Menristek: Rapid Test Kurang Bisa Diandalkan Deteksi Covid-19

    Arga sumantri - 12 Oktober 2020 13:54 WIB
    Menristek: <i>Rapid Test</i> Kurang Bisa Diandalkan Deteksi Covid-19
    Ilustrasi Rapid Test. Dok Antara
    Jakarta: Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro menyatakan rapid test kurang bisa diandalkan sebagai bagian deteksi virus korona (covid-19). Rapid test pun disebut hanya difokuskan untuk proses screening.

    "Rapid test ini bersifat antibodi. Memang sensifitasnya tinggi, tapi spesifitasnya yang kurang tinggi. Sehingga tingkat akurasinya kadang-kadang memang tidak bisa diandalkan untuk menjadi bagian dari testing. Sehingga rapid test memang difokuskan untuk screening," kata Bambang dalam rapat terbatas laporan Komite Penanganan Covid-19 yang digelar virtual, Senin, 12 Oktober 2020.

    Bambang menjelaskan, produksi alat rapid test di Indonesia sekitar 350 ribu per bulan, sejak diluncurkan pada Mei 2020. Ia memprediksi mulai bulan depan, produksi rapid test mencapai satu hingga dua juta per bulan. Produksi dilakukan tiga hingga empat perusahaan swasta. 

    "Tiga (perusahaan swasta) sudah memulai, dan kemudian ditambah (perusahaan) yang keempat. Sehingga kita berharap (produksi rapid test) bisa mencapai dua juta per bulan," terang Bambang.

    Baca: Menristek Berharap GeNose UGM Segera Gantikan Uji Swab PCR

    Bambang menambahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar penggunaan rapid test untuk covid-19 ini benar-benar mengutamakan hasil inovasi atau produksi dalam negeri ini. Hal ini agar Indonesia tak ketergantungan alat rapid test buatan luar negeri.

    "Untuk bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan impor rapid test yang kita telah lakukan di awal masa pandemi ini," ungkapnya.

    Bambang juga melaporkan inovasi dalam negeri untuk memudahkan proses screening covid-19, yakni GeNose yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM), serta RT-LAMP yang dikembangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 

    Dua inovasi dalam negeri ini digadang-gadang bisa membantu screening yang lebih akurat, sekaligus testing covid-19. Bambang menyebut, dua inovasi itu juga bisa menjadi solusi mengatasi ketergantuangan Polymerase Chain Reaction (PCR) test.

    "Kami laporkan kepada Bapak Presiden (Jokowi) dua inovasi yang berasal dari dalam negeri yang diperkirakan nanti bisa menjadi solusi. Solusi untuk mengurangi tergantungan terhadap PCR test, dan juga solusi untuk screening yang lebih baik," ungkap Bambang.

    (AGA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id