Alumnus UGM Bagikan Kiat Sukses Menjadi Petani Cabai Milenial

    Arga sumantri - 16 April 2021 11:35 WIB
    Alumnus UGM Bagikan Kiat Sukses Menjadi Petani Cabai Milenial
    Webinar yang digelar Kagama Pertanian dan Fakultas Pertanian UGM. Foto: Dok Humas UGM.



    Yogyakarta: Data Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian mencatat, petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya berjumlah 2,7 juta orang. Jumlah ini hanya sekitar 8 persen dari total petani Indonesia yang berjumlah 33,4 juta orang.

    Petani cabai millenial Pulung Widi Handoko pun berbagi kisah suksesnya menjadi petani cabai dalam webinar yang digelar Kagama Pertanian dan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Pulung adalah Alumnus Fakultas Pertanian UGM Angkatan 2014 yang merupakan petani cabai dari Kabupaten Magelang. Sekali panen, omzetnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.






    Pulung menjelaskan, untuk budidaya cabai, kuncinya yang pertama adalah pemilihan lahan dan ketersediaan air. Selain itu, pengolahan tanah juga penting. 

    "Seperti pembersihan sisa tanaman atau gulma, pembuatan bedengan, pengapuran, pemupukan dasar, dan penutupan mulsa," papar Pulung mengutip siaran pers UGM, Jumat, 16 April 2021.

    Hal kedua adalah pemilihan varietas diterima pasar, mempunyai produktivitas yang tinggi, sesuai kondisi lahan, mempunyai keunggulan toleran terhadap OPT tertentu). Ketiga adalah waktu tanam, lahan kering atau tegalan penanaman pada awal musim penghujan, lahan sawah bekas padi pada akhir musim penghujan.

    Baca: Epidemiolog Unpad Bagi Tips Vaksinasi Saat Puasa Ramadan

    Pada musim hujan, kata dia, sebaiknya menanam pada jarak yang lebih lebar. Misalnya, 40 x 45 cm, atau 50 cm x 60 cm, agar sinar matahari lebih banyak masuk dan mudah untuk melakukan penyemprotan. 

    "Penguatan bibit cabai juga harus diperhatikan, penanaman lebih baik dilakukan pada sore hari karena intensitas matahari tidak terlalu tinggi agar lebih survive," ujarnya.

    Menurut Pulung, hal lain yang penting adalah berkaitan pemeliharaan. Sebab, semua orang bisa menanam cabai, tapi tidak semua orang bisa memelihara dengan baik. Pemeliharaan meliputi sanitasi atau kebersihan (jaga kebersihan lahan, air, tanaman, perkakas yang digunakan), pengamatan (perlu tidaknya pemupukan, serangan OPT, dan kebutuhan air), aksi atau tindakan dan evaluasi.

    Pulung menuturkan ketika cabai mahal, orang cenderung untuk ikut menanam cabai untuk mendapatkan harga mahal. Hal ini harus dihindari karena beberapa bulan kemudian harganya akan mulai turun. Oleh karena itu, sebagai petani harus bisa melihat peluang panen cabai untuk mendapat harga tinggi seperti apa.

    "Pertama kita harus bisa melihat pertanaman cabai daerah lain (mapping), untuk sentra produksi cabai rawit berada di Jawa Timur. Kalau untuk produksi cabai produksi berada di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Kita harus tahu daerah lain menanam cabai di bulan apa dan kita bisa melihat peluang untuk menanam cabai dari hal tersebut," jelasnya.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id