comscore

Raih Doktor Usai Temukan Parameter Baru Mendiagnosis Glaukoma

Arga sumantri - 24 Januari 2022 10:58 WIB
Raih Doktor Usai Temukan Parameter Baru Mendiagnosis Glaukoma
Sidang Doktor Iwan Soebijantoro. Foto: Humas UGM
Yogyakarta: Dokter Iwan Soebijantoro berhasil meraih gelar doktor dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia berhasil mempertahankan disertasi berjudul ‘Hubungan Bilik Mata Depan yang Dangkal dengan Perubahan Morfologi Sel Endotel Kornea pada Glaukoma Primer Sudut Tertutup Kronik.’ 

Melalui penelitian tersebut dokter Iwan mengindikasi sebuah parameter baru untuk mendiagnosa penyakit Glaukoma. Khususnya, Glaukoma Primer Sudut Tertutup Kronik.
Dokter spesialis mata konsultan itu menjelaskan, Glaukoma merupakan salah satu penyakit mata yang dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan penglihatan dan kebutaan. Glaukoma adalah penyakit mata yang disebabkan kerusakan atau gangguan pada saraf mata. 

Sedangkan, Glaukoma Primer Sudut Tertutup Kronik yang diteliti dokter Iwan dalam disertasinya adalah salah satu varian dari penyakit glaukoma tersebut. Penyakit glaukoma ini diketahui juga sebagai penyebab utama kebutaan yang irreversible (tidak dapat dibatalkan atau diubah).

Baca: Kuliah Tatap Muka, AMARI ITB Pantau Risiko Penularan Covid-19 di Kampus

Kerusakan saraf dalam penyakit glaukoma diakibatkan oleh adanya fenomena peningkatan intraokular (TIO) atau tekanan pada dinding mata. Peningkatan tekanan pada dinding mata tersebut dapat terjadi karena rusaknya aliran keluar (outflow) cairan bernama aqueos humor (AH).

"Cairan AH tersebut adalah cairan yang berfungsi untuk menjaga bentuk mata sebagaimana mestinya atau dapat menjaga supaya tidak terjadi peningkatan intraokular atau tekanan pada dinding mata," jelas Iwan mengutip siaran pers UGM, Senin, 24 Januari 2022.

Kemudian, untuk mendiagnosis penyakit Glaukoma Primer Sudut Tertutup Kronik, maka biasanya dilakukan dengan melakukan penilaian kepada jaringan trabekular, atau jalur pembuangan Cairan AH. Namun, untuk melakukan penilaian tersebut bukan hal yang mudah dan praktis, sebab diperlukan alat-alat kedokteran tertentu untuk melakukannya.  

Melalui penelitiannya, Iwan berusaha menemukan cara lebih mudah dan praktis sehingga dapat digunakan oleh para dokter ketika melakukan operasi di daerah terpencil atau pedalaman yang tidak memiliki alat kedokteran memadai.

Baca: AKSI, Aplikasi Kontrol Hipertensi Rancangan UI

Iwan kemudian meneliti kepada alternatif lain dengan menguji keterhubungan bilik mata depan dengan kerusakan pada sel endotel (suatu lapisan pada mata yang memiliki asal embriologi yang sama dengan jaringan trabekular). Alhasil, Iwan menemukan beberapa parameter baru, salah satunya adalah besaran sudut bilik mata depan (BMD).

"(Penelitian) ini dapat mempermudah sejawat spesialis mata untuk menegakkan diagnosa dari glaukoma itu sendiri," ungkapnya.

Penelitian ini disebut bermanfaat bagi dokter yang bekerja di pedalaman atau di rumah sakit yang tidak mempunyai alat-alat untuk mengukur Retinal Nerve Fiber Layer atau segmen posterior. Serta, tidak mempunyai alat-alat untuk mengukur lapang pandang yang sangat diperlukan untuk (mendiagnosa) penderita glukoma itu. 

"Maka dengan ditemukannya parameter baru pada penelitian ini sudah sangat membantu dari teman-teman sejawat spesialis mata untuk menegakkan diagnosa glukoma itu sendiri," tuturnya.

(AGA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id