comscore

Dosen Psikologi Unair Beberkan 3 Ciri Orang Berisiko Psikosis

Citra Larasati - 07 Desember 2021 19:06 WIB
Dosen Psikologi Unair Beberkan 3 Ciri Orang Berisiko Psikosis
Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal
Jakarta:  Gangguan mental masih menjadi isu kesehatan yang  mendesak untuk diatasi, termasuk gangguan berat psikosis, seperti skizofrenia, bipolar, dan gangguan mental lainnya. Diperlukan deteksi sejak dini jika ada seseorang dengan tanda-tanda gangguan kesehatan mental tersebut.

Menurut Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Tri Kurniati Ambarini, M.Psi., Psikolog, semua orang memiliki risiko gangguan kesehatan mental.  Gangguan mental itu seperti bagian dari fase hidup seseorang.
"Semua orang punya potensi mengalami gangguan mental.  Sebab gangguan mental itu berkembang, ada beberapa stage. Mulai dari yang tidak sakit hingga sakit, seperti halnya sakit fisik,” papar Rini dalam acara ‘Pengabdian Masyarakat mengenai Upaya Intervensi Dini Terjadinya Kasus Psikosis’ dikutip dari keterangn tertulis Unair, Selasa, 7 Desember 2021.

Dalam kesempatan itu, Rini menjelaskan psikosis sebagai kondisi kejiwaan yang muncul adanya gangguan berupa ketidakmampuan membedakan antara khayalan dan realita. Hal tersebut ditandai dengan kombinasi-kombinasi gejala secara khusus yang terjadi pada subjek.

“Psikosis bukan sebuah gangguan mental yang tiba-tiba muncul, dia punya mekanisme atau cara yang sama pada gangguan mental lain,” ucapnya.

Berikut beberapa gejala sederhana yang kerap terjadi pada remaja dan dewasa muda psikosis:

Perilaku aneh

Aneh dalam hal ini artinya tidak dapat mengendalikan perilaku yang sesuai dengan standar dan norma masyarakat.  Seperti kemarahan yang meledak-ledak, seorang dewasa yang bertingkah laku seperti anak-anak, kemudian yang biasanya jarang murung jadi sering murung, apatis secara emosional, hingga penarikan sosial.

Baca juga:  Mahasiswa Wajib Tahu, Ini Ciri-ciri Burnout Belajar dan Cara Mengatasinya

Penurunan higienitas diri

Dosen ahli bidang klinis dan kesehatan mental itu mengungkapkan bahwa menurunnya kebersihan diri juga dekat dengan orang dengan gangguan mental seperti depresi maupun psikosis.

Hilangnya kontak dengan realitas

Rini menyampaikan, poin utama seseorang yang mengalami psikosis adalah garis berpikirnya. Antara lain munculnya halusinasi, pikiran yang tidak teratur, tidak bisa membedakan antara khayalan dan nyata.

"Dalam hal ini, pikiran dan persepsi seseorang terganggu," terangnya.

Sebagai contoh, seseorang mendengar suara yang seolah-olah ada yang menyuruhnya menyakiti orang lain. Meskipun tidak dilakukan tapi individu tersebut ada intensi menyakiti.

Selain keinginan untuk melakukan agresi fisik, seseorang juga bisa mengagung-agungkan penyampaian di luar penalaran.  Padahal itu bisa jadi bagian dari delusi mereka.

Lantas, Rini mengklasifikasikan gangguan psikosis termasuk dalam spektrum ringan. Sementara skizofrenia termasuk dalam spektrum parah.

“Skizofrenia termasuk level berat karena gejala psikosisnya sudah lengkap sehingga dampaknya bisa parah,” jelas dosen psikologi itu.

Pekerjaan rumah akademisi dan pemerintah, kata Rini, kini cukup berat.  Yaitu memotong mata rantai gangguan mental sejak awal. Salah satunya dengan melakukan screening pencegahan dini oleh tenaga kesehatan di puskesmas.

“Selain itu, jika tidak ada psikolog di puskesmas, bisa memberikan rujukan pada pasien ke rumah sakit tipe B, sehingga kesempatan mendapatkan pengobatan lebih besar. Tentunya ini juga butuh dukungan dari pemerintah, agar tidak menunggu parah baru diselesaikan,” tutupnya.

(CEU)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id