dibina Pak Marzuki ikut dalam pertemuan itu?

    Iya. Mungkin karena itu lalu saya dikaitkan dan itu muncul setelah rebut-ribut. Dia ikut dipanggil ke Jakarta. Dia bilang ada bisnis. Dia juga dekat dengan Pak Wahidin Halim Gubernur Banten. Kenapa kamu enggak komisaris di sana? Enggak tahu. Akhirnya dia ke Jakarta. Pas di Jakarta dia bicara KLB.
     
    Tapi ini bukan disuruh Pak Marzuki?

    Enggak ada! Saya enggak pernah. Setelah di Jakarta saya tanya, kenapa kamu? Saya datang bukan untuk KLB. Saya juga bukan apa-apa di Demokrat, bukan pengurus, bukan anggota DPR pula. Saya masih muda dan sudah kepala empat. Saya mau kerja. Di situlah rupanya komunikasinya.
     
    Menurut kabar upaya untuk menjatuhkan Mas AHY ini sudah banyak DPC-DPC yang diberi uang. Apakah Anda mempercayai itu?

    Yang namanya politik sekarang enggak pernah lepas dari persoalaan uang. Kongres mana yang enggak pakai uang. Semua pakai uang. Makanya negeri ini rusak karena itu. Semua politik di republik ini pakai uang. Partai apa saja, omong kosong kalau enggak pakai uang. Kecuali yang partai kader. Partai yang punya ideologi. Artinya punya ideologi yang kuat. Di situ ada dewan syuronya itu agak susah melakukan pakai uang. Rata-rata pemilihan yang dilakukan demokratis pakai uang.
     
    Termasuk upaya ingin menjatuhkan AHY pakai uang?

    Saya enggak tahu. Saya hanya bicara fakta politik. Faktanya begitu. Kalau yang AHY saya enggak ikut dan enggak lihat.
     
    Jadi Pak Marzuki enggak ada keinginan untuk kontak Mas AHY atau Syarif Hasan yang dulu pernah berduet dengan bapak?

    Saya sama Syarif Hasan kurang baik apa? Waktu kongres 2005 nama dia sudah hilang karena tidak satu kelompok dengan Pak Hadi Utomo. Saya bilang ke Pak Hadi, jangan dibuang semua. Biar dia jadi wakil saya, nanti saya yang ajak. Jadilah Syarif Hasan Wasekjen DPP. Itu satu. Kedua ketika dia mau jadi Ketua Fraksi 2004-2009 itu yang diajukan Pak Sartono Hutomo, lalu kami berunding. Saya bilang mending Pak Syarif saja. Akhirnya yang jadi Ketua Fraksi Syarif Hasan.
     
    Ketiga, waktu Pak SBY marah, dia bikin pernyataan pers bahwa Demokrat tidak mau mengambil posisi pimpinan MPR. Pak SBY marah besar. Saya kasih tahu Pak Syarif melalui telepon, kamu segera luruskan pernyataan kamu. Saya dengan kader begitu baiknya. Pas ke saya sering kali dia melakukan hal-hal atau komunikasi kurang bagus.
     
    Makanya kemarin saya berani nomong, Syarif ini sudah berkali-kali saya bantu. Tapi dia sering memfitnah saya, dia tahu nomor telepon saya. Kalau ketemu saya, dia sering menganggap keluarga. Kenapa? kebetulan dua anaknya kawin dengan orang Palembang dan salah satunya masih ada hubungan keluarga dengan saya. Kalau ketemu menganggap keluarga, tapi kelakuannya kurang ajar.
     
    Selama ini kalau fitnah di internal saya enggak pernah tanggapin, karena saya tahu betul politik itu penuh fitnah. Mereka lakukan hanya untuk mendapatkan jabatan dan kepercayaan dengan menjelekkan orang. Itu sudah biasa. Kalau disampaikan ke publik itu saya marah. Saya enggak bisa terima itu.
     
    Khusus Mas AHY bagaimana?

    Saya ingin AHY menindak kalau memang memerintahkan untuk tidak sebut nama. Kalau dia enggak menindak berarti dia ikut terlibat. Hargai dong kita-kita ini. Jangan hanya karena orang suka memuja-muji. Partai ini rusak karena puja puji yang enggak benar. Jadi orang internal yang suka puja puji itu merusak partai. Bahasa kasarnya itu orang suka menjilat. Itu bahaya bagi partai.
     
    Masyarakat awam menilai Demokrat lama tidak terlihat kiprahnya di percaturan politik tapi tiba-tiba heboh di dalam. Ada yang menganggap kehebohan internal itu biar Demokrat dapat panggung. Menurut Anda bagaimana?

    Saya ingat kalimat Pak SBY, politik itu citra. Saya banyak pelajaran dari Pak SBY. Ilmu saya banyak dapat dari Pak SBY. Ilmu kampanye di lapangan terbuka dan lain-lain. Makanya saya menghormati beliau. Kalau beliau begini saya hormati, jadi ketum saya hormati. Saya enggak mau berkompetisi dengan beliau. Clear, saya banyak belajar dengan Pak SBY. Titik.
     
    Berarti ini bagian desain dari pencitraan?

    Iya. Kan pencitraan itu macam-macam. Ada yang bangun citra dengan kinerja. Di Demokrat ini ada yang bangun persepsi, membangun pencitraan untuk nama baik partai. Ada pula yang membangun kekuatan kaderisasi dan konsolidasi, itu yang harus dilakukan. Kalau hanya bicara di media sosial (medsos) semua dan enggak ada yang kerja. Saya yakin ini ompong. Ini omong kosong, cuma angin semata.
     
    Jadi hari ini hanya banyak kader yang bicara di medsos?

    Iya, dan bicaranya tidak santun. Apalagi diisi dengan fitnah. Tidak menggambarkan karakter partai yang dibangun SBY. Karakter yang bersih, cerdas, dan santun. Bersih artinya lepas dari kasus korupsi, ikon itu harus dipegang. Karena ikon itu slogan yang dibangun partai. Artinya tidak asal-asalan. Berpikirnya lebih wise (bijak).
     
    Memfitnah kader di ruang publik itu tidak cerdas. Bisa back fire. Misalnya dia sebutkan inisial atau sejumlah kader yang berkolaborasi dengan eksternal sekarang sedang dalam penyelidikan Mahkamah Partai. Kita akan proses sesuai aturan. Itu cerdas dan cantik sekali. Ini tahu-tahu bilang ada kader, A, B, dan seterusnya. Itu sudah mengarah bukan praduga tak bersalah. Kalau praduga tak bersalah, selidiki dulu di Mahkamah Partai. Jadi bahasanya harus lebih cerdas. Begini semisal, ini pihak eksternal mau ambil partai dan difasilitasi orang dalam (kader). Kader ini sedang kita selidiki. Pasti akan kita tindak tegas. Baru itu cantik.
     
    Saya harap baca (tonton) dari awal sampai ujung video rekaman ini biar enggak salah paham. Nanti muncul bahwa saya menjelekkan partai, itu enggak ada. Keinginan saya adalah partai ini jadi baik. Kalau partai tidak baik nanti 2024 kalah. Kalau partai ini hilang saya orang pertama kali yang menangis atas partai ini.

    (MBM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id