Wawancara Khusus KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

    Aa Gym Ajarkan Ilmu Lebah di Tengah Wabah

    Misbahol Munir - 12 Juni 2020 14:17 WIB
    Aa Gym Ajarkan Ilmu Lebah di Tengah Wabah
    K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Foto: Dok/Istimewa
    Jakarta: Ada banyak hikmah di balik wabah pandemi virus korona (covid-19) yang menyerang ratusan negara di dunia, termasuk Indonesia. Dalam skala kecil seperti keluarga, wabah menjadikan suasana di rumah semakin erat dan intim. Banyak pula kesempatan untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memperbaiki diri.

    Demikian dikatakan KH Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym saat berbincang dengan Direktur Pemberitaan Medcom.id Abdul Kohar dalam program Newsmaker baru-baru ini.

    Meski demikian, kata Aa Gym, tidak semua orang bisa mengambil hikmah tersebut. Hanya orang-orang yang beriman yang mampu menyerap hikmah itu.

    “Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, semua urusannya baik. Wabah ini baik-baik saja kalau kita menyikapinya dengan tepat dan benar,” kata dia.

    Aa Gym mengibaratkan orang beriman layaknya lebah (tawon). Di mana pun berada, lebah tetap menghasilkan madu.

    “Lebah meski di tempat sampah hanya bunga yang dicari dan hasilnya juga berbeda. Sementara lalat menghasilkan panyakit, lebah menghasilkan madu. Orang beriman yang dilihat adalah hikmah, kebaikan, dan manfaat serta menyikapi dengan tepat,” kata dia

    Selain itu, Aa Gym juga menyikapi silang pendapat tentang wacana penyelenggaraan salat Jumat dua gelombang. Termasuk polemik pemberlakuan tatanan kelaziman baru (new normal) serta pembatalan pemberangkatan Ibadah Haji 2020.

    Berikut wawancara lengkap Medcom.id bersama KH Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym:

    Memasuki era kelaziman baru, masjid-masjid dibuka untuk salat Jumat. Namun, sebagian umat risau dan belum bisa menerima keadaan itu. Pandangan Aa Gym seperti apa?

    Sesungguhnya seseorang itu berpindah sesuai pemahamannya. Jadi, kalau ada perbedaan pendapat biasanya input-nya yang belum disamakan. Ini PR (pekerjaan rumah) bagi kita semua. Bahwa tidak semua orang mendapat input yang benar, akurat, dan lengkap. Sehingga menyikapi perbedaan ini kita harus dengan semangat untuk semakin memberikan masukan. Orang yang paham akan bertindak sesuai dengan yang dipahaminya.

    Pro-kontra timbul karena ada aturan saf tidak boleh rapat, sementara ada tuntunan harus rapat. Kapasitas masjid atau tempat ibadah hanya 45 persen. Bahkan Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengusulkan salat Jumat dua gelombang. Namun, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) melarang. Bagaimana menurut Aa?

    Menghadapi perbedaan pendapat, apalagi dalam hal ini (di masa pandemi), sebetulnya hal itu sangat lumrah. Kunci utama dari perbedaan pendapat adalah segera belajar mengapa ada pendapat-pendapat yang berbeda. Mengapa ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak.

    Semangatnya ada perbedaan pendapat itu adalah belajar. Nanti kita bisa tahu, ini kenapa tidak mengizinkan direnggangkan, oh ini pegangannya (alasannya). Lalu kenapa ini mengizinkan, ini pegangannya. Karena sudah tahu dalilnya, tinggal memilih apa yang kita yakini dan hormati dan apa yang jadi pilihan orang lain.

    Semangatnya ada perbedaan pendapat itu adalah belajar.

    Kondisi darurat ini tidak semudah kita berpikir dan bertindak tanpa keilmuan yang memadai. Jadi, tidak ada masalah dengan perbedaan pendapat. Yang bermasalah itu tidak dengan ilmu memadai lalu sibuk menyalahkan orang lain.

    Apa hikmah yang bisa dipetik umat Islam selama beberapa bulan kemarin. Mulai tidak bisa salat Jumat, lalu Ramadan dilalui dengan situasi pandemi covid-19. Bahkan juga Idulfitri yang biasa dilalui dengan gebyar, sangat berbeda dengan kebiasan-kebiasaan sebelumnya?

    Sebetulnya jawabannya tidak terlalu rumit bila kita mengacu pada sabda Rasulullah SAW.

    ajaban li amril mukmin. Inna amrohu kullahu lahu khoir. Laysa dzalika li ahadin illa lilmukmin. In ashobathu sarro-u syakaro fakanat khoiron lahu. In ashobathu dhorro-u shobaro fakanat khoiron lahu

    “Menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya setiap perkara baginya adalah baik. Tidaklah hal itu dirasakan oleh seseorang kecuali ia mukmin. Jika diberi kenikmatan ia bersyukur, itu adalah hal baik baginya. Jika diberi kesulitan ia bersabar, itu adalah hal baik baginya” (HR. Muslim).

    Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, semua urusannya baik. Sebetulnya wabah ini baik-baik saja kalau kita menyikapinya dengan tepat dan benar. Seperti lalat dan lebah. Lebah meski di tempat sampah hanya bunga yang dicari dan hasilnya juga berbeda. Sementara lalat menghasilkan panyakit, lebah menghasilkan madu. Orang beriman yang dilihat adalah hikmah, kebaikan, dan manfaat serta menyikapi dengan tepat.

    Lebah meski di tempat sampah hanya bunga yang dicari dan hasilnya juga berbeda.

    Salah satu hikmah dengan adanya wabah ini kita jadi tahu bahwa Islam sudah sangat siap dengan aturan ibadah di kala wabah. Pada hari-hari biasa kita tidak tahu tentang bagaimana salat di rumah, bagaimana Jumatan lalu diganti salat Zuhur, dan bagaimana tata cara salat Tarawih di rumah.

    Dengan adanya wabah ini kita jadi tahu, dalam situasi begini ada hukum-hukum atau aturan-aturan yang menjadi solusi. Kalau di daerah kita adalah zona merah lalu MUI mengeluarkan fatwanya. Pemerintah juga menunjukkan daerah ini zona merah, kita salat di rumah tidak ada ruginya.

    Niat ke masjid sudah jadi pahala. Kita biasa ke masjid lalu salat di rumah tetap dicatat pahala ke masjid walaupun di rumah. Kita mematuhi seruan MUI dapat pahala, mematuhi seruan ulil amri (pemimpin) kita mendapat pahala, menjauhi kemudaratan (keburukan) itu pun berpahala. Jadi, luar biasa pahalanya.

    Kalau bertindaknya sesuai. Kita tidak boleh emosional. Tidak boleh karena hanya keinginan semata. Ingin itu bagus tapi ada ilmunya. Kita bisa berkumpul di rumah dan bisa belajar dari rumah. Banyak sekali kebaikan akibat wabah ini kalau disikapi dengan niat dan cara yang baik. Banyak sekali hikmahnya kita di rumah selama pandemi ini. Lebih dekat dengan keluarga, bisa mengevaluasi kepemimpinan kita dan kemampuan kita. Ini luar biasa. Bagi orang beriman kejadian apa pun banyak hikmahnya.

    Apakah juga termasuk umat Islam Indonesia yang batal berangkat haji tahun ini?

    Iya, niat saja sudah sampai pahalanya. Ikhtiar sudah dicatat pahalanya. Rida menerima takdir tidak bisa berangkat haji itu pun pahala yang besar. Rida kepada takdir itu luar biasa. Sebagaimana hadis Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barang siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani)

    ‘Barang siapa rida kepada takdir Allah, Allah rida kepadanya.’ Bisa jadi orang yang tidak berangkat ini lebih hebat pahalanya daripada yang berangkat. Yang tidak berangkat mendapat ujian, kan biasa orang yang dapat ujian itu adalah yang mendapat poin.

    kan biasa orang yang dapat ujian itu adalah yang mendapat poin.

    Artinya menyikapi hal ini harus berprasangka baik terhadap siapa pun. Bersabar menerima takdir ini serta berikhtiar terus untuk memperbaiki diri dan bersyukur?

    Bersyukur karena banyak hikmahnya. Punya banyak kesempatan untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memperbaiki diri. Ini kesempatan luar biasa. Sebenarnya antara musibah dan karunia itu tidak sebanding. Lebih banyak karunia dibanding musibah. Seperti orang hilang dompet. Coba tanya kalau orang hilang dompet, apakah sabar atau bersyukur?

    Harusnya bersabar?

    Nah, sabar itu kalau ingat dompetnya yang hilang. Tapi kalau ingat yang lain, celana, baju dan sebagainya tidak hilang seharusnya bersyukur. Untung yang hilang cuma dompetnya saja. Coba kalau orangnya yang diculik, dia yang hilang, kan lebih celaka.

    Contoh lagi, kalau dihina sabar atau bersyukur? Mayoritas orang menjawab bersabar. Padahal, seharusnya lebih besar bersyukurnya. Karena penghinaan orang kepada kita lebih sedikit dibanding kehinaan kita yang tidak banyak diketahui orang lain. Paling orang bilang begini, Hai! Kau banyak omong. Paling cuma disebut begitu.

    Penghinaan orang kepada kita lebih sedikit dibanding kehinaan kita yang tidak banyak diketahui orang lain.

    Dia tidak tahu kita banyak dosa, cicilan, utang, koreng, ketombe, dan lain-lain. Lebih banyak keburukan kita yang tidak diketahui orang. Penghinaan orang itu cetek (kecil) sekali dibanding kehinaan kita yang asli.

    Kalau dihina atau tertimpa musibah orang menyarankan kita agar banyak bersabar. Justru ada logika baru yang perlu dikembangkan, bukan bersabar melainkan bersyukur?

    Iya, karena di balik banyak penghinaan itu, misalnya ada orang yang marah sama kita, menghina di depan orang. Kita harus bersyukur, bukan kita jadi dia. Kita bersyukur dapat pelajaran, betapa orang bersikap buruk itu sangat menyakitkan sehingga kita tidak melakukan hal yang sama. Kita harus bersyukur ada sarana evaluasi, jangan-jangan saya dimarahi orang karena saya suka memarahi orang seperti itu. Inilah rasanya dan malunya dimarahi.

    Kita harus bersyukur karena ada sarana latihan sabar, latihan memaafkan, latihan membalas keburukan orang dengan kebaikan. Oh, jadi begitu. Tapi bagi orang tidak beriman tidak begitu, maunya berantem saja.

    Aa Gym Ajarkan Ilmu Lebah di Tengah Wabah
    K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Foto: MI/Adam Dwi

    Beberapa kali kita berada dalam situasi politik pembelahan termasuk yang menimpa kalangan umat Islam. Residunya atau efeknya masih dirasakan dalam situasi apa pun. Bahkan beberapa kalangan melihat saat pandemi ini ada yang berusaha menghidup-hidupkan kembali hal semacam itu. Seperti menyebarkan informasi yang salah dan gambar yang sinis. Bagaimana menata umat dalam konteks ini agar selalu bersyukur dan bersabar?

    Kalau umat sudah paham bahwa yang menakdirkan pangkat dan jabatan itu adalah Allah. Kita cuma punya tiga, yaitu niat, satu dicatat. Dua, ikhtiar dengan cara yang benar, dicatat. Ketiga, pasrah dengan tawakal kepada Allah. Sudah selesai sampai di situ.

    Kemarin waktu pemilu, pasang niat siapa pilihan yang saya yakini dan akan saya pilih. Sudah! Lalu kita ikhtiar dengan cara yang benar sudah, kemudian selebihnya pasrahkan ke Allah. Karena yang menentukan takdir itu semuanya adalah Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Imran, ayat 26.

    qulillahumma malikal-mulki tu`til-mulka man tasya`u wa tanzi'ul-mulka mim man tasya`u wa tu'izzu man tasya`u wa tuzillu man tasya`, biyadikal-khair, innaka 'ala kulli syai`ing qadir

    Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Imran: 26).

    Jadi yang menentukan siapa jadi presiden dan apa pun itu, hakikatnya Allah semua. Tapi, takdir punya jabatan tidak serta merta diberi kemuliaan, siapa pun, dan jabatan apa pun. Kalau dia menggunakan jabatannya dengan benar, niat benar sehingga bermanfaat barulah dipasangkan takdir kemuliaan. Tapi, kalau seseorang ditakdirkan memiliki jabatan, niatnya salah dan caranya salah nanti ditempelkanlah kehinaan.

    Jadi, tugas kita sudah selesai. Niat sudah, ikhtiar sudah, dan pasrahkan ke Allah. Ya, sudah selesai. Tinggal kita berkarya. Ini hanya episode dari rangkaian kehidupan. Pak Prabowo Subianto (kompetitor Joko Widodo) saja sudah jadi menterinya (Joko Widodo), ngapain kita berantem? Buang-buang tenaga dan waktu saja.

    Pak Prabowo Subianto (kompetitor Joko Widodo) saja sudah jadi menterinya (Joko Widodo), ngapain kita berantem? Buang-buang tenaga dan waktu saja.

    Ini yang jadi masalah bukan perbedaannya, tapi sikap yang kurang bijaksana dan emosional. Padahal, perbedaan itu sunnatullah. Kita hadir karena ibu bapak berbeda. Manusia itu ada karena perbedaan Adam dan Hawa bukan Adam dan Asep.

    Kita menyaksikan banyak yang susah menerima perbedaan meskipun sebuah keniscayaan. Termasuk perbedaan ketika sebelum pandemi dan sekarang dalam masa transisi menuju pasca-pandemi. Apa yang Aa Gym perlu tekankan kepada umat Islam dalam konteks mengelola perbedaan ini?

    Kalau ada masalah, kita di pesantren mengambil rumusnya adalah dengan tiga semangat. Pertama, semangat yang kita tanamkan adalah semangat bersaudara. Kita ini tidak dengan musuh, tapi saudara. Ada saudara seakidah, sebangsa, dan dalam kemanusiaan. Kita ini beda-beda tapi tetap dalam ikatan persaudaraan. Berbeda naluri bersaudara dengan naluri bermusuh. Jadi, walaupun berbeda-beda, kita tetap bersaudara.

    Kedua, semangat solusi. Pertanyaannya kita ngobrol-ngobrol gini ini jadi solusi atau menambah masalah. Kita berbuat sesuatu itu apakah saya jadi bagian solusi atau bagian dari masalah? Kita hadir, ini penting sekali apakah kita mengobarkan diri sebagai bagian dari solusi atau masalah? Karena ada orang yang mempermasalahkan masalah sehingga jadi masalah baru. Yang selalu saya pikirkan adalah bagian dari solusi.

    Dan ketiga, kalau kita menghadapi konflik, harus menanamkan semangat sukses bersama. Jadi, jangan sampai seperti belah bambu, yang satu menginjak, dan sebelahnya mengangkat. Kalau bisa semua harus merasa bahagia dan sukses. Walaupun mustahil semua akan sukses dan merasa memiliki kesenangan yang sama.

    Kalau kita menghadapi konflik, harus menanamkan semangat sukses bersama. Jadi, jangan sampai seperti belah bambu, yang satu menginjak, dan sebelahnya mengangkat.

    Tapi, janganlah kita merasa sukses dengan menginjak yang lain. Sekuat tenaga harus berjuang sukses bersama, jangan mempermalukan. Dalam perbedaan pendapat juga kita cari titik yang membuat orang tidak merasa paling salah dan paling benar. Tapi, bijaksanalah.

    Aa Gym dikenal banyak pihak dan selalu berada di tengah dan menyejukkan. Siapa yang Anda teladani sehingga dalam situasi apa pun kelihatan tenang?

    Jelas, saya meniru Rasulullah SAW. Saya belajar terus bagaimana Rasulullah bersikap. Tidak bisa dimungkiri pula melihat sosok guru saya, bagaimana bersikap. Guru ini mantep, ajek, kalau dalam Islam itu ada empat sifat. Yaitu hayyin, layyin, qorib, dan sahal. Hayyin adalah orang yang mantep, ajek. Teduh dan meneduhkan. Tenang dan menenangkan. Karena beliau sangat bisa mengendalikan emosinya, perasaannya, dan pikirannya.

    Kedua layyin, yaitu orang yang sangat sopan, santun, dan sangat penyayang kepada yang lain. Sehingga, tidak ada arogansi, kata-kata kasar dan kotor. Karena memang inilah yang disebutkan "biman tuharromu alaihin nar" empat orang yang haram disentuh api neraka. Satu hayyin, orang yang tenang, teduh dan meneduhkan, tidak grasa grusu, tidak labil dan emosional. Kedua layyin, sangat sopan dan santun, buah dari kasih sayang.

    Ketiga qorib, artinya orang itu dekat dengan siapa pun karena kerendahan hati. Jadi, orang yang diharamkan disentuh api neraka itu, akrab, hangat dengan siapa pun karena kerendahan hati dan tidak merasa lebih tinggi dari yang lain.

    Dan keempat sahal. Yaitu orang yang senang membuat urusan menjadi proporsional, memudahkan urusan. Tidak memperumit, mendramatisasi, tidak membuat ribet dan lebih kacau. Justru membuat masalah terurai lebih simpel dan lebih sederhana serta solutif. Inilah yang dicontohkan Rasulullah dan saya lihat pada sosok guru saya itu.

    Beberapa guru atau sosok tertentu saja?

    Ada beberapa guru.

    Kalau boleh menyebut nama. Siapa saja guru-guru tersebut?

    Guru saya tidak suka kalau namanya disebut. Salah satu kehebatan guru saya mengatakan tidak ada perlunya orang mengenal saya, yang penting Aa dapat manfaat karena bisa menjadi lebih baik. Guru saya mengajari saya 14 tahun. Saya kirim pulsa Rp50 ribu saja tidak mau. Padahal, beliau hari-harinya terus memikirkan, mendoakan, dan mendidik saya tanpa kenal lelah. Luar biasa.

    Guru Anda masih sehat?

    Embahnya sudah wafat, tinggal satu lagi. Dengan satu syarat tidak perlu disebutkan nama saya. Untuk apa? Tidak ada perlunya orang lain tahu, yang penting Aa bisa mendapat hikmah dan berubah.

    Butuh berapa lama bagi Aa Gym, terutama bisa menjadi atau menghadapi situasi seperti ini dengan tenang dan dengan empat sikap tadi?

    Masih terus belajar, ini saja belum seperti teori tadi. Saya baru punya target saja dan berusaha. Ini latihan terus menerus, selamanya sampai meninggal.

    Tapi dalam situasi ketika umat ricuh dll, banyak kalangan menilai Anda bisa masuk ke semua lini. Ini tanpa bicara preferensi. Di satu sisi ada kalangan susah menerima seperti ini?

    Saya tidak berpikir diri ini penting. Tidak kepikiran itu sama sekali. Atau diri ini bisa jadi solusi tidak kepikir. Atau harus terkenal, tidak ada kepikiran itu. Cuma saya ingin berbuat sesuatu kecil-kecilan, tapi entah mengapa tiba-tiba jadi viral dan sebagainya. Itu di luar sebuah strategi, atau ingin jadi sebuah penengah bangsa, itu enggak sama sekali. Sederhana saja.

    Pokoknya hidup saya sekali dan sebentar ingin ada manfaat dengan 3M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai saat ini. Sederhana saja begitu. Tapi posisi ini kata orang jadi begini, begitu. Itu bukan rencana dan keinginan. Rencana saya PDLT, yaitu perbaiki diri dan lakukan yang terbaik. Lillahitaala. Sederhana saja gitu. Tiap waktu perbaiki diri lakukan terbaik. Gitu saja enggak ada kesibukan yang lain.

    Sekarang kita diminta atau beradaptasi dengan kelaziman baru (new normal). Apa yang pertama kali harus ditata dalam menghadapi kelaziman baru ini?

    Bagi Aa, new normal ini satu adalah zaman sekarang harus diawali yakin kepada Allah. Karena dengan wabah ini Allah sudah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaannya. Mana negara yang bisa melawan kekuasaan Allah? Negara terhebat saja babak belur. Dengan teknologi, kepintaran, kekayaan, dan kecanggihan enggak ada apa-apanya. Semua sekarang ini rontok.

    Jadi, kalau tidak berhasil mengenal Allah dengan adanya wabah ini, berarti dia gagal menyikapi wabah ini dengan baik. Karena tujuan utama dari wabah ini mengenal kekuasaan Allah. Kalau hanya mengenal virus saja sampai sekarang enggak bisa terkendali begini kan. Dengan segala kepintaran, logikanya seharusnya bisa. Ya Allah, kami sekarang semakin yakin kepadamu.

    New normal itu adalah normal dengan keyakinan, ini awal. Dari sinilah lahirnya syukur, sabar, ikhlas, rida dan semua akhlak baik. Ketenangan itu lahir dari keyakinan. Kedua, dengan new normal ini, jadi sadar bahwa kita adalah makhluk yang lemah, bodoh, dan terbukti sampai sekarang ini. Semua profesor terpintar untuk menemukan vaksin memerlukan waktu setahun hingga dua tahun.

    Bahkan tadi saat dialog dengan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), perilaku virus ini belum terlacak dengan baik. Bagaimana dia (virus) begitu pintar mengecoh dan beradaptasi. Harusnya kita mulai mengakui bahwa era new normal itu era kerendahan hati, merunduk, lebih tawadu, tidak ada arogansi, tidak ada petantang petenteng. Ini new normal yang bagus. Menjadi kehidupan yang lebih humble.

    Harusnya kita mulai mengakui bahwa era new normal itu era kerendahan hati, merunduk, lebih tawadu, tidak ada arogansi, tidak ada petantang petenteng.

    Ketiga, dalam new normal itu seharusnya sadar bahwa kita tidak bisa berdiri sendiri. Harus dengan kebersamaan. Jadi, kita lebih menyukai kekompakan dan kerja sama. Karena memang tidak akan selesai. Pemerintah tanpa kepatuhan rakyat tidak bisa, rakyat tanpa aturan yang jelas, kredibel, juga susah. Ini zaman kekompakan. Seharusnya menyadari bahwa hanya dengan kerja sama kita bisa menyelesaikan wabah ini.

    Keempat, new normal ini adalah normal dengan kepedulian yang lebih lagi. Jadi, kita tidak bisa enak makan sendiri dan membiarkan kiri kanan kelaparan. Kalau tidak mereka jadi masalah juga suatu saat. Jadi, ini adalah era kepedulian. Para dokter berada di garis depan tidak ada APD (alat perlindungan diri), kita peduli dengan tetangga yang kelaparan. Ini saling peduli. Ini akan membuat normal yang berkualitas.

    Terakhir era kedisiplinan. Tanpa disiplin tidak bisa. Disiplin ibadah, disiplin protokol kesehatan, disiplin berkarya dalam situasi yang sulit. Tanpa kedisiplinan enggak bisa. New era, era keyakinan, era kerendahan hati, era kekompakan, era kepedulian dan kedisiplinan.

    Ini rangkuman yang komprehensif bagi umat Islam. Saran di atas menjadi fondasi. Terakhir sobat Medcom.id berharap Aa Gym menyampaikan doa terbaik agar bisa melalui pandemi ini dengan baik dan selamat?

    Sahabat-sahabatku sekalian, pertemuan ini yang mengatur Allah. Tidak ada yang bisa terjadi kecuali izin Allah. Dah Allah SWT Maha Dekat.

    wa iza sa`alaka 'ibadi 'anni fa inni qarib, ujibu da'watad-da'i iza da'ani falyastajibu li walyu`minu bi la'allahum yarsyudun

    "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al Baqarah: 186)

    Sebagaimana pula dijelaskan dalam Surat Al Hadid, ayat 4:

    huwallazi khalaqas-samawati wal-arda fi sittati ayyamin summastawa 'alal-'arsy, ya'lamu ma yaliju fil-ardi wa ma yakhruju min-ha wa ma yanzilu minas-sama`i wa ma ya'ruju fiha, wa huwa ma'akum aina ma kuntum, wallahu bima ta'maluna basir

    “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hadid: 4)

    Alhamdulillah ya Allah. Wahai yang Mahakuasa, Maha Mendengar, Maha Menyaksikan, berkahi pertemuan ini. Ya Rab, sekira musibah ini datang karena dosa-dosa kami, mohon ampuni kami, ampuni sebusuk apa pun yang pernah kami jalani, ampuni sekelam apa pun masa lalu kami, sehitam apa pun perjalanan kami.

    Ya Allah kami memohom taubat nasuha, taubat sebelum ajal menjemput, belas kasih sebelum ajal, dan ampunan setalah ajal kami. Bimbing kami agar bisa taubat nasuha, berikanlah kami ampunan, berikanlah ampunan-Mu yang tiada bertepi.

    Ya Allah lindungilah kami. Kami mohon angkat wabah ini dan sungguh sangat mudah bagi-Mu. Semua dalam kekuasaan-Mu. Gantikan wabah ini dengan hidayah, curahkan rahmat-Mu, dan jadikan kami semakin patuh kepada-Mu. Amin ya Allah ya rabbal alamin.



    (MBM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id