comscore

Pakar IPB: Inovasi Produk Turunan Minyak Sawit Primadona Olahan Pangan Masa Depan

Citra Larasati - 29 Mei 2022 09:09 WIB
Pakar IPB: Inovasi Produk Turunan Minyak Sawit Primadona Olahan Pangan Masa Depan
Kampus IPB. Foto: IPB/Humas
Jakarta:  Di tengah harganya yang melonjak, minyak sawit masih menjadi pilihan utama bagi masyarakat di Tanah Air.  Sebab faktanya, minyak sawit masih menjadi primadona dalam olahan pangan masyarakat.

Selain untuk menggoreng, minyak sawit memiliki kandungan nutrisi yang bisa dimanfaatkan bagi olahan pangan lainnya. Ekstrak minyak sawit merah bahkan kaya akan vitamin A, omega 9, omega 6, omega 3, mengandung betakaroten dan vitamin E.
Kepala Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) IPB University, Dr Meika Syahbana Rusli, mengupas lebih lanjut inovasi olahan pangan berbasis minyak sawit. Ia memaparkan hal tersebut dalam Webinar “Sosialisasi Inovasi Pangan Olahan dari Kelapa Sawit” yang digelar dalam rangka hiliriasi produk untuk mendorong peningkatan nilai tambah.

Ia menyebutkan, persentase kelapa sawit yang dapat diambil dan diolah sebagai minyak terbilang cukup besar. Hasil limbah pengolahan juga dapat digunakan untuk energi.

Minyak kelapa cawit/crude palm oil (CPO) memiliki potensi besar untuk diaplikasikan pada produk pangan unggul.  “Namun, kampanye negatif menimbulkan misinformasi bahwa CPO mengandung lemak trans jahat. Faktanya, CPO tidak mengandung lemak trans, bahkan kandungan nutrisinya dapat mendorong kesehatan dan nutrisi bagi manusia,” jelasnya.

Menurutnya, minyak kelapa sawit dan turunannya dapat diolah menjadi bahan pangan berupa margarin, shortening, frying fat, coating fat, coffee whitener, pengisi susu, hingga krimmer biskuit. Seiring dengan peradaban yang semakin maju, bahan pembuat pangan olahan disediakan oleh produk hilir sawit.

“Pada faktanya, produk-produk pangan yang ditemukan di supermarket itu banyak sekali yang mengandung dari sawit produk olahan asam lemak ataupun oleum dan stearin dari CPO,” terangnya.

Ia menjelaskan, aplikasi produk turunan CPO harus melewati proses rafinasi karena bahan penyusun produk pangan harus murni dan spesifik. Selain untuk memproses makanan, CPO juga digunakan sebagai sumber lemak dan kalori.

Bila satu kilogram CPO diolah menjadi bahan baku untuk shortening dan margarin, nilai tambahnya tentu akan berlimpah.  “Tentu secara ekonomi bila industri pangan mengembangkan produk-produk ini dalam arti memproduksi olahan pangan di dalam negeri sendiri, akan lebih memberikan nilai tambah daripada semua CPO kita ekspor,” tambahnya.

Ia menambahkan, ada beberapa inovasi yang dihasilkan dari olahan CPO di IPB University. Yakni bumbu rendang siap pakai berbahan dasar krimer sawit.  Penggunaan krimer sawit ini sebagai krimer tiruan yang dibuat dari minyak nabati.

Inovasi lainnya yakni high grade specialty fats dari sawit untuk produk coklat dan es krim pengganti lemak coklat. Sawit sebagai fat replacer juga dapat digunakan untuk membuat sosis sebagai pengganti lemak hewan.

Baca juga:  Rektor IPB: Lulusan Perguruan Tinggi Harus Peka Terhadap Sinyal Perubahan

Gula sawit berbasis nira sawit juga memiliki nilai tambah. "Aplikasinya telah diterapkan dalam proses pembuatan permen jahe,” jelasnya. 

(CEU)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id