Tips Persiapan Kuliah S1 di Eropa

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 12 Mei 2020 07:07 WIB
    Tips Persiapan Kuliah S1 di Eropa
    Mahasiswa S1 Leiden University, Belanda, Bhagasjati Kusuma. Foto: Instagram Ehef.id
    Jakarta:  Minat pelajar Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri terutama di negara-negara benua Eropa sangat tinggi.  Namun tidak semua pelajar yang akhirnya dapat melenggang dengan mudah ke perguruan tinggi di benua tersebut.

    Untuk itu, penting bagi pelajar Indonesia melakukan sejumlah persiapan matang sebelum melanjutkan studi ke Eropa.  Mulai dari mencari kampus tujuan, memilih program studi, sampai dengan menguasai bahasa lokal negara yang dituju atau minimal fasih berbahasa Inggris.

    Mahasiswa S1 Leiden University, Belanda, Bhagasjati Kusuma membagikan tips bagaimana akhirnya ia dapat kuliah di salah satu Universitas di negeri kincir angin tersebut.  Aga begitu panggilan akrabnya menuturkan, sejak kelas 10 SMA sudah memulai persiapan, yakni dengan mencari-cari kampus tujuan yang sesuai dengan minat.

    “Pilihannya luar negeri, segi biaya, kultur juga akhirnya aku milih Belanda,” tuturnya dalam siaran langsung Ehef.id, Sabtu, 9 Mei 2020.

    Selain itu, penting juga menguasai bahasa Inggris jika tidak ingin atau tidak sempat mempelajari bahasa Belanda. Namun itu konsekuensinya harus menyesuaikan lagi dengan program studi kelas internasional atau yang perkuliahannya menggunakan bahasa Inggris.

    “Ada kelas yang program bahasa Inggris, aku milih yang bahasa Inggris,” ujarnya.

    Mahasiswa S1 Political Science International Relation and Organization ini menuturkan, untuk bahasa Inggris memang harus dipersiapkan sejak awal. Tapi ia mengingatkan agar tidak belajar atau ikut les hanya karena ingin lolos TOEFL atau IELTS, tetapi juga harus menguasai bahasa Inggris dengan baik, karena jika tidak akan kesulitan ketika perkuliahan.

    “Ketika nyampe di negara tujuan, kemampuan bahasa inggrisnya level text book, ketika dengerin tapi enggak ngerti, sampai kampus tujuan akan enggak bisa belajar, seperti terjebak. Saran aku jauh-jauh hari sudah harus les grammar dan speaking,” tutur Aga yang juga merupakan ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda ini.

    Untuk biaya hidup di Belanda, Aga menyebut 1.000 Euro sudah cukup untuk satu bulan.  Sebanyak 500 Euro untuk tempat tinggal,  50 Euro untuk asuransi, dan 30 Euro untuk biaya pulsa handphone dan lain-lain, sisanya untuk makan dan jajan.

    “1.000 Euro rata-rata, 1.000 Euro sampai 1.500 Euro, Jangan di bawah 800 Euro,” ujarnya.

    Lebih lanjut untuk perkuliahannya, diakui Aga, mahasiswa yang harus sangat aktif ke dosen.  Karena berdasarkan pengalamannya, untuk urusan konsultasi perkuliahan, dosen hanya bisa dihubungi saat jam kerja.

    Selain itu juga, kebetulan di program studinya selama ini kuliahnya seperti seminar, dosen ceramah di depan 200-an mahasiswa dan tidak ada kesempatan untuk diskusi lebih jauh.  Sehingga penting untuk aktif bertanya ke dosen di luar perkuliahan.

    “Di Belanda lebih individual, dosen itu enggak nyari-nyari. Misal kita drop kelas, dosennya enggak akan tahu, atau misal mau apa-apa kita yang cari. Sistemnya lebih lecturing, jarang kelas 20 orang,” terangnya.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id