Berkat 'Biskuit Ulat' Mahasiswa UB Raih Perak di AISEEF 2021

    Daviq Umar Al Faruq - 03 Maret 2021 16:43 WIB
    Berkat 'Biskuit Ulat' Mahasiswa UB Raih Perak di AISEEF 2021
    Biskot, biskuit protein ulat hongkong sebagai treatment stunting pada anak. Foto: Dok. UB



    Malang: Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) berhasil meraih medali perak dalam ajang internasional bertajuk Asean Innovative Science Environmental and Enterprenuer Fair (AISEEF) 2021.  Perak berhasil dibawa pulang berkat penelitian mereka, yakni Biskot yang merupakan biskuit protein ulat hongkong sebagai treatment stunting pada anak.

    Para mahasiswa ini terdiri dari Retno Nur Fadillah, Sularso, Yasri Rahmawati, Hendarto, dan Zuhdan Alaik. Mereka merancang Biskot dengan dibimbing langsung oleh dosen Dedes Amertaningtyas.






    Salah satu anggota perancang Biskot, Sularso mengatakan, berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2014 mencatat sebanyak 24,5 persen balita di dunia mengalami stunting. Indonesia merupakan negara dengan prevalensi stunting terbesar kelima dengan prevalensi 36 persen (7.547 jumlah anak stunting) pada 2019.

    "Menyikapi kondisi tersebut kami mengembangkan produk-produk inovatif dari peternakan yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan bidang Kesehatan," kata Sularso, Rabu 3 Maret 2021.

    Sularso menjelaskan, kandungan protein pada larva ulat hongkong cukup tinggi yaitu 47,44 persen dengan kadar lemak 21,84 persen. Serta asam amino berupa taurin sebesar 17,53 persen yang sangat dibutuhkan pada masa tumbuh kembang anak. 

    Taurin merupakan jenis asam amino terbanyak kedua dalam ASI yang berfungsi sebagai neurotransmitter dan berperan penting dalam proses pematangan sel otak.

    “Ulat hongkong atau yang juga disebut dengan mealworm biasanya dibudidayakan hanya untuk dijadikan pakan unggas, karena memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Namun sebenarnya ulat ini termasuk dalam ordo coleoptera yang merupakan ordo keempat, artinya paling banyak dikonsumsi manusia,” kata Sularso

    Dalam proses pengolahannya, ulat hongkong dicuci bersih dan dikeringkan kemudian dioven. Lalu dihaluskan menggunakan blender dan disaring airnya, selanjutnya dicampur ke dalam adonan dari terigu, gula, dan telur.

    Penelitian yang telah mereka lakukan berhasil memboyong medali perak dalam ajang internasional bertajuk Asean Innovative Science Environmental and Enterprenuer Fair (AISEEF) 2021. AISEEF diselenggarakan  oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) pada 18-22 Februari 2021.

    AISEEF merupakan kompetisi internasional tahunan antaruniversitas se- Asia dalam bidang sains, lingkungan dan entrepreneurship.

    Baca juga:  Kedaireka Jadi 'Biro Jodoh' Antara Kampus dan Industri

    Ada empat kategori yang dilombakan yaitu entreprenuer (business plan, management, marketing), social science, environmental science (interaksi komponen fisik, kimia, dan biologi lingkungan serta hubungan dan efek komponen tersebut dengan organisme pada lingkungan), serta innovation science (inovasi dalam bidang Fisika Terapan, Kimia dan Biologi yang dapat berupa produk aplikasi, alat peraga dan temuan kreatif).

    Kegiatan tersebut terlaksana atas kerja sama dengan Food Technology Departmen – Institut Pertanian Bogor (IPB), Nutrition Department – Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Dian  Nuswantoro (UDINUS), Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L), Yayasan Prestasi Pendidik Indonesia, Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia Malang Raya, dan AISEEF Organizing Committee.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id