Airlangga: Jangan Bikin Kebijakan Overdosis

    Indra Maulana - 17 September 2020 06:57 WIB
    Airlangga: Jangan Bikin Kebijakan Overdosis
    Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI sekaligus Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartarto. Foto: Antara
    Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI sekaligus Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto meminta agar pelaksanaan PSBB Jilid II di DKI Jakarta yang mulai berlaku 14 September tidak dilakukan secara overdosis atau berlebihan. Sebab, yang dibutuhkan Jakarta adalah pengendalian pandemi secara mikro, bukan pukul rata. Apalagi Jakarta bukan hanya sebuah provinsi, namun juga pusat nadi perekonomian nasional, sehingga kebijakan di Jakarta sangat mempengaruhi perekonomian Indonesia.
     
    “Harapan kami tidak membuat kejutan-kejutan, melahirkan ketidakpastian dan kepanikan. Kepala Daerah perlu rutin menyamakan data dengan pemegang otoritas” kata Airlangga Hartarto dalam dialog virtual Crosscheck by Medcom.id, Minggu 13 September. Dalam dialog ini Airlangga juga membantah data tentang collapse-nya fasilitas kesehatan untuk penangan Covid 19.
     
    Tidak tinggal diam atas rumor yang berkembang, Airlangga menyatakan dirinya langsung meyakinkan para pelaku ekonomi dan pelaku pasar, bahwa penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi tidak mengalami kendala, anggaran tersedia, fasilitas kesehatan terus dioptimalkan, dan upaya menahan laju resesi, terus diupayakan.
     
    “Saat ini situasi pasar sudah confident, sudah memiliki keyakinan kembali, rupiah dan indeks harga saham gabungan sudah membaik, sudah ada kepastian” tegas Airlangga. Berikut ini petikan lengkap wawancara Airlangga Hartarto dengan Head of News Medcom.id Indra Maulana dalam Crosscheck “Anies Rem Darurat, Ekonomi Tercekat?” awal pekan ini.
     
    Pekan lalu, Bapak sampaikan, IHSG dan Rupiah jatuh akibat pengumuman mendadak Gubernur Anies Baswedan bahwa Jakarta akan menarik “rem darurat” berupa pemberlakuan PSBB Jilid II. Sejauh mana pandangan Bapak atas situasi ini?
     
    Ingat, PSBB tidak pernah dicabut. Artinya kita perlu komuniaksi publik yang tidak menimbulkan gejolak. Baik itu di masyarakat, maupun bagi perekonomian yang sangat rentan terhadap sentimen negatif. Itu sangat tecermin dari pergerakan pasar modal, bisa menyebabkan capital outflow. Juga terkait stabilisasi mata uang rupiah. Dua hal sangat penting dalam perekonomian, yaitu fundamental dan sentimental. Sentimental ini bisa karena ketidapkastian dan kepanikan.
     
    Harapan kami, tidak membuat kejutan-kejutan (terhadap) yang sudah dilakukan. sehingga konteksnya itu saja. Hari ini sudah kembali ke jalur hijau. Kita sebut ini hari Jumat (lalu) ya. Konteksnya hari ini market merespon, ada kepastian, ada kejelasan, pemerintah menyatakan pelayanan kesehatan nomor satu dan kapasitas rumah sakit seluruhnya aman dan tersedia. Market kembali confident.
     
    Situasi ekonomi yang stabil, itu yang harus dijaga ya?
     
    Betul, itu yang kita jaga. Jangan dikatakan sistem kesehatan tak mampu. Anggaran siap pakai. Ada 67 rumah sakit di Jakarta siap. Sudah disiapkan beberapa tower di Wisma Atlet untuk meningkatkan kapasitas. Dan juga monitoring jumlah orang terpapar. Tingkat kesembuhan di Indonesia cukup baik, 78 persen, fatality rate 4,4 persen. DKI Jakarta lebih baik lagi. 

    Dengan penanganan yang ada, kita mendorong agar juga kita jaga kedisiplinan masyarakat. Tiga M, memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan, serta mencuci tangan. Kita akan melakukan operasi yustisi. Akan lebih ketat. Pemerintah pusat, Polri dan TNI AD siap mendisiplinkan masyarakat.
     
    Jika data cukup baik, berarti kesan berbeda disampaikan oleh Pak Anies, bahwa kasus positif tinggi tidak sebanding dengan kondisi rumah sakit. Yang didengar masyarakat, ini ketidakpastian, ini bisa merugikan perekonomian. Tanggapan Bapak?
     
    Rumah sakit sebanyak 67 itu sebagian besar milik pemerintah. Jadi yang tahu ya pemerintah. Yang dimiliki nonpemerintah, swasta, sebagian sudah punya fasilitas mumpuni.  Data ini ada di otoritas kesehatan.
     
    Jakarta itu kan ditunjang oleh (kebijakan) nasional. Jakarta tidak stand alone (berdiri sendiri). Ditunjang oleh mekanisme support nasional.  Termasuk juga untuk jaring pengaman sosial dan bantuan social Jabodetabek. Karena pemerintah punya data itu semua. Pemerintah melihat dengan data-data scientific. Kita bicara Ccovid19 itu harus scientific.
     
    Apakah berarti langkah Pak Anies menimbulkan kegaduhan?
     
    Kalau dari pemerintah kita hanya ingin menjaga data-data yang ada. Proses dari kesembuhan meningkat. Kita sudah sampaikan, vaksin sudah disiapkan oleh pemerintah. Minimal 10-30 juta bisa tersedia akhir tahun 2020 ini dari Sinovac. Tahap III uji klinis vaksin juga tidak ada.  Tahun depan imunisasi massal terbatas sedang dipersiapkan.
     
    Bagaimana tingkat kesembuhan saat ini Pak?
     
    Covid-19 di Indonesia ini tingkat kesembuhan 71,5 persen, dunia 71,2 persen. Fatality rate Indonesia 4,1 persen, unia 3,26 persen. Kita tes 2,4 juta specimen, Jepang cuman 1,9 juta tes. Tes kita sudah sudah cukup masif. Yang di PCR sudah pasti di rapid test. Di negara lain tak ada rapid test. Jepang itu hanya rapid tes saja. Di Indonesia beda dengan negara lain.
     
    Indonesia lebih detail ya?
     
    Iya, lebih detail. Semakin banyak pengetesan semakin banyak yang terlacak
     
    Apakah ini artinya, seharusnya Jakarta tidak perlu mendorong PSBB Jilid II?
     
    Kalau kita lihat data, basis Jakarta ini tingkat kesembuhan lebih tinggi dari angka nasional. 71,5 persen Jakarta 75,2 persen. Kalau nasional fatality rate diata 4 persen, Jakarta 2,7 persen. Jadi artinya fatality rate Jakarta lebih baik dari angka nasional. Tentu pemerikasaan juga tinggi. Makanya yang diperlukan Jakarta adalah manajemen mikro. Pengelolaan mikro. 
     
    Per 31 Agustus, Persiden Jokowi sudah memanggil Gubernur Dki Jakarta, menanyakan kenaikan harian. Ada kenaikan kasus akibat di angkutan umum.  Kenapa di angkutan umum, karena ada ganjil genap. Pembatasan kendaraan pribadi. Diminta agar dievaluasi. Kemudian ada kebijakan membuka tempat hiburan. Sehinga itu yang dimaksud manajemen mikro.
     
    Satu-satu kita lihat. Apakah ganjil genap masih tepat. Apakah tempat hiburan perlu ditutup. Sumber-sumber kerumunan, apakah tempat olah raga kita terlau longgar, car free day terlalu padat. Secara mikro. Itu yang dilakukan di Jawa Barat. Di Jawa Tengah juga tidak ada PSBB. Tentu kita melihat manajemen mikro itu penting. Tahu sumbernya, kenapanya. Tidak mengambil langkah-langkah yang katakanlah overdosis.
     
    Dampak PSBB Jilid II Jakarta ke perekonomian seperti apa?
     
    Dampaknya, Jakarta itu bukan hanya kota, Jakarta itu bukan hanya mencerminkan 20 persen ekonomi Indonesia. Tapi juga pusat syaraf perekonomian nasional. Apapun yang diambil merfeleksikan kebijakan nasional. Seperti (pengumuman rem darurat) kemarin, mempunya dampak pada pasar uang, pasar modal.
     
    Hari ini pasar bereaksi positif, sudah ada koordinasi daerah dengan agenda nasional. Hari ini seluruh pasar di Asia menunggu pengumuman The Fed. Rata-rata turun. Hanya Indonesia yang naik. Karena dosisnya dihitung kembali
     
    Apakah reaksi positif pasar ini memahami PSBB Jilid II, ataukah sudah sudah faham koordinasi pusat dan daerah?
     
    Kemarin itu kan klarifikasinya jelas. Bahwa sistem kesehatan kita tidak collapse. Concern kita masih baik. Masih in place. Perhatian utama tetap di kesehatan.
     
    Apakah PSBB JIlid II Jakarta sebagai Ibu Kota juga menutup aktivitas utama ekonomi?
     
    Ada aturannya. Kantor pemerintah melayani publik tetap buka. Ada swasta yang tetap buka. Proyek strategi nasional tetap jalan. Aktifitas di kantor saya utamakan flexible working hours, mengurangi jumlah karyawan hadir di kantor.
     
    Itu masukan ke Pak Anies?
     
    Ini PSBB masih tetap berlaku, yang ada pengetatan. Yang paling penting peningkatan kedisiplinan.
     
    Mohon klarifikasi Pak, apakah PSBB Jilid II atau rem darurat ini merisaukan sebab kita khawatir agenda utama pemulihan ekonomi akan terganggu. Kita mengutamakan ekonomi?
     
    Tidak tepat. Fasilitas fasilitas kesehatan kan mencukupi. Itu pasti. Fasilitas kesehatan tersedia. Rasio tempat tidur disiapkan. Pemerintah siapkan isolasi mandiri di hotel  berbintang. Dilakukan juga diluar Jakarta. Di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah.
     
    Yang seperti ini harus dioptimalkan. Ketersediaan obat. Isolasi mandiri efektif ketersediaan obat terjaga. Lalu vaksinasi. INi semua dipercepat. Ini bedanya (situasi sekarang) dengan (situasi awal pandemi) Maret. Kalau sekarang sudah ada lebih ada gambaran kepastian.
     
    Ini sudah menjaid faktor penting di pasar. Sudah mulai ada kepercayaan pasar dan publik. Purchasing Managemenr Index itu kan tergantung kepercayaan. Kuncinya kepastian. Yang kita hindari surprises. Yang menimbukan kejutan. Yang disetrika itu saja.
     
    Jangan sampai pejabat publik mebuat kejutan, apalagi data masih perlu dibahas ya?
     
    Ini kesamaan data sangat penting. 
     
    Sisa September ini adalah bulan terakhir kuartal II, kita sedang berjuang melawan resesi. Sampai dengan hari ini seperti apa update-nya?
     
    Kalau kita lihat yang penting tren. Bottom-nya dimana. Kalau kita lihat, ada light at the end of tunnel. Kalau tidak ada, maka uncertainty bisa tingggi. Yang kita lihat di kuartal II sudah dekat bottom line, near bottom. Berdasarkan tren yang ada, berbagai indeks yang ada, PMI, consumer index, recovery di capital market, dari 1 April sampai sekarang, semuanya tren positif. Artinya, manufaktur naik 30 persen, capital market juga. Capital market itu kan proxy ekonomi. Sudah naik semua.
     
    Dari situ kita melihat proyeksinya, sampai akhir tahun bisa tumbuh minus 1 sampai  0,25 persen. Kuartal III bisa tumbuh minus 3 sampai minus 1 persen. Tren sudah seperti check list V shape. Yang kita hindari V menjadi W. Turun lagi. Kita jaga jangan sampai itu yang terjadi. Makanya pemerintah melakukan langkah-langkah bersama, gas dan rem.
     
    Apakah situasi perbaikan ekonomi dipahami semua kepala daerah?
     
    Intensitas rapat dengan kepala daerah akan kita tingkatkan, minimal 2 minggu sekali update data lebih terstruktur.
     
    Melihat situasi saat ini, ada PSBB Jilid II, apakah bisa kita bilang hampir pasti Indonesia akan resesi?
     
    Masalah resesi tidak resesi, you are not alone. Ada 215 negara mengalami resesi. Kita lihat apakah negara itu sudah menemukan bottom. Negara lain negatif ke negatif yang lebih besar. India minus 20 persen. Singapura minus 12 persen. Kita lihat minus 5 persen, sudah bottom atau bukan. Kalau dia bottom, ke minus 2 atau minus 1 itu berasa dalam tren yang baik. Kita push lagi dengan investasi dan belanja. Agar jangan keluar dari jalur netral.
     
    Bagaimana Kuartal IV 2020 Pak, apakah akan semakin membaik?
     
    Kuartal IV minus 1 sampai tumbuh 0,2 persen. Kita berharap ini bisa didorong oleh pemeirntah. Sehingga dengan tren minus 1, berarti tren posistif keatas makin tinggi. Tahun 2021, beberapa lembaga dunia memprediksi bagus, positif. IMF memprediksi tahun 2020 ini Indonesia tumbuh minus 3, tahun 2021 tumbuh 6,1 persen.
     
    Bank Dunia, memprediksi 2020 ini Indonesia tumbuh 0 persen, tahun 2021 tumbuh 4,8 persen. Asian Developmnet Bank memprediksi tahun 2020 ini Indonesia tumbuh minus 1 peresen, tahun 2021tumbuh 5,3 persen. OECD memprediksi tahun 2020 ini Indonesia minus 3,9 sampai minus 2,8 persen, dan tahun 2021 tumbuh  2,6 sampai 5,2 persen. Semua memprediksi minus 1 sampai minus 2 persen untuk tahun 2020, dan ranges tahun 2021 adalah tum buh 4,5 smapai 5,5 persen.
     
    Orang melihat tren, dengan kebijakan ini, orang melihat di Indonesia ada V shape, yang membedakan Indonesia dengan negara lain. Hanya ada 3 negara yang diprediksi keluar dari resesi ini, yaitu China, sekarang sudah tumbuh positif. Kedua akan diikuti Indonesia. Semula India menyusul. Ternyata India dalam sekali. Tren baik di Indonesia ini yang harus kita jaga.
     
    Apa pelajaran yang bisa dipetik dari India?
     
    India itu lakukan lockdown. Sehingga tidak ada demand tidak ada supply. Mesin ekonomi off. Saat mesin off tidak ada kegiatan ekonomi, efeknnya pasti negatif.
     
    Indonesia, pembatasan. Itu 11 sektor tetap dibuka. Mesin standby. Dengan kapasitas rendah, tapi beralih normal, kita bisa segera masuk ke pasar. Masuk ke pasar yang cepat itu dibutuhakn recovery cepat. Ada beberapa sektor yang masih bisa resilliance, mampu bertahan. Pertanian, kelapa sawit kita bisa ekspor sekitar 20 miliar dolar sampai akhir tahun 2020. Semester I 2020 saja sudah 10 miliar dolar. Garmen, terjadi peningkatan order dari pasar global. Mereka kekurangan supply produk garmen. Minta quick delivery 4 sampai 5 minggu minta sudah terkirim. Utilisasi pabrik garmen kita sudah naik 70-80 persen.
     
    Itulah yang ingin kita dorong. Punya faktor pengungkit. Teramsuk di industr menengah juga ada peningkatan. Ada yang punya daya tahan start lebih cepat dibandingkan yang lain. Ada yang recovery lambat. Restoran itu kan buka tutup. Baru merumahkan karyawan. Baru akan re-hire, lalu mau disuruh merumahkan kembali. Kalau gak bisa dijual kan dirumahkan lagi. Kalau tidak ada ketidakpastian maka akan ada dua kali restructuring pemilik restoran itu.  Ini kan yang UMKM.  Ini jadi perhatian utama pemerintah.
     
    Bagaimana mitigasi UMKM dan ketenagakerjaan yang terdampak pademi di kuartal IV 2020 ini?
     
    Pertama, pemerintah sudah punya program baru, bantuan subsidi upah kepada 15,7 tenagakerja formal. Suport ini diharapkan membantu daya beli. Sudah dukur dengan pertemuan para pelaku retail. Sudah ada kenaikan penjualan berkat bantuan sosial ini.
     
    Ada bantuan UMKM untuk 12 juta UMKM, membantu mengembalikan modal untuk menutup kerugian. Pemeirntah juga memebri kredit subsidi rakyat,  6 bulan tak perlu bayar cicilan.
     
    Program ini diperpanjang sampai Desember 2020. Kami usulkan ke Presiden akan sampai tahun depan 2021.  Tadinya program sampai Desember 2020. Ini akan di-extend 6 bulan kedepan
    Jadi, Bantuan Subsidi Upah juga diperpanjang hingga 6 bulan kedepan ya Pak?
    Ya, Bantuan Subsidi Upah (diperpanjang). Sudah dibahas dalam rapat. Ini kabar baik. Akan finalisasi berapa jumlah penerima dan jumlah anggarannya. Tapi tetap, on top anggaran, adalah Kemenkes . Tetap concern ke kesehatan.

    Apakah perpanjangan bantuan sosial ini membuktikan efektivitas Bansos bagi pemulihkan ekonomi?

    Beberapa program yang dilakukan pemerintah pipanya jalan. Pipe-nya jalan. Kalau jalan, bisa kita alirkan airnya. Oh jalan baik. Nanti program bantuan subsidi upah berjalan baik, bansos lainnya berjalan baik, berikut kartu pra kerja, baik. Pipeline jalan, kita teruskan.
     
    Apakah semua jadi terganggu karena PSBB Jilid II di Jakarta Pak. Distribusi misalnya?
    Berdasarkan regulasi, distribusi tidak terganggu. Harus jalan terus. Essential tetap jalan dengan protokol yang sangat ketat

    Bagaimana dengan sejumlah negara yang menutup diri dari Indonesia, apakah mempengaruhi perekonomian kita?

    Berapa negara essential ravel yang dibuka. Sana buka, kita buka. Sana tutup, kita tutup. Kalau essential ravel, tugas pemerntah, tetap jalan.[]

    Dikutip oleh Produser Crosscheck, Win Muhammad Adab

    (UWA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id