Enam Kunci untuk Meningkatkan Akreditasi Jurnal Ilmiah

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 26 November 2019 12:45 WIB
    Enam Kunci untuk Meningkatkan Akreditasi Jurnal Ilmiah
    Menristek dan Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro. Foto: Kemenristek/Humas
    Jakarta:  Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro menyebut, ada enam hal yang harus diperhatikan oleh pengelola jurnal guna meningkatkan peringkat akreditasi.

    Pertama, untuk pengajuan baru ataupun yang sudah lama, persyaratan administrasi yang perlu dilakukan harus bersifat ilmiah. Setidaknya telah terdaftar dari DOI (Digital Object Identifier). DOI sendiri merupakan pengenal digital yang untuk objek di internet seperti artikel, berkas maupun buku.

    "Selain itu juga, harus diperhatikan dan diperbaiki kualitas mitra bestari yang ada, serta dewan penyunting jurnalnya memiliki kualifikasi bidang keilmuan yang mumpuni," kata Bambang di Grand Sahid, Jakarta Pusat, Senin, 25 November 2019.

    Kedua, Dari sisi manajemen atau pengelolaan jurnal. Penting diperhatikan terkait bagaimana pelibatan mitra bestari, mutu penyuntingan substansi, dan kualifikasi dewan penyunting. "Ketiga, substansi artikel di dalam jurnal. Unsur ini mencakup kepioniran ilmiah dan orisinalitas karya, dampak ilmiah dari artikel, cakupan keilmuan, derajat kemutakhiran pustaka acuan, dan juga makna sumbangan bagi kemajuan ilmuwan," terang mantan Kepala Bappenas ini.

    Keempat, melakukan evaluasi terhadap pengelolaan jurnal, dengan metode self assessment, atau melakukan evaluasi pengelolaan jurnal secara mandiri.  "Sehingga mutu jurnal dari waktu ke waktu semakin baik," ucapnya.

    Sebagai media komunikasi, hal kelima yang harus diperhatikan adalah penyebarannya. Hal tersebut harus bisa dilakukan secara masif.  "Jurnal ilmiah dengan isi artikel sebaik apapun jika tidak disebarkan secara 'massive', maka tidak dapat disebut sebagai media komunikasi," kata pria 53 tahun ini.

    Terakhir, Bambang yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini menekankan, jangan sampai jurnal merupakan hasil plagiat. Untuk itu ia mendorong pengelola jurnal melakukan cek ulang plagiat dengan perangkat lunak yang ada.

    Sehingga tidak merugikan pengelola jurnal. Bambang menegaskan, agar pengelola jurnal memperhatikan hal-hal tersebut.  Sebab kebutuhan akan akreditasi jurnal semakin tinggi, seiring dengan publikasi di jurnal ilmiah, serta menjadi suatu kewajiban bagi pejabat fungsional dosen, peneliti, perekayasa, serta fungsional lainnya sebagai persyaratan kenaikan dan mempertahankan jenjang jabatan serta mahasiswa sebagai persyaratan kelulusan. 

    "Hal tersebut berdampak pada peningkatan kebutuhan jurnal terakreditasi dan terindeks di pengindeks bereputasi internasional," ujar mantan Menteri Keuangan ini.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id