Peneliti Indonesia Pereteli Kelemahan Klaim Li Meng Yan Soal Covid-19

    Arga sumantri - 24 September 2020 07:05 WIB
    Peneliti Indonesia Pereteli Kelemahan Klaim Li Meng Yan Soal Covid-19
    Ahli biologi molekuler, Ahmad Rusdan Utomo. Foto: Tangkapan layar.
    Jakarta: Ahli biologi molekuler, Ahmad Rusdan Utomo PhD. alumnus Harvard Medical School, Amerika Serikat mengupas perihal pernyataan pakar virologi dari Universitas Hongkong, Dr Li Meng Yan, yang menyebut SARS-CoV-2, penyebab virus korona (covid-19) adalah buatan manusia. Ahmad memereteli klaim penelitian Yan tersebut menggunakan lego sebagai media perumpamaan.

    Ahmad mengakui, bahwa Yan bukan lah peneliti sembarangan. Li Meng Yan merupakan peneliti virus dan kerap mempublikasikan penelitiannya di jurnal yang cukup bergengsi. Dengan begitu, tudingannya tentang covid-19 buatan manusia harus dibuktikan secara ilmiah.

    Singkatnya, menurut Ahmad, Yan menyebut jika SARS-CoV-2 ini dibuat di laboratorium di Tiongkok dan mendapat dukungan dari Partai Komunis Tiongkok. Yan meyakini, bahwa seorang peneliti senior bidang virologi di Wuhan Institute of Virology (WIV), yakni Dr Zheng Li Shi, adalah otak di balik pembuatan virus tersebut.

    "Dari papernya, Dr Yan mengatakan, bahwa Dr Shi mempunyai kemampuan dan memiliki kapasitas untuk itu (merancang SARS-CoV-2)," kata Ahmad dalam paparannya di kanal YouTube Pak Ahmad miliknya.

    Ahmad lalu menjelaskan asal mula Shi meneliti virus korona. Menggunakan lego, Ahmad juga merinci struktur SARS-CoV-2 penyebab covid-19 dan SARS-CoV-1 yang menjadi penyebab virus SARS.
     
     

    Menurut Ahmad, Shi mulai meneliti virus korona sejak 2008 dengan fokus tentang SARS. Shi tertarik melakukan penelitian karena Tiongkok mengalami wabah pandemi SARS kala itu. Shi aktif memburu kelelawar di gua yang banyak ditemukan di Tiongkok seperti di Kunming, Yunnan. Shi meyakini kelelawar adalah reservoir alami virus penyebab SARS.

    "Mencari di kotoran kelelawar, mereka swab materi si kelelawar untuk mencari coronavirus yang mungkin mirip dengan SARS," jelas Lulusan Harvard Medical School, Amerika Serikat itu.

    Dalam ekspedisinya, Shi menemukan semacam coronavirus yang dinamai BAT Coronavirus yang berasal dari kelelawar. Strukturnya, mirip dengan SARS. Namun, BAT Coronavirus diyakini tidak bisa menginfeksi manusia.

    "Yang dituduhkan Dr Yan, mereka (Dr Shi) melakukan preverse genetic," ujarnya.

    Baca: GeNose UGM Diharapkan Bisa Gantikan Uji Swab PCR

    Pada 2013, kata Ahmad, Shi dan tim menemukan coronavirus yang memiliki kemiripan dengan SARS di salah satu gua di Tiongkok. Tapi tidak identik, yang kemudian dinamai Wuhan Institute Viorology One (WIV1).

    Ahmad melanjutkan, dalam papernya, Yan mengutip jurnal dari Dr Ralph S. Baric, peneliti University of North Carolina at Chapel Hill. Mengetahui temuan Shi tersebut, Baric melakukan studi genesis untuk membuktikan apakah dengan mengambil spike dari WIV1 bisa menimbulkan penyakit bagi manusia. 

    "Lalu apa yang mereka lihat? ternyata tidak menimbulkan penyakit. Bisa menginfeksi tapi tidak menimbulkan penyakit," ujar mantan peneliti utama di Stem Cell and Cancer Institute besutan Kalbe Farma tersebut.
     
     

    Baric juga melakukan studi lanjutan tentang jenis spike apa yang sekiranya bisa menginfeksi dan menimbulkan penyakit bagi manusia. Kemudian Baric melakukan computer modelling

    Ahmad mengatakan, Yan menuduh Shi mengambil coronavirus dari kelelawar. Yan juga menuding Shi memiliki akses terhadap BAT coronavirus yang disebut ZC45. Singkatnya, menurut Yan, coronavirus jenis ZC45 direkayasa oleh Shi menggunakan computer modelling

    "Menurut dia (Dr Yan) ini (SARS-Cov-2) hasil optimalisasi berdasarkan komputer," ungkapnya.

    Baca: UI Kembangkan Vaksin DNA untuk Covid-19

    Ketika dianalisa genome SARS-Cov-2, kata dia, asam amino di SARS-CoV-2, ikatannya lemah berdasarkan prediksi computer modeling. Secara logika, kata dia, manusia tidak akan menggunakan hasil prediksi komputer yang lemah tersebut.

    "Maka dari situ kita menjadi melihat ada ketidakkonsistenan dari logikanya (Dr. Yan). Kita (manusia) belum nyampe untuk membuat rekayasa ini. Dan Dr. Yan tidak menjelaskannya dalam paper," ungkapnya.

    Paper Yan, kata Ahmad, banyak inkonsisten. Terkesan pula ada pemaksaan atas hasil yang harus sesuai dengan kehendaknya.

    (AGA)
    Read All

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id