UGM: Indonesia Perlu Miliki Indeks Biodiversitas Nasional

    Arga sumantri - 24 November 2020 21:52 WIB
    UGM: Indonesia Perlu Miliki Indeks Biodiversitas Nasional
    Universitas Gadjah Mada (UGM). Foto: Dok Humas UGM.
    Yogyakarta: Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia. Sayangnya, hingga saat ini, Indonesia belum memiliki indikator nasional untuk mengukur aktivitas konservasi keanekaragaman hayati yang dimiliki.

    Menurut Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Budi S. Daryono, Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) sangat diperlukan untuk mengukur tren biodiversitas nasional. Data IBI ini dibutuhkan untuk mendorong pemerintah pusat dan daerah lebih giat melakukan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.

    Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) itu mengatakan, meskipun sebelumnya Indonesia menerapkan Convention on Biodiversity (CBD) dan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai landasan aksi konservasi hayati. Namun, status dan tren penurunan populasi masih terus berlanjut dan kian memprihatinkan. 

    "Kondisi itu terjadi akibat pertumbuhan penduduk dan peningkatan jumlah konsumsi serta perdagangan beragam tumbuhan dan satwa liar sebagai salah satu komoditas," ujar Budi melalui siaran pers UGM, Selasa, 24 November 2020.

    Baca: BPPT: Kuasai Kecerdasan Buatan, Indonesia Bakal Semaju Qatar

    Tren penurunan keanekaragaman hayati, kata Budi, tidak hanya terjadi di Tanah Air. Penurunan keanekaragaman hayati juga terjadi di tingkat global. Data Living Planet Index (LPI) tahun 1970-2016 menyebutkan, persentase rata-rata penurunan populasi pada mamalia, burung, amfibi, reptil dan ikan mencapai 68 persen di dunia.

    "Untuk itu penting menginisasi Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) ini untuk mengukur tren biodiversitas nasional," ujarnya.

    Indeks biodiversitas atau indeks keanekaragaman spesies merupakan indeks yang menyatakan susunan ekosistem dan komunitas penyusunnya serta kestabilan suatu ekosistem. Indeks ini tidak hanya berupa makna, namun mengandung nilai dan konsep pelestarian keanekaragaman hayati di dunia. 

    Dunia internasional menyebutnya sebagai global living index. Ini merupakan hasil kolaborasi peneliti biodiversitas internasional dengan lembaga konservasi global.

    Mengingat pentingnya menghimpun data keanekaragaman hayati nasional ini, KOBI melalui Komite Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI)  menginisiasi IBI. Upaya tersebut dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional pada 5 November 2020 lalu.

    Selain IBI, Budi menyebutkan perlunya dikembangkan Bioeconomy, yaitu sistem ekonomi hayati yang berbasis pada produksi sumber daya hayati terbarukan. Selain itu, konversi sumber daya alam dan limbah produksinya menjadi suatu produk yang bernilai tinggi dengan menerapkan prinsip ekonomis sirkular untuk meminimalkan penggunaan sumber daya serta energi agar diperoleh hasil yang optimal dan menekan kerusakan lingkungan.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id