Gambar Tangan di Gua Prasejarah, Simbol Kelompok Hingga Penolak Bala

    Citra Larasati - 19 Juni 2021 17:17 WIB
    Gambar Tangan di Gua Prasejarah, Simbol Kelompok Hingga Penolak Bala
    GUru besar FIB UI, Cecep Eka Permana. Foto: Dok. UI



    Depok:  Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro mengukuhkan empat guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dalam Sidang Terbuka Upacara Pengukuhan Guru Besar, Sabtu, 19 Juni 2021.  Salah satu guru besar menyampaikan pidato tentang makna gambar tangan di gua prasejarah.

    Guru besar yang dikukuhkan tersebut adalah Prof. Dr. Irmawati Marwoto, S. S., M. S., Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana, S. S., M. Si., Prof. Manneke Budiman, S. S., M. A., Ph. D., dan Prof. Dr. Lilawati Kurnia, S. S., M. A.  Pada pengukuhannya, Cecep menyampaikan pidato berjudul “Gambar Tangan pada Gambar Cadas Indonesia: Rekonstruksi Sejarah Kebudayaan, serta Tantangan Pengembangan dan Pelestariannya”.

     



    Gambar tangan (hand stencil) merupakan salah satu bentuk motif gambar cadas (rock art) yang paling banyak ditemukan di dinding gua dan tebing dari situs prasejarah di seluruh dunia. “Gambar tangan prasejarah ini sangat penting dikaji, karena merupakan jejak budaya yang dibuat langsung dari dan oleh manusia pemilik atau pendukung kebudayaan tersebut,” ujarnya.

    Gambar tangan di Indonesia terbanyak ditemukan di wilayah Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Menurutnya, gambar tangan di tempat tersebut umumnya ditemukan memiliki lima jari, meskipun ada pula yang tidak lengkap.

    Gambar tangan dengan jari yang tidak lengkap di berbagai belahan dunia disebabkan karena tradisi ritual pemotongan (mutilasi) jari. Penggambaran gambar tangan pada gua prasejarah diduga dilakukan sebagai penanda kepemilikan kelompok, atau sebagai tanda sebagai penolak bala.

    Baca juga:  Guru Besar: Bencana Hidrometeorologi Akibat Fenomena Alam dan Ulah Manusia

    Beberapa etnografi di Afrika dan Australia juga mendukung kesimpulan ini. Dari hasil pengukuran yang dilakukan Cecep dan tim, gambar tangan di gua umumnya dibuat oleh perempuan.

    Hal ini menunjukkan bahwa kaum perempuan juga memiliki peran dalam kehidupan budaya gua yang (seharusnya) didominasi oleh laki-laki, karena pola hidup berburu-meramu saat itu. Pada akhir pidato, Cecep berharap bahwa di masa depan Ilmu Arkeologi di UI akan bersifat inter dan multidisipliner.

    “Karena untuk mempelajari manusia dalam konteks masa lalu, diperlukan begitu banyak kajian dari berbagai dimensi, entah sosial, budaya, ekonomi, religi, kesehatan, maupun sains dan teknologi. Keterlibatan bidang ilmu lain tentu akan membantu Ilmu Arkeologi untuk dapat lebih mengungkap apa yang terjadi di masa lalu,” katanya.

    Cecep meraih gelar sarjana, magister, dan doktor dari Program Studi Arkeologi di UI. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Senat Akademik FIB (sejak 2015), setelah sebelumnya menjabat sebagai Manajer Kemahasiswaan dari tahun 2004-2008.

    Gambar prasejarah yang terdapat di gua-gua di Indonesia memang telah menjadi fokus penelitiannya sejak lama. Beberapa karya ilmiah yang dihasilkannya terkait hal itu adalah ”The Fungus Paecilomyces from Leang Pettae in Maros Karst Area and The Suggestions for Rock Art Preservation”, “Boat as Decipted in Rock Art in Sulawesi Indonesia”, “Binatang Totem pada Seni Cadas Prasejarah di Sulawesi Selatan”, dan “Perlindungan Gambar Gua Prasejarah”.


    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id