Romo Benny: Kita Butuh Semacam GBHN untuk Mengatasi Banjir

    Misbahol Munir - 28 Februari 2021 21:42 WIB
    Romo Benny: Kita Butuh Semacam GBHN untuk Mengatasi Banjir
    Benny Susetyo. Foto: MI/Susanto



    Jakarta: Dalam sepekan terakhir menjadi sorotan publik. Banjir yang melanda Ibu Kota ini ujungnya menyerempet isu politik. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dikritik balik para pendukungnya. Salah satunya, Romo Benny Susetyo.

    Ia mengkritik Anies agar tidak gampang menyalahkan alam dalam musibah banjir. Bahkan, menyarankan agar apa yang sudah dilakukan gubernur pendahulunya, yakni Basuki Tjahja Purnama (Ahok) tetap dijalankan. Seperti mengeruk sungai, memperbanyak pasukan orange, hingga melanjutkan pembangunan bendungan dan sodetan.






    Pendukung Anies pun mempertanyakan kritik yang dilancarkan Romo Benny kepada Anies. Lantas kenapa hanya Gubernur Anies saja yang dikritik? Sebab musibah banjir tak hanya melanda DKI Jakarta. Sebagian wilayah Jawa Tengah, Banjarmasin, serta sejumlah kabupaten di Kalimantan Selatan pun dilanda banjir. 

    Simak wawancara khusus Head of News Production Medcom.id Indra Maulana dengan Budawayan Pastor Antonius Benny Susetyo atau akrab disapa Romo Benny dalam program Newsmaker. 

    Berikut wawancara lengkapnya:

    Selamat sore Romo Benny. Salam sehat selalu?

    Kabar baik. Salam sehat.

    Setelah mengkritik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Anda dikritik balik oleh para pendukungnya. Bahkan Anda disebut “Romo Politik” karena dinilai tidak objektif. Bagaimana respons Anda setelah dituding sebagai “Romo Politik”?

    Saya mengkritik apa? Kalau Anda tonton perbincangan saya di channel Rumah Kebudayaan Nusantara (RKN) Youtube itu tidak ada kritik. Saya ditanya anchor-nya mengenai apa yang baik di zaman itu (Ahok), saya menanggapi pertanyaan itu. Yang baik harus terus dilanjutkan seperti pengerukan sungai, perbanyak pasukan orange, melanjutkan pembangunan bendungan dan sodetan. Itu saja. 

    Lalu media memberi judul lain, bahwa saya menyarankan agar Anies belajar ke gubernur sebelumnya yaitu Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Padahal tidak ada pernyataan seperti itu. Itu yang menafsirkan atau membuat judul adalah media yang mengutip, kenapa harus saya yang disalahkan? Makanya aneh orang yang menuduh saya Romo Politik, apa dasarnya? Padahal saya tidak masuk dalam struktur politik (parpol). 

    Kalau mempersoalkan saya di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), di sana ada Buya Syafi'i Ma'arif, eks Ketum PP Muhammadiyah, Said Aqiel Sirodj, Ketum PBNU, lalu pendeta Andreas Siwangu, kemudian ada Ma'ruf Amin sebelum jadi Wapres RI dan ada Tri Sutrisno, Wapres RI era Soeharto. Saya disitu stafsus ketua dewan pengarah. Saya bertugas menjaga ideologi bangsa bersama-sama masyarakat untuk menyosialisasikan ideologi Pancasila. Ini tidak ada kaitannya. Saya diundang oleh RKN sebagai budayawan. Dari dulu saya diundang Metro TV sebagai budayawan.

    Apakah jabatan Romo Benny di BPIP selalu diidentikkan dengan pro-pemerintah, sebab ketika mengkritik sebagai budayawan pun dikira mewakili pemerintah? 

    Buya Syafi’i mengkritik juga enggak ada masalah. Saya enggak punya kepentingan politik. Sejak dulu saya enggak ditanya soal korupsi, sudah bicara soal korupsi. Sejak awal saya pendukung KPK. Saya orang yang tidak punya kepentingan apa-apa. Sejak dulu sampai sekarang saya tetap seperti ini. Lalu apa yang berubah dari saya. Saya menulis soal banjir sejak 20 tahun yang lalu. Dan itu sama, saya mempersoalkan mengenai keadaban dengan alam. 

    Jadi yang saya persoalkan di sana pertama, prilaku manusia yang koruptif, dan manipulatif. Bagaiamana kita membangun keadaban alam itu supaya berdamai dengan alam. Jangan buang sampah sembarangan, memilah sampah basah dan kering. Kemudian bagaimana membangun ekosistem dalam menjaga kebersihan lingkungan. 

    Lalu apa itu salah? Saya juga mengkritik bencana banjir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan karena akibat keserakahan. Saya juga menulis di opini. Saya juga tulis pada tahun 1997 yang lalu. Saya juga tulis dalam buku saya yang berjudul 'Keadaban Alam’. 

    Sewaktu menulis dulu tidak ada reaksi seperti sekarang ini?

    Ya, karena tidak ada yang memanipulasi. Judul itu dimanipulasi. Saya juga tidak pernah menasihati soal banjir ini. Saya ditanya anchor soal yang baik yang perlu dilanjutkan, saya bilang bahwa yang baik-baik dari pendahulunya harus diteruskan. Apakah itu salah? Saya mengatakan soal moral dan etika dan saya juga menulis buku soal etika moral dalam politik. Lalu apakah itu salah? 

    Sebagai penulis buku mengenai keadaban alam, bagaimana menyikapi banjir agar tidak mudah menyalahkan alam? 

    Kita ini bila terjadi bencana kerap kali menyalahkan alam. Semisal banjir karena curah hujan tinggi. Itu tidak bisa begitu. Kita ini manusia diberi akal dan budi oleh Tuhan agar bisa memprediksi. Semisal curah hujan diprediksi bakal begini atau merekayasa hujan seperti dilakukan BMKG agar hujan turun tidak di satu titik. Itu bisa dilakukan. Artinya kita harus bisa mengantisipasi. 

    Seperti gempa bumi di Jepang. Mereka sudah terbiasa dengan gempa, tapi mereka melakukan antisipasi dan berhasil. Sehingga bila terjadi gempa, mereka sudah membuat berbagai macam skenario-skenario dan terus mengedukasi masyarakat menghadapi gempa. Saya sendiri sudah lama berbicara soal mengantisipasi bencana. Sudah 20 tahun lalu saya lakukan itu. Hari ini jadi aneh, karena sebagian orang sensitif dengan kritik. Saya jadi bingung juga fenomena ini. 

    Jadi Anda tidak berniat mengkritisi Gubernur Anies? 

    Enggak ada. Saya juga kenal baik dengan Anies dan seringkali bertemu. Saya sendiri biasa mengkritik termasuk kepada Ahok (Basuki Tjahja Purnama). Saya ini orang independen. Saya hanya mengatakan bahwa apa yang baik dari pendahulunya seharusnya tetap dilanjutkan dan yang kurang dikoreksi. Apakah semacam itu salah? 

    Terkait legacy yang baik oleh pemerintahan sebelumnya namun tidak dilanjutkan saat ini apa?

    Apa yang baik dan harus dilanjutkan oleh pemerintahan selanjutnya contohnya peninggalan Bang Yos (Gubernur Sutiyoso). Ada dari sisi waktu yang perlu diteruskan oleh gubernur seterusnya seperti penggantinya, Bang Yos, diganti Pak Foke, lalu dilanjutkan oleh Jokowi, kemudian dilanjutkan Pak Ahok. Dan apa yang harus dilanjutkan Anies, adalah membangun master plan. 

    Bang Yos sudah membangun master plan, lalu kenapa banjir Jakarta kerap kali terjadi? Karena pada waktu Hindia-Belanda master plan itu tidak diteruskan saat mereka hengkang dari republik ini. Master plannya sudah ada, seperti membangun sodetan, waduk-waduk, lalu bagaimana diselamatkan karena tanah mereka makin hari semakin miring atau turun. Hal itu butuh diantisipasi. Karena ini wajah ibu kota. Korsel saja bisa mengatasi. Mereka membangun.

    Bukan karena Romo Benny ada di BPIP. Apakah merasa seperti itu sekarang? 

    Iya enggaklah. Di situ ada Buya Syafi'i, Pak Tri Sutrisno, Said Aqil Sirodj, dulu ada Prof Mahfud MD, dulu ada Ma'ruf Amin dan sekarang wapres, ada Pak Andreas Wangu, Ada Pak Sudhamek dan Pak Wisnu Bawa Tenaya serta tokoh-tokoh lain. Seperti tokoh lintas agama di situ (BPIP) semua. Kemudian, apakah karena saya di BPIB lalu tidak boleh berbicara, enggak bisa. 

    Saya akan tetap menulis, dan saya akan memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara. Karena ini sebagai dealektika seperti dulu. Seringkali saya diundang dan bicara apa adanya. Tidak pernah menutup-nutupi. Sampai sekarang juga saya masih tetap menulis di media massa. Dan setiap hari ditanya wartawan lalu saya enggak boleh bicara. Kan repot. 

    Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pengkritik saat Anda dilebeli dengan Romo Politik?

    Politik itu apa? Kalau kita bicara politik sebagai warga negara adalah mengenai partisipasi menjaga kota agar kota ini menjadi baik. Politik itu bukan saja tentang merebut kekuasaan. Kalau politik praktis, orang masuk dalam parpol kemudian dia merebut kekuasaan. Menyalonkan diri jadi capres, caleg, atau calon DPD, itu baru politik. Kalau politik menyuarakan suara hati itu hak setiap orang. 

    Kesimpulannya Anda keberatan dipanggil Romo politik? 

    Tergantung definisi politiknya dulu. Karena politik itu untuk kebaikan umum. Politik itu dari kata polis. Bila kita bicara politik, adalah setiap warga negara dalam mengatur kotanya. Lalu kenapa enggak? Tapi Anda tahu sendiri mengenai pelabelan itu. Kalau dibahas hanya menghabiskan energi. Biarkan saja. Anggap hal itu sebagai pencarian dan ini alam demokrasi. Tapi demokrasi itu dimensinya adalah etis. Istilah Gus Dur, gitu aja kok repot.

    Pendukung Gubernur Anies mempersoalkan tentang pernyataan Anda mengenai saran agar Anies belajar dari Ahok untuk menangani banjir. Pendapat Anda bagaimana? 

    Iya, dia berarti tidak menonton channel youtube saya. Di Youtube saya tidak bicara spesifik soal banjir. Coba lihat channel youtube, saya tidak pernah membanding-bandingkan Ahok dengan Anies. Saya tidak mengeluarkan pernyataan agar belajar dari Ahok. Itu judul di sebuah media, sementara saya sendiri tidak bisa mengontrol semua media. Apalagi setiap media memiliki konstruksi sendiri-sendiri. Yang memberi judul itu memiliki tujuan agar medianya laku. 

    Kalau saya diminta pasti keberatan. Saya tidak pernah tahu judulnya, dan pasti bermacam-macam tanpa konfirmasi saya. Itu bagi saya hak media karena itu memotret. Tapi kalau membaca utuh arahnya tidak ke situ. Karena yang saya katakan adalah mengenai keadaban alam. Manusia janganlah serakah, tapi manusia mencintai alamnya, bagaimana manusia merawat bumi ini. Itulah pesannya. 

    Kalau kita bicara keadaban alam itulah buah gugus Einstein yang mempengaruhi cara bertindak dan relasi manusia. Supaya manusia itu mampu berdamai dengan alam. Jangan rusak alam ini. Maka jaga lingkungan, kebersihan, ekosistem, selokan harus dibersihkan jangan buang sampah sembarangan. Banjir terjadi kebanyakan akibat sampah. 

    Kembali ke soal banjir, Gubernur Anies mengklaim berhasil menangani banjir. Menurut Romo Benny Jakarta saat lebih tanggap menangani banjir?

    Kita harus memiliki master plan yang menyeluruh dan utuh. Bagaimana master plan utuh, sementara DKI ini punya kota-kota penyangga. Makanya saya katakan dalam channel youtube di zaman Hindia-Belanda kawasan puncak betul-betul dijaga. Maka kita harus mulai kembali mengembalikan ekosistem kota-kota penyangga. 

    Maka harus sinergi pemerintah pusat, Pemda dan daerah tetangga untuk membangun secara keseluruhan. Karena itu tanggung jawab keseluruhan secara utuh. Di sini pentingnya politic will bersama. Tidak sektoral lagi. Itu yang saya katakan master plannnya. 

    Artinya kita belum punya master plannya?

    Ya ada. Tapi politic will untuk menjalankan bersama, duduk bersama, musyawarah bersama untuk sepakat. Makanya itu perlu. Sekarang tidak usah saling menyalahkan. Ayo sekarang mengantisipasi bagaimana caranya sekarang supaya Jakarta tidak lagi banjir lagi. Karena gubernur itu bisa berganti kapanpun. 

    Yang penting saat ini adalah master plannya?

    Iya, yang penting master plannya bersama kepala daerah, pemerintah pusat dan kota penyangganya. Ayo kita kerjakan. Jadi waduk-waduk yang dikerjakan diteruskan. Sodetan diteruskan, bangun drainase, sistem pengairan dibangun, dan reboisasi daerah penyangga harus dilakukan juga. Ini menyangkut prilaku manusianya. Kalau prilaku manusianya masih buang sampah sembarangan, tidak disiplin, selokan ditimbunin sampah, kemudian pengerukan tidak jalan, lalu pembangunan menyimpang dari tata perencanaan kotanya, dan itu terjadi. Itu yg harus ditertibkan. Sebenarnya jangan bicara secara sektoral. Bicaralah secara utuh dan menyeluruh, bagaimana keadaban alam itu menjadi habitus bangsa ini. 

    Apakah dari tahun ke tahun Pemprov DKI melakukan hal itu?

    Ya menurut saya gubernur-gubernur sebelumnya melakukan hal itu dan sampe sekarang. Tapi yang sekarang harus lebih dipercepat dan dioptimalisasi. Karena apa? Karena kita menghadapi sebuah era dalam situasi ini adalah cuaca ekstrem ini. Mari kita belajar dari Korsel. Korsel mampu melakukan itu karena membuat sistem drainase dalam bawah tanah. Sehingga kota di Korsel relatif bebas dari banjir. 

    Ini sebuah upaya, untuk melakukan itu manusia butuh berikhtiar. Karena Tuhan memberikan kemampuan akal budi. Apa yang tidak bisa dilakukan dengan teknologi, semua bisa direkayasa. Termasuk cuaca bisa ditekayasa. Maka disitulah pentingnya antisipasi. 
     



    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id