Epidemiolog Unair Minta Vaksinasi Bertahap dan Jangan Terburu-buru

    Ilham Pratama Putra - 22 Oktober 2020 19:21 WIB
    Epidemiolog Unair Minta Vaksinasi Bertahap dan Jangan Terburu-buru
    Ilustrasi vaksin. Medcom.id
    Jakarta: World Health Organization (WHO) mencatat belum ada vaksin covid-19 yang lolos uji klinis hingga tahap akhir. Namun beberapa negara mulai melakukan distribusi vaksin, termasuk Indonesia.

    Pakar epidemiolog Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani meminta pemerintah agar tidak terburu-buru melakukan vaksinasi secara luas. Target vaksinasi kepada 9,1 juta orang untuk tahap awal harus dilakukan secara ketat.

    Selain itu, pemberiannya juga harus sesuai kriteria dengan uji coba yang telah dilakukan. Sebelumnya Indonesia telah melakukan uji klinis kepada 1.600 relawan, dengan kriteria usia 15-59 tahun.

    "Tetap harus ada pengawasan dari pemerintah, harus ada kontrol dari pemerintah kepada sekitar 9,1 juta orang itu atas tiga kandidat vaksin yang bakal diberikan," ujar Laura kepada Medcom.id, Kamis, 22 Oktober 2020.

    Vaksin yang akan digunakan di Indonesia itu di antaranya Sinovac, Sinophram, dan CanSino. Laura menyebut, keputusan untuk melanjutkan, memperluas dan memperbanyak vaksinasi harus berdasarkan evaluasi dari kelompok 9,1 juta orang tersebut.

    "Jadi jangan terburu-buru, ya evaluasinya bertahap. Kemudian juga pemberiannya bertahap," jelas Laura.

    Baca juga:  Pakar UGM: Vaksin Covid-19 Harus Teruji Keamanannya

    Dia menjelaskan jika efek samping dari vaksinasi harus diperhatikan secara ketat. Efek samping vaksin bisa ketahuan dalam 24 jam.

    "Apakah betul efek samping ini ditimbulkan dari imunisasi, ya kalau tidak ya, bisa dijalankan lagi. Jadi penggunaan distribusi dari vaksin ini kan maunya cakupannya kecil dulu, kemudian meluas-meluas dan lebih luas. Terburu-buru itu maksudnya jangan langsung semua. Jadi tetap ada step-step-nya," jelasnya.

    Yang lebih penting lagi bagi Laura adalah jangka panjang dari vaksin tersebut. Apakah untuk melihat seberapa efektif vaksin tersebut di masyarakat.

    "Kita juga mengukur keefektifan dari daya kebalnya. Sebulan dua bulan itu kita lihat daya protektifnya, daya kekebalannya, apakah antibodinya keluar. Karena kalau antibodinya keluarnya sedikit berarti tidak memberikan daya kebal atau cuma bisa untuk jangka pendek," tutup Laura.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id