Jadi Presiden Direktur, Alumnus IPB Bagikan Kiat Memulai Bisnis

    Citra Larasati - 17 November 2020 14:44 WIB
    Jadi Presiden Direktur, Alumnus IPB Bagikan Kiat Memulai Bisnis
    Alumnus IPB, Ujang Suparman yang kini menjadi Presdir di PT Pijar Nusa Pasifik. Foto: Dok. IPB
    Jakarta: Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB), Ujang Suparman kini menjadi Presiden Direktur (Presdir) PT Pijar Nusa Pasifik. Ia membagikan kiat untuk memulai bisnis kepada mahasiswa IPB University dalam kegiatan Alumni Insight.

    "Saat ini kita berada di era industri 4.0, semua serba digital. Industri 0 adalah era di mana manusia mulai bertani. Industri 1.0 dimulai saat revolusi industri, tahun 1700-an. Di tahun 1800-an, berkembang ilmu pengetahuan dan informasi dinamakan era industri 2.0. Industri 3 era berkembangnya komputer dan internet,” kata Ujang, Selasa, 17 November 2020.

    Perjalanan dari industri 0 menuju industri 3, lanjutnya, membutuhkan waktu ratusan tahun. Setelah era komputer dan internet, perubahan menjadi sangat cepat. Perubahan era industri 4.0 ke era industri 5.0 hanya butuh puluhan atau bahkan beberapa tahun saja.

    “Setiap era membutuhkan mindset, skills set dan toolset-nya sendiri. Kita harus bersyukur hidup di era informasi dan digitalisasi. Hal itu seharusnya membuat kita menjadi pribadi pembelajar. Kita bisa belajar apa saja, karena pengetahuan tidak hanya didapat dari kelas,” lanjutnya.

    Ujang berpesan kepada mahasiswa tingkat pertama ini, untuk setidaknya dalam empat tahun ke depan, sudah memiliki gambaran di bidang apa akan berkiprah. "Dalam empat tahun harus sudah tahu mau jadi apa. Maka harus bisa menyusun visi misi, lengkap dengan planning. Karena goal tanpa planning, is just a wish,” ujarnya.

    Lebih lanjut, mahasiswa juga didorong untuk mengembangkan kompetensi. Seperti yang disampaikan Ujang, kompetensi merupakan kumpulan dari tiga komponen.

    Knowledge atau ilmu pengetahuan yang didapat melalui kuliah dan membaca berbagai sumber bacaan. Kemudian knowledge bertransformasi menjadi skills melalui praktik dan komponen terakhir yang sangat penting adalah behavior atau attitude.

    “Saran saya hard skills harus bagus, hard skills ini apa yang dipelajari selama di kampus. Kemudian soft skills juga seperti kepemimpinan, creative thinking, dan manajemen keuangan,” kata Ujang.

    Di sesi tanya jawab, Ujang memaparkan hal-hal yang perlu disiapkan dalam memulai bisnis. Pertama harus menguasai teknisnya, mix management (product, pricing, place, dan promotion). Kemudian skills mendasar dari mulai produksi, marketing, hingga keuangan.

    Baca juga:  Mahasiswa IPB Berbisnis Hidroponik di Sela Kuliah Daring

    Di dalam berbisnis harus ada hal yang dijual dan dibeli. Sehingga riset supply dan demand pasar merupakan hal yang sangat penting untuk melihat peluang. Ujang mendorong para mahasiswa untuk mencoba membuat simulasi bisnis kecil-kecilan, untuk memulai belajar berbisnis.

    “Tidak semua bisnis berujung sukses. Suatu kegagalan selama tidak memusnahkan, harusnya memperkuat, ini sedikit ekstrim. Saya memulai bisnis tahun 1998, pada saat itu terjadi krisis keuangan luar biasa.  Pernah beberapa kali sampai menutup perusahaan,” ujarnya.

    Ujang juga menekankan pentingnya uji kelayakan. Dari uji kelayakan tersebut, akan diketahui gambaran risiko-risiko dan peluang dalam suatu bisnis. 

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id